Jumat, 08 Januari 2010

Syekh Adam Balai-Balai (lahir : 1889)

Adam nama aslinya, lahir pada tahun 1889 M/1288 H di dusun Balai-Balai, Padang Panjang (pada waktu itu masuk ke dalam daerah hukum adat Batipuh X Koto atau Onderafdeling Batipuh X Koto). Ayahnya adalah Samiun Datuk Bagindo seorang penghulu Pucuk di suku Sikumbang. Ibunya bernama Buliah, seorang istri yang alim dan taat. Samiun Datuk Bagindo dikenal sebagai pemutus kata pada tiap-tiap perundingan ninik mamak. Biasanya sepanjang perundingan yang memakan waktu berjam-jam dan bahkan sampai berhari-hari, ia hanya diam sambil menghabiskan dan memilin-milin rokok daun enau. Kemudian kata akhir sebagai keputusan rapat keluar dari mulutnya. Adam adalah anak satu-satunya tumpuan harapan keluarga Samiun dan Buliah. Seperti setiap anak laki-laki Minang, setelah melalui masa balita di bawah asuhan ayah dan ibu, Adam di waktu kecil memasuki sekolah dan bermain dengan teman-teman sama besar. Pagi hari ia belajar di sekolah desa dan malam harinya belajar mengaji dan tidur di surau. Di surau dia juga belajar pencak silat untuk membela diri apabila diganggu penjahat atau orang yang berniat jahat terhadapnya. Hal ini memang suatu kebiasaan anak muda pada waktu itu di Minang Kabau. Selain tergolong anak yang cerdas, Adam dikenal cepat mahir dalam latihan silat. Setelah tamat sekolah desa, Adam melanjutkan ke sekolah Gouvernement di Padang Panjang. Sewaktu sekolah di Gouvernement itu, Adam diberi kesempatan untuk belajar ke sekolah Raja di Bukittinggi. Ini disebabkan karena Adam orangnya cerdas dan juga sebagai putera pemuka adat. Akan tetapi kesempatan baik itu ditolaknya, mungkin karena sekolah tersebut sepenuhnya dikelola oleh Belanda atau barangkali ada alasan lain. Hanya yang keluar dari mulutnya adalah saya tidak akan masuk sekolah raja, saya tidak suka pakai pentalon, katanya pada ayahnya.

Adam semenjak remaja mulai menunjukkan jati dirinya sebagai putra Minang. Sehari-hari ia biasa memakai baju gunting cina dengan celana
cap kelapa serta sarung melilit di bahunya. Pelajaran silatnyapun semakin tinggi yang dipelajarinya kepada banyak guru dan sasaran. Identitas dan sifat pendekar mulai tampak pada diri Adam muda yang keras dan konsisten, tetapi sangat hormat kepada orang tua dan guru serta membela yang benar dan yang lemah. Kemudian Adam mulai dikenal masyarakat sebagai “orang bagak”. Tentang prilaku Adam ini pernah diungkapkan oleh A. Nadjir Yunus, seorang tokoh pejuang Angkatan 45 Padang Panjang (23-11-1996); bahwa “mak Adam ini pada waktu mudanya sudah mahir dalam ilmu silat, tetapi tidak pernah dipergunakan kepada yang buruk. Walaupun ia seorang penjudi, ia tidak pernah mengambil harta orang lain (merampok). Ia sangat patuh dan hormat kepada orang tua. Sebagai contoh, pada waktu dia memberikan hsil gajinya bekerja di Sawah Lunto. Uang gaji tersebut tidak mau ibunya menerima dan mencampakkan uang tersebut. Melihat sifat dan tingkah ibunya itu, ia malah tidak melawan dan menentang ibunya. Mak Adam ini sangat suka menolong orang yang teraniaya dan lemah. Kalau ada orang yang teraniaya oleh orang lain, maka dia langsung turun tangan untuk menolong. Itulah sifat dan prilaku yang dipunyai oleh Mak Adam pada usia muda”. Adam Balai-Balai di waktu muda digelari oleh masyarakat Padang Panjang seorang “parewa”. Parewa artinya orang yang mempunyai jiwa pareman, ahli silat dan seni, suka bergaul dengan ulama atau orang yang berilmu pengetahuan Islam yang mendalam. Berbeda dengan “pareman saja” yang tidak suka bergaul dengan ulama atau orang yang dalam ilmu agama Islamnya. Tentang sifat Adam Balai-Balai yang parewa ini pernah diungkapkan A. Nadjir Yunus; “ Selama menjadi parewa, Adam memasuki banyak kegiatan seperti pesilat, pecandu bola, bahkan Adam pernah berkecimpung dalam permainan judi. Ketika itu permainan judi adalah permainan yang paling dominan dalam gelanggang percaturan pareman. Hampir di setiap daerah ada gelanggang permainan judi, seperti adu ayam, adu kerbau, main coki dan berambuang. Adam hampir terlibat pada peristiwa pembunuhan atas Siti Baheram yang dilakukan oleh si Joki di Air Sirah Pariaman”.

Adam ingin menunjukkan baktinya kepada orang tua.
Dari Padang Panjang ia pergi ke Sawahlunto untuk mencari pekerjaan. Di Sawahlunto ia mendapat pekerjaan sebagai mandor para pekerja tambang batubara. Para pekerja ini dikenal dengan sebutan “orang rantai”. Setelah beberapa bulan bekerja sebagai mandor para pekerja tambang batubara di sana, ia pulang kampung ke Padang Panjang dengan membawa uang gajinya. Uang hasil jerih payahnya itu dimaksudkan untuk diserahkan kepada ibunya yang tercinta. Ternyata bukanlah kebanggaan yang didapatkannya. Ketika menyerahkan uang gajian itu kepada ibunya, ibunya melemparkan uang pemberian Adam. Dengan nada keras ibunya berkata: “bukan uang ini yang aku harapkan darimu”. Adam terdiam sambil menunduk, hatinya menjadi galau. Sebenarnya ia tahu persis bahwa sang ibunya mengharapkan supaya ia terus sekolah, mendalami agama dan kelak menjadi ulama.

Setelah ibunya melemparkan uang hasil gajinya, ia berencana untuk kembali ke Sawahlunto, tetapi hati kecilnya berontak, maka dengan langkah gontai ia telusuri danau Singkarak. Kakinya melangkah tidak tentu arah. Setelah sampai di Sumpur, dia merasa letih dan beristirahat di sebuah surau. Ternyata di pintu surau itu ada seorang anak kecil yang duduk sambil membaca kitab gundul (tulisan Arab yang tidak berbaris). Kemudian Adam BB bertanya kepada anak kecil tersebut: “kenapa tulisan Arab yang tidak berbaris itu bisa kamu baca?” Dengan singkat anak kecil tersebut menjawab: “itulah manfa’at kita membaca”. Adam tercenung, lalu bangkit dan langsung pergi ke Padang Panjang. Dalam hatinya tiba-tiba muncul tekad yang bulat untuk “mengaji”, bisa membaca kitab dan mendalami agama. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan ia sadar dan kembali ke jalan yang benar.


Sampai di Padang Panjang, Adam BB langsung menuju surau Jembatan Besi. Di sini ia belajar mengaji kepada Syekh Abdul Karim Amrullah, yang populer dengan panggilan “Inyiak Rasul”. Waktu itu usai Adam BB sudah lebih dari 20 tahun. Bila dibandingkan dengan murid-murid yang lain, Adam adalah murid yang paling tua, karena Adam termasuk orang yang dianggap terlambat mengaji. Adam sering dimarahi oleh Inyiak Rasul bila kurang tepat mebaca kaji.Walaupun dicaci maki oleh guru, Adam tidak pernah menentang dan melawan (walaupun ia pandai bersilat). Malah setiap kali dimarahi guru, dalam hatinya bertekad bahwa takkan patut ia bernama Si Adam kalau takkan dapat mengaji. Setelah dua tahun belajar di surau Jembatan Besi, Adam pergi ke Balingka. Di Balingka ia mengaji kepada Syekh Daud Rasyidi. Waktu itu Inyiak Daud (panggilan akrab Syekh Daud Rasyidi oleh murid-muridnya), baru pulang dari Mekah dan membuka surau di kampungnya Balingka.


Kendatipun sudah mengaji di surau Jembatan Besi dan di Balingka, namun tabi’atnya sebagai orang “bagak” belumlah habis benar. Salah-salah sedikit teman sesama mengaji maupun orang lain, ia langsung berkelahi dengan orang tersebut. Setiap kali Adam berkelahi, orang melaporkannya kepada Inyiak Daud. Anehnya, tiap menengahi perkelahian itu inyiak Daud tidak pernah menyalahkan Adam. Ia sepertinya selalu membela muridnya yang paling tua itu. Beberapa kali peristiwa pembelaan pada dirinya, membuat Adam merasa malu, ragu dan tak mengerti atas sikap gurunya. Padahal sebenarnya ialah yang mencari gara-gara terjadinya perkelahian itu. Suatu malam datang Adam menghadap Inyiak Daud. Di hadapan gurunya itu, ia mengakui kesalahannya bahwa dialah yang menyebabkan “cakak” atau perkelahian itu. Daud langsung menampar Adam yang mengaku salah itu sambil berucap dengan nada marah : “Sudah tahu bersalah kok tidak mengaku sejak awal”. Adam terdiam, menekur dan menyesali segala perbuatannya itu.
Pendekatan yang dilakukan oleh Inyiak Daud dalam mendidik muridnya yang pandeka itu, menimbulkan hubungan guru dengan murid menjadi akrab. Kecintaan murid terhadap guru menjadikan pula hubungan yang baik antara Inyiak Daud dengan Adam BB. Hal ini pernah diungkapkan oleh salah seaorang putranya Irsyad Adam (22-11-1996) sebagai berikut: “Bahwa ayah memang punya sifat paling hormat kepada gurunya. Ia pula yang paling dekat hubungannya dengan Inyiak Daud. Hal ini disebabkan karena ayah paling lama belajar mengaji dengan Inyiak Daud ini. Rasanya kami telah satu keluarga dengannya. Begitu juga Inyiak Daud ini telah menganggap kami sebagai anak-cucunya. Pada waktu ayah dikejar-kejar oleh tentera Jepang, kami terpaksa pindah sekeluarga ke Balingka. Ayah pergi bersembunyi ke hutan dan kami dititipkan di rumah Inyiak Daud ini. Begitu juga setelah Indonesia merdeka, ayah sering menjemput Inyiak Daud ke Balingka dan dibawanya ke Padang Panjang.

Malang tidak dapat ditolak, pada tahun 1914 M Balingka ditimpa galodo. Surau Inyiak Daud ikut tertimpa oleh galodo tersebut dan bangunannya porak poranda. Pengajian, praktis terhenti dan hampir semua murid pulang ke kampung halamannya masing-masing. Satu-satunya murid yang masih tetap bertahan di balingka adalah Adam. Ia ingin tetap mengaji bersama Syekh Daud Rasyidi. Syekh Daud Rasyidi seorang guru yang arif dan bijaksana, ikut prihatin melihat Adam belajar sendiri, maka ia berkata kepada muridnya yang tercinta itu: “ Baiklah, karena kamu hanya sendirian, kamu saya serahkan untuk mengaji ke surau Inyiak Jaho.” Bersama gurunya, Adam kembali ke Padang Panjang menuju nagari Jaho untuk belajar di surau yang diasuh oleh Syekh Muhammad Jamil Jaho.
Pada tahun-tahun awal abad ke 20 itu terjadi pertentangan antara kaum tua dengan kaum muda. Seperti diketahui bahwa gerakan pembaharuan dan pemurnian yang dilancarkan oleh ulama Wahabi (pengikut Muhammad bin Abdul Wahab) telah menimbulkan konflik dalam menilai masalah kurafat, tahayul, bid’ah dan sebagainya. Ada tangan-tangan kolonial yang masuk ke surau untuk memperuncing pertentangan itu.

Pada suatu kali datang seorang Syekh dari Arab ke nagari Jaho atas undangan Syekh Muhammad Jamil Jaho. Namanya adalah syekh Abdulhadi. Orangnya tampak alim, bahasa Indonesianya patah-patah. Setiap ucapannya selalu mengarah untuk mempertentangkan antara kaum tua dengan kaum muda. Untuk itu malah ia sering berbohong. Oleh karenanya dalam suatu majelis, Adam sengaja membeberkan perangai Syekh Abdulhadi. Abdulhadi mengaku syekh dan membela diri dengan bersilat lidah, bahkan Abdulhadi ini sempat mencela dan memburuk-burukkan guru Adam yaitu Inyiak Rasul. Setelah mendengarkan perkataan Abdulhadi yang kasar itu, Adam naik
pitam. Orang mengira Adam yang bekas orang bagak itu akan memukul Abdulhadi. Seluruh lampu yang ada dalam mesjid dipadamkannya. Abdulhadi lari ke luar masjid dan akhirnya jatuh masuk ke dalam kolam. Watak Adam yang keras dan konsisten ini, sering kali tidak sesuai dengan Syekh Muhammad Jamil Jaho, sehingga ia tidak lama mengaji di Jaho. Dengan demikian dapat kita ambil pelajaran dari perjalanan pendidikan Syekh Adam BB ini, walaupun ia sudah berumur dua puluh tahun baru belajar mengaji, namun semangatnya tidak kalah dengan yang muda-muda yang jauh lebih kecil darinya. Hal inilah yang mengantarkannya sebagai tokoh ulama dan pejuang yang telah banyak mengorbankan tenaga dan jasanya bagi masyarakat Padang Panjang khususnya dan Minangkabau umumnya.

Dalam perjalanan hidup dan kehidupannya Syekh Adam BB hanya mempunyai satu orang isteri. Putera dan puterinya sebanyak 6 (enam) orang. Yang paling tua adalah Bustanul Arifin Adam, adiknya Rohani Adam, Irsyad Adam, Huriyah Adam, Akhyar Adam dan yang bungsu Abrar Adam. Dari enam orang anaknya itu, hanya anak yang sulung Bustanul Arifin Adam yang dapat melanjutkan usahanya dalam memimpin Madrasah Irsyadin Naas Balai-Balai yang dibantu oleh bekas murid Syekh Adam BB dahulunya. Sekarang ini yang menjadi ketua Yayasan Syekh Adam BB itu adalah cucunya sendiri yaitu Murniati binti Huryah Adam. Sahabat-sahabat dekat Syekh Adam BB dari kalangan ulama muda di antaranya adalah; Zainuddin Labai El-Yunus, Hasyim El-Husni, Tuanku Pakak Batipuh Baruh, Tuanku Limo puluah Malalo dan Syaikhah Rahmah El-Yunusiyah serta beberapa orang ulama lain yang seangkatan dengannya. Di kalangan ulama muda, ia merupakan tokoh ulama dan pejuang yang cukup disegani, apalagi oleh masyarakat Padang Panjang.


Demikian Syekh Adam BB telah mengabdikan dirinya dalam hidup dan kehidupan serta berjuang selama 35 tahun. Ia telah berkarya dan meninggalkan karya besar bagi kehidupan masyarakat. Ia telah ikut meletakkan kerangka landasan kemajuan kehidupan beragama masyarakat Minangkabau umumnya dan masyarakat Padang Panjang khususnya. Atas kehendak yang Maha Kuasa, ia menghembuskan nafas yang terakhir pada hari Jum
at tanggal 15 Nopember 1953M/ 30 Zulhijjah 1368H. Ia wafat yang bertepatan dengan hari besar umat Islam itu, semoga segala jasa baik dan perjuangannya diterima oleh Allah SWT menjadi amal shaleh. Seluruh masyarakat Padang Panjang berduka cita. Jenazah Syekh Adam BB dishalatkan di Masjid Raya Jihad Padang Panjang, masjid yang dulu ia yang menggerakkan pembangunannya bersama gurunya Syekh Daud Rasyidi. Ribuan jamaah dan masyarakat Padang Panjang ikut menghantarkan jenazah seorang pemimpin umat menuju khaliknya.

Kebanyakan tokoh-tokoh ulama yang hidup semasa Syekh Adam BB banyak menghasilkan karya tulis, seperti Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Daud Rasyidi dan sebagainya. Berbeda halnya dengan Syekh Adam BB, karyanya hanya bersifat monumental yakni pendiri madrasah yang ia pimpin langsung. Ia tidak pernah mengarang dan menciptakan hasil karya tulis. Ini sempat diungkapkan oleh cucunya Murniati binti Huriyah Adam (23 -11- 1996);
Menurut cerita dari ibu saya, bahwa Inyiak Adam ini selama memimpin madrasah yang di bawah pimpinannya bahkan ia sendiri ikut mengajar di madrasah tersebut, tidak pernah menulis suatu tulisan atau hasil karya. Baik dalam bentuk pengalaman pribadi maupun nasehat-nasehat dalam bentuk tulisan yang berguna untuk murid-muridnya dan masyarakat Padang Panjang pada umumnya. Hanya sifat inyiak saya ini, kalau melihat suatu kesalahan dan keonaran, maka ia secara langsung bertindak. Jadi, Syekh Adam BB tidak pernah mengarang sebuah buku seperti ulama-ulama yang lainnya. Hal ini barangkali disebabkan, pertama: kesempatan belajar bagi Syekh Adam BB sangat pendek, kedua; pengaruh dari sifat yang dipunyainya selama menjadi parewa dan pareman, ketiga; kebanyakan ulama-ulama sebelumnya belajar dan menuntut ilmu agama Islam langsung ke Mekah, akan tetapi Syekh Adam BB hanya belajar dari ulama-ulama yang telah kembali dari Mekah. Walaupun demikian banyak jasanya dalam membina umat Islam Minangkabau umumnya dan masyarakat Padang Panjang khususnya, bahkan Buya Hamka telah memasukkan nama Syekh Adam BB sebagai ulama besar Sumatera Barat.

Diantara karya-karya Syekh Adam BB yang bersifat monumental antara lain :


1. Bidang Pendidikan Agama Islam.


Dalam usianya menjelang berumur 30 tahun, Syekh Adam BB mulai berkiprah dalam upaya mengendalikan perubahan masyarakat. Di samping itu ia terus belajar secara pribadi dengan membaca buku-buku yang dapat menambah ilmunya. Atas bantuan gurunya Syekh Daud Rasyidi, tahun 1920 didirikan sebuah surau yang langsung dipimpin oleh Syekh Adam BB. Surau yang terletak di pasar Baru Padang Panjang itu populer dengan nama Surau Pasar Baru. (SPB). Pendirian Surau Pasar Baru tersebut agaknya memang sudah menjadi rencana yang matang dari Syekh Adam BB, sehingga orientasi pendidikan suraunya lebih difokuskan kepada pembinaan fisik dan mental melalui latihan beladiri silat, termasuk juga kesenian dan keterampilan. Di sinilah keistimewaan Syekh Adam BB, ia seorang ulama, pandeka dan memiliki jiwa seni. Jiwa seni ini turun kepada anaknya, maka terkenalah beberapa nama dalam kancah seni seperti Huriyah Adam, Akhyar Adam dan lain-lain. Setelah lebih kurang lima tahun Surau Pasar Baru berjalan, telah berhasil mencetak kader-kader ulama dan pejuang. Syekh Adam BB sendiri dengan dasar-dasar ilmu agama yang cukup mapan terur belajar melalui berbagai macam kitab, sehingga ilmunya semakin matang.


Gelombang pembaharuan sistem pendidikan Islam yang dibawa oleh kalangan modernis pada awal abad ke-20, telah menarik perhatian Syekh Adam BB. Surau Pasar Baru yang semula belajar dengan sistem halaqah (mengaji dengan sistim murid-murid duduk melingkar dan guru duduk di tengah-tengah tanpa memakai kurikulum) kemudian dikembangkan menjadi madrasah dengan sistem klasikal ( belajar dengan sistem guru duduk atau berdiri di depan kelas dan murid-murid duduk di atas bangku atau kursi dan menghadap kepada guru serta murid-murid dibagi perkelas, seperti sistem pendidikan yang dipakai pada umumnya sekarang). Nama madrasah yang didirikan oleh Syekh Adam BB ini
Madrasah Irsyadin Naas (MIN), artinya Sekolah Untuk Masyarakat yang Hidup Sederhana. Selain makna yang cocok dengan visi dan misi pendidikan Syekh Adam BB yang memang diuntukkan untuk masyarakat Islam yang hidup sederhana, juga nama Irsyadin Naas itu merupakan aspirasi dari kekaguman Syekh Adam terhadap kesederhanaan gaya hidup para ulama Al-Irsyad yang dilihatnya dalam suatu perjalanan ke Jakarta. Hal ini pernah diungkapkan oleh Hj. Zahara Salim (24-11-1996); MIN yang didirikan oleh Mak Adam itu lebih banyak menerima murid yang hidupnya sederhana. Kalau ada di antara murid-murid yang tidak sanggup membayar uang sekolah, maka Mak Adam membiarkan saja. Pokoknya bagi Mak Adam, asalkan mau belajar dengan rajin, uang sekolah itu tidak menjadi masalah. Kadang-kadang untuk membayar gaji guru (uang upah) guru, dia rela mengorbankan uangnya sendiri, sedangkan uang itu adalah untuk belanja dapurnya.

