Senin, 07 November 2011

Masjid Limo Kaum

Masjid-masjid di Minangkabau tidak jauh berbeda dengan mesjid-mesjid kuno di Indonesia, yang membedakan dengan mesjid luar Minangkabau adalah makna-makna dibalik simbol-simbol budaya yang diapresiasikan dalam bentuk arsitektur mesjid. Keberlanjutan budaya pra Islam sangat kental dilihat terhadap mesjid-mesjid kuno di Minangkabau. Material kultur pra Islam telah menjadi living monument (monument yang masih difungsikan) dalam kehidupan masyarakat Minangkabau karena budaya pra Islam tidak ditinggalkan tetapi diramu sedemikian rupa sehingga menghasilkan arsitektur yang mengagumkan (Sudarman : 2006 & 2009).















Foto (c) Labor Sejarah FIBA IAIN Padang

Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid-masjid di Minangkabau tidak jauh berbeda dengan mesjid-mesjid kuno di Indonesia, yang membedakan dengan mesjid luar Minangkabau adalah makna-makna dibalik simbol-simbol budaya yang diapresiasikan dalam bentuk arsitektur mesjid. Keberlanjutan budaya pra Islam sangat kental dilihat terhadap mesjid-mesjid kuno di Minangkabau. Material kultur pra Islam telah menjadi living monument (monument yang masih difungsikan) dalam kehidupan masyarakat Minangkabau karena budaya pra Islam tidak ditinggalkan tetapi diramu sedemikian rupa sehingga menghasilkan arsitektur yang mengagumkan (Sudarman : 2006 & 2009). Agama Islam di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, telah berkembang sejak abad ke-16. Fakta sejarah ini dibuktikan dengan berdirinya Masjid Tuo Kayu Jao, berusia 400 tahun. Meski bangunan bergaya Masjid Demak, Banten, ini sempat dipugar tapi sebagian besar bangunan masjid masih asli.









Foto (c) Labor Sejarah FIBA IAIN Padang

Ilyas Ya’kub (Bagian : 1)

Ditulis ulang/edit : Muhammad Ilham

“Apa sadja jang di bangoen bangsa dan tjita2 jang di harapkan berhasil dengan boeah pergerakan, perlu mempounyai samboungan lidah (pers). Ia akan membawa dan menyampaikan pemandangan, perasan dan tjita2 itoe. Kita rakyat Indonesia jang djoega masoek golongan bangsa jang bangoen dan bergerak, perloe mempoenyai samboengan lidah soepaya pergerakan kita itoe djangan tuli dan keloe”. (Medan Rakyat: No. 1, Februari 1931)


Ilyas Ya’kub dilahirkan pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 1903 M, di Asam Kumbang Painan, Kabupaten Pesisir Selatan. Terlahir dari pasangan keluarga Haji Ya’kub dan Siti Hajir. Bapaknya berprofesi sebagai seorang pedagang kain sementara ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kakek dari pihak ayahnya bernama Haji Abdurrahman seorang ulama terkemuka di Pesisir Selatan bahkan ke Kurinci. Dalam keluarga Ilyas anak ketiga dari empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki. (Edwar: 1981, 219). Dari silsilah keturunan, ternyata Ilyas cucu dari seorang ulama. Kakek beliau ini, banyak mempunyai murid, baik yang berdomisili di painan maupun di Kurinci. Haji Abdurrahman selain seorang ulama beliau juga seorang yang haus dengan ilmu, ini terlihat dari kemauan kakeknya ini menuntut ilmu mulai dari kampung, ke Aceh bahkan sampai ke Makkah. Pada tahun 1932, setahun sekembalinya dari Mesir, Ilyas menikah dengan Tinur seorang putri kesayangan Haji Abdul Wahab guru mengaji Ilyas sebelum berangkat ke Makkah. Pesta pernikahannya tidak dilaksanakan di kampung, tetapi di Semurut Kerinci. Di daerah ini, banyak terdapat murid-murid calon mertuanya, serta letak daerahnya juga jauh dari kota Padang. Pesta pernikahan ini dilaksanakan secara sederhana, tapi cukup berkesan walau jauh dari kota Padang, namun mata-mata Belanda dapat juga mengetahuinya, sehingga perhelatan itu terpaksa diundurkan beberapa hari. (Fauzi Ilyas: 1977,8). Ilyas ditangkap dengan tuduhan mengadakan rapat raksasa untuk mempropagandakan kemerdekaan Indonesia. Setelah melalui proses dengan pemerintahan Belanda, beberapa hari kemudian Ilyas dilepas.

Dari hasil pernikahan Ilyas dan Tinur, mereka dikaruniai 13 orang anak. Ketika penulis mewawancarai salah seorang dari anak Ilyas Ya’kub yang bernama Mulyetri Ilyas, ia mengungkapkan, dari ketiga belas ia bersaudara yang masih hidup adalah 10 orang sedang yang tiga orang lainnya telah meningal dunia. Ketiga orang yang telah meninggal dunia itu, satu meninggal di Digul dan satunya lagi di Australia keduanya meninggal pada masa pembuangan bapak oleh pemerintahan Belanda. Sedangkan yang satu lagi meninggal di Padang sekembalinya dari pembuangan. Adapun yang masih hidup sampai berita ini di dapat adalah: Ali Syaidi Ilyas, Fikri Ilyas, Rostila Ilyas, Rawasi Ilyas, Fauzi Ilyas, Silmi Ilyas, Hayati Ilyas, Surihati Ilyas, Mulyetri Ilyas dan Tisri Yeni Ilyas. (Mulyetri Ilyas, Wawancara: 22 Agustus 2007). Putri ke duabelas Ilyas ini juga bercerita: melalui informasi dari ibu dan kakak-kakaknya, ia mendapat informasi bahwa, bapak ketika hidupnya mempunyai hobi suka menulis dan senang mendengarkan lagu-lagu apa saja. Disela-sela hari libur, dirumah beliau juga sering bercanda dan bernmain dengan kami seperti main kuda-kudaan dan sulap-sulapan. Walaupun begitu, disisilain beliau selalu serius dalam setiap kali menghadapi masalah, tegas dan pantang di sogok walau dengan apapun.


Pendidikan formal Ilyas Ya’kub, berawal dari sekolah Gouverment Inlandsche School di daerah Asam Kumbang Painan, Kab. Pesisis Selatan sekarang. (Marlina Yanti: 2000, 23). Pada malam harinya setelah selesai sholat magrib, ia belajar mengaji serta pelajaran agama bersama kakeknya di surau desa. Setelah menamatkan pendidikan formal, ilyas bekerja di sebuah perusaan tambang batu batu bara Ombilin Sawahlunto, sebagai juru tulis. Pekerjaan ini ia tekuni selama lebih kurang dua tahun antara tahun 1917 sampai dengan tahun1919. Di perusaan tambang ini Ilyas melihat dengan langsung bagaimana nasib saudara-saudara kita sebagai seorang buruh kuli yang diperintah oleh penjajah. Pada suatu hari Ilyas menyaksikan seorang mandor Belanda pada tambang itu, melakukan perbuatan yang diluar prikemanusian, menyiksa seorang pekerja tambang yang sedang duduk istirahat karena lelah akibat beratnya pekerjaan yang mereka lakukan semenjak pagi.(Fauzi Ilyas: 1977, 8 )
. Tidak tahan bekerja dibawah tekanan penjajah, Ilyas keluar dari pekerjaan dan kembali ke kampung halaman. Di kampung ilyas kembali belajar agama kepada seorang ulama terkemuka di koto Merapak, yaitu Syekh Abdul Wahab yang selanjutnya nanti gurunya ini menjadi mertua beliau. Setelah dua tahun belajar pada Syekh Abdul Wahab, Ilyas diajak gurunya menunaikan ibadah Haji ke Mekah. Di Mekah Ilyas mempergunakan kesempatan ini untuk melanjutkan pendidikan. Dari Mekah Ilyas terus ke Mesir dan mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Al-Azhar Kairo. Selama jadi mahasiswa, Ilyas tidak hanya sekedar kuliah saja, tetapi juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Baginya suatu kewajiban moral untuk memperjuangkan nasib bangsa dari penjajahan kolonial Belanda. Tugas mahasiswa bukan hanya sekedar belajar, lebih dari itu merupakan komitmen terhadap realitas social dan politik serta berusaha demi kemajuan bangsa, agar terbebas dari cengkraman penjajah. Untuk itu, bersama rekan-rekan mahasiswa lain yang sama-sama berasal dari Indonesia, juga bergabung dengan mahasiswa lainnya yang berasal dari negeri jiran Malaisyia. Ia mendirikan Al-Jami’ah Al-Khairriyyah, yaitu organisasi social kemahasiswaan yang bertujuan untuk memperbaiki dan memperlancar anggotanya.(Taufik Abdullah: 1988, 179) Terlepas dari tujuan utama tersebut, organisasi ini juga merupakan wadah dari mahasiswa dua negeri serumpun guna mendiskusikan masalah kolonialisme.

