Rabu, 01 Desember 2010

Syekh Lathif Syakur (1882-1963) : Ulama Produktif dalam Menulis

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Haji Abdul Latif Syakur lahir di Air Mancur, sebuah nagari yang terletak antara Padang Panjang dengan Bukittinggi pada tanggal 27 Ramadhan 1299 H./15 Agustus 1882. Ayahnya bernama Muhammad Amin, gelar Paduko Intan yang berasal dari balai Ghurah Simabur Sawah Gadang. Sedangkan nama ibunya, Fatimah yang juga berasal dari Simabur Sawah Gadang. Suku ayah dan Ibu Haji Abdul Latif Syakur sama yaitu Pili. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan pembuat jembatan dan rel kereta api pada masa itu. Bila borongan tidak ada, biasanya ayah Haji Abdul Latif Syakur menyabit rumput disawah dan kemudian menjualnya kepada kusir bendi. Sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang pada malam harinya mengajar mengaji bagi anak-anak disekitar rumah tempat tinggal mereka. Dalam usia 7 tahun, ibu Haji Abdul Latif Syakur meninggal dunia. Dan selanjutnya beliau berada dibawah asuhan ayahanda tercinta. Pada tanggal 4 Juni 1890, dalam usia 8 tahun, Haji Abdul Latif Syakur "kecil" dibawa ayahnya pergi menunaikan ibadah haji, rukun Islam kelima ke Mekkah. Kepergian mereka berdua bukan hanya semata-mata untuk melalCSanakan haji saja, akan tetapi juga untuk menetap dalam waktu yang cukup lama. Tujuan ayah Haji Abdul Latif Syakur menetap cukup lama di Mekkah ini adalah untuk mengkondisikan dan mempersiapkan Haji Abdul Latif Syakur menjadi ulama yang memiliki ilmu pengetahuan dan pengeasaan bahasa Arab dengan baik. Selama 12 tahun, sang ayah mendampingi Haji Abdul Latif Syakur belajar agama Islam di Mekkah sambil bekerja menutupi kebutuhan hidup mereka. Di Mekkah ini, Haji Abdul Latif Syakur belajar kepada ulama kharismatik yang banyak menciptakan kader-kader potensial ulama-ulama besar Indonesia yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy yang sekampung dengan ayahnya. Pada tahun 1902, bersama ayahnya Haji Abdul Latif Syakur kembali ke Sawah Gadang Desa Balai Gurah IV Angkat Candung. Pada awal kedatangannya ke kampung halamannya tersebut, Haji Abdul Latif Syakur mengalami kesulitan dalam percakapan bahasa Minang. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam usia yang relatif muda, 8 tahun, beliau telah meninggalkan ranah Minangkabau clan baru kembali 12 tahun kemudian. Tapi lama kelamaan, secara perlahan-lahan kesufitan beliau dalam melakukan percakapan dengan memakai bahasa minang tersebut bisa diatasinya.

Setelah satu tahun menetap di Balai Gurah, Haji Abdul Latif Syakur kawin dengan seorang gadis dari suku Sikumbang yang bemama Rafah. Perkawinan mereka tidak berlangsung lama karena tidak dikaruniai anak. Tak lama setelah itu, beliau kawin lagi dengan gadis dari Koto Tuo. Perkawinan mereka juga tidak berumur panjang karena penyebabnya sama dengan istrinya yang pertama, tidak dikaruniai anak. Kemudian untuk yang ketiga kalinya, Haji Abdul Latif Syakur mempersunting seorang gadis bemama Maryam dad desa Koto Tuo juga. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Sya'diah Syakurah, Sa'nuddin, Sa'dullah dan Lafifah. Setelah itu Haji Abdul Latif Syakur kawin lagi dengan seorang gadis dari Bonjol Alam bemama Raqiyah. Dari perkawinan ini, mereka tidak dikaruniai anak. Dengan istrinya yang kelima, Kamaliyah yang berasal dari Balai Ghurah, Haji Abdul Latif Syakur dikaruniai satu orang anak yang diberi namanya Muhammad Said Syakur.


Istrinya yang keenam bemama Aisyiah dari Kamang. Mereka
tidak dikaruniai anak. Kemudian istrinya yang kedelapan adalah seorang gadis dari Balai Gurah bernama Na'isah. Mereka dikarunia lima orang anak yakni : Su'ada, Syafiuddin, Mahdiyah, Nafisah clan Syafruddin. Nama istrinya yang kesembilan adalah Rafi'ah, gadis desa Panampuang. Perkawinan mereka tidak dikaruniai anak. Dengan istrinya yang terakhir, Zahara dan Sungai Pagu juga tidak dikarunia anak. Sebagai seorang ulama, apalagi "jebolan" Mekkah, tentu banyak para orang tua yang berkeinginan menjadikan Haji Abdul Latif Syakur menjadi menantu. Sehingga tidak salah apabila Haji Abdul Latif Syakur memiliki banyak istri. Secara sosiologis, hal tersebut pada masa dahulu bukanlah sesuatu yang tabu (patologic).