Madrasah Irsyadin Naas (MIN) yang dibuka atau diresmikan pada tanggal 10 November 1929 itu bagi Syekh Adam Balai-Balai tidak lain dari kelanjutan cita-citanya untuk mendidik kader ulama dan pejuang yang mandiri. Hidup secara merdeka tidak tergantung pada orang lain. Visi dan misi seperti ini patut dikembangkan sekarang dalam rangka otonomi daerah dan otonomi pendidikan menuju masyarakat madani.
Pada waktu itu murid-murid MIN selain berasal dari daerah-daerah Minangkabau (Sumatera Barat), Aceh, Bengkulu, Palembang, juga ada yang berdatangan dari Semananjung Malaka. MIN pada waktu itu merupakan salah satu dari empat madrasah yang terkemuka di Padang Panjang. Berdampingan dengan Perguruan Diniah Putri, Perguruan Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah (Kauman) Padang Panjang. Kurikulum yang dipakai oleh MIN disesuaikan menurut kelas dan adakalanya disesuaikan dengan madrasah atau perguruan yang ada di Padang Panjang. Kurikulum tersebut tampak kemajuan sekolah ini yang sudah memadukan antara mata pelajaran agama dengan mata pelajaran umum. Di samping kurikulum tersebut, ditambah dengan mata pelajaran ekstra kurikuler di luar jam belajar dengan pelajaran ketrampilan anyaman, membuat alat-alat rumah tangga, kesenian dan sebagainya. Hal ini pernah diungkapkan oleh Ibu Nurjanah (25 -11-1996), bahwa Di waktu saya belajar di MIN, di samping kami belajar mata pelajaran khusus atau pelajaran wajib, kami diberikan pelajaran tambahan di luar jam belajar, misalnya; belajar ketrampilan, seperti membuat anyaman atau alat-alat rumah tangga. Kegiatan ini langsung diasuh oleh Inyiak Adam. Kemudian dalam bidang kesenian seperti seni tari dan alat-alat musik. Dalam seni tari diasuh oleh anaknya Huriyah Adam, sedangkan mengenai alat-alat musik diajarkan olehBustanul Arifin Adam, Irsyad Adam dan Akhyar Adam. Pada waktu itulah nampak kesemarakan sekolah MIN, bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang ada di Padang Panjang.

Dengan semangat kuat Syekh Adam BB mengembangkan madrasah ini. Ketika pemberlakuan
Wilde Scholen Ordonantie oleh pihak Belanda, guru-guru MIN diintimidasi dan sebahagian ditangkap. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kevacuman belajar, maka Syekh Adam BB menyiapkan murid-murid kelas tertinggi untuk bertindak sebagai guru. Akhirnya kebiasaan ini berlanjut, sehingga bagi murid-murid yang sudah di kelas enam harus bisa mengajar di kelas bawah. Sesudah Agresi Belanda, keadaan sudah mulai aman. MIN terus berjalan dengan baik. Pada waktu itu jumlah murid sudah mencapai lebih kurang 200 orang. Syekh Adam BB selaku tokoh dan pendiri madrasah itu mulai melakukan pengkaderan. Salah seorang muridnya yang cerdas bernama Sayyidina Umar ikut membantu Syekh Adam BB dalam menjalankan fungsi-fungsi pimpinan madrasah yang sedang berjalan.

Pada tahun 1952 MIN memperoleh bantuan dari kementrian Sosial untuk mengun gedung dan asrama madrasah berlantai dua. Dalam waktu yang singkat, atas bantuan tenaga gotong-royong dari masyarakat Padang Panjang gedung belajar dan asrama tersebut selesai dibangun. Dengan fasilitas gedung yang besar dan bagus itu, MIN semakin berkembang dengan pesatnya. Kemudian dipenghujung tahun 1952, ia sering sakit-sakitan dan tidak mungkin lagi dapat mengurus madrasah yang dipimpinnya. Untuk sementara waktu madrasah tersebut diamanahkan kepada anaknya yang tertua yaitu Bustanul Arifin Adam. Berkat usaha para alumninya, MIN membuka cabang di Kepala Hilalang Kabupaten Padang Pariaman dan di Terusan Kabupaten Pesisir Selatan. Sekarang yang menjadi ketua Yayasan Syekh Adam BB itu adalah cucunya yaitu Murniati binti Huriyah Adam.


2. Dalam Bidang Sarana Ibadah.


Sarana ibadah merupakan persoalan yang penting bagi umat Islam untuk berubudiyah kepada Allah. Baik berupa surau maupun masjid. Pada tahun 1920 Syekh Adam BB bersama gurunya memprakarsai membangun sebuah surau yang terbuat dari kayu atau papan di atas tanah wakaf Lareh Nan Panjang yang terletak di resor Lareh Nan Panjang. Surau tersebut dapat dibangun secara bergotong royong dengan ukuran 15x10 M. Surau itulah yang berubah menjadi Mesjid Raya Jihad Padang Panjang. Setelah Syekh Adam BB meninggal pada tahun 1953 M, beliau dikuburkan di samping mi
rab mesjid tersebut.

Akibat perang Padri, Belanda dapat menacapkan kukunya di Sumatera Barat. Ini berarti Minangkabau hilang kemerdekaannya. Belanda dapat menguasai dan memeras rakyat, sehingga Belanda menjadi kaya. Belanda melancarkan politik adu domba
devide et impera. Hal ini ditentang oleh para ulama dan pemimpin masyarakat lainnya, termasuk Syekh Adam BB yang mempunyai sikap anti kolonial, tetapi suka memelihara hubungan silaturahmi sesama seakidah dan sebangsa, sehingga dia sangat marah terhadap umat Islam yang terpancing dan terpengaruh oleh adu domba penjajah. Bahka ia menentang perbedaan paham antara ulama tua dan ulama muda yang menurutnya ini disebabkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang ingin memecah persatuan Bangsa Indonesia.

Untuk menghadapi kolonial Belanda, Syekh Adam BB tidak menghadapinya sendirian. Ia menjalin hubungan baik dengan pergerakan organisasi Muhammadiyah. Hal ini disebabkan organisasi Muhammadiyah sangat aktif membina perguruan-perguruan Islam, gerakan lembaga dakwah dan pemeliharaan anak yatim. Pada zaman kolonial Belanda rakyat menderita akibat kerja rodi yang selalu dibebankan kepada rakyat dan ditambah lagi dengan kekejamannya terhadap rakyat. Akan tetapi tindak tanduk Belanda ini dapat diatasinya dengan bertindak tegas dan menjalin persatuan untuk menghadapi kolonial Belanda.
Selain ordonantie sekolah liar, terdapat ordonantie kawin tercatat dianggap bertentangan dengan adat dan agama, yakni menghilangkan kekuasaan wali dan ninik mamak dalam ikatan perkawinan. Hal ini ditentang oleh Syekh Adam BB bersama ketua MTKAAM (Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau) serta alim ulama lain dalam suatu sidang lengkap pada tahun 1941. Berkat perjuangannya, masyarakat Padang Panjang memberikan gelar kehormatan kepada Syekh Adam BB dengan julukan Gandi Padang Panjang.

Kedatangan tentera Jepang ke Padang pada tanggal 17 Maret 1942 yang dipimpin oleh kolonel Fujiyama, membuat tentera Belanda bertekuk lutut kepada Jepang. Tentera Jepang menyebar ke seluruh Sumatera Barat, termasuk ke Padang Panjang. Jepang pada permulaannya memperlihatkan sikap ramah, sikap yang sesuai dengan semboyan
Jepang Pembebas Asia. Akan tetapi sikap demikian hanya sebentar saja, secara berangsur-angsur Jepang mulai menguasai pemerintahan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Rupanya itu hanya semacam bentuk tipu muslihat untuk bekerja sama melawan bangsa Barat (sekutu). Kedok tentera Jepang mulai terbuka, karena mereka menindas rakyat dan norma-norma adat dan agama tidak dihormati, bahkan diijak-injaknya. Jepang mengekang politik nasional, memeras tenaga manusia dengan kerja paksa. Di samping itu rakyat disuruh untuk melakukan Seikere yaitu salam kepada Tenno Heika (Kaisar Jepang) dengan membungkukkan diri ke arah matari terbit. Ini sudah merupakan tradisi orang Jepang. Melakukan Seikere ini merupakan penghormatan kepada Kaisar Jepang yang dianggap keturunan dewa. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, karena perbuatan seperti itu termasuk syirik (menyekutukan Allah). Sudah barang tentu pemaksaan semacam ini menyinggung perasaan umat Islam. Syekh Adam BB marah sekali melihat orang Islam yang dipaksa melakukan Seikere di Lapangan Kantin Padang Panjang dan bahkan di jalan-jalan. Syekh Adam BB tidak mau melakukan Seikere ini dan bahkan dia menghasud masyarakat agar tidak mau melakukan pemujaan terhadap Kaisar Jepang ini. Oleh karena itu Inyiak Adam BB menjadi musuh yang sangat berbahaya bagi tentera Jepang, sehingga ia sering dicari dan dikejar-kejar oleh intel-intel Jepang. Melihat reaksi Jepang ini, Syekh Adam BB mensponsori persatuan Alim Ulama Sumatera Barat (Minangkabau) bersama gurunya Syekh Daud Rasyidi. Persatuan tersebut bernama Majelis Islam Tinggi (MIT) yang beranggotakan seluruh golongan alim ulama di Minangkabau.

