Jumat, 06 April 2012

Syekh Halaban di Jurnal Aswaja




Artikel Muhammad Ilham & Hendra Bakti di Jurnal Aswaja

Minggu, 01 April 2012

Bedah Naskah Syekh Jalaluddin Faqih Shaghir

Oleh : Rusydi Ramli & Muhammad Ilham

Penelitian dan penulisan tentang gerakan Padri dan tokoh pelakunya sudah banyak mendapat perhatian dari kalangan ahli dan peminat sejarah. Semenjak pertengahan abad XIX penulisan mengenai Padri telah dimulai dan dirintis oleh kalangan Belanda sendiri. Mereka mengadakan penelitian dan penulisan sangat erat kaitannya dengan politik kolonial. Sekalipun mereka telah berusaha dengan amat cermat dan mendalam, tapi terkadang tidak bisa melepaskan diri dari penonjolan subjektivitas kolonial. Setelah Indonesia merdeka terjadi perubahan dalam historiografi Indonesia. Munculnya penulis-penulis putra Indonesia dengan semangat nasionalis yang menggebu-gebu, terkadang menjadikan dan menjurus pada penulisan yang bercorak nasionalis centris. Mereka menggunakan sumber-sumber dari kolonial yang kemudian disesuaikan dengan selera nasionalis mereka. Jadi mereka kembali menonjolkan subjektivitas dalam penulisan tersebut. Sedangkan nilai dari sebuah penulisan sejarah adalah sangat ditentukan oleh ketinggian objektivitas yang dicapai.

Sebuah penelitian terbaru dari peneliti IAIN tentang Gerakan Padri, yang berusaha melepaskan diri dari subjektivitas kolonialisme dan nasionalis centris. Hal ini terlihat dari sumber primer yang digunakan, diantaranya adalah teks tentang catatan harian Tuanku Imam Bonjol yang kemudian dikenal dengan Naskah atau Tambo Naali Sutan Caniago. Naskah ini berupa penyempurnaan dari teks yang pernah ditulis ulang De Stuers dan dilanjutkan oleh DR. Van Ronkel.[1] Sekalipun kedua sumber tersebut sudah digunakan sebagai rujukan oleh penulis-penulis Barat (baca Belanda) terdahulu, seperti Chiristine Dobin dan Karel Stein Brink. Karel J. Steinbrink mengakui bahwa informasi mengenai Padri datang dari orang-orang yang menentang gerakan itu dan amat sedikit dari sumber-sumber orang yang memihak pada gerakan itu.[2] Disamping itu amat sedikit tulisan yang mengkaji tentang pemikiran agama dari gerakan Padri itu, disebabkan oleh terbatasnya sumber primer yang diperoleh. Menurut Taufik Abdullah “sejarah hanyalah bisa direkonstruksi jika ada bekas-bekasnya”. Maka dalam kajian sejarah pemikiran bekas-bekas itu dalam bentuk teks. Tanpa teks tak bisa sejarah pemikiran itu diuraikan.[3] Mengenai gerakan Padri dan pembaharuan pada awal abad ke 19 kita akan dapat melihat sejarah pemikirannya melalui teks yang merupakan sumber primer. Mungkin banyak teks sebagai sumber primer yang berhubungan dengan sejarah pemikiran pada masa itu, tapi yang jelas sampai kepada kita sa’at ini hanyalah dua buah teks naskah :


(1). Naskah catatan harian Tuanku Imam Bonjol, ditulis oleh Imam Bonjol sendiri dan dilanjutkan oleh Naali Sutan Caniago, putra Imam Bonjol. (2). Naskah Syekh Jalaluddin berjudul Alaamah Surat Keterangan dari saya Fakih Saghir Ulamiyah Tuanku Saming Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo”, yang merupakan teks dalam bahasa Melayu Minangkabau dengan tulisan Arab Melayu.

Teks tulisan tangan Syekh Jalaluddin diterbitkan oleh Dr.JJ.Holander di Leiden pada tahun 1857 sebagai buku pelajaran bahasa Melayu (Maleisch leesbook). Holander mengambil dari dua buah sumber yang telah ditulis ulang. Pertama dari tulisan Meursingge dan yang kedua dari naskah koleksi dan alih tulis DR. Lenting. Semenjak penerbitan Holander, sepengetahuan penlis naskah ini belum pernah dialih tuliskan sampai sekarang, terutama sekali alih tulis ke dalam tulisan latin. Peranan Tuanku Nan Tuo dari Koto Tuo Ampek Angkek Agam sangat besar terhadap pembentukan idiologis gerakan Padri. Fakih Saghir Syekh Jalaluddin penulis naskah ini adalah salah seorang dari murid Tuanku Nan Tuo. Diantara muris-murid Tuanku Nan Tuo yang paling menonjol kecerdasannya adalah Fakih Saghir dan Tuanku Nan Renceh. Fakih Saghir tetap tinggal bersama gurunya untuk membantu mengajarkan ilmu agama. Sedangkan Tuanku Nan Renceh kembali ke kampungnya di Kamang, disana ia mengajar dan mengabdi untuk masyarakatnya sebagai seorang ulama. Berbeda dengan Fakih Saghir, Tuanku Nan Renceh beraliran keras, lebih-lebih lagi setelah berkenalan dengan Haji Miskin.[4] Gerakan Padri yang kemudian dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh bukan hanya berhadapan dengan kaum adat, tetapi juga berhadapan dengan sesama sahabat yang seperguruan.

Fakih Saghir salah seorang pencetus gerakan Padri yang pada awalnya banyak terlibat dengan kegiatan gerakan, tetapi beliau tidak termasuk orang yang ekstrim diantara mereka.[5] Sesuai dengan gurunya Tuanku Nan Tuo, Fakih Saghir tidak menginginkan cara kekerasan terus-menerus dalam menegakkan agama Allah. Dalam naskahnya ini Fakih Saghir lebih banyak bercerita tentang diri dan pengalaman pribadinya. Justru itu penulis lebih cenderung menamakannya “Hikayat” Fakih Saghir, tetapi hikayat ini bisa memberikan gambaran sejarah pada masanya dan gambaran tentang perkembangan pemikiran waktu itu. Kiranya akan lebih berarti sekiranya tulisan ini
diungkapkan melalui telaahan teks guna melihat gerak sejarah pemikiran Islam di Sumatera Barat pada masa itu. Sebagaimana diungkapkan oleh DR.Taufik Abdullah, bahwa teks ini akan langsung memberikan pemahaman terhadap situasi sosial kultural yang lebih jelas dan melahirkan pemikiran atau renungan keagamaan.[6] Akan menjadi sumbangan berharga bagi penulisan sejarah pada umumnya, sejarah pemikiran Islam dan Gerakan Padri khususnya, bila naskah ini dialih tulis ke dalam tulisan latin. Teks tersebut menggunakan tulisan Arab Melayu yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang dibakukan sekarang. Disamping itu bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Minangkabau dengan istilah-istilah yang mungkin tidak bisa dipahami oleh banyak generasi muda sekarang. Sewajarnyalah kalau naskah Fakih Saghir gelar Tuanku Saming Syekh Jalaluddin ini dialih tulis dan dianalisa dan dibedah, sehingga dengan demikian menambah khazanah sumber sejarah pemikiran Islam di Minangkabau pada abad ke 19.

Hasil Penelitian (lebih lengkap) diterbitkan oleh Puslit IAIN Padang

[1] Fatimah Yulinas. Dra, dkk, Tuanku Imam Bonjol, Suatu Studi Sejarah Intelektual Islam di Sumatera Barat (1784 – 1832 ), Laporan Penelitian, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN Imam Bonjol Padang, 1983,1984, hal.10.
[2] Karel J. .Stenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam Abad 19, hal.37.
[3] Taufik Abdullah, DR., Sejarah Pemikiran Islam di Indonesia Mencari Sketsa Sementara, Makalah Seminar Nasional “Budaya Islam dan Pembangunan Nasional” dalam rangka Dies Natalis XXII IAIN Imam Bonjol Padang, 10 dan 11 Desember 1988, hal.4.
[4] Fatimah Yulinas, dkk., Op-Cit, hal. 120.
[5] J.J.de Hollander, DR, Verhaal van den aanvang Der Padri Onlusten Op Sumatra, door Sjech Djilal Eddin, Maleisch Tekst Met Aanterkeningen, Leiden, EJ Brill, 1857, hal. 3-4.
[6] .Taufik Abdullah, loc cit.

Syekh Muhammad Djamil Djambek

Ditulis ulang : Muhammad Iham (c: Suryadi) 

Jika berbicara mengenai ulama dan politik di Minangkabau, maka sejarahnya sebenarnya sudah cukup panjang. Salah seorang “djago tua [dari kalangan ulama] jang meretas djalan dari kemadjuan di Minangkabau” – meminjam kata-kata Tamar Djaja dalam bukunya Indonesia (1966: Jil. 2, 618) – adalah Syekh Muhammad Djamil Djambek (selanjutnya: Syekh Djamil Djambek), tokoh yang kita tampilkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini. Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi  tahun 1860. Ayahnya bernama Muhammad Saleh gelar Datuak Maleka, Penghulu Kepala Guguak Panjang. Ibunya berasal sari Jawa. Djamil Djambek termasuk parewa di masa mudanya, bahkan konon pandai main sihir. Namun pada usia 22 tahun ia mulai mengaji Qur’an setelah mendapat nasehat-nasehat dari Tuanku Kayo Mandiangin. Setelah belajar agama di beberapa tempat, antara lain  di Koto Mambang Pariaman dan Batipuah Baruah, ia lalu pergi ke Mekah tahun 1313 H (1895/96). Di Mekah ia belajar agama kepada Haji Abdullah Ahmad, Syekh Bafadil, Syekh Serawak, Syekh Taher Djajaluddin dan Syekh Ahmad Khatib. Setelah matang dalam ilmu agama Islam, ia pun menjadi guru untuk para pendatang baru dari Hindia Belanda di Mekah. Salah seorang muridnya adalah K.H. Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan organisasi Muhammadiyah di Jawa.  Tahun 1321 H (1903/04) Syekh Djamil Djambek kembali ke Bukittinggi dan langsung terjun ke tengah masyarakat. Ia aktif berkeliling ke berbagai daerah, termasuk ke Semenanjung Malaya. Dialah ulama pertama yang memberi pengajaran dengan berpidato sambil berdiri, berbeda dengan cara biasa di mana guru duduk dan dikelilingi oleh murid-muridnya. Ia sering melakukan hal-hal kontroversial yang membuat marah ulama-ulama ortodoks. Ia menjadi seorang ahli hisab yang terpercaya hingga akhir hayatnya. Syekh Djamil Djambek juga aktif dalam dunia pergerakan: terlibat dalam gerakan otonomi Van IndiĆ« tahun 1921, menggerakkan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) bersama Dr. H.A. Abdullah Ahmad, mendirikan perkumpulan Tsmaratul Ichwan, dan menjadi pengurus Komite Permusyawaratan Ulama Minangkabau (1928).  

Di Zaman Jepang ia juga aktif dalam perkumpulan Majlis Islam Tinggi Minangkabau. Di Zaman Kemerdekaan ia menjadi salah seorang pemimpin utama gerakan kaum Muslimin di Sumatra Barat dan diangkat oleh Pemerintah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Foto ini unik: terlihat Syekh Djamil Djambek memakai satu bintang penghargaan di dadanya. Belum jelas oleh saya dari mana beliau memperoleh bintang penghargaan itu. Kalau dari Pemerintah Kolonial Belanda rasanya tak mungkin, mengingat beliau dikenal anti Belanda. Barangkali bintang itu lambing organisasi tertentu seperti Muhammadiyah. Syekh Djamil Djambek wafat pada  30 Desember 1947 di Bukitinggi. Hadir dalam pemakamannya Wakil Presiden Muhammad Hatta dan banyak orang penting lainnya. Ulama yang kuat memberantas bid’ah dan khurafat itu dimakamkan di depan suraunya, Surau Tengah Sawah, yang lama sesudah kamatiannya tetap diminati oleh ramai pelajar dari berbagai daerah yang ingin menuntut ilmu agama Islam. 

(c) Suryadi – Leiden, Belanda. 
 (Sumber foto: Pedoman Masjarakat, 1938). Singgalang, Minggu, 11 Maret 2012