Ketika Haji Abdul Latif Syakur kembali dari Mekkah dan kemudian menetap di Balai Gurah. Di tempat ini beliau mendirikan sebuah surau sebagai wahana transformasi ilmu agama yang diberinya nama Attarbiyatul Hasanah atau lebih sering dikenal dengan sebutan Surau Sicamin. Surau didirikannya pada tahun 1910. Di surau inilah, Haji Abdul Latif Syakur sambil berdakwah beliau mengajar para murid-muridnya tentang seluk beluk agama Islam seperti hukum Islam, Fiqh, ilmu Alat (bahasa Arab), akhlak, ibadah dan lain-lain. Sambil berdakwah dan mengajar tersebut, Haji Abdul Latif Syakur mentradisikan menulis pemikiran-pemikirannya. Sahabatnya, Syekh Muhammad Djamil Djambek pernah menanyakan mengapa beliau begitu produktif dalam menulis. Jawaban Haji Abdul Latif Syakur adalah, "menuangkan pemikiran kita melalui tulisan akan membuat pemikiran kita akan abadi dan tetap berguna bagi orang banyak, walaupun kita telah mati".
Sehingga tidak salah apabila Syekh Muhammad Djamil Djambek yang merupakan kawan seperguruannya sekaligus kawan karibnya ketika berguru pada Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy mengatakan bahwa Haji Abdul Latif Syakur merupakan ulama penulis. Mungkin ulama-ulama sekarang banyak yang produktif dalam tradisi menulis, akan tetapi untuk masa ini tradisi tulis tersebut merupakan sesuatu hal yang begitu langka.

Tulisan-tulisan Haji Abdul Latif Syakur ini kemudian kelak dibukukan
dalam bentuk tulisan tangan baik yang berbahasa Arab Melayu ataupun yang ditulis dalam bahasa Indonesia kedalam beberapa judul buku antara lain :
Mabaady Al-Qary yang berisikan tentang pengenalan huruf-huruf Al-Qur'an, makhraj, baris dan tata cara membacanya. Disamping itu juga dipaparkan tentang berbagai teknik dalam membaca Al Qur'an atau diistilahkan dengan ilmu Tajwid. Dalam buku ini juga dipaparkan sebuah metode membaca Al-Qur'an supaya bisa cepat menguasai seni baca AI-Qur'an tersebut. Metode yang dipaparkan Haji Abdul Latif Syakur dalam bukunya ini mirip dengan metode Iqra' yang sekarang banyak dipakai di beberapa Taman Pengajian AI-Qur'an. Akhlaaquna Al Adabiyah yang berisikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keseharian (muamalah). Pembahasannya sangat ringan dan sederhana, akan tetapi disinilah letak kelebihannya. Haji Abdul Latif Syakur merupakan ulama penulis mampu menampilkan permasalahan-permasalah yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang kadang-kadang luput dari pantauan kita. Permasalahan-permasalahan tersebut kemudian dirujukan kepada nash-nash dalam Al Quran clan hadits nabi. Attarbiyatu Watta'liim yang berisikan tentang pengertian pilar-pilar Islam seperti iman, ihsan, hukum-hukum akal, kemudian penjelasan mengenai rukun Islam dan rukun Iman serta persoalan ­persoalan akidah dan seterusnya. Mabady Al Arabiyatu Walughatuhai yang berisikan tentang ilmu qawa'id dalam Bahasa Arab. Fokus buku ini adalah ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf. Al-Akhlaqu Wal Adaby yang berisikan tentang akhlak nabi-nabi pilihan terutama akhlak rasulullah SAW. Ta'limul Qiraatul Arabiyahi merupakan buku penuntun Bahasa Arab untuk tingkat pemula. Dalam buku ini dipaparkan cara-cara agar bisa menguasai ilmu alat dalam hal ini Bahasa Arab dalam waktu yang refatif cepat. Al Fiqhud Akbar yang merupakan terjemahan dari buku Imam Syafii dan diberi komentar oleh penulis yang berisikan tentang seluk beluk hukum Islam. Ad Da'wah wa/Irsyad yang berisikan tentang kewajiban dakwah bagi setiap orang Islam beserta tata cara berpidato dan tantangan dakwah yang dihadapi. Dan beberapa tulisan lepas yang ditulis dengan tulisan tangan yang belum dibukukan.

Sebagai seorang ulama yang sekaligus pendidik, pemikiran­pemikirannya dipakai oleh beberapa lembaga pendidikan baik lembaga pendidikan kolonial Belanda maupun lembaga pendidikan Islam. Selain mengajar dan membina Surau Sicamin, Haji Abdul Latif Syakur juga mengajar di surau sahabatnya, Syekh Muhammad Djamil Djambek serta mengajar di Modern Islamic Kweek School, Diniyah IV Angkat dan Kulliyatul Islamiyatul 'Asriyah. Kemudian salah satu yang membuat Haji Abdul Latif Syakur layak untuk cermati adalah bahwa beliau banyak menulis tentang segala hal dalam ilmu agama Islam, akan tetapi tidak satupun ditemukan tulisannya yang ditulis mengenai tariqat. Hal ini memperlihatkan bahwa Haji Abdul Latif Syakur tidak mau terlibat kedalam perdebatan-perdebatan teologis yang pada masanya wacana tareqat-tasauf sebagai isu sentral perdebatan-perdebatan diantara para ulama-ulama di Minangkabau.
Haji Abdul Latif Syakur lebih suka menulis tentang hal-hal sederhana, akan tetapi sangat urgen ditengah-tengah masyarakat. Haji Abdul Latifi Syakur bukanlah seorang ulama besar dan bukan pula ulama yang mempunyai lembaga pendidikan besar yang memiliki banyak murid seperti sahabatnya Syekh Muhammad Djamil Djambek. Ketokohan Haji Abdul Latif Syakur adalah kelangkaan beliau sebagai seorang ulama. Banyak ulama-ulama besar di Minangkabau yang mampu membuat lembaga pendidikan Islam dan mampu membuat sebuah pergerakan dalam mempengaruhi alam pikiran masyarakat Minangkabau, tapi mereka belum tentu produktif dalam menulis.

Maka disinilah letak kelebihan yang dimiliki oleh Haji Abdul
Latif Syakur. Kemudian, Haji Abdul Latif Syakur merupakan satu mata rantai dari "rantai-rantai" yang dilahirkan oleh ulama besar kharismatik Minangkabau yang sampai akhir hayatnya berdomisili secara permanen di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Di antara banyak murid-murid beliau, salah satunya adalah Haji Abdul Latif Syakur. Membicarakan tentang transformasi pemikiran Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, berarti kita juga harus membicarakan Haji Abdul Latif Syakur, terlepas beliau tidak memiliki pengaruh yang sedemikian besar. Namun bukan berarti, seluruh style dan ”ideologi-menggerakkan” Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi diadopsi secara total oleh Haji Abdul Lathif Syakur. Ketika para murid-murid (ulama-ulama pembaharu Minangkabau) Syekh Ahmad Khatib memposisikan diri mereka berseberangan dengan ajaran dan ulama tareqat – sebagaimana hal ini ”getol” disuarakan oleh Syekh Ahmad Khatib – justru Haji Abdul Lathie berusaha ”menjauh” dari hal ini. Ada satu hal yang mungkin perlu direnungkan dari kalimat yang dilontarkan oleh Haji Abdul Lathif ketika beliau ditanyakan mengapa tidak berusaha menulis tentang persoalan-persoalan tareqat atau setidaknya masuk ke dalam ”wilayah perdebatan” teologis-tasauf ini, Haji Abdul Lathief menjawab : ”Persoalan-persoalan seperti itu justru akan membuat masyarakat semakin bingung”. Hanya sampai disana jawaban Haji Lathif Syakur. Beliau tidak mau mengelaborasi jawabannya tersebut karena jawaban seperti ini justru bisa berpotensi melahirkan perdebatan-perdebatan non-produktif, setidaknya buat masyarakat umum. Pada hari Sabtu malam, tanggal 13 Juni 1963 Haji Abdul Latif Syakur dipanggil kehadirat Illahi. Beliau meninggal dengan tenang di Rumah Sakit Umum M. Djamil Padang. Wafatnya beliau menimbulkan banyak kedukaan di hati masyarakat Minangkabau terutama dihati masyarakat IV Angkat Candung. Banyak masyarakat mengantarkan beliau ke pemakaman temasuk salah seorang ulama besar Minangkabau, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), anak dari kawan seperguruannya DR. HAKA.

(c) Tim Peneliti FIBA

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Putra beliau yang masih hidup saat ini adalah Muhammad Said Syakur.

    Zul Ihsan

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah...bisa membaca artkel ini. Walaupun dikampung rumah kami berhadap-hadapan namun, setelah sekian tahun (50thn) meninggalkan tanah kelahiran baru sekarang mengenal lebih jauh siapa beliau. Beristirahatlah dengan tenang "Uwo Haji Latih" semoga arwah Uwo diterima Allah SWT disisiNYA....aammiinn...

    BalasHapus
  4. alhamdulillah bisa mengkaji tafsir beliau

    BalasHapus
  5. beliau ulama lokal berwawasan internasional

    BalasHapus