Senin, 01 November 2010

A.R. Soetan Mansoer (1895-1985)

Oleh : Muhammad Ilham

Ranah Minang pernah melahirkan salah seorang tokoh besar Muhammadiyah, yaitu Ahmad Rasyid Sutan Mansur, atau yang kemudian biasa dan popular dipanggil dengan AR. St. Mansur/A.R. Soetan Mansoer

Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada Ahad malam Senin 26 Jumadil Akhir 1313 Hijriyah yang bertepatan dengan 15 Desember 1895 Masehi. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara yang merupakan karunia Allah pada kedua orang tuanya, yaitu Abdul Somad al-Kusai, seorang ulama terkenal di Maninjau, dan ibunya Siti Abbasiyah atau dikenal dengan sebutan Uncu Lampur. Keduanya adalah tokoh dan guru agama di kampung Air Angat Maninjau. Ahmad Rasyid memperoleh pendidikan dan penanaman nilai-nilai dasar keagamaan dari kedua orang tuanya. Di samping itu, untuk pendidikan umum, ia masuk sekolah Inlandshe School (IS) di tempat yang sama (1902-1909). Di sinilah ia belajar berhitung, geografi, ilmu ukur, dan sebagainya. Setamat dari sekolah ini, ia ditawari untuk studinya di Kweekschool (Sekolah Guru, yang juga biasa disebut Sekolah Raja) di Bukit tinggi dengan beasiswa dan jaminan pangkat guru setelah lulus sekolah tersebut. Namun tawaran tersebut ditolaknya, karena ia lebih tertarik untuk mempelajari agama, di samping saat itu ia sudah dirasuki semangat anti-penjajah Belanda. Sikap anti penjajah telah dimilikinya semenjak masih belia. Baginya, penjajahan tidak saja sangat bertentangan dengan fitrah manusia akan tetapi bahkan seringkali berupaya menghadang dan mempersempit gerak syiar agama Islam secara langsung dan terang-terangan atau sacara tidak langsung dan tersembunyi seperti dengan membantu pihak-pihak Zending dan Missi Kristen dalam penyebarluasan agamanya. Tidaklah mengherankan bila pada tahun 1928 ia berada di barisan depan dalam menentang upaya pemerintah Belanda menjalankan peraturan Guru Ordonansi yaitu guru-guru agama Islam dilarang mengajar sebelum mendapat surat izin mengajar dari Pemerintah Belanda. Peraturan ini dalam pandangan Sutan Mansur akan melenyapkan kemerdekaan menyiarkan agama dan pemerintah Belanda akan berkuasa sepenuhnya dengan memakai ulama-ulama yang tidak mempunyai pendirian hidup.

Sikap yang sama juga ia perlihatkan ketika Jepang berikhtiar agar murid-murid tidak berpuasa dan bermaksud menghalangi pelaksanaan shalat dengan mengadakan pertemuan-pertemuan di waktu menjelang Maghrib.
Selanjutnya, atas saran gurunya, Tuan Ismail (Dr. Abu Hanifah) ia belajar kepada Haji Rasul, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pembaharu Islam di Minangkabau. Di bawah bimbingan Haji Rasul selama tujuh tahun (1910-1917) ia belajar tauhid, bahasa Arab, Ilmu Kalam, Mantiq, Tarikh, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti syariat, tasawuf, Al-Qur'an, tafsir, dan hadits dengan mustolah-nya. Pada tahun 1917 ia diambil menantu oleh gurunya, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, dan dikawinkan dengan putri sulungnya, Fatimah, kakak Buya HAMKA serta diberi gelar Sutan Mansur. Setahun kemudian ia dikirim gurunya ke Kuala Simpang Aceh untuk mengajar. Setelah dua tahun di Kuala Simpang (1918-1919), ia kembali ke Maninjau.

Pemberontakan melawan Inggris yang terjadi di Mesir untuk melanjutkan studinya di universitas tertua di dunia, Universitas al-Azhar Kairo, karena ia tidak diizinkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk berangkat. Akhirnya ia berangkat ke Pekalongan untuk berdagang dan menjadi guru agama bagi para perantau dari Sumatera dan kaum muslim lainnya. Kegelisahan pikirannya yang selalu menginginkan perubahan dan pembaharuan ajaran Islam menemukan pilihan aktivitasnya, ketika ia berinteraksi dengan Ahmad Dahlan yang sering datang ke Pekalongan untuk bertabligh. Dari interaksi itu, akhirnya ia tertarik untuk bergabung dengan Persyarikatan Muhammadiyah (1922), dan mendirikan Perkumpulan Nurul Islam bersama para pedagang dari Sungai Batang Maninjau yang telah masuk Muhammadiyah di Pekalongan. Ketertarikan tersebut disebabkan karena ide yang dikembangkan Muhammadiyah sama dengan ide gerakan pembaharuan yang dikembangkan di Sumatera Barat, yaitu agar ummat Islam kembali pada ajaran Tauhid yang asli dari Rasulullah dengan membersihkan agama dari karat-karat adat dan tradisi yang terbukti telah membuat ummat Islam terbelakang dan tertinggal dari ummat-ummat lain. Di samping itu, ia menemukan Islam dalam Muhammadiyah tidak hanya sebagai ilmu semata dengan mengetahui dan menguasai seluk beluk hukum Islam secara detail sebagaimana yang terjadi di Minangkabau, tetapi ada upaya nyata untuk mengamalkan dan membuatnya membumi. Ia begitu terkesan ketika anggota-anggota Muhammadiyah menyembelih qurban seusai menunaikan Shalat Iedul Adha dan membagi-bagikannya pada fakir miskin.


Pada tahun 1923, ia menjadi Ketua Muhammadiyah Cabang Pekalongan, setelah ketua pertamanya mengundurkan diri karena tidak tahan menerima serangan kanan-kiri dari pihak-pihak yang tidak suka dengan keberadaan Muhammadiyah. Ia juga memimpin Muhammadiyah cabang Pekajangan, Kedung Wuni di samping tetap aktif mengadakan tabligh dan menjadi guru agama. Ketika terjadi ancaman dan konflik antara Muhammadiyah dengan orang-orang komunis di Ranah Minang pada akhir 1925, Sutan Mansur diutus Hoofdbestuur Muhammadiyah untuk memimpin dan menata Muhammadiyah yang mulai tumbuh dan bergeliat di Minangkabau. Kepemimpinan dan cara berdakwah yang dilakukannya tidak frontal dan akomodatif terhadap para pemangku adat dan tokoh setempat, sehingga Muhammadiyah pun dapat diterima dengan baik dan mengalami perkembangan pesat.
Pada tahun 1927 bersama Fakhruddin, ia melakukan tabligh dan mengembangkan Muhammadiyah di Medan dan Aceh. Melalui kebijaksanaannya dan kepiawaiannya dengan cara mendekati raja-raja yang berpengaruh di daerah setempat atau bahkan dengan menjadi montir, Muhammadiyah dapat didirikan di Kotaraja, Sigli, dan Lhokseumawe. Pada tahun 1929, ia pun berhasil mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di Banjarmasin, Kuala Kapuas, Mendawai, dan Amuntai. Dengan demikian, antara tahun 1926-1929 tersebut, Muhammadiyah mulai dikenal luas di luar pulau Jawa.

Selain dalam Muhammadiyah, Sutan Mansur – sebagaimana Ahmad Dahlan – pada dasawarsa 1920-an hingga 1930-an aktif dalam Syarikat Islam dan sangat dekat dengan HOS. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Keluarnya ia dari Syarikat Islam dapat dipastikan karena ia lebih memilih Muhammadiyah setelah SI mengambil tindakan disiplin organisasi bagi anggota Muhammadiyah. Kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau (14-26 Maret 1930) memutuskan bahwa di setiap karesidenan harus ada wakil Hoofdbestuur Muhammadiyah yang dinamakan Konsul Muhammadiyah. Oleh karena itu, pada tahun 1931 Sutan Mansur dikukuhkan sebagai Konsul Muhammadiyah (sekarang : Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) daerah Minangkabau (Sumatera Barat) yang meliputi Tapanuli dan Riau yang dijabatnya hingga tahun 1944. Bahkan sejak masuknya Jepang ke Indonesia, ia telah diangkat oleh Pengurus Besar Muhammadiyah menjadi Konsul Besar Muhammadiyah untuk seluruh Sumatera akibat terputusnya hubungan Sumatera dan Jawa.


Pada saat menjabat sebagai Konsul Besar Muhammadiyah, Sutan Mansur juga membuka dan memimpin Kulliyah al-Muballighin Muhammadiyah di Padang Panjang, tempat membina muballigh tingkat atas. Di sini dididik dan digembleng kader Muhammadiyah dan kader Islam yang menyebarluaskan Muhammadiyah dan ajaran Islam di Minangkabau dan daerah-daerah sekitar. Kelak muballigh-muballigh ini akan memainkan peran penting bersama-sama pemimpin dari Yogyakarta dalam menggerakkan roda persyarikatan Muhammadiyah.
Ia oleh Konsul-konsul daerah lain di Sumatera dijuluki Imam Muhammadiyah Sumatera. Ketika Bung Karno diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938, Sutan Mansur menjadi penasehat agama Islam bagi Bung Karno. Pada masa pendudukan Jepang, ia diangkat oleh pemerintah Jepang menjadi salah seorang anggota Tsuo Sangi Kai dan Tsuo Sangi In (semacam DPR dan DPRD) mewakili Sumatera Barat. Setelah itu, sejak tahun 1947 sampai 1949 oleh wakil Presiden Mohammad Hatta, ia diangkat menjadi Imam atau Guru Agama Islam buat Tentara Nasional Indonesia Komandemen Sumatera, berkedudukan di Bukit tinggi, dengan pangkat Mayor Jenderal Tituler.

Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1950, ia diminta menjadi Penasehat TNI Angkatan Darat, berkantor di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Akan tetapi, permintaan itu ia tolak karena ia harus berkeliling ke semua daerah di Sumatera, bertabligh sebagai pemuka Muhammadiyah. Pada tahun 1952, Presiden Soekarno memintanya lagi menjadi penasehat Presiden dengan syarat harus memboyong keluarganya dari Bukit tinggi ke Jakarta. Permintaan itu lagi-lagi ditolaknya . Ia hanya bersedia menjadi penasehat tidak resmi sehingga tidak harus berhijrah ke Jakarta. Dalam konggres Masyumi tahun 1952, ia diangkat menjadi Wakil Ketua Syura Masyumi Pusat. Setelah pemilihan umum 1955, ia terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Konstituante dari Masyumi sejak Konstituante berdiri sampai dibubarkannya oleh presiden Soekarno. Tahun 1958 ketika pecah pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) di Padang , ia pun berada di tengah-tengah mereka karena didasari oleh ketidaksukaannya pada PKI dan kediktatoran Bung Karno, meskipun peran yang dimainkannya dalam pergolakan itu diakuinya sendiri tidak terlalu besar.


Ia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam dua kali periode kongres. Kongres Muhammadiyah ke-32 di Banyumas Purwokerto pada tahun 1953 mengukuhkannya sebagai Ketua PB Muhammadiyah periode tahun 1953-1956. Oleh karena itu, ia pun pindah ke Yogyakarta . Pada kongres berikutnya yaitu kongres Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang ia terpilih lagi menjadi ketua PB Muhammadiyah periode tahun 1956-1959. Dalam masa kepemimpinannya, upaya pemulihan roh Muhammadiyah di kalangan warga dan pimpinan Muhammadiyah digiatkan. Untuk itu, ia memasyarakatkan dua hal, pertama, merebut khasyyah (takut pada kemurkaan Allah), merebut waktu, memenuhi janji, menanam roh tauhid, dan mewujudkan akhlak tauhid; kedua, mengusahakan buq'ah mubarokah (tempat yang diberkati) di tempat masing-masing, mengupayakan shalat jamaah pada awal setiap waktu, mendidik anak-anak beribadah dan mengaji al-Qur'an, mengaji al-Qur'an untuk mengharap rahmat, melatih puasa sunat hari senin dan kamis, juga pada tanggal 13 ,14, dan 15 bulan Islam seperti yang dipesankan oleh Nabi Muhammad, dan tetap menghidupkan taqwa. Di samping itu juga diupayakan kontak-kontak yang lebih luas antar pemimpin dan anggota di semua tingkatan dan konferensi kerja diantara majelis dengan cabang atau ranting banyak di selenggarakan. Dalam periode kepemimpinannya, Muhammadiyah berhasil merumuskan khittahnya tahun 1956-1959 atau yang lebih populer dengan sebutan Khittah Palembang, yaitu :
(1). Menjiwai pribadi anggota dan pimpinan Muhammadiyah dengan memperdalam dan mepertebal tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyu' dan tawadlu', mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, dan menggerakkan Muhammadiyah dengan penuh keyakinan dan rasa tanggung jawab, (2). Melaksanakan uswatun hasanah, (3). Mengutuhkan organisasi dan merapikan administrasi, (4). Memperbanyak dan mempertinggi mutu anak, (5). Mempertinggi mutu anggota dan membentuk kader, (6). Memperoleh ukhuwah sesama muslim dengan mengadakan badan islah untuk mengantisipasi bila terjadi potensi keretakan dan perselisihan, dan (7). Menuntun penghidupan anggota.

Meskipun setelah 1959 tidak lagi menjabat ketua, Sutan Mansur yang sudah mulai uzur tetap menjadi penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari periode ke periode. Ia meski jarang sekali dapat hadir dalam rapat, konferensi, tanwir, dan Muktamar Muhammadiyah akan tetapi ia tetap menjadi guru pengajian keluarga Muhammadiyah. Buya Sutan Mansur juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Dari beberapa tulisannya yang antara lain berjudul Jihad; Seruan kepada Kehidupan Baru; Tauhid Membentuk Kepribadian Muslim; dan Ruh Islam nampak sekali bahwa ia ingin mencari Islam yang paling lurus yang tercakup dalam paham yang murni dalam Islam. Doktrin-doktrin Islam ia uraikan dengan sistematis dan ia kaitkan dengan tauhid melalui pembahasan ayat demi ayat dengan keterangan al-Qur'an sendiri dan hadits.

Buya H. Ahmad Rasyid Sutan Mansur akhirnya meninggal pada hari Senin tanggal 25 Maret 1985 yang bertepatan 3 Rajab 1405 di Rumah Sakit Islam Jakarta dalam usia 90 tahun. Sang ulama, da'i, pendidik, dan pejuang kemerdekaan ini setiap hari Ahad pagi senatiasa memberikan pelajaran agama terutama tentang Tauhid di ruang pertemuan Gedung Muhammadiyah jalan Menteng Raya 62 Jakarta. Jenazah almarhum buya dikebumikan di Pekuburan Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan setelah dishalatkan di masjid Kompleks Muhammadiyah. Buya Hamka menyebutnya sebagai ideolog Muhammadiyah dan M. Yunus Anis dalam salah satu kongres Muhammadiyah mengatakan, bahwa di Muhammadiyah ada dua bintang. Bintang Timur adalah KH. Mas Mansur dari Surabaya, ketua PP Muhammadiyah 1937-1943 dan bintang Barat adalah AR. Sutan Mansur dari Minangkabau, ketua PP Muhammadiyah 1953-1959.


Sumber : Suara Panjimas (April 1988) dan Yerli Efrita (1994)

Hj. Aisyah Aminy : Perempuan Baja Vokalis Senayan (1)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Di saat dunia politik dimonopoli kaum laki-laki, ia tampil ke depan. Bukan saja seorang parlementarian yang terampil berdebat, ia juga seorang pejuang gender yang tak kenal lelah. Siapapun yang melek politik, pasti mengenal nama Hj. Aisyah Aminy, SH, di kancah perpolitikan Tanah Air. Bertahun-tahun berkecimpung di dunia partai dan legislatif, perempuan ini punya banyak nama julukan. Singa Betina dari Senayan, Perempuan Baja dari Senayan, Vokalis DPR dan sebagainya.

Politisi wanita kawakan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menerima anugerah Bintang Jasa Utama dari pemerintah pada HUT Kmerdekaan RI ke-59 17 Agustus 2004. Walau sudah memasuki usia anugerah di atas 70 tahun, wanita kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat 1 Desember 1931 ini masih tetap lantang memperjuangkan memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya termasuk jatah kuota 30 persen perempuan di parlemen. Dia, bersama tokoh-tokoh wanita lainnya mendirikan Kaukus Perempuan untuk tujuan dimaksud.
Ia tampak tak keberatan. Dalam pemikirannya hanyalah bagaimana dirinya dapat mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin untuk bangsa dan negara. Selain kiprahnya di dunia politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang turut dibesarkannya, ia juga punya peran yang sangat besar di bidang emansipasi perempuan. Ketika isu gender baru mencuat, nama Aisyah bahkan sudah duluan disebut-sebut sebagai salah satu pelopor kesetaraan laki-laki dan perempuan di ranah publik.

Hal itu tidak mengherankan, karena sejak baru belajar berorganisasi, Aisyah sudah merasakan ketidakseimbangan peran perempuan di luar bidang domestik atau rumah tangga. Aisyah ingin perempuan juga punya kesempatan yang sama dalam segala bidang. Maka, ia pun berjuang memasukkan pasal-pasal kesetaraan gender dalam berbagai rancangan undang-undang maupun dalam prinsip-prinsip partainya yang bernafaskan Islam. Aisyah dididik keluarganya dalam lingkungan yang religius, yang terus terbawa dalam setiap tindakan, prinsip dan pemikirannya sampai masa tuanya. Sejak muda, Aisyah sudah belajar berorganisasi. Di masa perang kemerdekaan, seperti Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penolong Kecelakaan Korban Perang (BPKKP), bahkan menjadi wartawan perang Sumatera Tengah. Kemudian, Aisyah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang dideklarasikan 5 Februari 1947 di kampus Universitas Islam Yogyakarta (sekarang Universitas Islam Indonesia/UII) dimana ia menuntut ilmu.

Dedikasinya untuk kemajuan bangsa diwujudkan dengan menyisihkan waktu menjadi guru di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Puteri Yogyakarta. Tahun 1955, ia juga mengajar di SMA Puteri Yogyakarta dan menjadi dosen di Universitas Tjokroaminoto Yogyakarta dua tahun kemudian. Meski sibuk mengajar, perkuliahannya tidak terganggu. Tahun 1957, ia lulus dan menjadi perempuan pertama di Indonesia yang meraih gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum). Aisyah juga dikenal dekat dengan para tokoh nasional. Selain dengan Mr. Mohammad Roem, di mana Aisyah menjadi anggota tim advokasinya, juga dekat dengan Buya HAMKA.

Pada bulan April, ia bersama Anwar Haryono SH, Djamaludin Datuk Singo Mangkuto SH, Dr a Halim, Hasjim Mahdan SH, Harjono Tjitrosubono SH, Hadely Hasibuan SH, Padmo Susanto SH, Sudjono SH, Suroto SH, Drs Syarif Usman, Dr AM Tambunan SH dan Thamrin Manan SH, mendirikan lembaga Pembela Hak Asasi Manusia (LP HAM). Kiprah di parlemenPada tanggal 20 Februari 1968, Presiden Soeharto mengesahkan berdirinya Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Partai ini menampung aspirasi ormas-ormas Islam, misalnya Muhammadiyah, Jamiyatul Wasliyah, Gasbindo, Persatuan Guru-guru Agama Seluruh Indonesia, bahkan Wanita Islam. Sejak awal, Aisyah terlibat dalam pembentukan Parmusi yang saat itu ketua umumnya adalah Moh. Roem. Aisyah masuk dalam kepengurusannya sampai 1970, saat kepemimpinan diambil-alih J Naro. Tahun 1973, empat partai Islam (termasuk Parmusi) difusikan ke dalam PPP. Karena keaktifan Aisyah di Parmusi, kemudian PPP, membawanya ke kancah perpolitikan di Senayan, sebagai anggota MPR RI periode 1977-1987. Bersama fraksinya ketika itu, Aisyah ikut menentang Rancangan Ketetapan MPR No. II tahun 1978. Alasannya, jika Rantap itu menjadi Tap MPR, masyarakat akan mengkeramatkan Pancasila secara berlebihan dan mengesampingkan agama yang dianutnya. Periode 1987-1992, Aisyah menjadi anggota DPR/MPR RI. Ia duduk di Komisi II yang membidangi masalah politik dalam negeri dan pertanahan. Di masa jabatannya ini, Aisyah banyak melontarkan kritik terhadap pemerintah, di antaranya disampaikan langsung dalam dialognya dengan Menteri Dalam Negeri, agar pemerintah tidak memaksa rakyat memilih Golkar. Memang, akibat pemaksaan kehendak ini, dampaknya sangat terasa terhadap PPP. Dari soal mempersulit mengambil rapor anak sampai teror dialami para kader PPP. Hal inilah yang ditentang Aisyah ketika itu. Sebab, jelas-jelas terlihat ada upaya pengerdilan PPP secara sistematis, sehingga sulit mengembangkan partai dan merekrut kader-kader baru.

Aisyah dan partainya juga menentang keharusan pegawai negeri memilih Golkar dan larangan pemerintah kepada partai-partai politik untuk berkiprah di desa-desa, kecuali Golkar. Bukan Aisyah namanya kalau ia tidak berusaha untuk mengembangkan pemikirannya di tataran yang lebih tinggi. Pada proses penyiapan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), Aisyah sering diundang Sekjen Wakahamnas. Di masa Orde Baru, GBHN selalu berasal dari presiden. Begitu GBHN masuk dalam tingkat pembahasan di MPR, akan sulit mengubahnya. Sebelumnya ide-ide tentang GBHN ini didiskusikan dulu pada pertemuan terbatas dengan ormas, partai-partai politik, kalangan birokrasi dan kalangan kampus oleh Wakahamnas. Lewat pembahasan-pembahasan itulah Aisyah berusaha memasukkan ide-idenya ke dalam GBHN. Namun saking sulitnya, kalau pun ide-ide itu masuk, hanya sebatas hal-hal yang umum dan bukan hal-hal strategis. Salah satu yang disoroti Aisyah dan fraksinya ketika itu adalah Trilogi Pembangunan, yakni pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas. F-PP menginginkan GBHN menitikberatkan pada pemerataan. Tapi pemerintah malah menitikberatkan pertumbuhan, yang ditandai dengan pembangunan di kota-kota besar dengan peningkatan sampai tujuh persen. Padahal, menurut Aisyah, daerah-daerah justru sangat tertinggal pertumbuhannya dan perekonomiannya sangat rendah. Itulah sebabnya, ia lebih setuju jika yang dikedepankan adalah pemerataan. Aisyah bahkan mengangkat isu transmigrasi yang ketika itu sedang digalakkan pemerintah. Menurutnya, sentralisasi pembangunan di Jawa membuat program transmigrasi tidak berhasil, karena lebih banyak orang daerah yang datang ke Jawa dibandingkan orang Jawa yang bertransmigrasi ke daerah.

Masih belum cukup, perempuan yang pernah menjadi anggota Komnas HAM ini mengkritik masalah pertanahan, dimana pemerintah seringkali mengambil paksa tanah rakyat tanpa ganti rugi. Juga dikritiknya gaji pegawai negeri yang rendah. Gaji yang tidak mencukupi kebutuhan ini menjadi pemicu korupsi. Masih dipercaya Tahun 1992-1997, Aisyah dipercaya lagi sebagai anggota DPR/MPR RI dan duduk di Komisi I. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan dipercaya sebagai ketua Komisi I yang ketika itu membidangi pertahanan, keamanan, luar negeri dan penerangan.Periode 1997-1999, ia kembali dipercaya sebagai ketua Komisi I. Hal ini amat berkesan bagi dirinya, karena komisi ini terkenal 'berat' dan ia adalah perempuan pertama yang menjadi ketua komisi ini. Apalagi dirinya berasal dari partai Islam, yang seringkali menimbulkan kesan kurang memberikan kesempatan pada kaum perempuan. Selama di Komisi I, Aisyah banyak melontarkan kritik, saran dan gugatan. Suaranya yang lantang dan argumentasinya yang tajam dalam rapat-rapat komisi maupun rapat pleno sangat dikenal. Bahkan, orang tidak perlu melihat siapa yang berbicara, karena sudah mengenal suara dan gaya bicaranya. Aisyah mengkritik tindakan represif TNI di Aceh dan Papua, tempat-tempat perjudian yang di-backing pejabat dan aparat keamanan, peredaran Narkoba, bahkan UU Pers, khususnya Peraturan Menteri Penerangan No. 10 tahun 1984 yang memasung kebebasan pers, juga undang-undang perfilman yang menyulitkan para sineas berkreasi. Ia bahkan dengan berani mengkritik kenetralan TNI/Polri (dulu masih bernama ABRI) yang kala itu sangat memihak Golkar. Tak tanggung-tanggung, kritik itu disampaikan langsung saat pertemuan pimpinan partainya dengan Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno.

Kawan-kawannya mengenal Aisyah sebagai anggota Dewan yang sering turun langsung ke daerah. Di sana, ia bertemu langsung dengan rakyat dan mendengarkan keluhan mereka. Semua itu tidak hanya diendapkan, melainkan langsung didiskusikan dan dicari solusinya bersama kawan-kawannya di DPR. Setelah tidak menjadi ketua Komisi I DPR/MPR, periode 1999-2004, Aisyah dipercaya F-PP duduk dalam Badan Pekerja MPR sebagai wakil ketua Panitia Ad Hoc II, yang mempersiapkan rancangan ketetapan-ketetapan selain GBHN dan Perubahan UUD 1945. Mencermati peristiwa-peristiwa sejarah di Indonesia, tampaklah bahwa Aisyah Aminy selalu hadir di dalamnya sebagai komponen yang ikut berjuang dan berperan serta. Ia menjadi saksi sejarah sejak zaman penjajahan Jepang, Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Ia pejuang kemerdekaan, aktivis di masa Orde Lama, ikut meletakkan dasar Orde Baru sekaligus mengkritisinya. Ia menjadi saksi pergantian lima presiden Republik Indonesia, sejak zaman Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Puteri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Aisyah Aminy adalah perempuan baja yang tegar dan konsisten dalam memperjuangkan kebenaran yang diyakininya.

Sumber : Buku Tokoh Wanita Indonesia (2005)

Hj. Aisyah Aminy : Perempuan Baja Vokalis Senayan (2)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Malang melintang di dunia politik yang penuh godaan duniawi, sikap hidup Aisyah Aminy tetap konsisten. Idealismenya tak lekang dan jiwanya yang religius tak tergoyahkan. Dia politisi perempuan religius yang ditempa sejak kecil oleh keteladanan orangtuanya. Meski usianya sudah lebih dari 70 tahun, Hj Aisyah Aminy SH tetap terlihat sehat, prima dan lebih muda dari usianya. Bicaranya tetap lantang dan jernih, tak berubah seperti saat ia masih menjalani hari-harinya di parlemen. Perempuan Minang ini, selama tiga dasawarsa dikenal sebagai tokoh perempuan nasional yang menjalani berbagai peran politik dan sosial bersama tokoh-tokoh nasional lainnya. Perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat dan anak ketujuh dari delapan bersaudara, itu sejak kecil dididik dalam lingkungan yang sangat religius. Maklumlah, selain orangtuanya yang memang dekat dengan ajaran agama, di daerahnya banyak berdiri perguruan agama terkenal seperti Perguruan Diniyah dan Diniyah Puteri, Sumatera Thawalib dimana Buya HAMKA dan KH Zarkasyi-pimpinan Pondok Pesantren Gontor-pernah menimba ilmu, HIS Muhammadiyah, Kulliyatul Muballighien, Muballighot dan Madrasah Irsyadun Irsyad. Ayahnya, H Muhamad Amin, berperan sangat penting dalam mendidik anak-anaknya. Sang ayah dan ibu Aisyah, Hj. Djalisah, meski tidak berpendidikan formal akan tetapi selalu memberikan teladan yang baik bagi mereka.

Dari sang ayahlah Aisyah dan saudara-saudaranya belajar menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan moralitas. Itu sebabnya, selama malang melintang di dunia politik yang penuh intrik dan godaan duniawi, nama Aisyah Aminy tidak pernah dikaitkan dengan kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Kejujuran ayahnya yang bekerja sebagai pedagang itu begitu membekas dalam kenangan Aisyah. Suatu hari, tuturnya, ada seorang pembeli yang lupa mengambil uang kembalian dan pergi begitu saja. Ayahnya menyuruh Adnan, anak keempatnya, untuk mengejar si pembeli dan memberikan uang kembalian itu. Ayahnya juga selalu membersihkan timbangannya sebelum digunakan lagi agar takaran barangnya tepat dan ia tidak mengurangi hak orang lain. H Muhammad Amin adalah seorang otodidak. Ia bisa membaca karena sering memperhatikan huruf-huruf dan angka-angka yang tertera pada kemasan barang yang dijualnya. Dengan semangat belajar yang tinggi, dirangkainya satu demi satu huruf-huruf itu sampai ia pun menjadi lancar membaca. Bersama isterinya, H Muh Amin juga menambah pengetahuan agamanya dengan mengikuti ceramah-ceramah agama, yang antara lain diberikan oleh Dr H Karim Amarullah (ayah Buya HAMKA).

Semangat belajarnya itu ditularkan kepada anak-anaknya. Semua anaknya bersekolah, bahkan ada yang sampai ke Jawa. Sampai saat ini, yang masih aktif selain Aisyah adalah Rahmah Aminy, kakak Aisyah yang keenam. Rahmah menjadi dosen di Universitas Islam Jakarta. Adik Aisyah, si bungsu Dr. Wardiyah Aminy pernah memimpin poliklinik Departemen Agama dan saat ini masih berpraktik dokter di Rumah Sakit Rawamangun Jakarta. Sedangkan kakak keempat Aisyah, Adnan Syamny sempat dikirim Pak Natsir ke Pakistan untuk mempelajari UUD Pakistan pada awal kemerdekaan. Kakaknya yang kelima, Rusli Aminy, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan pernah menjadi dosen di Trisakti dan UPN.

Dari ayahnya, Aisyah belajar tentang kejujuran, semangat menimba ilmu, dan sikap religius. Maka dari ibunya, ia belajar kedisplinan dan tanggung jawab. Aisyah tidak boleh meninggalkan sholat lima waktu dan tidak lupa mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya. Aisyah muda tidak pernah mendengar orangtuanya berkata dengan lisan bahwa mereka mendukung penuh kegiatannya berorganisasi sejak masih duduk di perguruan Diniyah Puteri Bahagian B (setingkat SMP). Tetapi mereka menunjukkan dengan tindakan. Kebiasaan Aisyah setiap liburan sekolah, adalah pulang kampung ke Nagari Magek Kabupaten Agam. Ia diminta teman-temannya untuk memimpin kegiatan bagi masyarakat di desanya yang kebanyakan tidak berpendidikan. Timbullah ide, ia dan teman-temannya kemudian mengundang guru-guru dari kota untuk memberikan ceramah pada penduduk. Buya HAMKA pun pernah diundangnya. Maka, tampaklah dukungan orangtuanya, dengan menyediakan kamar di rumah mereka untuk menginap para penceramah, menjamunya dengan baik, sampai menyediakan fasilitas bagi anak-anak muda yang melakukan kegiatan positif tersebut. Dedikasi Aisyah Aminy tidak terbatas hanya di parlemen. Pada usia 70-an pun ia masih memperjuangkan persamaan gender yang dirasakannya berjalan lambat. Sejak muda, Aisyah sudah dikenal sebagai perempuan yang ingin diperlakukan sejajar dengan kaum laki-laki. Kalau ada teman laki-laki yang meremehkan kemampuannya, serta merta ia akan menunjukkan bahwa pendapat itu salah. Hal itu dilakukannya dengan elegan dan terbukti bahwa ia memang mampu.

Minggu, 17 Oktober 2010

Siti Manggopoh (1880 - 1965) : "Melawan karena Belasting"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Ada yang terlupakan dari catatan sejarah Indonesia. Siti Manggopoh. Nama perempuan asal Minang ini memang tidak bergaung, seperti RA Kartini yang dianggap sebagai tokoh pahlawan Indonesia. Padahal, jika ditelusuri lagi, Siti Manggopoh merupakan pahlawan perempuan dari Minangkabau yang mampu mempertahankan marwah bangsanya, adat, budaya dan agamanya.

Bagaimana tidak, Siti Manggopoh tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting). Ketika itu, perempuan-perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi sedang mengibarkan bendera perjuangan gender, dan pada saat itu Siti Manggopoh, perempuan pejuang dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatera Barat muncul sebagai perempuan dengan semangat perlawan terhadap penjajahan yang terjadi di negerinya. Siti Manggopoh, merupakan perempuan Minang yang memiliki nama Siti. Ia lahir bulan Mei 1880. Nama Manggopoh dilekatkan pada dirinya, karena ia terkenal berani maju dalam perang Manggopoh. Manggopoh itu sendiri merupakan nama negerinya. Siti merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Kelima kakaknya dengan senang hati menyambut kelahiran Siti, karena Siti adalah anak perempuan pertama sekaligus terakhir yang dilahirkan dalam keluarga mereka. Kelima kakak laki-laki Siti pun selalu mengusung Siti ke mana-mana. Ia membawa Siti ke pasar, ke kedai, ke sawah, dan bahkan ke gelanggang persilatan. Siti pun pernah bermain sangat jauh dari kenagarian Manggopoh, bahkan sampai ke daerah Tiku, Pariaman. Tak hanya itu, ketika kakaknya belajar mengaji ke surau, Siti juga diajak dan mengecap pendidikan di surau. Sebagai perempuan Minang, Siti memiliki kebebasan. Ia membangun dirinya secara fisik dan nonfisik. Ia belajar mengaji, bapasambahan dan juga persilatan. Inilah kiranya yang menyebabkan Siti berani maju ke medan perang untuk melawan penjajahan Belanda di negerinya.

Siti menikah dengan Rasyid. Pernikahan mereka ternyata tidak membuat Siti terikat dengan tugas perempuan di dalam rumah tangga. Justru bersama suaminya, Rasyid, Siti memiliki semangat dan arah perjuangan yang setujuan. Mereka bahu membahu melepaskan penderitaan rakyat Minangkabau. Kesadaran ini muncul ketika Siti dan Rasyid merasakan bahwa telah terjadi penindasan di negerinya oleh pemerintahan Belanda. Dari catatan yang ada, meski sebagai seorang tokoh pun, ternyata Siti pernah mengalami konflik batin ketika akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda. Ia mengalami konflik ketika rasa keibuan terhadap anaknya yang sedang menyusu muncul, padahal di satu sisi, ia merasakan sebuah panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari kezaliman Belanda. Namun, ia segera keluar dari sana dengan memenangkan panggilan jiwanya untuk membantu rakyat. Inilah catatan untuk Siti Manggopoh. Ia pun kembali menunaikan tanggung jawabnya sebagai ibu setelah melakukan penyerangan. Catatan lagi menyatakan bahwa Siti pernah membawa anaknya, Dalima, ketika melarikan diri ke hutan selama 17 hari dan selanjutnya dibawa serta ketika ia ditangkap dan dipenjara 14 bulan di Lubukbasung, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di Padang. Perempuan Minangkabau pemberani, yang berani bertaruh mengikutserakan anaknya ke medan perang, karena kondisi fisik anaknya yang masih kecil.

Belasting merupakan tindakan pemerintah Belanda yang menginjak harga diri bangsa Minangkabau. Rakyat Minangkabau merasa terhina ketika mematuhi peraturan untuk membayar pajak tanah yang dimiliki secara turun temurun. Apalagi peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau. Di Minangkabau, tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau. Kesewenang-wenangan Belanda dalam memungut pajak di tanah kaum sendiri, membuat rakyat Minangkabau melakukan perlawanan. Perlawanan tersebut juga tidak bisa dilupakan oleh Belanda, karena adanya sebuah gerakan yang dilakukan Siti Manggopoh pada tanggal 16 Juni 1908. Belanda sangat kewalahan menghadapi Siti Manggopoh pada masa itu, bahkan ia meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh. Siti Manggopoh memang membangun dirinya dengan kecerdasan sejak kecil. Hal inilah yang dimunculkannya ketika menyusun siasat yang diatur sedemikian rupa. Dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Siti memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda tanpa hanyut dibuai rayuan mereka.

Di markas belanda di manggopoh, sewaktu tentara belanda sedang mengadakan pesta judi dan mabuk mabukan masuklah seorang wanita cantik, yang sebenarnya adalah Siti, buruan pemberontak yang paling di cari tentara belanda. Siti lansung membaur dengan para tentara yang sedang mabuk itu. Karena kelelahan dan teler karena minuman keras, akhirnya puluhan tentara belanda terkapar tak sadarkan diri, melihat peluang tersebut siti segera memberi isyarat kepada para pejuang yang sudah menunggu di luar untuk segera menyerang. Para pejuang merebut markas belanda dan membantai puluhan tentara belanda teresebut, tercatat 53 orang tentara belanda tewas dan 2 orang berhasil melarikan diri dalam keadaan terluka parah ke lubuk basung. Akibatnya, dalam Perang Manggopoh, Siti memenangkan pertarungan dengan Belanda. Ia berhasil menyelamatkan bangsanya dari penjahahan. Oleh sebab itu, sejarawan Minangkabau mencatat Siti Manggopoh sebagai satu-satunya perempuan Minangkabau yang berani melancarkan gerakan sosial untuk mempertahankan nagarinya terhadap pengaruh asing. Bahkan tidak jarang gerakan yang dilancarkannya secara fisik. Perebutan benteng yang dilakukan Siti menyulut Perang Manggopoh. Akhirnya Siti bersama sang suami, Rasyid Bagindo Magek, berhasil ditangkap dan dipenjarakan tentara Belanda. Tapi, lantaran mempunyai bayi, Siti terbebas dari hukuman pembuangan. Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, pada 20 Agustus 1965 di Kampung Gasan Gadang, Kabupaten Agam.


Sumber : Abel Tasman dkk., (2000) - Foto Patung Siti Manggopoh di "Pertigaan" Simpang Gudang-Lubuk Basung, Agam

Rabu, 13 Oktober 2010

Engku Nawawi Soetan Makmoer (1859-1928)

Oleh : Muhammad Ilham

Kaum Feminis di Sumatera Barat (baca : Minangkabau) sudah seharusnya mencatat bahwa Engku Nawawi adalah "pahlawan", karena beliaulah untuk kali pertama menyekolahkan anaknya gadisnya ke sekolah Eropa. Pada akhir abad ke-19 M., umumnya gadis-gadis Minangkabau "dipingit" oleh keluarganya yang berbasiskan matrilineal ini, untuk kemudian (dalam banyak kasus) dikawinpaksakan pada usia yang belia. Engku Nawawi mendobrak adat "lapuk" itu dengan memasukkan anak gadis-nya Syarifah Nawawi ke ELS (De Europeesche Lagere School) di Bukittinggi dan seterusnya ke Kweekschool tahun 1907. Lebih "mencerahkan" dan "mendahului" ayah RA. Kartini.

Java Bode, 20 November 1928 - Zondag, 11 dezer, is te Fort de Kock opruim 70 jarigen leeftijd overleden Engkoe Nawawi gepensionneerd onderwijzer aan de Kweekschool aldaar, een zeer geacht ingezetene te stede en stede en een voormanvan zijn stam en land. Engkoe Nawawi kan geacht worden de primus te zijn onder zijn langenooten, hij was de eerste leerling van de normaalschool en idem van de Kweekschool en later ook de eerste onderwijzeraan deze inrichting. Voorts was hij de eerste inlandsche onderwijzer, die de hulpacte haalde en verder nog de eerste in vele andere opzichten. Ook de eerste van het corps, onderwijzers, wien en, koninklijke onderschleiding mocht ten deel vallen. Aan de hand van de B.T. ootleenen wij hier een en ander uit zijn leven en carriere. Toen de regeering het voornemen koesterde om de zonen van Atjehsche hoofden een opleiding te geven als die voor andere landaarden, werd wijlen Engkoe Nawaw, toenmaals reeds onderwijzer aan de Kweekschool te Fort de Kock, gekozen om als opvoeder der Atjehsche jongelieden werder naar Fort de Kock gezonden, die bij Engkoe Nawawi hun intrek namen en dan ook van het begin tof het eind hun opvoeding en studie an hem persoonlijk genoten. de regering beloonde de verdiensten van dezen paedagoog door hem de kleine zilveren ster te kennen, en veel later gewerd hem ook het ridderkruis van de Oranje Nassau Orde. Ook toen hij gepensioneerd was, was Engkoe Nawawisteeds de vraagbaak, niet allen va het department van onderwijs, maar van het bestuur in de Minangkabau. Hij was adviseur van de bestuursambtenaren in allerlei aangelegenheden en vanaf den controleur tot den resident van Sumatera's Westkust konden erverzekerd van zijn, dat zij nimmer tevergeefs bij den ouden Engkoe Nawawi om raad kwarnen. In het sociale leven in Fort de Kock en omstreken is hij een zeer geziene figuur. Hij was lid van den gemeenteraad, zat in onderscheidene commissies en besturen van sociale en economische vereenigingen.

(Kemarin, kita soedah beritakan, tentang meninggalnja engkoe Nawawie pada hari Minggoe jang baroe laloe di Fort de Kock (Bukittinggi sekarang: pen.). Beliau itoe menoetoep mata dalam oesia 70 tahoen. Hikajatnya penoeh mengandoeng arti, bagi kemadjoean soematra. Ialah jang selamanja masoek "de primoes (jang pertama dan banjak hal)". Menjadi moerid jang pertama dari sekolah kelas doea, mendjadi moerid jang pertama dari Normaalschool, jang pertama dari Kweekschool kemoedian mendjadi goeroe poela dari beberapa loesin hal-hal lainnja. Dalam sekolah rendah sampai ke sekolah Radja, ia senantiasa terpoedji, hingga dimaksoed oleh pemerintah mengirimkan beliaoe ke negeri Belanda, oentoek melandjoetkan peladjaran mentjapai acte goeroe Belanda, seperti dikirim oleh pemerintah ketika itoe kenegeri Belanda toean Raden Kamil dari Java, Willem Iskandar dari Tapanoeli. Malang nasibnja, ketika galeranja akan tiba dikirim ke Nederland (katika iotoe beliaoe menjadi goeroe Kweekschool), pemerintah bertoekan pemikiran, tidak hendak mengirim ke Nederland lagi, tetapi memberi kesempatan kepada beliaoe itoe belajar di Fort de Kock, dari goeroe-goeroe Kweekschool. Tidak berapa lama beliaoepun membuat examen laloe loloes dalam oedjian oentoek goroe Belanda ............. ).

Engku Nawawi yang bergelar Sutan Makmur dilahirkan di daerah Padang Panjang pada tahun 1859. Nama ayahnya Malim Maharadjo, orang Koto Gadang (sebuah daerah historis yang banyak melahirkan figur historis Minangkabau seperti Sutan Syahrir, Rasuna Said dan Agus Salim). Malim Maharadjo waktu itu berprofesi sebagai Mantrei Cacar, sebuah jabatan yang secara sosiologis menempati kelas menengah. Sementara ibunya berasal dari Tiku. Hingga umur 7 tahun, Nawawi tinggal bersama ayah dan ibunya. Setelah itu, ia diasuh oleh Pak Cik-nya, Mangkuto Bandaharo yang bekerja sebagai pakHuismeester selama 2 tahun di Lolo Alahan Panjang. Selama dua tahun ini, Nawawi bersekolah di Supayang. Setelah ayahnya meninggal, dan ibunya kemudian kawin lagi, Nawawi kemudian dididik oleh ayah tirinya yang sangat "keras" menyekolahkan anak-anaknya - Soetan Radjo Emas. Dibawah didikan keras sang ayah ini, Nawawi menamatkan Sekolah Melayu-nya. Tahun 1873, Nawawi masuk Sekolah Radja di Bukittinggi (Fort de Kock). Tahun 1877, beliau menamatkan pendidikan dengan memperoleh ijazah guru. Tak lama kemudian, Nawawi diangkat menjadi guru di Sekolah Melayu yang kemudian berubah menjadi Sekolah Agam I.

Dalam sejarah intelektual Minangkabau, Nawawi merupakan orang pertama yang memperoleh ijazah hulpacte, tahun 1882. Kira-kira tahun 1889, beliau diangkat menjadi hulponderwijzer va der gersten di Sekolah radja. Tahun 1901, tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai tahun diperkenalkannya ejaan van Ophuysen. Prof. Charles Andrian van Ophuysen, seorang ahli Bahasa Melayu menyelesaikan proyek besarnya dengan dibantu oleh dua orang pribumi, Engku Nawawi dan Muhammad Thaib Sutan Ibrahim, kedua-duanya orang Minangkabau yang kala itu mengajar Bahasa Melayu. Mereka bertiga menyusun Kitab Logat Melajoe selama lebih kurang lima tahun. Tahun 1908, Engku Nawawi meyalin ke Bahasa Melayu Gedenkboek Kweekschool Fort de Kock. Beliau kemudian pensiun tahun 1916 setelah "berkhidmat" menjadi guru selama lebih kurang 33 tahun. 11 Nopember 1928, Engku Nawawi meninggal dunia di Bukittinggi (sebagaimana yang ditulis majalah berabahas Belanda Java Bode diatas).

Selama hidupnya, Engku Nawawi menikah sebanyak tiga kali. Pertama dengan "gadis" asal Air Bangis (sebuah daerah yang terletak di pantai barat Pasaman Barat) dan yang kedua di Padang. namun pernikahannya dengan dua orang gadis asal Air Bangis dan Padang ini tidak berlangsung lama. Barulah pernikahannya yang ketiga, Nawawi langgeng merawat pernikahan tersebut dengan dara gadis asal Payakumbuh, Chatimah. Dalam sejarah minangkabau, anak Engku Nawawi dikenal sebagai perempuan pertama yang sekolah di Sekolah Radja, yaitu Syarifah Nawawi, tahun 1907 (tentang Syarifah Nawawi, lihat artikel di Website Ilham Cluster. Syarifah Nawawi ini adalah perempuan yang sangat "dikagumi" Tan Malaka, teman satu kelasnya di Sekolah Radja, bahkan Tan Malaka boleh dikatakan jatuh cinta). Engku Nawawi pernah menerima anugerah bintang Oranje Nassau, suatu kehormatan yang sangat sulit digapai oleh orang Indonesia ataupun Eropa.

Sumber : Arsip Nasionali RI/Java Bode : Algemeen Dagblad vor Nederlandsch-Indie & Salam Radjo Endah (2008), www.ulama-minang.blogspot.com (Ilham Cluster). Foto : 1 - Teater Sekolah Radja Fort de Kock, 1928. Foto 2 - Murid Sekolah Raja Fort de Kock, 1925. Sumber : KITLV

Jumat, 01 Oktober 2010

Syekh Muhammad Jamil Jaho (1875-1941)

Oleh : Muhammad Ilham

Hadirnya Muhammadiyah di Minangkabau, tidak terlepas dari kepedulian Syeikh Muhammad Jamil Jaho bersama Syeikh Muhammad Zain Simabur (Taufik Abdullah, 1988)

Syekh Muhammad Jamil Jaho lahir pada tahun 1875 di Jaho, sebuah daerah kecil yang terletak di bukit Tambangan, antara wilayah perbatasan Aceh, Padang Panjang, dan Tanah Datar, Sumatra Barat. Daerahnya dikenal sejuk dan asri. Ayahnya bergelar Datuk Garang yang berasal dari Negeri Tambangan, Padang Panjang. Sang ayah pernah menjabat sebagai Qadhi Tambangan. Sementara ibunya, Umbuik, adalah seorang perempuan yang disegani di tengah-tengah masyarakat. Syekh Muhammad Jamil Jaho dibesarkan di tengah keluarga yang kuat menjalankan tradisi dan agama. Masa kecilnya dihiasi dengan nuansa religi yang sangat kental. Latar belakang keluarga yang alim inilah yang membuatnya senantiasa haus akan ilmu agama. Ia menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama besar Minang di zaman itu. Beliau belajar Alquran dan kitab perukunan (kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab) dari ayahnya sendiri. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya, pada usia 13 tahun, ia telah hafal Alqur'an dan isi kitab perukunan.

Melihat kecerdasan dan kesungguhan Muhammad Jamil, sang ayah lalu berinisiatif untuk mengajarinya kitab-kitab kuning. Dalam waktu yang relatif singkat, Muhammad Jamil mampu mencerna maksud yang terkandung dalam kitab kuning tersebut, dan cakap menguasai bahasa Arab, baik secara lisan atau tulisan. Selepas menimba ilmu dari sang ayah, Muhammad Jamil pun memutuskan pergi menuju halaqah atau majelis ilmu pesantren milik Syeikh al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang. Selama belajar di pangkuan Syeikh al-Jufri, Muhammad Jamil menunjukkan ketekunan dan kecerdasannya sehingga ia pun menjadi murid kesayangan sang guru. Setelah menyelesaikan belajar di pesantren Syeikh al-Jufri pada tahun 1893, Muhammad Jamil melanjutkan pendidikannya ke seorang ulama fikih terkenal, Syeikh al-Ayyubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Di pesantren barunya inilah Muhammad Jamil berteman akrab dengan Sulaiman ar-Rusuli, yang kelak menjadi seorang ulama terkenal dari tanah Minang. Keduanya adalah santri yang pandai, dan belajar dengan Syeikh al-Ayyubi selama enam tahun. Keduanya kemudian melanjutkan mengaji ke Biaro Kota Tuo, yang pada masa itu merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar Minang.

Pada tahun 1899, Muhammad Jamil dan Sulaiman ar-Rasuli pindah mengaji ke Syeikh Abdullah Halaban, seorang ulama Minang yang terkenal mahir dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Di perguruan Syeikh Halaban inilah Muhammad Jamil dipercaya untuk menjadi seorang pengajar (ustadz) dan asisten pribadi Syeikh Halaban. Karenanya ia kerap dibawa serta ke pengajian-pengajian keliling negeri Minang oleh gurunya ini. Di tahun 1908, ia berkesempatan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama. Sebelum berangkat ke tanah suci, Muhammad Jamil dipersuntingkan dengan gadis Tambangan yang bernama Saidah, yang kelak mengaruniai dua orang puteri bernama Samsiyyah dan Syafiah. A Ginandjar Sya'ban sebagaimana mengutip dari mukaddimah kitab Tadzkirah al-Qulub karangan Syeikh Jamil Jaho mengungkapkan bahwa saat di Makkah, Muhammad Jamil berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, seorang putera Minang yang menjadi imam, khatib sekaligus mufti mazhab Syafi'i di Masjidil Haram. Di tanah suci ini beliau bertemu dan belajar bersama Syeikh Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka). Keduanya menjadi murid kesayangan Syeikh Ahmad Khatib, dan diberi kehormatan untuk membimbing dan mengajar murid-murid yang lain.

Muhammad Jamil belajar di Makkah selama 10 tahun lamanya. Selama itu juga ia telah memperoleh tiga ijazah dari tiga orang ulama besar di Makkah pada zaman itu, yaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (guru besar madzhab Syafi’i), Syeikh Alwi al-Maliki (guru besar madzhab Maliki), dan Syeikh Mukhtar al-Affani (guru besar madzhab Hanbali). Setelah bermukim 10 tahun lamanya di Makkah, ia memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang. Sekembalinya dari tanah suci, Syeikh Jamil Jaho menjadi ulama terkenal dan disegani karena kedalaman ilmunya dan kesolehan pribadinya. Beliau mengajar di Jaho dan di beberapa daerah di Minangkabau.

Di kalangan ulama Minang pada masa itu, Syeikh Jamil Jaho termasuk ulama yang berpaham pembaharu, namun menolak pola ijtihad yang selama ini didengung-dengungkan, sekaligus bersikap menerima taqlid kepada ulama-ulama terdahulu. Sebuah cara berpikir yang bertolak belakang dengan trend berpikir yang digandrungi oleh ulama muda di masa itu. Pada tahun 1922, bersama-sama Syeikh Sulaiman ar-Rusuli dan Syeikh Abdul Karim Amrullah, beliau mendirikan Persatuan Ulama Minangkabau dan perguruan Islam Thawalib. Di kampung halamannya Jaho, pada tahun 1924 ia mendirikan surau dan membuka halaqah pengajian. Muridnya beragam yang datang. Ada dari Aceh, Jambi, Sumatra Utara, dan Lampung. Halaqah yang didirikannya ini kelak berkembang menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho, setelah bergabung dengan Syeikh Sulaiman ar-Rusuli. Menurut Akhria Nazwar dalam bukunya Syeikh Ahmad Khatib (1983), kedua tokoh ini sepaham dalam menolak ijtihad dan menolak meninggalkan taqlid pada ulama. Namun dalam soal tarekat keduanya berbeda paham.

Bersama-sama dengan Syeikh ar-Rusuli, beliau mengembangkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini menjadi sebuah gerakan organisasi Islam dengan nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Duet Syeikh Muhammad Jamil Jaho dan Syeikh Sulaiman ar-Rusuli menjadi simbol utama ulama tradisional pada masa itu. Di kalangan masyarakat Minang saat itu, Syeikh Jamil Jaho dikenal memiliki sikap netral dalam menghadapi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda soal pembaharuan Islam di Minangkabau. Pola penyebaran dakwah yang beliau terapkan merupakan cara yang dipakai oleh Syeikh Jamil Jambek, yakni dengan mendatangi kampung-kampung untuk menyampaikan risalah Islam. Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengikuti cara berpikir Syeikh Yusuf Nabhani, yang dikenal anti kepada pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan Rasyid Ridha yang kala itu banyak diikuti oleh para ulama muda di seluruh penjuru dunia Islam. Selain aktif mengajar dan berdakwah, semasa hidupnya Syeikh Muhammad Jamil Jaho juga gemar menulis. Ulama Minang yang wafat pada tahun 1360 H/1941 M ini banyak meninggalkan karya berharga yang menjadi suluh ummat di kemudian hari. Karya-karyanya tersebut antara lain Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah 'Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, as-Syamsul Lami'ah, fil 'Aqidah wa Diyanah, Hujjatul Balighah, al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful Awsiyah. Sosok ulama Minang yang satu ini juga dikenal sebagai orang yang memiliki peran besar dalam kiprah Muhammadiyah di tanah Minangkabau.

:: Sumber utama : Yulizal Yunus, Irhash A. Shamad, Muhammad Ilham (2008), republika online, Masoed Abidin (2009). Foto (Syekh Muhammad Jamil Jaho - duduk kedua dari kiri)

Syekh Abbas Abdullah (wafat : 1369 H.)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

"Kalah politik Jepang oleh Belanda. Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya" (
Syekh Abbas Abdullah, 1944)

Syekh Abbas Abdullah dilahirkan di nagari yang bernama Padang Japang, sebuah nagari di kenagarian kecamatan Guguk Kabupaten 50 Kota sekarang ini. Dalam bidang pendidikan, nagari ini adalah nagari yang termasuk paling dahulu mempunyai tradisi edukasi dibandingkan daerah lain pada masanya. Hal ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya di daerah ini dua buah institusi pendidikan Islam yang termasuk tertua di Sumatera Barat yaitu surau Syekh Abdullah, ayah dari Syekh Abbas. Kemudian yang satu lagi, surau Syekh Muhammad Shaleh, ayah dari Syekh Abdul Wahid. Surau Syekh Abdullah didirikan di Padang Japang pada tahun 1854, tidak lama setelah berakhirnya Perang Paderi. Sedangkan surau Syekh Muhammad Shaleh pada mulanya didirikan di Padang Kandis, kemudian dipindahkan ke Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Kedua institusi pendidikan (baca: tradisional) Islam ini telah banyak melahirkan cerdik pandai dan tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat dan di luar Sumatera Barat.

Syekh Abbas Abdullah secara genealogis berasal dari kalangan ulama. Dalam dirinya terdapat "darah biru" ulama-ulama terkemuka di daerahnya pada zaman mereka masing-masing. Dari pihak ayahnya terdapat tiga orang Syekh yaitu Syekh Muhammad Shaleh (Syekh Munggu), Syekh Abdul Wahid dan ayah Syekh Abbas Abdullah sendiri yakni Syekh Abdullah. Syekh Muhammad Shaleh hidup dipertengahan abad ke-19 Masehi yang berasal dari suku Tanjung nagari Padang Kandis. Beliau adalah ulama tasawuf yang menganut aliran tarekat naqsyabandiah. Tarekat ini dipelajarinya langsung dari Mekkah. Ia merupakan kemenakan persukuan ayah Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan Syekh Abdullah Wahid Shaleh adalah anak dari Syekh Muhammad Shaleh. Tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tetapi tahun wafatnya diperkirakan pada tahun 1369 H. Beliau mendapat pendidikan pada mulanya dari ayahnya Syekh Muhammad Shaleh, setelah itu dengan Syekh Muhammad Saad Mungka, kemudian melanjutkan kepada Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang. Setelah menamatkan pelajarannya dengan Syekh Muhammad Thaib Umar, ia membuka pesantren di Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Di waktu menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau berkesempatan tinggal di sana untuk belajar dengan Syekh Said Yamany dan Syekh Said al-Malikiy. Setelah kembali ke kampung halamannya, beliau langsung mengajar di tempat semula dan menggabungkannya dengan sekolah yang sealiran yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) pada tahun 1928.

Syekh Abdullah adalah ayah Syekh Abbas Abdullah. Dilahirkan di Padang Japang pada tahun 1830. Bapaknya merupakan mamak (paman) dari ayah Syekh Muhammad Shaleh. Waktu Syekh Abdullah lahir, situasi sosial politik Minangkabau pada waktu itu sedang hangat-hangatnya Perang Paderi. Ia merupakan murid tertua dari Syekh Taram (Beliau surau Durian) dan dari Syekh Kumai serta Tuanku Gadut yang semuanya merupakan ulama-ulama besar Minangkabau pada masanya. Setelah menamatkan pelajarannya, langsung membuka pesantren di Padang Japang pada tahun 1854. Tidak lama setelah itu, beliau pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada tahun 1857, beliau kembali ke kampung halamannya dan mengajar kembali di sekolah semula. Diantara murid-muridnya yang kemudian dikenal sebagai ulama terkemuka di daerah mereka masing-masing antara lain adalah Engku Mudo Karuang Sicincin, Engku Sutan Air Tabit, Engku Capuak Air Tiris dan Engku Lima Puluh di Malalo.

Ibu Syekh Abbas Abdullah bernama Seko yang berasal dari nagari Padang Japang. Ibunya bukan berasal dari kalangan ulama, akan tetapi berasal dari keluarga hartawan yang taat beragama. Syekh Abbas Abdullah bersaudara enam orang dari satu ayah dengan tiga orang ibu. Yang tertua bernama Syekh Muhammad Shalih, yang kedua Syekh Mustafa Abdullah dan merupakan saudara seayah seibu Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan dari ibunya yang lain terdapat saudaranya yang lain yaitu Syekh Muhammad Said, Sa'adah dan Sa'adud. Dari enam orang tersebut, empat orang menjadi ulama. Dengan memiliki latar belakang keluarga seperti yang diterangkan diatas, telah membuka jalan yang sangat luas bagi Syekh Abbas Abdullah untuk menjadi ulama besar. Apalagi sejak kecil, beliau memang dikondisikan oleh ayahnya untuk kelak menjadi seorang ulama. Sebagaimana halnya ulama pada masanya, Syekh Abbas Abdullah juga merupakan "orang jemputan". Istri beliau berjumlah tujuh orang yaitu Kalimah, Lian, Tobik, Soviah, Saliah, Rohana dan seorang lagi di Batuhampar (tidak diketahui namanya). Dari ketujuh orang istrinya tersebut, Syekh Abbas Abdullah dikaruniai 15 orang anak yang diberinya nama Sofia, Zuraidah, Abdul Muis, Fauzi, Naimah, Azhariah, Damsakti, Azhari, Nuraini, Zahriah, Firman, Ismet, Faruq, Farid dan Adliah. Pada umumnya mereka dididik disekolah Syekh Abbas Abdullah kecuali tiga orang yaitu Azhari, Faruq dan Firman. Diantara anaknya yang cukup berhasil dan mengikuti jejak beliau menjadi ulama adalah H. Fauzi Abbas yang melanjutkan memimpin sekolah Darul Funun. Syekh Abbas wafat pada tanggal 17 Juni 1957.

Syekh Abbas Abdullah mulai masuk sekolah pada umur tujuh tahun. Waktu itu, pendidikan dan institusi pendidikan merupakan sesuatu yang langka dan elitis, baik untuk daerah Padang Japang maupun daerah-daerah lain di Sumatera Barat pada umumnya. Hal ini disebabkan karena pemerintah kolonial Belanda tidak begitu memperhatikan kebutuhan pendidikan rakyat. Sekolah yang ada hanyalah Kweekschool di Bukittinggi dan beberapa sekolah Gubernemen kelas II. Maka kondisi yang minim ini, pendidikan surau merupakan alternatif yang terbaik ketika itu. Di daerah 50 Kota pada masa Syekh Abbas Abdullah ini tidak begitu banyak terdapat institusi pendidikan surau yang cukup baik, diantaranya surau yang terdapat di Batuhampar, Canduang, Sicincin, Mungka, Padang Panjang, Padang Japang dan Pandam Garang Suliki. Oleh ayahnya, Syekh Abbas Abdullah dimasukkan ayahnya ke surau Pandam Garang. Walaupun ayahnya merupakan seorang ulama dan memiliki surau sendiri, namun Syekh Abbas Abdullah bukan belajar di surau yang dipimpin ayahnya tersebut. Hal ini disebabkan karena tuntutan adat istiadat Minangkabau yang berlaku pada waktu itu dimana anak-anak yang telah berumur tujuh tahun ke atas tidak baik tidur bersama dengan keluarganya lagi.

Waktu belajar di Pandan Gadang ini, Syekh Abbas Abdullah termasuk anak yang cerdas dan keras hati dalam mendapatkan pelajaran. Dari gurunya di Pandam Gadang inilah ia mendapat "mutiara kata" yang kelak menentukan jalan hidupnya. Isi mutiara kata tersebut adalah "kalau kamu ingin menjadi orang yang pintar dan berguna nanti, maka pergilah belajar ke negeri Mekkah". Perkataan inilah yang mendorongnya untuk pergi ke Mekkah selagi umurnya belum pantas menunaikan ibadah haji. Setelah enam tahun belajar di Pandam Gadang, keinginannya untuk pergi ke Mekkah semakin menggebu-gebu. Pada tahun 1896, satu kesempatan berharga terbuka baginya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Pada waktu itu, mamaknya, Ibrahim akan pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. Ia bermohon kepada mamak dan keluarganya untuk diizinkan ikut ke Mekkah. Tetapi mamaknya melarang, sebab umurnya masih kecil dan jalan yang akan dilalui sangat sulit. Tapi melihat keinginan yang demikian besar dan kegigihan Syekh Abbas Abdullah merayu dan memohon mamak serta keluarga, akhirnya Syekh Abbas Abdullah diizinkan berangkat. Tetapi setelah selesai menunaikan ibadah haji, Syekh Abbas Abdullah tidak mau pulang karena ia ingin belajar di Mekkah. Pada mulanya mamaknya melarang, akan tetapi berkat kegigihannya, mamaknya terpaksa memberi izin. Di Mekkah ini kemudian ia belajar kepada mufti mazhab Syafii yang juga merupakan putra asli Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawiy.

Setelah beberapa tahun belajar dibawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abbas Abdullah kemudian npulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa tahun mengabdikan diri dan mengajar di kampung halamannya, Syekh Abbas Abdullah kemudian melanjutkan pendidikannya ke centre ilmu pengetahuan Islam lainnya pada masa itu yaitu ke Mesir. Di Mesir, beliau belajar di Universitas Al-Azhar sebagai pendengar (mustami'). Salah seorang gurunya yang kemudian sering disebutnya adalah Syekh Badwiy, ulama pintar tapi memiliki cacat penglihatan (buta). Sementara itu, disamping belajar di Mesir beliau menyempatkan diri pergi belajar ke daerah-daerah lain di Timur Tengah serta Eropa untuk mengadakan komparasi (studi perbandingan) seperti Palestina, Libanon, Syiria, Swiss dan lain-lain. Di Swiss beliau bertemu dengan Mahmud Yunus yang pada waktu itu sedang melakukan kunjungan ke sana. Sewaktu akan kembali ke kampung halamannya kembali, beliau kembali menunaikan ibadah haji ke Mekkah, kemudian beliau terus menuju Mesir untuk mengantarkan putera kakaknya Talut Musthafa dan Nazaruddin Thaha. Melihat perjalanan pendidikan Syekh Abbas Abdullah ini, maka dari berbagai institusi pendidikan serta "warna" pendidikan yang dilaluinya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa Mekkah dan Mesir merupakan dua "warna" yang sangat mempengaruhi pemikiran Syekh Abbas Abdullah. Figur Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mesir dan figur pemikiran serta ide-ide Muhammad Abduh di Mesir, menjadi konhtributor terbesar dalam mempengaruhi orientasi pemikiran Syekh Abbas Abdullah dalam pergulatan hidup dan pemikirannya kedepan.

Melihat masih banyaknya tradisi kultural di Minangkabau, khususnya didaerahnya yang masih banyak terjadi hal-hal yang bersifat bid'ah dan khurafat, maka Syekh Abbas Abdullah mencari format dan strategi yang efektif menanggulangi ini. Untuk itu ia pergi menemui teman-temannya yang dianggapnya bisa memahami keinginannya seperti Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang Batusangkar, Syekh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang dan Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Bertepatan di waktu itu di Padang Panjang dan Parabek, Syekh Abdul Karim Amrullah dan Syekh Ibrahim Musa sedang mengkoordinir murid-muridnya di bawah suatu organisasi yang diberinya nama Sumatera Thawalib. Sebagai hasil dari kunjungan Syekh Abbas Abdullah menemui teman-temannya itu adalah bergabungnya pelajar-pelajar surau Padang Japang ke dalam Sumatera Thawalib dan sekaligus sekolahnya dinamakan dengan Madrasah Sumatera Thawalib. Dalam institusi pendidikan ini, Syekh Abbas Abdullah membina dan mengembangkan pola pendidikan yang nantinya berguna bagi murid-muridnya untuk menghadapi tantangan lingkungan yang penuh dengan tantangan.

Diantara pembinaan dan pengembangan yang beliau lakukan adalah mempersiapkan kader-kader muballigh. Kader-kader muballigh ini dilatihnya sekali seminggu yang disebut dengan muhadarah. Murid-murid dilatih bagaimana cara memberikan ilmu yang telah didapat kepada masyarakat. Pada mulanya kegiatan ini terkonsentrasi di sekolah saja, tetapi melihat animo masyarakat yang demikian tinggi, maka beliau mulai mengembangkannya dan membuka diri untuk masyarakat sekitarnya serta tidak hanya terfokus bagi para pelajar saja. Diantara pelajar-pelajar yang telah dirasa cakap dan mampu dalam muhadarah ini, barulah diterjunkan ke dalam masyarakat. Mereka inilah yang dibawa oleh Syekh Abbas Abdullah berkeliling dari kampung ke kampung. Di saat para murid-muridnya berdakwah, Syekh Abbas Abdullah sering ikut tapi tidak ikut berdakwah. Beliau baru ikut menerangkan suatu materi ketika ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh para muridnya. Menurut H. Sya'ban Naim, salah seorang muridnya, Syekh Abbas Abdullah tidak biasa berdakwah dan berpidato. Ia tidak memiliki kemampuan maksimal sebagai seorang orator.

Ide-ide baru yang dikembangkan melalui media dakwah ini ialah merobah cara berfikir masyarakat yang telah terkontaminasi. Pelaksanaannya adalah berpedoman kepada pemikiran Muhammad Abduh yang masuk ke Sumatera Barat melalui majalah-majalah dan buku-buku karangan Muhammad Abduh sendiri seperti Al-Islam Ruhul Madaniyah. Di antara ide-ide Muhammad Abduh yang begitu ditonjolkan pada waktu itu adalah masih terbukanya pintu ijtihad, tetapi ijtihad tersebut tidak boleh dilakukan oleh semua orang, melainkan bagi orang yang telah memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan. Masalah yang masuk dalam "wilayah" ijtihad ini tidak mengenai masalah ibadah, akan tetapi mayoritas masalah kemasyarakatan. Kemasuarakatan inilah yang harus disesuaikan dengan kehendak zaman. Dengan sendirinya taqlid kepada ulama tak perlu lagi dipertahankan, tetapi perlu diperangi karena taqlid seperti inilah yang akan membawa ummat Islam berada dalam kemunduran dan tidak dapat maju. Sebagai konsekuensi dari ide-ide yang dikemukakan oleh pelajar-pelajar Sumatera Thawalib Padang japang dibawah bimbingan Syekh Abbas Abdullah ini mendapat tantangan dari beberapa kalangan ulama. Kondisi ini menimbulkan perdebatan-perdebatan antara yang mempertahankan dan yang menentang. Di mana-mana diadakan Majelis Tarjih untuk memperbincangkan berbagai masalah-masalah yang muncul sehingga masing-masing kelompok berusaha untuk mempertahankan perspektif mereka. Dalam konteks ini, maka timbullah iklim intelektual yang hidup. Syekh Abbas Abdullah dengan pelajar-pelajar asuhannya membentuk suatu majelis tarjih yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Debating Club. Debating Club ini pada mulanya diadakan dalam perkumpulan pelajar-pelajar di bawah bimbingan Syekh Abdullah Abbas saja, satu kali dalam satu minggu. Kemudian, sebagaimana halnya yang juga terjadi pada pelatihan muhadarah, kegiatan Debating Club ini juga menarik perhatian masyarakat. Akhirnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Debating Club ini sering di tempat terbuka dengan mengundang pelajar-pelajar lain seperti dari Tabek Gadang, Mungka dan lain-lain.

Materi yang diperbincangkan dalam Debating Club ini adalah masalah-masalah yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti masalah riba, judi, ibadat, bank dan lain-lain. Pengikut-pengikutnya terdiri dari guru-guru dan murid-murid dari kelas tertinggi. Sedangkan Syekh Abdullah Abbas sebagai pembina hanya ikut menghadiri dan ikut aktif apabila ada masalah yang sulit dipecahkan atau dicari jalan tengahnya. Hasil dari Debating Club ini kemudian akan disiarkan atau diberitahu kepada masyarakat oleh para muballigh. Hasil yang diperoleh dari tradisi Debating Club ini sangat besar sekali. Terjadi perubahan pola pikir dalam masyarakat. Seorang yang akan berfatwa harus meneliti secara cermat darimana sumbernya. Karena itu, suatu hal tidak lagi diterima secara "membabi buta atau taqlid" dari seseorang begitu saja. Masyarakat tidak disuruh menerima tanpa mengetahui dasar-dasarnya. Dengan demikian, dalam masyarakat, timbul tradisi kritis.

Sementara itu, cara berfikir ulama-ulama semakin hari semakin maju dan terbuka. Pengembangan ajaran Islam tidak hanya melalui media dakwah (lisan) saja lagi, akan tetapi ditambah dengan media jurnalistik (tulis) yaitu dengan menerbitkan majalah. Majalah Islam yang pertama sekali terbit di Sumatera Barat adalah Al-Munir di bawah pimpinan Syekh Abdullah Ahmad dan H. Marah Muhammad bin Abdul Hamid yang dibantu oleh HAKA, Dahlan Sutan Lembak Tuah, H. Muhammad Thaib Umar dan Sutan Mahmud Salim. Isinya mengupas tentang soal-soal agama yang sulit seperti masalah taqlid kepada satu iman, soal berhimpun di rumah orang kematian pada waktu hari pertama dan ketiga serta seterusnya, soal niat dan membaca usalli, soal berfoto, soal berdiri di waktu barzanji, soal tuah burung ketitiran dan masalah berpuasa dengan hisab dan rukyah. Majalah ini kemudian terhenti terbitnya karena percetakannya terbakar.

Kemudian pada tahun 1918, majalah Al-Munir diterbitkan kembali di Padang Panjang dengan nama Al-Munir el-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Jamiah Sumatera Thawalib Padang Panjang dua kali dalam satu bulan. Rais Tahrirnya adalah Zainuddin Labay el-Yunusiy, al-Mudirnya H. Syu'ib, Muharrirnya Abdul Hamid dan Annazirnya Basa Bandaro Padang. Pembantu-pembantunya terdiri dari H. Ahmad Khatib, H. Rasyid dan Abdul Madjid Sidi Sutan. Sedangkan pemimpinnya adalah HAKA, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang. Penerbitan majalah ini kemudian diikuti oleh Jami'atul Muzakarah Ikhwan Parabek dengan nama Al-Bayan. Sedangkan Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan pula dengan nama Al-Imam yang dipimpin sendiri oleh Syekh Abbas Abdullah. Nomor pertamanya diterbitkan pada bulan Nopember 1919 M./1338 H. Majalah ini diusahakan oleh pelajar-pelajar Padang Japang dengan biaya dari Syekh Abbas Abdullah. Isinya terutama mengupas tentang masalah agama yang berkaitan dengan pembaharuan pemikiran. Disamping itu juga terdapat ruangan terjemahan dari majalah-majalah Arab seperti Al-Manar dan Al-Ahram dari Mesir.

Majalah ini disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat, sehingga orang yang jauh dapat bertanya kepada ulama tentang soal agama atau soal lain yang dikeragui. Karena itu, pengembangan pembaharuan pemikiran melalui majalah ini sangat besar pengaruh nya. Dengan cara-cara seperti ini, Syekh Abbas Abdullah telah banyak menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam membentuk dan membina kader-kader ulama yang dapat diterjunkan ke dalam masyarakat untuk memperbaiki pola dan perspektif pemikiran mereka. Perjuangan yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah, akan tetapi membutuhkan kesungguhan, ketabahan, pengorbanan fisik mental finansial dan keuletan. Karena yang diubah bukanlah masalah bentuk luarnya, melainkan adalah adat tradisi yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat kala itu.

Langkah awal yang dilakukannya adalah terlibat secara langsung dalam pembinaan (ikut mengajar) di surau peninggalan ayahnya yang dipimpin oleh kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah. Usaha yang dilakukannya pertama sekali adalah menukar cara belajar yang waktu itu hanya mementingkan beberapa mata pelajaran saja. Kemudian berusaha memperbaharui beberapa kitab yang dipelajari. Melalui Syekh Abbas Abdullah, sistem pelajaran di surau milik ayahnya ini yang kemudian dirubahnya menjadi Sumatera Thawalib Padang Japang, mulai diperkenalkan kitab-kitab yang dikeluarkan Mesir seperti Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir. Kitab-kitab ini diajarkan pada murid-mirid yang telah berada pada kelas tertinggi yaitu kelas VI dan kelas VII. Di samping itu, beliau juga mengajarkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah kepada murid-murid tertentu.

Kitab-kitab yang beliau ajarkan ini sangat disukai oleh pelajar-pelajar yang berfikiran maju. Kitab Bidayatul Mujtahid tidak memihak pada salah satu mazhab, sangat sesuai dengan pemikiran yang suka berijtihad. Tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir yang uraiannya sesuai dengan rasio, cocok pula dengan perkem-bangan zaman. Sedangkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah disukai pula karena dapat menimbulkan kesadaran dan semangat juang ummat Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Disamping itu, ilmu matiq mulai diajarkan pada murid-murid kelas lima ke atas. Ilmu ini sangat berguna dalam melatih menegakkan pendapat dalam berdiskusi. Sejalan dengan diajarkannya ilmu matiq, maka cara belajar pun mulai berobah. Kalau sebelumnya murid belajar secara pasif, maka sekarang para murid diminta untuk aktif. Seorang murid ditunjuk untuk membaca, kemudian yang lainnya diminta untuk membandingkan bila ada yang salah.

Di samping perubahan materi dan cara belajar ini, cara menuntut pelajaran juga berubah. Pada masa sebelumnya seseorang yang pergi menuntut ilmu terlebih dahulu harus pergi mencari "induk semang". Bila tidak dapat induk semang, maka pergi meminta-minta tiap hari kamis ke kampung-kampung. Tradisi ini mulai dilarang oleh Syekh Abbas Abdullah karena menurut beliau meminta-minta bertentangan dengan ajaran Islam dan merendahkan derajat serta ilmu seseorang. Dengan demikian, seorang murid membawa perbekalan yang cukup dari kampung halaman mereka masing-masing. Bagi yang kurang mampu, dicarikan pekerjaan pada sore harinya. Untuk meninggikan pandangan masyarakat terhadap pelajar-pelajar, maka Syekh Abbas Abdullah mulai mengatur cara berpakaian. Kalau pada masa dulu seorang pelajar mirip dengan "labai", maka oleh Syekh Abbas Abdullah, para murid disuruh berpakaian bersih dan rapi, memakai alas kaki dan rambut dipotong tetapi tidak dicukur habis. Melihat perkembangan Sumatera Thawalib Padang Japang yang demikian, membuat masyarakat banyak yang tertarik untuk belajar. Sehingga berdatanganlah murid-muridnya dari berbagai pelosok daerah seperti dari Tapanuli, Bangkinang, Bengkulu, Jambi dan lain-lain. Murid-murid periode inilah yang menentukan perkembangan pendidikan agama pada masa selanjutnya seperti Nasharuddin Thaha, Zainuddin Hamidy dan lain-lain. Sekembalinya dari menuntut ilmu ke Mesir, Syekh Abbas Abdullah langsung mencurahkan tenaga dan fikiran sepenuhnya pada perguruan Sumatera Thawalib Padang Japang. Diadakannya perbaikan dalam sistem pengajaran dan peralatan dengan menerapkan apa yang dilihatnya di Universitas Al-Azhar. Sekolah dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Ibtidaiyah dengan lama belajar selama empat tahun dan Tsanawiyah dengan lama belajar selama empat tahun. Sementara itu, pada tahun 1928, pengetahuan umum seperti ilmu bumi, sejarah, tata negara, biologi dan bahasa asing mulai di perkenalkan.

Dalam pada itu, organisasi Sumatera Thawalib yang telah berusaha menyatukan pelajar-pelajar Madrasah Sumatera Thawalib yang ada, mengadakan rapat di Bukittinggi. Di antara isi rapat tersebut adalah meninjau kembali kemungkinan dimasukkannya mata pelajaran praktis seperti mata pelajaran pertanian, pertukangan dan perdagangan. Rapat ini tidak berjalan mulus karena sebagian peserta menarik diri. Tambahan lagi, suasana politik sudah mulai masuk kedalam Sumatera Thawalib yang mengakibatkan organisasi ini berubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Syekh Abbas Abdullah selaku orang yang telah banyak merasakan asam garam kehidupan ini, telah mengetahui hal ini. Beliau kemudian berkata : "kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur, boleh berpolitik tapi jangan di sekolah". Karena itu, ia menarik sekolahnya dari keanggotaan Sumatera Thawalib dan kemudian menukar nama madrasahnya menjadi Darul Funun el-Abasiyah.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah adalah memperbaharui bangunan gedung tempat belajar. Hal ini dilakukan karena pada masa sebelumnya pelajar-pelajar Padang Japang hanya belajar di surau. Untuk itu, Syekh Abbas Abdullah mewakafkan sebagian tanahnya dan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Tahun 1928, keinginan kemudian terealisasi. Pada tahun 1927, Muhammadiyah mulai masuk ke Padang Japang. Salah satu kegiatannya adalah mendidik pemuda berorganisasi melalui organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Terinspirasi dengan organisasi Hizbul Wathan ini, maka banyak institusi pendidikan Islam pada masa itu mendirikan organisasi seperti Hizbul Wathan tersebut. Sumatera Thawalib Parabek dengan Ansharullah-nya, Thawalib Padang Panjang dengan Al-Hilal-nya dan Darul Funun el-Abasiyah Padang Japang dengan kepanduan Al-Kasyaf-nya. Dengan berdirinya Al-Kasyaf ini, maka bidang pelajaran keterampilan mendapat perhatian yang besar pula di madrasah tersebut. Sehingga madrasah Padang Japang ini betul-betul termasuk institusi pendidikan Islam yang maju waktu itu.

Sekitar tahun 1934, kemajuan madrasah ini mulai goncang karena pemerintah kolonial Belanda mulai mencurigai madrasah-madrasah di Indonesia, terutama di Sumatera Barat, yang mempelajari materi yang memiliki potensi untuk menumbuhkan perasaan nasionalisme kebangsaan. Penggeledahan mulai dilakukan, tidak terkecuali Darul Funun. Hal ini membuat kegiatan pendidikan berhenti untuk sementara waktu, walaupun akhirnya kemudian dilanjutkan lagi. Pada tahun 1942, konstelasi sosial politik Indonesia berubah. Menyikapi perubahan sosial politik yang terjadi, berbagai madrasah di Sumatera Barat membentuk berbagai lasykar pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah air. Madrasah Darul Funun Padang Jabang oleh Syekh Abbas Abdullah dibentuk lasykar Sabilillah dibawah pimpinan Saaduddin Syarbaini. Setelah Indonesia merdeka, sebahagian dari anggota lasykar ini ada yang aktif dan menjadi anggota militer, seperti anaknya sendiri, Kapten Azhari, dan lain-lain.

Secara ideologis, Syekh Abbas Abdullah telah membentuk rasa kebangsaan para anak didiknyua. Dengan dirubahnya kurikulum Sumatera Thawalib Padang Japang yang memberikan porsi pembelajaran mengenai tata negara dan sejarah yang secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kebangsaan, membuat pemerintah kolonial Belanda menaruh curiga terhadap institusi pendidikan Islam seperti Sumatera Thawalib Padang Japang ini. Ketika Syekh Abbas Abdullah mulai berkiprah dalam dunia kemasyarakatan dan pendidikan di kampung halamannya, pengaruh komunis mulai merambah Sumatera Barat, tidak terkecuali di institusi pendidikan yang dipimpinnya. Pelajar-pelajar Sumatera Thawalib banyak yang apresiatif terhadap komunis dan berkeinginan untuk memasukinya. Oleh Syekh Abbas Abdullah hal ini ditentangnya habis-habisan dengan mengatakan bahwa komunis merupakan ideologi yang berseberangan secara total dengan ajaran agama Islam, terutama yang menyangkut ajaran mereka mengenai anti Tuhan. Dengan demikian, Syekh Abbas Abdullah memiliki kontribusi yang besar dalam mengantisipasi pernyebaran ajaran komunis, terutama dalam masyarakatnya dan para pelajarnya.

Kedatangan Jepang ke Sumatera Barat, kolonial Jepang berusaha mendekati para ulama. Sementara itu, para ulama memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengorganisir diri dalam suatu badan yang bernama Majelis Islam Tinggi (MIT) dibawah pimpinan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. MIT secara umum bertujuan untuk memperkokoh keimanan dan menolak secara tegas tradisi Seikere (menyembah atau membungkukkan badan menghadap Tokyo). Ketika Jepang terdesak, Jepang berusaha untuk menarik pemuda-pemuda ikut perang membela Jepang. Akan tetapi, umumnya para pemuda tersebut tidak begitu tertarik. Yeno Kenzo, Residen Jepang di Sumatera Barat berusaha mengumpulkan sejumlah pemuka agama, adat dan cerdik pandai dalam rangka membentuk badan lain yang bernama Gyu Gun Ko En Kai yang merupakan bagian dari Hoko Kai. Rasionalisasinya adalah bahwa badan yang dibentuk ini merupakan tentara rakyat dan akan berdampingan membela tanah air dengan Jepang. Keinginan inipun disosialisasikan kepada masyarakat. Ketika kabar ini sampai ke Padang Japang, banyak para pemuda yang ragu-ragu, kemudian mereka pergi menemui Syekh Abbas Abdullah yang waktu itu merupakan salah seorang anggota MIT untuk minta pendapat. Syekh Abbas Abdullah kemudian mengatakan : "Kalah politik Jepang oleh Belanda. Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya". Perkataan Syekh Abbas Abdullah ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat dan murid-muridnya. Sehingga banyak dari masyarakat yang memasuki Gyu Gun, diantara Azhari, anak beliau sendiri. Ketika Indonesia merdeka, dan untuk mensikapi hal ini, maka pada bulan Desember 1945, MIT sebagai badan yang memiliki pengaruh besar di Sumatera Barat mengadakan kongres di Bukittinggi pada bulan Desember 1945. Hadir dalam kongres tersebut para ulama dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Hasil kongres tersebut menghasilkan semboyan revolusioner yang berbunyi : "Siapa-siapa yang tewas dalam memperjuangkan kemerdekaan dewasa ini adalah mati syahid dunia dan akhirat". Di samping itu kongres tersebut juga membentuk tiga panitia yakni panitia fatwa, panitia barisan Sabilillah dan panitia politik.

(c) Tim Peneliti FIBA IAIN Padang

Senin, 20 September 2010

Shamsiah Fakeh (1924 - 2008) : Dari Diniyyah Puteri Padang Panjang ke Aktifis Radikal Partai Komunis Malaya (Bagian Pertama)

Oleh : Saifullah SA bin Mohd. Sawi
Edit : Muhammad Ilham


Shamsiah Fakeh dilahirkan di Kampung Gemuruh, Kuala Pilah, Negeri Sembilan pada 1924, dari seorang ayah bernama Fakeh Sultan Sulaiman (tapi lebih dikenal dengan Fakeh Sutan saja), namun orang kampong menggelarinya dengan Fakeh Godang karena tubuhnya besar. Ibunya bernama Saamah Nonggok. Shamsiah Fakeh adalah keturunan Minangkabau, baik secara komunal karena sebahagian besar penduduk Kuala Pilah, Negeri Sembilan adalah keturunan Minangkabau, secara pribadi Shamsiah Fakeh adalah anak Fakeh Sutan seorang guru mengaji dan silat keturunan Minangkabau, yang hijrah ke Tanah Semenanjung awal 1900-an. Shamsiah mulai bersekolah Melayu pada 1931 di Sekolah Melayu Kampung Parit, Kuala Pilah, kemudian berpindah di Sekolah Melayu Bandar, juga di Kuala Pilah. Pada 1938, ketika Shamsiah berumur 13 tahun, dia dihantar oleh ayahnya belajar di Diniyyah Puteri Padang Panjang, yang dipimpin oleh Rahmah El-Yunusiyah. Adiknya Ramli juga ikut bersamanya untuk bersekolah di Padang Panjang, dan tinggal bersama Pak Eteknya Rahimin.

Bagaimana kesan Shamsiah Fakeh terhadap pendidikannya di Diniyyah Puteri Padang Panjang ini, dapat dibaca sebagai berikut : “Sekolah Agama Rahmah El-Yunusiyah ini merupakan sekolah yang terkenal di Sumatera ketika itu. Selain mengajar soal-soal agama Islam, sekolah ini juga mendidik dan menanamkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia. Aku belajar di sekolah agama itu selama dua tahun lebih sahaja. Pada 1940 bapaku telah membawa aku kembali ke Tanah Melayu. Sepanjang yang aku ingat bahawa sebab-sebab bapaku membawa aku pulang ialah keadaan dunia yang semakin bergolak, tanda-tanda Perang Dunia Kedua akan meletus”
.

Nama heroik Shamsiah Fakeh tidak dapat dilepaskan dari PKMM dan Parti Komunis Malaya (PKM). Karena melalui organisasi politik inilah kiprah dan nama besar Shamsiah Fakeh populer dan melejit ke blantika politik Malaya (sekarang Malaysia). Bahkan Muhammad Salleh Lamry dalam Prakata bukunya Gerakan Kiri Melayu Dalam Perjuangan Kemerdekaan, menyebutkan : “…Satu epiosod penting dalam sejarah Kampung Lubuk Kawah ialah kampong itu pernah menjadi tempat persembunyian empat orang tokoh penting Komunis Melayu, iaitu Musa Ahmad, Wahi Anuar, Shamsiah Fakeh dan Zainab Mahmud sebelum mereka masuk ke hutan untuk memimpin perjuangan bersenjata. Malah ketika berada di kampong itulah Wahi Anuar dan Shamsiah Fakeh mendirikan rumah tangganya …”.


Muhammad Salleh Lamry tidak salah menyebut empat tokoh tersebut sebagai “tokoh penting”, dan salah seorang diantara tokoh penting itu adalah Shamsiah Fakeh, seorang yang dilahirkan dari keturunan Minangkabau Negeri Sembilan dan yang pernah bersekolah di Diniyyah Puteri Padang Panjang. Makalah ini mencoba menguak bagaimana sepak terjang seorang srikandi Melayu asal Minangkabau yang pernah dididik di sekolah agama Diniyyah Puteri itu dapat menggegerkan politik Malaya melalui PKM. Kajian ini kita awali dengan menjelaskan tentang sejarah timbul dan perkembangan PKM, sebagai latar perjuangan seorang tokoh Shamsiah Fakeh
.

Dari anggota dan aktifis PKM dari kalangan bangsa Melayu bekerjasama dengan aktifis KMM, kemudian ditubuhkan Parti Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) di Ipoh, Perak tanggal 17 Oktober 1945. Karena PKMM didominasi oleh kalangan Melayu (baik dari unsur PKM atau KMM), maka orientasinya lebih banyak ke Indonesia, sehingga dari 8 tujuan utama PKMM, seluruhnya
menunjukkan kecendrungan untuk menjadi bahagian dari Indonesia Raya. Dalam perkembangannya PKMM menubuhkan sayap pemuda bernama Angkatan Pemuda Insaf (API), memindahkan markas besarnya dari Ipoh (Perak) ke Kuala Lumpur, dan menerbitkan surat kabar Pelita Malaya dan mingguan Suluh Malaya, dan mendukung Kongres Melayu Se-Malaya yang kelak melahirkan UMNO. Terjadi dinamika dan perubahan ideologi dan kecendrungan dari beberapa Kongres PKMM. Kalau pada Kongres Pertama, kelompok komunis yang menguasai partai (Ketua Mokhtaruddin Lasso dan Sekretaris Jenderal Dahari Ali), maka pada Kongres kedua, kelompok nasionalis-agama yang mendominasi (Ketua DR. Burhanuddin al-Helmi dan Zulkifli Auni sebagai Sekretaris Jenderal), sedang pada Kongres Ketiga kelompok Nasionalis-sekuler yang berkuasa - Ketua Ishak haji Muhammad dan Ahmad Boestamam (Bersambung)