Selasa, 06 Juli 2010

Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1881-1979) : "Pembela Tariqat Naqsyabandiah"

Oleh : Tim Peneliti Naskah Islam FIBA IAIN Padang (Yulfira Riza. cs)
Editor : Muhammad Ilham


Beliau merupakan salah seorang ulama besar Minangkabau, yang hidup dipenghujung abad ke-19 dan paruh terakhir abad ke-20. Dilahirkan pada tahun 1881, dan wafat pada tahun 1979. Memapankan karirnya di Bonjol dengan perguruan (institusi pendidikan) tradisional yang dipimpinnya. Syekh Muhammad Sa'id Bonjol identik dengan PERTI, sebuah organisasi Ulama Tua Minangkabau yang terkenal itu. Teman seperjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli yang juga berkiprah dalam organisasi PERTI. Beliau belajar agama di Mekkah, sebagai halnya ulama-ulama yang sebaya dengan beliau. Secara khusus beliau mengambil tarekat naqsyabandiyah kepada yang mulia Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan yang masyhur dengan panggilan “Angguik Balinduang”. Sehingga beliau menjadi istimewa dalam kajian-kajian tarekat naqsyabandiyah di Minangkabau. Dikenal sebagai pembela tareqat naqsyabandiah serta memiliki perhatian besar terhadap implikasi yang ditimbulkan oleh paham modernisasi terhadap kehidupan beragama.

Selain ilmu-ilmu syari’at yang dipelajari beliau dengan cara bertalaqqi sejak dari surau sampai ke Mekah al-Mukarramah, Syekh Muhammad Sa’id Bonjol sangat terkenal dengan ajaran tarekat dan hakekat, sehingga terkenal lah beliau sebagai seorang mursyid dan Syekh dari tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Karena keistimewaan beliau dalam bidang tasawuf ini, Syekh Sa’id menjadi tokoh besar dalam mengurus bidang Tarekat Sufiyah dalam organisasi PERTI, setelah - tentunya - Syekh Abdul Wahid Beliau Tabek Gadang, syekh Arifin Batu Hampar dan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh, wafat. Tercatat bahwa beliau menjadi salah satu ulama yang mengikuti konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukit Tinggi Pada tahun 1954, dalam membahas karangan Haji Djalaludin (sebagai tersebut dalam Tablighul Amanah : lihat tentang Ayekh Djalaluddin dibawah). Dedikasi Syekh Muhammad Sa’id Bonjol tersebut, dapan kita lihat dari peninggalan-peninggalan beliau, seperti naskah-naskah tua yang saat ini menjadi koleksi Mesjid Bonjol. Walau keberadaannya telah terlebih dahulu ditelusuri oleh Tim Naskah Mahasiswa Sastra Arab, namun belum dilakukan digitalisasi naskah-naskah tersebut secara utuh. Selain itu perlu juga dilakukan suatu usaha untuk menampilkan isi naskah dalam aksara latin, dengan metode transliterasi. Sehingga hasilnya, berupa kekayaan intelektual ulama-ulama masa silam dapat dinikmati oleh pembaca. Bisa jadi hal ini nantinya dapat menjadi pijakan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.


Naskah-naskah berisi tentang kajian tasawwuf dalam bentuk nazham (sya’ir), namun 4 halaman pertama berisi cacatan-catatan khusus. Halaman pertama berisi catatan hari baik mendirikan rumah. Halaman kedua berisi tentang zikir Tarekat Naqsyabandiyah, halaman ketiga berisi tabel menentukan awal bulan hijriyah (ilmu hisab) dan halaman keempat kosong. Baru pada halaman kelima berisi sya’ir Tasawwuf sampai satu halaman sebelum akhir (hal. 60). Satu halaman terakhir berisi cacatan mengenai syarat-syarat membuat azimat (rajah) dan kaifiyah mendirikan rumah. Secara umum naskah berisi tentang uraian amalan dalam Tarekat Naqsyabandiyah, mengenai kaifiyah zikir, rabithah, nafi istbat dan penjelasan mengenai kalimat la ilaha illallahu yang merupakan zikir para salik dalam tarekat Naqsyabandiyah. Sebagai diketahui bahwa Tarekat merupakan salah satu kearifan ilmu Tasawwuf, maka di dalam naskah Tarekat Naqsyabandi ini banyak ditemui ungkapan-ungkapan Tasawwuf sebagai upaya membangun argumen zikir dalam Tarekat Naqsyabandiyah.


Dari uraian teks, dijumpai indikasi bahwa teks ini khusus dibaca bagi murid yang telah lanjut kaji-nya. Naskah (di atas) berisi tentang kajian tasawwuf dalam bentuk nazham (sya’ir), namun 4 halaman pertama berisi cacatan-catatan khusus. Halaman pertama berisi catatan hari baik mendirikan rumah. Halaman kedua berisi tentang zikir Tarekat Naqsyabandiyah, halaman ketiga berisi tabel menentukan awal bulan hijriyah (ilmu hisab) dan halaman keempat kosong. Baru pada halaman kelima berisi sya’ir Tasawwuf sampai satu halaman sebelum akhir (hal. 60). Satu halaman terakhir berisi cacatan mengenai syarat-syarat membuat azimat (rajah) dan kaifiyah mendirikan rumah.



:: Naskah yang diposting hanya sebagian dari naskah asli Syekh Sa'id Bonjol yang telah melalui proses digitalisasi. Proses identifikasi dan inventarisasi sedang berlangsung oleh Tim Peneliti Naskah Islam Minangkabau Fak. Ilmu Budaya - Adab IAIN Imam Bonjol Padang.

3 komentar:

  1. Beliau Syehk Muhammad Sa'id Bonjol juga mendirikan Surau dengan nama Surau Angguik Haji Sa'id yang terletak di Dusun Pinang Balirik, Kenagaria Limo koto Kec Bonjol Pasaman. Disurau tsb juga dilaksanakan Tarekat yang dibina oleh para Mursyid yang dulu belajar dengan Beliau dan juga dari Suruau Batu Koto Tuo Kumpulan

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Salam kenal untuk semua kerabat,ini Moyang ku juga, terharu dan kagum aku membaca dan melihat gambarnya, Allhamdulillah aku sempat juga bertemu dan berhadapan langsung dengan nya saat aku pulang kekampungku tercinta BONJOL, kini Moyangku sudah tenang dipangkuan Illahi, Aamiiin Ya Allah

      Hapus