Selain aktif di organisasi, Ilyas juga aktif dalam bidang jurnalistik. Dalam bulan September 1925, ia menerbitkan majalah “Seruan Al-Azhar”, yaitu majalah bulanan mahasiswa.( Tim IAIN Syarif Hidayatullah: 2004, 419). Kedua majalah ini adalah untuk bacaan oaring-orang Indonesia, baik yang berada di Mesir maupun yang berada di tanah air. Melalui kedua majalah ini, Ilyas banyak mereflekskan sikapnya terhadap praktek kolonial yang tengah melanda di berbagai daerah di Asia dan Afrika. Fikiran-fikiran dan ide-ide yang ada di benak Ilyas Ia tumpahkan melalui kedua majalah ini. Tak lupa pula untaian semangat dan cinta tanah air, selalu ditebarkan. Pokoknya semangat untuk bebas dari kungkungan penjajah serta cinta tanah air selalu diselipkan dalam majalah ini. Tulisan-tulisan yang cukup pedas dan tegas anti penjajahan Belanda, tampaknya telah menyinggung perasaan Perwakilan Pemerintahan Belanda di Mesir. Melalui perwakilan pemerintahan Belanda di Mesir, Belanda mencoba mengupayakan penangkapan, namun usaha ini gagal, karena Ilyas dilindungi oleh beberapa tokoh Nasionalis Mesir. Jalan lain yang di tempuh oleh pemerintahan Belanda ialah dengan memblok majalah-majalah pimpinan Ilyas beredar di Indonesia. (Edwar: 1981, 221) Larangan ini, justru malah semakin dapat kita pahami betapa hebatnya perjuangan Ilyas di luar negeri. Kesibukan Ilyas di bidang organisasi, jurnalis serta mentransparansikan sikap-sikap anti kolonial, mendapat atensi yang cukup besar dari kalangan tokoh pergerakan nasional Mesir. Bahkan Ilyas menjadi tamu tetap di markas besar Partai Hizbul Wathan dan sering di ikut sertakan dalam acara-acara kepartaian. Bagi Ilyas Ya’kub, kesempatan ini merupakan suatu pengalaman yang paling berharga, yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Keikut sertaan Ilyas dalam acara-acara Partai Hisbul Wathan telah mempengaruhi jalan fikirannya terutama menyangkut colonial. Dua media yang ia pimpin, seakan-akan telah menjadi pelancar tujuan dan pikiran-pikiran para tokoh Nasionalis Mesir tersebut, juga pada dasarnya merupakan suatu keuntungan besar bagi perjungan Ilyas dan kawan-kawan. Bagaimanapun juga, pergerakan yang terjadi di Mesir pada awal abad ke dua puluh, semakin memperkuat rasa kebangsaan mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Indonesia, dengan ideologi yang berasaskan Islam dan Kebangsaan. Rasa ke Islaman merupakan cerminan perjuangan Muhammad Abduh, sedang kebangsaan cerminan dari anjuran Mustafa Kamil. (Marlina Yanti: 2000, 27) pada gilirannya, kedepan fikiran semacam ini yang mempengaruhi jalan fikiran politik Ilyas Ya’kub setelah kembali ketanah air. Lantaran keaktifan Ilyas di bidang politik dan jurnalis, mengakibatkan ia tidak menamatkan kuliahnya di Al-Azhar. Namun demikian, hal ini tidak mematahkan semangat anti kolonialnya. Selam di Mesir lebihkurang enam tahun, telah banyak memberinya pengalaman yang sangat berharga yang tak mukin di dapati di bangku kuliah saja. Sekaligus dengan berbekal pengalaman itulah ia dapat berbuat dalam pergerakan nasional setelah di tanah air.

Dalam bidang politik, Ilyas memantapkan hatinya berkiprah dalam tubuh partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Ia sekaligus telah ikut ambil bagian dalam membidani kelahiran PERMI. Pada kongres pertama PERMI tanggal 20-21 Mei 1930 di Bukittinggi, diputuskan Ilyas Ya’kub diangkat sebagai Wakil Ketua, dalam kepengurusan besar PERMI. Sebagai seorang yang pertama kali memformulasikan landasan ideology PERMI, Ilyas dengan penuh keyakinan mempropagandakan ide-ide Islam dan Kebangsaan, sebagai lambang bagi pergerakan nasional Indonesia. Sebuah surat kabar “Medan Rakyat” ia terbitkan sebagai alat propaganda. Melalui majalah ini, Ilyas menyampaikan pokok-pokok pikirannya mengenai PERMI dan nasionalisme serta aktivitas pergerakan bangsa Indonesia. Seperti halnya ketika azas PERMI Islam dan kebagsaan banyak diserang oleh berbagai pihak, Ilyas tampil dengan ide-ide yang cemerlang lewat Medan Rakyat. Ia menuliskan bahwa Islam dan kebagsaan adalah perasaan yang suci dan pantas meresap pada setiap dada pemuda, hingga mengalir keseluruh tubuhnya setiap saat. Nantinya diharapkan menjadi tunas unggul dan mempunyai kemampuan serta keberanian dalam membela agama, bangsa dan tanah air.(Medan Rakyat : 1 Maret1931, 32).

Menurut Ilyas, sampai tahun 1931, persatuan dan kesatuan belum juga terwujud di kalangan rakyat Indonesia. Ia masih melihat pertikaian dalam hal basis ideology pergerakan nasional, masih saja mewarnai perjuangan kelompok-kelompok pergerakan. Pada saat itu, Ilyas mulai menyerukan tentang persatuaan tampa harus berpedoman pada satu agama. Hal ini terlihat dalam salah satu artikel yang di tulis sebagimana yang dikutip oleh Taufik Abdullah dalam Medan Rakyat No. 5 April 1931, sebagai berikut: “Pabilakah masanya Indonesia dapat mengemukakan ukuran yang diletakkan di tengah-tengah satu bangsa dalam pergerakan. Kalau kita belum bisa bersatu atas nama satu agama, apakah sdalahnya kita bersatu atas naungan panji-panji sebangsa dan setanah air”. Lebih lanjut Ilyas mengatakan, bahwa perpecahan di tubuh pergerakan nasiuonal adalah merupakan sebuah tragedi, sedang kelahiran PERMI yang berlandaskan Islam dan Kebangsaan, merupakan jalan untuk mengakhiri tragedi tersebut.(Taufik Abdullah: 1988, 165). Dari kutipan artikel ini, terlihat bahwa Ilyas dalam hal pergerakan persatuan tidak hanya harus tertuju kepada PERMI, malahan Ilyas berucap, kalaulah persatuan itu tidak bisa dicapai melalui satu ideologi agama, kenapa tidak melalui persatuan sebangsa dan setanah air saja, sedangkan PERMI hanyalah salahsatu wadah untuk menuju persatuan dan kesatuan. Pada tanggal 19 Juli 1931, dalam sebuah rapat umum PERMI cabang Padang, Ilyas tampil sebagai pembicara. Pertemuan ini menggagas tentang hal-hal pembangunan pikiran dan semangat untuk pergerakan. Ilyas tampil dengan judul pidato “Semangat pergerakan yang dilandasi oleh Islam dan kebangsaan”. Menurut Ilyas kemerdekaan adalah cita-cita bagi setiap insane yang tertindas. Siapapun yang merasa hari ini tertindas oleh penjajah yang bercokol di negeri tumpah darah kita, bangkit dan bangunlah untuk menapak hari esok nan cerah. Jadikan Islam dan Kebangsaan sebagai landasan utama buat modal meraih kemerdekaan.(Marlina Yanti dikutip dari Medan Rakyat: 2000, 53).

Tentang disiplin partai, Ilyas sebagai salah seorang pimpinan partai, juga harus menegakkan kedisplinan dan mengontrol anggota partai. Kasus Darwis Thaib, merupakan pelajaran bagi PERMI terhadap tindakan indispliner yang dilakukan pengurus partai. Kasus itu bermula dari adanya desas-desus yang menyebutkan bahwa Darwis Thaib, selain aktif di PERMI juga aktif di PNI. Desas-desus ini menarik perhatian Ilyas, ia segera menangani kasus tersebut. Setelah melakukan penelitian, Ilyas melaporkan kasus ini dalam sidang PB PERMI, yang akhirnya memutuskan untuk memecat Darwis Thaib dari keanggotaan PERMI (Andi Asoka, dikutip dari Medan Rakyat: 1989, 56). Berdasarkan pengalaman ini, Ilyas mengusulkan bahwa untu menjadi pengurus PERMI, terlebih dahulu harus lulus tes disiplin partai. Selain itu para kandidat pengurus partai harus menunjukan kemampuan intelektualnya, sebagai cendikiawan partai. Demikian juga halnya dengan cabang-cabang partai yang berada didaerah, baru akan disetujui sebagai cabang, apabila telah luluis tes disiplin diantara cabang serta telah membuktikan kepatuhannya kepada dewan sentral. Namun usulan ini di tolak oleh PB PERMI.(Taufiq Abdullah: 1988,191). Yang menarik dari usulan Ilyas ini adalah, keingginannya untuk menjadikan PERMI sebagai sebuah partai yang mempunyai disiplin tinggi dan lebih bersifat sentralistis. Alas an penolakan usulan Ilyas agaknya berkaitan dengan ketakutan dewan sentral akan menjadikan PERMI sebagai organisasi politik yang pucat dan bersifat elastis, sehingga akan menghilangkan citrannya sebagai partai masa yang radikal dan revolusioner.
Dalam dunia Pers, Ilyas Ya’kub telah melihatkan kepiawaiannya. Ia mendirikan majalah Medan Rakyat dan menyampaikan ide-ide kreatifnya lewat majalah tersebut serta melalui media-media lainnya. Memang kalau kita lihat eksistensi pers di Indonesia pada awal abad ke-20, maka akan kelihatan parallel sekali dengan cita-cita kebangsaan. Pers dijadikan salah satu media yang efektif untuk mendidik masyarakat, sekaligus untuk membangkitkan semangat dan cita-cita pergerakan kebangsaan.(Marwati: 1948,290). Hampir setiap tokoh atau organisasi pergerakan senantiasa memerlukan pers, guna membangkitkan kesadaran rakyat dalam menasionalisasikan cita-cita kebangsaan sekaligus memberikan pendidikan dari berbagai segi. Maka tidaklah mengherankan, kalau Ilyas juga memahami arti penting pers bagi pendidikan dan pergerakan nasionalisme.

Keyakinan Ilyas menjadikan pers sebagai salah satu media, untuk mendidik dan membangkitkan semangat rakyat, tidak saja melalui surat kabar Medan Rakyat, namun ia juga aktif membantu surat kabar yang terbit di pusat pergerakan (Jakarta dan Surabaya), yang dipimpin oleh tokoh-tokoh pergerakan Indonesia. Indonesia Berdjoeang misalnya, adalah sebuah surat kabar yang terbit di Jakarta di pimpin oleh Soekarno dan M. Yamin. Dalam surat kabar ini, Ilyas bersama-sama dengan Ali Sastro Amidjojo dan Amir Syarifudin, bertindak sebagai redaktur pelaksana.(Taufiq Abdullah: 1988, 204). Disamping itu, pada majalah terbitan Surabaya, Ilyas Ya’kub juga duduk sebagai redaktur bidang luar negeri serta juga ikut membantu surat kabar yang terbit di Padang. Kalau kita perhatikan, perjuangan untuk bangsa melalui pers pada era 1920-an dan era 1920-an, bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak saja karna faktor modal yang pas-pasan di tengah-tengah persaingan pers Belanda dan Tionghoa yang menjadi kendala, melainkan harus berhadapan dengan kepolisian Belanda. Ilyas pernah dipanggil komisaris polisi, karena di anggap tidak mengirimkan satu eksemplar terbitannya kepada pihak yang berwajib. Dari perspektif ini dapat kita pahami bahwa Ilyas Ya’kub, telah berperan aktif melalui media surat kabar, mendidik dan mengobarkan semangat nasionalisme kedalam dada masyarakat. Ia telah berhasil mengambil simpati masyarakt melalui aksi-aksinya di dunia jurnalis. Mulai dari ketika ia jadi mahasiswa di Mesir, sampai di tanah air. Melalui Medan Rakyat Ilyas telah banyak merobah pola piker masyarakat, sehingga telah membuka mata dan pikiran masyarakat terhadap kondisi bangsa yang sedang dijajah.

Dalam bidang pendidkan, usaha Ilyas untuk kemajuan masyarakat tentu tidak terlepas dari usaha-usaha PERMI. Dalam pogram pokok PERMI tentang pendidikan (Daftar Usaha PERMI), berkeinginan menyebarkan pelajaran dan pendidikan kepada rakyat yang berdasarkan ke Islaman dan Kebangsaan. Dalam usahanya meningkatkan kecerdasan rakyat itu, PERMI berusaha mendirikan sekolah-sekolah, mulai dari tingkat rendah sampai ke perguruan tinggi, serta membuka kursus-kursus.(PB. PERMI: 1931, 213-24). Pendidikan ini bertujuan selain untuk meningkatkan kecerdasan tentu juga tidak terlepas dari tujuan politik kemerdekaan. Dengan berkembangnya pendidikan yang pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran rakyat, untuk bergerak dalam menuntut kemerdekaan Indonesia. Setelah kongres ke II PERMI di Padang tahun 1931, Ilyas Ya’kub terpilih sebagai Ketua Departemen Pendidikan PERMI. Ia hamper selalu terlibat dalam berbagai usaha PERMI untuk mengembangkan pendidikan. Dalam waktu yang relative sin gkat, dari tahun 1930 awal berdirinya PERMI, sampai tahun 1931 PERMI telah berhasil mendirikan Islamic College. Usaha itu tentulah didorong oleh cita-cita dan kemauan yang tinggi untuk merealisasikan apa-apa yang pernah di pogramkan PERMI, khususnya dalam bidang pendidikan. Hal ini terlihat dari isi pidatao pembukaan Islamic Kollege Jum’at tanggal 1 Mei 1931, Ilyas Ya’kub menyampaikan bahwa berdirinya Islamic Kollege, tidaklah terlepas dari partisipasi rakyat dan bukan lah semata-mata hasil jerih payah pengurus.(Andi Asoka, 1989, 65, dikutip dari Medan Rakyat, No. 11, Agustus: 1931) Berkaitan dengan hal itu, partisipasi yang diberikan rakyat merupakan perwujudan respon positif masyarakat terhadap PERMI. Konsekwensinya menurut Ilyas, PB PERMI di tuntut untuk lebih giat lagi bekerja dalam mengembangkan pendidikan serta meningkatkan derajat Islam dan Kebangsaan.

Pendirian Islamic Kollege di motori oleh Ilyas Ya’kub dan Basa Mandaro. Menurut mereka, Islamic Kollege didirikan dalam rangka menciptakan “Manusia seutuhnya dengan pribadi yang khusus”. Para mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan yang khusus baik dalam bidang pengetahuan umum, maupun agama. Lembaga pendidikan yang bertujuan selain melatih guru juga pimpinan politik masa depan. Sekolah ini mempunyai dewan penasehat yang diketuai oleh Kusuma Atmadja, seorang hakim asal Jawa Barat yang di sebut PERMI sebagai bapak perguruan tinggi Islam. Dewan itu bertanggung jawab atas blue print dan kurikulum perguruan. Pimpinan dari perguruan itu di jabat oleh Abdul Hakim, seorang ahli hukum. Guru-gurunya di ambil dari orang-orang tamatan Mesir dan AMS. Sementara Ilyas dan Jalaluddin Thaib adalah orang-orang yang sesungguhnya mengawasi dan menjalankan sekolah itu sebagai sebuah perguruan tinggi.( Sidi Bukhari Ibrahim: 1981, 62) Selain di Islamic Kollege, Ilyas juga menjadi staf pengajar di sekolah Training Guru Wanita yang dipimpin oleh Muchtar Luthfi. Sekolah ini menjadi suatu tempat kursus politik yang sangat efektif, hal ini sangat di mukinkan karena aktivitas dari anggota dewan sentral yang sering mengajar di sekolah itu. Di sekolah ini Ilyas dipercayai memegang mata pelajaran bahasa Arab dan ilmu Usulul Qawanin. (Taufik Abdullah: 1988, 215) Ketika pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan undang-undang untuk menertibkan sekolah-sekolah swasta yang dikelola oleh bumi putra. Pada saat itu, perkembanngan pendidikan Indonesia semakin meningkat. Kemajuan itu terlih dari banyaknya muncul lembaga-lembaga pendidikan swasta yang dikelola oleh tokoh-tkoh pergerakan Indonesia. Undang-undang yang dikeluarkan pemerintah tersebut atau yang dikenal dengan Ordonansi itu, menurut Ilyas adalah sebuah cara pemerintah untuk menghalangi dan merusak kemajuan serta keselamatan dari sekolah rakyat di masa depan. (Andi Asoka: 1989, 67). Lebih lanjut Ilyas jelaskan, bahwa ordonansi itu secara tidak langsung telah menghambat cita-cita kaum pergerakan, untuk mencapai kemerdekaan bagsa dan tanah air. Bahkan ia berucap, untuk suatu tindakan yang menghambat cita-cita bangsa, haruslah disingkirkan dengan segenap kemampuan yang ada.

Pada kongres PERMI pertama terpilih Dewan Eksekutif yang terdiri dari: H. Abdul Majid sebagai ketua, H. Ilyas Ya’kub sebagai wakil ketua, Mansur Daud sebagai sekretaris dan H. Syu’ib el-Junusi sebagai bendahara.(Taufik Abdullah: 1988, 161). Berdasarkan jabatan sebagai wakil ketua, Ilyas mempunyai tanggung jawab pekerjaan yang cukup besar. Untuk mempropagandakan PERMI beserta azasnya, Ilyas menerbitkan sebuah surat kabar yang bernama Medan Rakyat. Dalam editorialnya yang pertama, sebagaimana yang di kutip oleh Andi Asoka dalam Medan Rakyat nomor 1, Februari 1931. Ilyas menyebutkan bahwa asas dari Medan Rakyat adalah Islam dan Kebangsaan, dan berdiri netral diatas semua partai.( Andi Asoka: 1989, 49). Melalui editor ini tergambar kiranya bahwa Ilyas Ya’kub akan mempublikasikan Islam dan Kebangsaan. Seperti yang tercermin dalam artikel-artikel terbitan Medan Rakyat yang banyak memuat tulisan-tulisan tentang Islam dan Kebangsaan serta aktifitas pergerakan bangsa Indonesia. Aksi-aksi yang dilancarkan Ilyas ini ternyata mendapat perhatian khusus oleh pemerintahan kolonial Belanda. Dalam penggeledaan yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 5 September 1933, dalam tas Ilyas Ya’kub ditemukan beberapa buah majalah Madjou dan dua buah buku politik. Selesai penggeledaan, Ilyas ditangkap dan ditahan di tahanan Muaro Padang. Melalui proses yang panjang mulai 5 September sampai 22 Desember 1933, maka diputuskan oleh pemerintah untuk membuang Ilyas ke Digul (Taufik Abdullah: 1988, 206). Dengan merinci seluruh aktifitas politik Ilyas, mulai dari semenjak ia berdiam di Mesir sampai pada saat penangkapannya. Telah di jadikan sebagai alasan oleh pemerintah Belanda untuk membuangnya.

Tindakan pemerintahan Belanda menangkap dan membuang Ilyas Ya’kub, mendapat reaksi yang keras dari berbagai kalangan. Sepeerti simpatisan PERMI, dan kelompok pergerakan lainnya. Reaksi yang jelas sebagai rasa simpati, terlihat dari dimuatnya riwayat perjungan Ilyas Ya’kub pada Head line surat kabar Persatuan Indonesia.sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh PB Partindo yang merupakan corong resminya. Selain itu Majalah Raya juga menulis riwayat perjuangan Ilyas Ya’kub dalam salah satu rubriknya (Andi Asoka: 1989, 72). Dalam majalah Persatuan Indonesia dinyatakan bahwa rakyat telah memberikan kepercayaan kepada Ilyas Ya’kub, seorang yang bersifat pendiam tapi banyak bekerja, apa yang dikatakannya memerlukan suatu bukti yang nyata. Lebih lanjut ditulis bahwa alasan ditulisnya riwayat hidup Ilyas Ya’kub, bertujuan untuk cerminan bagi bangsa Indonesia, agar dapat melihat bahwa Ilyas Ya’kub telah menggunakan umurnya untuk kepentingan umum dan kepentingan yang suci, yakni kemerdekaan Indonesia. Majalah Raya yang diterbitkan oleh pelajar-pelajar Islamic College, sebuah sekolah tempat Ilyas mengajar juga memberikan apresiasi kepada ilyas dengan mengatakan “Ilyas seorang Jurnalis dan Laider yang tenang, lautan yang tak beriak…. Kita kenal beliau seorang yang tenang dan kalem. Lebih-lebih dalam berpidato, sekalipun sekelilingnya telah menghujan tepukan tangan ia tetap tenang”.( Andi Asoka: 73). Reaksi demi reaksi diteriakan oleh para simpatisan Ilyas. Dengan di tahannya Ilyas merupakan pukulan hebat bagi simpatisannya terutama kelangsungan PERMI. Apalagi bersama dengan Ilyas, kedua temannya yang dijuluki Trio PERMI juga ditangkap dan di asingkan. Dengan demikian berakhirlah perjungan Ilyas bersama PERMI dalam merintis kemerdekaan. Karena setelah ia dibebaskan tahun 1946, Indonesia telah merdeka. Puncak serta akhir dari karir politik Ilyas Ya’kub pada masa kemerdekaan, adalah setelah duatahun pulang dari pembuangan tahun 1948, Ilyas terpilih sebagai ketua DPRD Sumatera Tengah yang berkedudukan di Bukittinggi, sekaligus merangkap sebagai penasehat Gubernur Sumatera Tengah. Kemudian dalam pemilihan umum tahun 1955, Ilyas terpilih menjadi anggota Konstituante Repoblik Indonesia (Edwar: 1981, 225).

Sumber : (c) Asril

Ilyas Ya’kub : Berakhir di Digoel (Bagian 2)

Ditulis ulang/edit : Muhammad Ilham

“Apa sadja jang di bangoen bangsa dan tjita2 jang di harapkan berhasil dengan boeah pergerakan, perlu mempounyai samboungan lidah (pers). Ia akan membawa dan menyampaikan pemandangan, perasan dan tjita2 itoe. Kita rakyat Indonesia jang djoega masoek golongan bangsa jang bangoen dan bergerak, perloe mempoenyai samboengan lidah soepaya pergerakan kita itoe djangan tuli dan keloe”. (Medan Rakyat: No. 1, Februari 1931)

Ilyas Ya’kub dikenal dengan seorang yang ideolog, namun ide-ide yang ia lahirkan selalu mendapat perhatian khusus oleh pemerintahan Hindia Belanda. Kritik-kritik terhadap Belanda membuat Belanda jadi gerah. Akhirnya awan mendung mulai menyelimuti Ilyas. Berawal dari penggeledahan oleh pemerintahan terhadap kantor PB PERMI. Dalam penggeledahan ditemukan Majalah Madjou yang didalamnya ditemukan tulisan-tulisan Ilyas yang menurut pemerintahan Hindia Belanda isinya meremehkan pemerintahan dan menghasut rakyat untuk menentang otoritas pemerintahan Hindian Belanda. Ilyas kemudian ditangkap dan setelah melalui proses penyidangan di putuskan untuk membuang Ilyas ke Digul. (Taufik Abdullah: 1988, 206). Digul adalah daerah yang terletak di pedalaman Irian Jaya, daerah ini dibuka pada bulan Januari 1927 dan digunakan sebagai daerah kamp konsentrasi bagi kaum Avan Garde (Perintis Kemerdekaan).(Z. Yasni: 1980,9-10).

Kondisi Digul kala itu, sangat menakutan. Iklimnya yang membunuh, serangan nyamuk malaria dan hutan belantara serta para penjaga penjara yang sangat tidak bersahabat adalah suasana baru yang mesti dihadapi Ilyas Ya’kub untuk menebus “dosa politiknya” terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Situasi semacam ini bagi Ilyas bukanlah suatu kendala untuk tetap kukuh pada pendirianya yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintahan Hindia Belanda. Ketika para penghuni kamp hendak di pindahkan ke Australia Ilyas menolak, sementara para penghuni lainnya telah dipindahkan. Atas nasehat beberapa perwira Australia yang berada di Digul, akhirnya ia bersedia pindah ke Australia. Kesediaan Ilyas ini bukan berarti ia telah bekerjasama dengan Belanda tetapi merupakan salah satu taktik agar segera dipulangkan ketanah air sama dengan sebagian tahanannya lain yang memang teguh pendirian. Sebagai konsekwensi penolakan kerjasama dengan Belanda, ketika ia dipulangkan ke Indonesia, ia tida dilarang merapat di Tanjung Periuk bersama teman yang lainnya tetapi di asingkan lagi ke Kupang Pulau Timor. Selanjutnya dikirim ke Labuhan Singapura, Serawak, ke Brunai dan akhirnya kembali ke Labuhan. Sewaktu mereka berada di Labuhan Singapura, anak mereka yang ketujuh Iqbal meninggal dunia. Kemudian dari sana sang istri dan keenam anaknya yang lain, dipulangkan ketanah air, sedangkan Ilyas belum di perbolehkan.(Fauzi Ilyas: 1977, 6).

Diakhir tahun 1946, Ilyas Ya’kub baru dipulangkan ke tanah air. Setelah menikmati alam kemerdekaan selama lebih kurang sepuluh tahun dan telah ikut pula mengisi kemerdekan melalui Ketu DPRD Sumatera Tengah dan penasehat Gubernur Sumatera Tengah, karena sakit yang menghinggapinya selam dua bulan membawa ia berpulang kerahmatullah. Ilyas Ya’kub meninggal pada hari sabtu tanggal 2 Agustus 1958, jam 18,00 W.S.U, di Koto Berapak Painan.(Fauzi Ilyas: 1977, 8). Ilyas dimakamkan secara militer pada hari Minggu tanggal 3 Agustus 1958, di depan Masjid Raya Kapencong Koto Merapak Painan. Upacara pemakaman, juga turut di hadiri oleh penjabat-penjabat sipil dan militer setempat.
Sebagai tanda penghargaan dari pemerintahan daerah, pada tanggal 17 Agustus 1975, Ilyas Ya’kub di beri piagam penghargaan sebagai “Pejuang Umum” oleh Gubernur Sumatera Barat, No. Kesra 82/9-1975. Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh unsur pemerintahan daerah dan pelajar-pelajar setempat, selalu mengadakan upacara bendera di pusara Ilyas, demi mengenang jasa-jasanya. Sedangkan pemerintahan Indonsia, juga menghargai perjungan Ilyas dengan dianugerahinya ia sebagai pahlawan Nasional. Sebagaiman yang ditetapkan melalui keputusan presiden No. 074/TK/1999 tertanggal 13 Agustus 1999, bahwa Haji Ilyas Ya’kub resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.(www://id.wikipedia.org/wiki/ilyasya’kub).