Minggu, 19 September 2010

Shamsiah Fakeh (1924 - 2008) : Dari Diniyyah Puteri Padang Panjang ke Aktifis Radikal Partai Komunis Malaya (Bagian Dua)

Oleh : Saifullah SA bin Mohd. Sawi
Edit : Muhammad Ilham


Muhammad Salleh Lamry yang pernah datang dan menyaksikan perkampungan Muslim di Thailand Selatan tersebut, mendapati bahwa ternyata hampir seluruh PKM yang beragama Islam (khususnya Rejimen ke-10) tetap menjadi Muslim yang taat. Di sini mereka membangun Mesjid, Surau, madrasah dan mengajarkan anak-anak mereka mengaji dan membaca Al-Qur’an. Ternyata bagi mereka adalah mungkin untuk menjadi Komunis dan Muslim pada waktu yang sama, sebagaimana pernah diyakini oleh Haji Misbah, seorang tokoh komunis Indonesia. Sebagaimana juga Datuk Batuah, seorang guru senior dan berwibawa dari Sumatera Thawalib Padang Panjang dalam sejarah tercatat orang yang secara ideologis mencoba mempertemukan paham Islam dan Komunisme, dan secara pergerakan menggabungkan antara Perguruan Thawalib dan PKI, bahkan menjadi pendiri, pengembang PKI di Sumatera Tengah. Sejarah mencatat bahwa dikalangan NU dan PERTI, bekerjasama dengan pihak Komunis dan PKI adalah suatu hal yang boleh-boleh saja, dibuktikan dengan kedekatan KH. Sirajuddin Abbas (pimpinan PERTI) dengan PKI dan Sukarno, sebagaimana juga tokoh-tokoh NU dekat dengan PKI dan Sukarno melalui Ideologi Nasakom.

Menurut analisa penulis, hal itu bisa terjadi karena : (1). Paham dan ajaran komunisme waktu itu, lebih menitik beratkan perjuangannya pada Nasionalisme, heroisme melawan penjajahan (melawan Belanda di Indonesia dan melawan Inggeris di Malaya). Waktu itu perlawanan anti penjajahan ”identik” dengan komunisme, tidak sempurna disebut pejuang kemerdekaan kalau tidak dekat dengan ideologi komunisme. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa paham Komunisme/Partai Komunis merupakan organisasi dan gerakan yang paling ditakuti dan dikejar-kejar penjajah dimanapun. (2). Tokoh ideolog dan aktifis Komunis, sama sekali tidak mengemukakan hal-hal yang bertentangan dengan agama, misalnya bahwa ”Agama adalah candu bagi masyarakat, paham Komunisme adalah atheisme” dan seterusnya. Masalah kontroversial dan krusial ini sengaja disimpan rapat-rapat, sehingga dapat bekerjasama dengan pihak-pihak agama. (3). Karena alat perjuangan yang ada waktu itu sangat sedikit, kalau tidak boleh dikatakan hanyalah PKM saja (UMNO dan PAS belum lagi wujud waktu itu), sehingga seluruh mereka yang memiliki semangat perjuangan terpaksa menggunakan satu-satunya alat yang tersedia itu.

Sekarang hal yang paling penting, bagaimana mungkin seorang Shamsiah Fakeh yang adalah keturunan Minangkabau yang terkenal dengan adat istiadatnya yang keras. Alumni atau anak didik Diniyyah Puteri Padang Panjang, sebuah sekolah yang sangat ketat dalam pendidikan dan pengamalan agamanya, lalu menjadi pejuang komunisme paling kuat, paling loyal dan paling setia pada ajaran komunisme itu. Sebagaimana sudah disebut, jangankan seorang murid sekolah agama seprti Shamsiah Fakeh, sedangkan ”seorang guru agama” sekaliber Datuk Batuah, yang sangat senior dan disegani di Sumatera Thawalib Padang panjang – tidak jauh dari lokasi Diniyyah Puteri Padang Panjang – sudah boleh terpikat dan menjadi pejuang anti penjajahan melalui PKI, apatah lagi hanya seorang ”murid” seperti Shamsiah Fakeh.

Sepanjang yang disaksikan oleh Muhammad Salleh Lamry, yang pernah datang ke Perkampungan Perdamaian bekas PKM di Thailand Selatan, disana mereka yang beragama Islam tidak pernah meninggalkan ajaran dan pengamalan agamanya. Bagi mereka menjadi Komunis dan menjadi Muslim bukanlah harus memilih satu diantara dua, tapi menjadikan dua kekuatan besar itu menyatu dalam kehidupan. Ideologi Komunisme dijadikan penyuluh dan pedoman perjuangan politik kenegaraan sedangkan agama (Islam) dijadikan penyuluh dan penuntun batin dalam kehidupan spritual keagamaan. Lagi pula, bagi Shamsiah Fakeh waktu itu merasa tidak ada alat perjuangan yang lain, dan kalaupun ada tidak ada yang berjiwa radikal, dinamis dan militan sesuai dengan gelora jiwa Shamsiah Fakeh sendiri, kecuali PKM. Sikap apakah yang diteladani oleh sang murid Shamsiah Fakeh dari gurunya Rahmah El-Yunusiyah ?. Secara keseluruhan, adalah semangat perjuangan yang tidak kenal menyerah, konsistensi (istiqamah) yang tidak pernah bersikap ”zig-zag” dalam berpolitik. Dan dalam sejarah dapat kita baca, bahwa secara khusus Rahmah El-Yunusiyyah pada waktu agresi Belanda kedua pada tahun 1948, pernah membentuk pasukan khusus yang diberi nama pasukan ekstremis, yang tugasnya menyusup kedalam kota Padang untuk mengacau keamanan dan mencari senjata. Pasukan ekstremis ini sangat ditakuti Belanda. Pada awal 1949, Rahmah beserta tentara Batalyon Merapi juga pernah bergerilya di hutan belantara di sekitar Gunung Singgalang, dan pada tanggal 7 Januari 1949, Rahmah tertangkap oleh Pihak Belanda selama beberapa bulan lamanya. Pada waktu PRRI tahun 1958/59, Rahmah juga ikut bergerilya masuk hutan beberapa waktu. Jadi kalau Shamsiah Fakeh pernah bergerilya selama bertahun-tahun dihutan belantara Thailand Selatan, sekalipun dalam naungan ideologis yang berbeda, juga pernah dilakukan oleh gurunya Rahmah El-Yunusiyah. Seluruhnya, membuktikan banyaknya persamaan dan kedekatan gaya, metode, strategi, cara, pengalaman yang dipakai gurunya Rahmah dan muridnya Shamsiah Fakeh, kecuali dalam satu hal. Gurunya berpolitik dalam Masyumi dan muridnya dalam PKM, dua kekuatan yang di Indonesia secara faktual adalah berlawanan secara diamentral.

::: (Artikel lebih lengkap, akan diterbitkan di Jurnal Khazanah Edisi V/2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar