Jumat, 02 Juli 2010

KH. Moh. Thoha Ma'ruf (1920 - 1976): "Ulama NU Minangkabau Kelahiran Manado"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Beliau lahir di Manado pada tanggal 25 Desember 1920. Di Manado pula Thoha Ma’ruf menghabiskan masa kecilnya. Hingga ketika ia mendekati usia dua puluh tahun, ia mulai melangkahkan kakinya untuk meniti sebuah pengembaraan hidup. Tanah Minanglah tujuannya. Di sanalah ia mengembangkan ilmunya untuk menjadi seorang ulama yang berpengaruh di kemudian hari. Pada usia 22 tahun ia telah menamatkan Madrasah Muallimin di Bukit Tinggi (1942) setelah satu tahun sebelumnya ia juga menamatkan institute Islamic College di Padang. Dari sinilah kemuadian Beliau mulai menapakkan dirinya di jalan dakwah. Di Padang, bumi pertiwi para intelektual ini pula ia membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya terhadap dunia dengan mempelajari pula bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Bahkan bahasa Jepang inilah yang sempat menyelamatkannya dari hukuman tentara Pendudukan Jepang ketika ia ditangkap karena dianggap menentang penjajah.

Sejak merantau ke Minang inilah Thaha Ma’ruf menunjukkan bhakti yang begitu kuat terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa. Terutama dari sisi pendidikan. karena itulah ia terlibat dalam banyak sekali gerakan pendidikan sejak semasa mudanya. bahkan sebenarnya sejak sebelum ia berangkat ke negeri rantau, ia telah pula mengajar sebagai guru agama di tanah kelahirannya, Manado. Dan bukan hanya di Padang saja, melainkan juga ke wilayah-wilayah Sumatera Tengah lainnya, yakni di Riau, Jambi dan Medan. Di Minang Thaha Ma’ruf menikah dengan seorang gadis belia asli Minang yang kelak mendampinginya hingga akhir hayat. Hj Sariani binti H Muhammad Yasin. begitulah gadis itu biasa dipanggil. Sejak kecil Sariani telah dipanggil Hajjah, kerena sejak berusia lima tahun beliau telah diajak berangkat ke tanah suci Makkah-Madinah untuk pertama kalinya, beberapa kali ia pulang pergi ke Haramain sebelum akhirnya dinikahkan dengan pemuda Thaha Ma’ruf, seorang guru agama militan asal Banjar yang telah diterima sebagai bagian dari penduduk Minang. Keluarga Istrinya ini adalah sebuah keluarga saudagar kaya raya yang memiliki keseharian hidup agamis. Hj. Sariani pun seorang da’iyah handal sejak awal, sekaligus juga adalah pengatur keuangan keluarga yang terbukti sangat ulet.

Kehandalan Hj Sariani ini menjadi penting ketika terjadi peristiwa sanering (pemotongan nilai uang rupiah menjadi setengahnya), di mana setiap nominal mata uang di atas lima rupiah harus dipotong setengahnya. Kondisi ini cukup membuat orang-orang kaya kalang kabut, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cadangan uang recehan. Hj Sariani inilah yang rupa-rupanya menyimpan cukup banyak cadangan uang recehan, sehingga keuangan keluarga cukup tertolong karena nilai mata uang dibawah lima rupiah tidak mengalami penyusutan. Terbukti kemudian pasangan muda ini kedua-duanya aktif sebagai kader pejuang unggul yang mampu mensinergikan antara perjuangan bangsa dan dakwah keagamaan dalam satu tarikan nafas bahtera rumah tangga mereka. Thaha Ma’ruf, selain menjadi wartawan di Harian Penerangan, juga aktif sebagai guru di berbagai sekolah dan majlis taklim, sehingga ia mampu menanamkan rasa kecintaan masyarakat dan seluruh anak didiknya terhadap perjuangan bangsa dan agama sekaligus.

Hal ini senyatanya menjadi sebuah fakta ketika pada tahun 1953, dalam usia 33 tahun, Beliau menjadi pelopor sekaligus deklarator berdirinya Partai NU di wilayah Sumatera Tengah, wilayah yang sekarang menjadi tiga propinsi, Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Pendirian partai NU di Sumatera Tengah ini dilaksanakan setelah selama enam tahun Thaha Ma’ruf bergulat dalam perjuangannya sebagai Sekretaris Jenderal PERTI yang berpusat di Bukittinggi. Tiga tahun setelah mendirikan partai NU di Sumatera Tengah, Beliau hijrah ke Jakarta sebagai anggota Pengurus Besar NU (PBNU) dan aktif dalam perjuangan Nahdlatul Ulama di level Pusat. Di Jakarta, Thaha Ma’ruf sekeluarga sempat beberapa kali pindah alamat, dari Kebun Nanas, Matraman hingga Cipinang. Dalam menjalani kehidupannya sebagai aktifis Nahdlatul Ulama di Jakarta ini Beliau selalu didampingi oleh sang istri yang juga seorang aktivis Fatayat-Muslimat NU. Meski Jakarta adalah tempat yang baru baginya, namun Thaha Ma’ruf tatap dapat selalu mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat sekitar. hal ini terbukti ketika pada tahun 1965 terjadi kemelut yang mendebarkan seputar pemberontakan PKI, kediaman Thaha Ma’ruf di Matraman selalu dijaga oleh laskar Ansor setempat atas inisiatif mereka sendiri, bukan permintaan dari shohibul bait ataupun atas instruksi atau komando dari atas.

Selama menjalani kegiatannya sebagai politikus, Thaha Ma’ruf dan istri juga selalu aktif mengisi dakwah-dakwah di tingkat masyarakat bawah. Bahkan meskipun ia telah menjadi unsur pimpinan pusat di “Majlis Ulama” dan da’i tetap di pengajian Masjid Istiqlal. Bahkan meski berpindah-pindah tempat tinggal, keluarga Thaha ma’ruf tidak pernah meninggalkan sebuah majlis taklim pun di komunitas lamanya. Thaha Ma’ruf tercatat sebagai anggota DPRGR/MPRS tahun 1960-1970 setelah berdinas di ketentaraan sejak tahun 1946 sebagai Kepala Penerangan yang berkedudukan di Bukittinggi dengan pangkat Mayor. Dari latarbelakang militernya inilah Thaha Ma’ruf senantiasa tegas dalam sikap-sikap politiknya. Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah jika dinilainya kurang tepat.

Salah satu gagasan penting yang dicetuskannya dengan sukses adalah kembalinya Indonesia ke pangkuan PBB pada tahun 1966. Dari sinilah kemudian Thaha Ma’ruf dipercaya untuk menjalani berbagai kunjungan kenegaraan ke berbagai wilayah di luar negeri. Termasuk untuk menghadiri Kongres Perdamaian di Moskow tahun 1962 dan mempersiapkan pendirian Konsulat RI. di Seoul, Korea Selatan pada tahun 1968. Ketika terjadi banyak kemelut antara pemerintah pusat dengan beberapa wilayah termasuk dengan PRRI di Sumatera Barat, Thaha Ma’ruf mengambil sikap pro pemerintah pusat, karena baginya, keutuhan NKRI lebih penting daripada perpecahan antar bangsa. karenanya, hal ini juga menjadikannya berada dalam garis depan untuk menolak setiap bentuk perlawanan terhadap kedaulatan NKRI, termasuk ketika terjadi peristiwa pemberontakan PKI 1965. Dukungannya yang begitu kuat untuk keutuhan NKRI juga tercermin dari pendirian dan deklarasi NU wilayah Sumatera Tengah, yang diawali oleh argumentasi bahwa semestinya umat Islam di Indonesia memang memiliki sebuah wadah keagamaan yang mencakup dan menjangkau ke seluruh wilayah NKRI, sehingga tidak menimbulkan friksi antar daerah.

KH. Thaha Ma’ruf adalah seorang tokoh yang hidup dalam suasana kesederhanaan dan memiliki keteladanan yang patut diikuti oleh masyarakat muslim. Salah satu kegemaran positif semasa hidupnya adalah bersilaturrahim. Menurut penuturan KH Fadhli Ma’ruf, putera ke-7, semasa hidupnya KH Thaha Ma’ruf sangat gemar bersilaturahim ke Ulama-ulama yang juga adalah teman-teman dan kerabatnya. Selain itu beliau juga sangat gemar berziarah ke makam para Aulia di Jakarta dan sekitarnya, seperti ke Luar Batang, makam KH. Mas Mansur di Tanah Abang dan lain-lain. Hingga masa-masa tuanya, Beliau juga masih sangat aktif menulis, terutama artikel-artikel yang berkenaan dengan dakwah islamiyah. Hingga tujuh Jam sebelum beliau menghadap sang Khaliq (Malam Rabu, 6 April 1976 jam 22.00 WIB), KH. Thaha Ma’ruf masih sempat menulis sebuah karangan (artikel dakwah) yang akan diajarkan pada Majlis Ta’lim Masjid Istiqlal. Karangan terakhir ini belum selesai dan ditemukan masih terpasang di atas meja kerjanya. KH. Thaha Ma’ruf bin Mansur meninggal pada 7 April 1976 dalam usia 56 tahun dengan berstatus sebagai Pengurus Pusat Majlis Ulama Indonesia dengan meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Beberapa di antara putera puteri beliau ada yang aktif menjadi pengurus teras PBNU dan banom-banomnya, sementara yang lainnya ada yang mengurus kelanjutan dakwah Islamiyah yang telah dirintis oleh beliau.

Sumber : /www.nu.or.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar