Rabu, 01 Desember 2010

Surau Sebagai Skriptorium Naskah Minangkabau : Studi Kasus Surau Paseban

Oleh : A. Taufik Hidayat (diedit : Muhammad Ilham)

Penelitian lebih awal mengatakan bahwa sebagian surau di Minangkabau diduga kuat pernah difungsikan sebagai skriptorium. Pengertian skriptorium di sini merujuk pada sebuah tempat penyalinan manuskrip.

Skriptorium adalah sebuah ruangan yang luas atau terdiri atas ruang-ruang kecil yang difungsikan untuk menyalin naskah dengan berbagai aturan ketat yang harus dipatuhi. Segala peralatan yang diperlukan di dalam skriptorium disediakan oleh seorang petugas khusus. Para petugas yang menyalin naskah tidak diperbolehkan mengubah sesuatu di dalam teks, walaupun ada kesalahan di dalam teks yang dihadapinya. Pengertian yang diajukan Rujiati merujuk pada bentuk-bentuk skriptorium pada masa lalu, terutama yang berkembang pada kurun awal abad Masehi di Yunani, dimana aktifitas penyalinan manuskrip giat dilakukan. Pastinya sulit menemukan bentuk konkrit dari model skriptorium yang disebut Rudjiati, namun bukannya tidak mungkin pula bangunan Surau di Minangkabau pernah berfungsi sebagai dimaksud. Dalam hal ini, menarik untuk ditelusuri lebih jauh guna memperkuat dugaan-dugaan di atas, melalui telaah terhadap sebuah model Surau yang terdapat di Koto Tangah, Surau Paseban. Surau ini dipilih sebagai objek karena alasan adanya koleksi manuskrip yang relatif banyak dan menjelaskan adanya kontinuitas sebuah tradisi menyangkut skriptorium. Penting diajukan di sini bagaimana sesungguhnya sejarah sebuah skriptorium institusi keagamaan tradisional lokal yang memiliki banyak koleksi manuskrip. Bersamaan dengan proses pemapanan Islam di wilayah ini pada abad ke-17 dan ke-18, Surau diduga digunakan oleh para ulama dan murid-muridnya sebagai skriptorium. Dengan demikian, di Surau-Surau-lah seharusnya para penulis menuangkan dan menyebarluaskan gagasan-gagasan keagamaan, terutama yang terkait dengan ajaran-ajaran mendasar Islam. Dalam konteks demikian, manuskrip adalah wujud nyata dari karya penulis dan menjadi media pembelajaran yang sangat efektif, terutama dilihat dari proses isalmisasi di Minangkabau. Berkaitan dengan ini, harus diakui bahwa sebagai institusi yang mengemban tugas pendidikan sekaligus penyebaran ajaran-ajaran keislaman, yang sumber-sumber ajarannya ditulis dengan bahasa Arab, Surau beserta orang-orang yang mengajar dan belajar di dalamnya adalah mereka yang terlebih dahulu mahir mengolah aksara, dalam hal ini aksara Arab.

Penggunaan aksara Arab dalam aktifitas tulis-menulis disebabkan terutama sekali karena masyarakat Minang termasuk dalam sebagian besar suku-suku di nusantara yang tidak memiliki sistem aksara. Kebudayaan Hindu yang meninggalkan sejumlah prasasti di wilayah ini memang dapat dijadikan bukti bahwa masyarakat Minangkabau telah tersentuh oleh budaya tulis baca sebelum Islam. Meskipun kebudayaan Hindu tetap bertahan hingga abad ke-15, tetapi tidak mewariskan budaya tulis terhadap masyarakat Minang dalam pengertian yang luas. Aksara Hindu hanya dipakai dan digunakan dalam lingkungan yang amat terbatas, yakni lingkungan elit kerajaan saja. Berbeda dengan aksara Arab yang dibawa Islam. Jauh sebelum keterlibatan ulama Surau dalam aktifitas tulis menulis, aksara ini telah diperkenalkan oleh pedagang-pedagang dan sekaligus pendakwah muslim melalui kitab suci al-Quran, kitab-kitab hadis maupun naskah-naskah keagamaan. Dan setelah dilakukan penulisan maupun penyalinan ulang oleh ulama-ulama Surau, masyarakat telah familiar dengan aksara ini, meskipun aksara tersebut dipakai untuk bahasa yang dikenal oleh masyarakat, yakni Melayu atau bahasa lokal dengan modifikasi tertentu dikarenakan ketidaksamaan ejaan antara bahasa Arab dan bahasa lokal.

Dengan pola kedekatan demikian, fungsi aksara Arab bagi masyarakat Minang menjadi demikian luas dan dinamis. Naskah-naskah yang termasuk ke dalam kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab sebagai bacaan keagamaan dalam konteks dakwah dan pendidikan Islam, termasuk dalam hal ini al-Quran, jelas dimaksudkan untuk disebarluaskan, diajarkan dan dibacakan kepada masyarakat yang tersentuh oleh dakwah Islam. Sedangkan naskah-naskah berbahasa Melayu atau berbahasa lokal tetapi menggunakan aksara Arab sebagai sistem kodenya, telah menjembatani antara kearifan lokal dengan nilai-nilai keislaman dalam karya tertulis. Karena itu, tidak mengherankan secara bertahap namun pasti, aksara Arab pada akhirnya menggeser aksara Hindu sebagai sebuah kebudayaan yang tidak sempat berkembang di wilayah ini. Kemampuan yang mereka miliki dalam hal ini turut membawa dampak bagi kesusasteraan lokal non-keagamaan yang sebelumnya—kecuali hikayat—ditradisikan melalui lisan. Sebagai konsekuensinya, tradisi lokal ini pun pada akhirnya tidak terlepas dari pengaruh Islam, tidak saja terlihat dari aspek aksara yang digunakan, tetapi juga dari perubahan karakter tokoh-tokoh yang diceriterakan, alur cerita serta penambahan materi yang sesuai dengan keinginan penulis.Kata “tradisional” pada aspek tertentu mengandung penegasan adanya transmisi literatur keagamaan dari generasi ke generasi. Dalam hal ini, Surau-Surau berbasis tarekat Syattariyah yang melaksanakan penulisan manuskrip-manuskrip keagamaan pada masa lalu mengemban proses ini. Fathurahman menegaskan bahwa, Tarekat Syattariyah di nusantara dengan persebaran manuskrip-manuskripnya dapat menjelaskan matarantai keilmuan dan saling keterhubungan guru dan murid komunitas ini.dalam konteks itu, demikian Fathurahman, Surau Paseban tergolong produktif melahirkan manuskrip. Pada saat sekarang jejak-jejak produktifitas Surau Paseban dalam melahirkan naskah masih terlihat. Berdasarkan pendataan di lokasi dugaan-dugaan tersebut terlihat realistis. Terdapat 29 manuskrip dengan berbagai kondisi. Jumlah ini merupakan sebagian saja dari keseluruhan naskah yang pernah ada di Surau itu. Menurut salah satu sumber dari Surau Paseban menyebut angka 40. Konon, menurut informasi sumber tersebut, banyak diantara murid ataupun kerabat yang membawa serta diantara manuskrip-manuskrip itu meskipun tidak ada izin dari Syekh Paseban sendiri. Akibat dari pelanggaran demikian, orang yang membawa manuskrip-manuskrip itu mengalami berbagai musibah. Diluar konteks magis seperti itu, keterangan ini sedikit menjelaskan harga sebuah manuskrip bagi komunitas Surau ini pada masa lalu dalam kehidupan sosial keagamaan mereka.

Adanya dugaan bahwa Surau Paseban dijadikan sebagai tempat menulis naskah boleh jadi benar. Beberapa petunjuk dari hasil pengamatan langsung, agaknya memperkuat dugaan itu. Namun batasannya tidak terlalu kaku, terutama terkait dengan tokoh, tempat dan waktu penulisan atau penyalinan naskah. Biasanya informasi mengenai hal-hal itu diperoleh dari kolofon, namun sayangnya tidak semua penyalin menyertakan kolofon dalam kitab yang mereka tulis. Dari keseluruhan koleksi manuskrip yang ditemukan di Surau Paseban, terlihat adanya perbedaan dari segi karakter huruf dan jenis kertas. Petunjuk ini sedikit mengarahkan adanya sejumlah orang yang terlibat dalam aktifitas penulisan. Menurut informasi yang berkembang di lokasi, secara garis besar koleksi yang terdapat di Surau Paseban dapat dipilah menjadi tiga bagian. Pertama, manuskrip-manuskrip yang dibawa oleh Syekh Paseban dari Surau-Surau tempat beliau mengajar. Kedua, manuskrip-manuskrip karangan Syekh Paseban sendiri ataupun salinan dari kitab-kitab terdahulu, dan ketiga, manuskrip-manuskrip yang dikarang atau disalin ulang oleh para murid, baik ketika menetap di Surau, maupun setelah tamat belajar di Surau dan mendirikan Surau di tempat masing-masing. Keterangan dari pewaris Surau dan guru-guru dari generasi sekarang hanya menyebut bahwa sebagian manuskrip-manuskrip itu dibawa oleh Syekh Paseban dari Surau Padang Gantiang dan Surau Pakandangan tempat dimana Syekh Paseban pernah menimba ilmu. Sebagian lain, menurut asumsi ini tentu ditulis oleh Syekh Paseban dan murid-muridnya di Surau Paseban sendiri. Sebagaimana maksud dari penelitian ini, keterangan atau asumsi ini akan ditinjau lebih jauh lewat telaah kodikologis.

Surau Paseban yang dijadikan sebagai studi kasus, diketahui memiliki sedikitnya 29 manuskrip dalam berbagai cabang keilmuan. Melalui pembacaan fisik naskah diperoleh kesimpulan bahwa keberadaan manuskrip di Surau merupakan bukti adanya aktifitas penyalinan dan distribusi kitab yang menjadi salah satu model transmisi ajaran-ajaran keislaman pada masa lalu, terutama memasuki awal abad XX. Sedikitnya hal itu mengindikasikan bahwa Surau tersebut pernah dijadikan sebagai skriptorium pada masa lalu. Hal itu didukung pula oleh adanya kesamaan beberapa manuskrip dari aspek tulisan dengan manuskrip yang memuat nama penyalin. Oleh karena itu, di sini dapat digagas bahwa Surau Paseban memang pernah dijadikan sebagai tempat menyalin naskah. Dari studi ini dapat pula diketahui kontinuitas dari sebuah mazhab melalui identifikasi nama-nama pengarang yang terdapat di dalam manuskrip-manuskrip tersebut.

Berdasarkan penelitian ini, Surau Paseban telah memainkan peran penting dalam proses transmisi ini dengan secara aktif memainkan peran penghubung Islam tradisional pada awal abad XX dengan masa-masa sebelumnya melalui pengadaan manuskrip dan sekaligus pengajarannya di Surau. Berangkat dari hal tersebut, koleksi manuskrip yang ada di Surau Paseban merupakan gambaran tidak langsung dari penguasaan materi-materi keagamaan yang dimiliki oleh seorang Syekh. Hasil penting lainnya dari penelitian terhadap fisik naskah adalah keterangan yang dperoleh dari cap air kertas. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa manuskrip-manuskrip yang terdapat di Surau Paseban berusia cukup tua, antara 1632-1808 M.
Secara lebih spesifik, penulisan dan penyalinan manuskrip di Surau erat kaitannya dengan pewarisan sumber-sumber rujukan kalangan tradisi.


:: Tulisan lengkap yang merupakan ringkasan dari Disertasi A. Taufik Hidayat diterbitkan dalam Jurnal Internasional Fikr wa Adab Edisi Januari-Juni 2011 (Redaktur : Muhammad Ilham)

Syekh Lathif Syakur (1882-1963) : Ulama Produktif dalam Menulis

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Haji Abdul Latif Syakur lahir di Air Mancur, sebuah nagari yang terletak antara Padang Panjang dengan Bukittinggi pada tanggal 27 Ramadhan 1299 H./15 Agustus 1882. Ayahnya bernama Muhammad Amin, gelar Paduko Intan yang berasal dari balai Ghurah Simabur Sawah Gadang. Sedangkan nama ibunya, Fatimah yang juga berasal dari Simabur Sawah Gadang. Suku ayah dan Ibu Haji Abdul Latif Syakur sama yaitu Pili. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan pembuat jembatan dan rel kereta api pada masa itu. Bila borongan tidak ada, biasanya ayah Haji Abdul Latif Syakur menyabit rumput disawah dan kemudian menjualnya kepada kusir bendi. Sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang pada malam harinya mengajar mengaji bagi anak-anak disekitar rumah tempat tinggal mereka. Dalam usia 7 tahun, ibu Haji Abdul Latif Syakur meninggal dunia. Dan selanjutnya beliau berada dibawah asuhan ayahanda tercinta. Pada tanggal 4 Juni 1890, dalam usia 8 tahun, Haji Abdul Latif Syakur "kecil" dibawa ayahnya pergi menunaikan ibadah haji, rukun Islam kelima ke Mekkah. Kepergian mereka berdua bukan hanya semata-mata untuk melalCSanakan haji saja, akan tetapi juga untuk menetap dalam waktu yang cukup lama. Tujuan ayah Haji Abdul Latif Syakur menetap cukup lama di Mekkah ini adalah untuk mengkondisikan dan mempersiapkan Haji Abdul Latif Syakur menjadi ulama yang memiliki ilmu pengetahuan dan pengeasaan bahasa Arab dengan baik. Selama 12 tahun, sang ayah mendampingi Haji Abdul Latif Syakur belajar agama Islam di Mekkah sambil bekerja menutupi kebutuhan hidup mereka. Di Mekkah ini, Haji Abdul Latif Syakur belajar kepada ulama kharismatik yang banyak menciptakan kader-kader potensial ulama-ulama besar Indonesia yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy yang sekampung dengan ayahnya. Pada tahun 1902, bersama ayahnya Haji Abdul Latif Syakur kembali ke Sawah Gadang Desa Balai Gurah IV Angkat Candung. Pada awal kedatangannya ke kampung halamannya tersebut, Haji Abdul Latif Syakur mengalami kesulitan dalam percakapan bahasa Minang. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam usia yang relatif muda, 8 tahun, beliau telah meninggalkan ranah Minangkabau clan baru kembali 12 tahun kemudian. Tapi lama kelamaan, secara perlahan-lahan kesufitan beliau dalam melakukan percakapan dengan memakai bahasa minang tersebut bisa diatasinya.

Setelah satu tahun menetap di Balai Gurah, Haji Abdul Latif Syakur kawin dengan seorang gadis dari suku Sikumbang yang bemama Rafah. Perkawinan mereka tidak berlangsung lama karena tidak dikaruniai anak. Tak lama setelah itu, beliau kawin lagi dengan gadis dari Koto Tuo. Perkawinan mereka juga tidak berumur panjang karena penyebabnya sama dengan istrinya yang pertama, tidak dikaruniai anak. Kemudian untuk yang ketiga kalinya, Haji Abdul Latif Syakur mempersunting seorang gadis bemama Maryam dad desa Koto Tuo juga. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Sya'diah Syakurah, Sa'nuddin, Sa'dullah dan Lafifah. Setelah itu Haji Abdul Latif Syakur kawin lagi dengan seorang gadis dari Bonjol Alam bemama Raqiyah. Dari perkawinan ini, mereka tidak dikaruniai anak. Dengan istrinya yang kelima, Kamaliyah yang berasal dari Balai Ghurah, Haji Abdul Latif Syakur dikaruniai satu orang anak yang diberi namanya Muhammad Said Syakur.


Istrinya yang keenam bemama Aisyiah dari Kamang. Mereka
tidak dikaruniai anak. Kemudian istrinya yang kedelapan adalah seorang gadis dari Balai Gurah bernama Na'isah. Mereka dikarunia lima orang anak yakni : Su'ada, Syafiuddin, Mahdiyah, Nafisah clan Syafruddin. Nama istrinya yang kesembilan adalah Rafi'ah, gadis desa Panampuang. Perkawinan mereka tidak dikaruniai anak. Dengan istrinya yang terakhir, Zahara dan Sungai Pagu juga tidak dikarunia anak. Sebagai seorang ulama, apalagi "jebolan" Mekkah, tentu banyak para orang tua yang berkeinginan menjadikan Haji Abdul Latif Syakur menjadi menantu. Sehingga tidak salah apabila Haji Abdul Latif Syakur memiliki banyak istri. Secara sosiologis, hal tersebut pada masa dahulu bukanlah sesuatu yang tabu (patologic).

Ketika Haji Abdul Latif Syakur kembali dari Mekkah dan kemudian menetap di Balai Gurah. Di tempat ini beliau mendirikan sebuah surau sebagai wahana transformasi ilmu agama yang diberinya nama Attarbiyatul Hasanah atau lebih sering dikenal dengan sebutan Surau Sicamin. Surau didirikannya pada tahun 1910. Di surau inilah, Haji Abdul Latif Syakur sambil berdakwah beliau mengajar para murid-muridnya tentang seluk beluk agama Islam seperti hukum Islam, Fiqh, ilmu Alat (bahasa Arab), akhlak, ibadah dan lain-lain. Sambil berdakwah dan mengajar tersebut, Haji Abdul Latif Syakur mentradisikan menulis pemikiran-pemikirannya. Sahabatnya, Syekh Muhammad Djamil Djambek pernah menanyakan mengapa beliau begitu produktif dalam menulis. Jawaban Haji Abdul Latif Syakur adalah, "menuangkan pemikiran kita melalui tulisan akan membuat pemikiran kita akan abadi dan tetap berguna bagi orang banyak, walaupun kita telah mati".
Sehingga tidak salah apabila Syekh Muhammad Djamil Djambek yang merupakan kawan seperguruannya sekaligus kawan karibnya ketika berguru pada Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy mengatakan bahwa Haji Abdul Latif Syakur merupakan ulama penulis. Mungkin ulama-ulama sekarang banyak yang produktif dalam tradisi menulis, akan tetapi untuk masa ini tradisi tulis tersebut merupakan sesuatu hal yang begitu langka.

Tulisan-tulisan Haji Abdul Latif Syakur ini kemudian kelak dibukukan
dalam bentuk tulisan tangan baik yang berbahasa Arab Melayu ataupun yang ditulis dalam bahasa Indonesia kedalam beberapa judul buku antara lain :
Mabaady Al-Qary yang berisikan tentang pengenalan huruf-huruf Al-Qur'an, makhraj, baris dan tata cara membacanya. Disamping itu juga dipaparkan tentang berbagai teknik dalam membaca Al Qur'an atau diistilahkan dengan ilmu Tajwid. Dalam buku ini juga dipaparkan sebuah metode membaca Al-Qur'an supaya bisa cepat menguasai seni baca AI-Qur'an tersebut. Metode yang dipaparkan Haji Abdul Latif Syakur dalam bukunya ini mirip dengan metode Iqra' yang sekarang banyak dipakai di beberapa Taman Pengajian AI-Qur'an. Akhlaaquna Al Adabiyah yang berisikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keseharian (muamalah). Pembahasannya sangat ringan dan sederhana, akan tetapi disinilah letak kelebihannya. Haji Abdul Latif Syakur merupakan ulama penulis mampu menampilkan permasalahan-permasalah yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang kadang-kadang luput dari pantauan kita. Permasalahan-permasalahan tersebut kemudian dirujukan kepada nash-nash dalam Al Quran clan hadits nabi. Attarbiyatu Watta'liim yang berisikan tentang pengertian pilar-pilar Islam seperti iman, ihsan, hukum-hukum akal, kemudian penjelasan mengenai rukun Islam dan rukun Iman serta persoalan ­persoalan akidah dan seterusnya. Mabady Al Arabiyatu Walughatuhai yang berisikan tentang ilmu qawa'id dalam Bahasa Arab. Fokus buku ini adalah ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf. Al-Akhlaqu Wal Adaby yang berisikan tentang akhlak nabi-nabi pilihan terutama akhlak rasulullah SAW. Ta'limul Qiraatul Arabiyahi merupakan buku penuntun Bahasa Arab untuk tingkat pemula. Dalam buku ini dipaparkan cara-cara agar bisa menguasai ilmu alat dalam hal ini Bahasa Arab dalam waktu yang refatif cepat. Al Fiqhud Akbar yang merupakan terjemahan dari buku Imam Syafii dan diberi komentar oleh penulis yang berisikan tentang seluk beluk hukum Islam. Ad Da'wah wa/Irsyad yang berisikan tentang kewajiban dakwah bagi setiap orang Islam beserta tata cara berpidato dan tantangan dakwah yang dihadapi. Dan beberapa tulisan lepas yang ditulis dengan tulisan tangan yang belum dibukukan.

Sebagai seorang ulama yang sekaligus pendidik, pemikiran­pemikirannya dipakai oleh beberapa lembaga pendidikan baik lembaga pendidikan kolonial Belanda maupun lembaga pendidikan Islam. Selain mengajar dan membina Surau Sicamin, Haji Abdul Latif Syakur juga mengajar di surau sahabatnya, Syekh Muhammad Djamil Djambek serta mengajar di Modern Islamic Kweek School, Diniyah IV Angkat dan Kulliyatul Islamiyatul 'Asriyah. Kemudian salah satu yang membuat Haji Abdul Latif Syakur layak untuk cermati adalah bahwa beliau banyak menulis tentang segala hal dalam ilmu agama Islam, akan tetapi tidak satupun ditemukan tulisannya yang ditulis mengenai tariqat. Hal ini memperlihatkan bahwa Haji Abdul Latif Syakur tidak mau terlibat kedalam perdebatan-perdebatan teologis yang pada masanya wacana tareqat-tasauf sebagai isu sentral perdebatan-perdebatan diantara para ulama-ulama di Minangkabau.
Haji Abdul Latif Syakur lebih suka menulis tentang hal-hal sederhana, akan tetapi sangat urgen ditengah-tengah masyarakat. Haji Abdul Latifi Syakur bukanlah seorang ulama besar dan bukan pula ulama yang mempunyai lembaga pendidikan besar yang memiliki banyak murid seperti sahabatnya Syekh Muhammad Djamil Djambek. Ketokohan Haji Abdul Latif Syakur adalah kelangkaan beliau sebagai seorang ulama. Banyak ulama-ulama besar di Minangkabau yang mampu membuat lembaga pendidikan Islam dan mampu membuat sebuah pergerakan dalam mempengaruhi alam pikiran masyarakat Minangkabau, tapi mereka belum tentu produktif dalam menulis.

Maka disinilah letak kelebihan yang dimiliki oleh Haji Abdul
Latif Syakur. Kemudian, Haji Abdul Latif Syakur merupakan satu mata rantai dari "rantai-rantai" yang dilahirkan oleh ulama besar kharismatik Minangkabau yang sampai akhir hayatnya berdomisili secara permanen di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Di antara banyak murid-murid beliau, salah satunya adalah Haji Abdul Latif Syakur. Membicarakan tentang transformasi pemikiran Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, berarti kita juga harus membicarakan Haji Abdul Latif Syakur, terlepas beliau tidak memiliki pengaruh yang sedemikian besar. Namun bukan berarti, seluruh style dan ”ideologi-menggerakkan” Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi diadopsi secara total oleh Haji Abdul Lathif Syakur. Ketika para murid-murid (ulama-ulama pembaharu Minangkabau) Syekh Ahmad Khatib memposisikan diri mereka berseberangan dengan ajaran dan ulama tareqat – sebagaimana hal ini ”getol” disuarakan oleh Syekh Ahmad Khatib – justru Haji Abdul Lathie berusaha ”menjauh” dari hal ini. Ada satu hal yang mungkin perlu direnungkan dari kalimat yang dilontarkan oleh Haji Abdul Lathif ketika beliau ditanyakan mengapa tidak berusaha menulis tentang persoalan-persoalan tareqat atau setidaknya masuk ke dalam ”wilayah perdebatan” teologis-tasauf ini, Haji Abdul Lathief menjawab : ”Persoalan-persoalan seperti itu justru akan membuat masyarakat semakin bingung”. Hanya sampai disana jawaban Haji Lathif Syakur. Beliau tidak mau mengelaborasi jawabannya tersebut karena jawaban seperti ini justru bisa berpotensi melahirkan perdebatan-perdebatan non-produktif, setidaknya buat masyarakat umum. Pada hari Sabtu malam, tanggal 13 Juni 1963 Haji Abdul Latif Syakur dipanggil kehadirat Illahi. Beliau meninggal dengan tenang di Rumah Sakit Umum M. Djamil Padang. Wafatnya beliau menimbulkan banyak kedukaan di hati masyarakat Minangkabau terutama dihati masyarakat IV Angkat Candung. Banyak masyarakat mengantarkan beliau ke pemakaman temasuk salah seorang ulama besar Minangkabau, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), anak dari kawan seperguruannya DR. HAKA.

(c) Tim Peneliti FIBA

Kitab (Syekh Paseban) : Antah alias Nahu











:: Sample Naskah (c) M. Yusuf dan A. Taufik Hidayat

Kitab (Syekh Paseban) : Hâdi al-Muhtâj fi Syarhi al-Minhâj Syarah Fiqih

Diedit : Muhammad Ilham

Isi kitab ini adalah penjelasan beberapa ketentuan fiqih yang dibahas secara bahasa dan metode pengambilan kesimpulan hukum fiqih. Diberi judul (laqab) oleh penulis (pengarang?) dengan nama di dimaksudkan di atas dengan penjelasan bahwa kitab ini ditulis sebagai upaya penulis meringkas (iqtashartu) persoalan-persoalan yang dijadikan sandaran dalam fiqih berdasarkan ketentuan, syarat-syarat serta ‘illat-‘illat hukum yang dapat menjelaskan penetapan hukum tersebut. Halaman ke-1 hingga ke-7 sepertinya bukan bagian utama dari kitab ini karena berisi berbagai coretan-coretan seperti rajah, beberapa kutipan hadits, ulasan mengenai khitan, shalat jum’at dan lain sebagainya yang tidak berhubungan dengan isi keseluruhan kitab. Selain itu pola tulisan dalam tujuh halaman pertama juga tidak sejalan dengan keseluruhan naskah dari segi jenis huruf dan bahasa yang dipakai. Tujuh halaman pertama bercampur antara bahasa Arab dan Jawi, sedangkan halaman lain pada umumnya bertuliskan bahasa Arab dengan bentuk huruf yang lebih baik. Model karakter huruf pada umumnya mendekati jenis huruf naskhi, tetapi kaedah naskhi tidak tampak diberlakukan dengan ketat dalam naskah ini.










:: Sample Naskah dalam Kitab Hâdi al-Muhtâj fi Syarhi al-Minhâj Syarah Fiqih Syekh Paseban (c) Ahmad Taufik Hidayat dan M. Yusuf.