MIT ini merupakan pusat kekuatan umat Islam Minangkabau. MIT ini juga tempat alim ulama bermusyawarah untuk menghadapi politik pemerintahan Jepang, sehingga MIT ini mendapat dukungan oleh masyarakat Minangkabau pada waktu itu. Hasil musyawarah anggota MIT dapat mengeluarkan fatwa bahwa berjuang mempertahankan agama, bangsa dan tanaha air adalah perjuangan suci.
Kalau mati dalam perjuangan adalah mati Syahid. MIT bekerja di garis belakang memberi semangat rakyat, pemuda-pemuda digaris depan. Merekalah yang mengantarkan daging qurban pada hari raya Idul Adha dengan sebuah mobil pic-up yang diisi dengan daging qurban Setelah kota Hirosima dan Nagasaki dibom Atom oleh Sekutu, maka Jepang menyerah kepada Sekutu. Dalam suasana yang seperti ini bangsa Indonesia berpeluang untuk memproklamirkan kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh wakil-wakil bangsa Indonesia, yakni Soekarno - Hatta. Peristiwa ini disambut oleh bangsa Indonesia dan juga oleh masyaraka Padang Panjang dengan perasaan gembira. Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini diterima oleh Muhammad Syafii (pendiri perguruan INS Kayu Tanam) dan Adinegoro (sekretaris Chuo Sangi In) pada tanggal 18 Agustus 1945. Ia langsung membawa berita tersebut ke Padang Panjang dan dibicarakan dengan Dr. Rasyidin dan Khatib Sulaiman untuk disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat.

Rahmah El-Yunusiyyah setelah diberitahu oleh Muhammad Syafi
i langsung mengibarkan bendera merah putih di muka gedung Diniyah Puteri Padang Panjang. Atas inisiatif Syekh Adam BB diadakan pertemuan di sekolah MIN yang diahadiri oleh Ibrahim Gandi, BD. Asri dan Ramli Dahlan. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengibarkan bendera merah putih dan menyebarkan berita kemerdekaan ini kepada pemuda bekas Giyugun di Padang Panjang dan Batipuh X Koto. Setelah selesai pertemuan tersebut, maka berkibarlah bendera merah putih di depan pintu gerbang MIN Padang Panjang, di rumah Ramli Dahlan Balai-Balai, BD. Asri Bukit Surungan dan di rumah Ibrahim Gandi Pasar Usang kemudian diikuti oleh masyarakat lainnya. Walaupun masih ada yang meragukan tentang berita proklamasi kemerdekaan tersebut. Setelah Khatib Sulaiman dan Dr. Rasyidi datang dari Padang tanggal 21 Agustus 1945 menyatakan bahwa berita proklamasi memang benar. Pada tanggal 22 Agustus 1945 para pemuda mengadakan aksi serentak dengan mengibarkan bendera merah putih di tempat-tempat umum seperti di stasiun Kereta Api dan membawa bendera ke mana-mana. Aksi serentak ini lebih banyak dipelopori oleh barisan pemuda Pasar Usang yang diketuai oleh Ibrahim Gandi dan Karim Dt. Rajo Sikumbang. Setelah sampai di stasiun Kereta Api, mereka mengadakan upacara penaikan bendera pada tiang kantor besar Kereta Api Padang Panjang. Upacara ini mengundang kemarahan Jepang sehingga terjadi konflik antara Jepang dengan pemuda Padang Panjang.

(c) Tim Peneliti FIBA IAIN Padang


3 komentar:

  1. Mau ralat pak, Soal istri adam BB. Adam BB mempunyai 2 Istri
    istri kedua nya bernama Tinah, tinggal di kebun sikolos padang panjang.
    Saya bisa berikan bukti jika diminta.

    BalasHapus
  2. Istri kedua Adam BB bernama Tinah,nama anak nya Adimah Adam
    Cucu-cucunya : 1.syaiful
    2.Mursyidah
    3.Ardina
    4.Jonhar
    5.Nusaputra
    6. Yusraini
    7.Yusrianti
    8.Jayaputra
    9.Desdharma hayati
    10. Lili agus kurniyati
    11. Sofina Hayati

    BalasHapus
  3. Ayah saya, Djamaluddin Dt.Sinaro nan Panjang, adalah guru (Kepala Sekolah) di MIN ini sekitar tahun 1950. Ada yang tahu dengan sosok ini.

    BalasHapus