Minggu, 18 April 2010

KH. Isa Anshari (1916-1969) : "Sang Singa Podium"

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Ia dijuluki "Singa Podium". Sebuah julukan yang sangat beralasan demikian karena kefasihan kemampuan berorasi mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarnya. Pemuda yang bertubuh pendek, gemuk dengan bahu yang agak bungkuk ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 1 Juli 1916. Di usianya yang masih remaja, Isa Anshari telah terjun ke dunia politik. Di kota kelahirannya itu ia sudah menjadi kader PSII dan aktif sebagai mubaligh Muhammadiyah. Seperti halnya para pemuda lainnya, Isa Anshari merantau ke pulau Jawa dan menetap di kota Bandung. Di kota Kembang inilah ia bertemu dengan Soekarno. Selain dikenal sebagai pemuda yang taat beragama, aktivitas politiknya makin menggebu-gebu. Di usianya yang muda, ia telah memimpin beberapa organisasi, yaitu Ketua Persatuan Muslimin Indonesia Bandung, Pemimpin Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia Bandung, Sekretaris Partai Islam Indonesia Bandung serta ikut mendirikan Muhammadiyah cabang Bandung. Dalam pergerakan itu, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang disebut-sebut radikal, seperti M. Natsir. Aktivitasnya di Persis yang sempat dipimpinnya beberapa periode seakan-akan semakin tersemai subur. Ia juga menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam dan pemimpin redaksi majalah Daulah Islamyah.

Satu hal yang mencolok dari tokoh yang pernah menjadi pembantu tetap Pelita Andalas dan Perbincangan ini adalah sikapnya yang tegas. Ia sering dinilai tidak bersikap kompromistis. Tidak mengherankan kalau Herbert Feith menyebutnya dengan figur politisi fundamentalis yang memiliki keyakinan teguh. Oleh karena itu, pada zaman Jepang, ia telah mengomandoi gerakan Anti Fasis (Geraf), Biro Penerangan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) Priangan, memimpin Angkatan Muda Indonesia dan mengorganisasi Majelis Islam yang membentuk kader-kader Islam. KH. Isa Anshari adalah salah satu pilar yang membangun Persis. Pada tahun 1935-1960 ia sempat menjadi ketua umumnya. Selama memimpin Persis, perannya sangat menonjol. Ia selalu memberikan arahan dan warna bagi organisasi itu. Pidatonya selalu bergelora membuat pandangan yang mendengarkan selalu tertuju kepadanya. Bukan sekali dua kali ia ditegur oleh aparat keamanan karena “garangnya” pidato yang ia sampaikan. Dalam hal tulis menulis analisisnya cukup tajam. Di antaranya hasil karyanya adalah Bahaya Merah Indonesia (1956), Barat dan Timur (1948), Islam Menentang Komunisme (1956), Tuntunan Puasa (1940), Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), dan lain-lain.

Dalam kancah politik, Masyumi menjadi ladangnya. Bagi para ulama kritis , berpolitik merupakan bagian tuntutan agama. Mereka selalu meneriakkan kebenaran walaupun pahit dirasakan. Bagi mereka, berpolitik adalah alat untuk mencapai cita-cita umat Islam. Di bawah bendera Masyumi, ia semakin memperkuat posisinya sebagai politisi. Tahun 1949, ia memimpin sebuah kongres Gerakan Muslimin Indonesia. Keterlibatan KH. Isa Anshari dalam pentas politik membuat dia harus menghadapi risiko yang tidak kecil. Ketika terjadi razia terhadap orang-orang yang diisukan ingin membunuh presiden dan wakil presiden pada bulan Agustus 1951 oleh PM Sukiman Wirdjosandjoyo, KH. Isa Anshari ditangkap. Namun beberapa saat kemudian ia dilepaskan dan dinyatakan tidak bersalah. Sepak terjangnya di bidang politik sempat menyedot perhatian massa. Di mana ia memberikan pidato, pasti dipenuhi massa yang ingin mendengarkan suaranya. Biasanya massa yang hadir bukan hanya partisipan Masyumi, tapi juga masyarakat umum. Pada masa Soekarno, Masyumi menjadi salah satu lawan politik pemerintah yang terus digencet. Saat tragedi Permesta meledak (1958), banyak tokoh-tokoh yang diciduk. Termasuk KH. Isa Anshariyang saat itu berada di Madiun bersama Prawotomangkusasmito, M. Roem, M. Yunan Nasution dan EZ. Muttaqien serta beberapa tokoh lainnya.

Pada masa demokrasi parlementer, muncul beberapa konflik antar kelompok. Ada yang menginginkan Indonesia berideologi sekuler-nasionalis dengan dasar negara Pancasila. Di sisi lain ada yang menginginkan terbentuknya negara Islam, atau paling tidak negara yang berideologikan hukum-hukum Islam. Di tubuh Masyumi, cita-cita untuk membangun Negara Islam sangat subur. KH. Isa Anshari tetap menjadi juru bicara yang ulet bagi Masyumi. Namun sayang, keinginan mereka untuk mewujudkan Negara Islam gagal. Ketidakberhasilan ini disebabkan beberapa hal, di antaranya munculnya polarisasi mengenai bentuk dan konsep negara Islam itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa aturan dan ajaran Islam harus terwujud lebih dahulu yang nantinya dengan sendiri akan terbentuk negara Islam. KH. Isa Anshari termasuk dalam kelompok ini. Di sisi lain ada yang berpendapat bahwa negara Islam harus di bentuk dahulu, baru kemudian diberi corak dan warna Islam. Di Luar itu, muncul kelompok yang lebih keras lagi. Maka meledaklah peristiwa DII/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh serta gerakan Ibnu Hajar di Kalimantan. Gerakan-gerakan itu dapat dipadamkan oleh Soekarno. Pada era berikutnya, KH. Isa Anshari terus berkecimpung dalam membangun umat. Di usianya yang kian lanjut, ia lebih banyak mengkader generasi muda. Ia tidak lagi menjadi pemimpin di organisasi yang membesarkannya, tapi cukup sebagai penasehat. Begitulah contoh seorang pemimpin yang mengetahui keadaannya. Kendati demikian ia tetap saja mendapat halangan. Ia sempat dijebloskan ke dalam penjara oleh Soekarno. Dari balik terali besi ia masih sempat mengirimkan tulisan-tulisan ke para sahabatnya. KH. Isa Anshari tidak mengenal lelah. Menjelang akhir akhir hayatnya ia tetap bekerja untuk umatnya. Pada 11 Desember 1969 atau sehari setelah Hari Raya Idul Fitri 1369 H ia meninggal dunia, di RS Muhammadiyah Bandung. Sehari sebelumnya ia menyatakan bersedia memberikan khutbah Idul Fitri, namun takdir berkehendak lain. Naskah khutbah itu sempat diketiknya dua halaman, dan tak sempat terbacakan.

(c) Sumber :
wikipedia.com - Majalah Panjimas Juli 1989

Sabtu, 06 Maret 2010

Syeikh "Inyiak" Muhammad Djamil Djaho (1875-1945)

Oleh : Muhammad Ilham

Inyiak Jaho lahir pada tahun 1875 di Jaho. Ayahnya bergelar Datuk Garang yang berasal dari Negeri Tambangan, Padang Panjang. Sang ayah pernah menjabat sebagai Qadhi daerah. Ibunya, adalah seorang perempuan yang disegani di tengah-tengah masyarakat. Muhammad jamil dibesarkan di tengah keluarga yang kuat menjalankan tradisi dan agama. masa kecilnya dihiasi dengan nuansa religi yang sangat kental. Beliau belajar al-Qur’an dan kitab perukunan (kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab) dari ayahnya sendiri. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya, pada usia 13 tahun, Muahmmad Jamil telah hafal Al-Qur’an dan isi kitab perukunan.

Melihat kecerdasan dan kesungguhan Muhammad Jamil, sang ayah lalu berinisiatif untuk mengjarinya kitab-kitab kuning. Dalam beberapa waktu yang cukup singkat, Muhammad Jamil mampu mencerna maksud yang terkandung dalam kitab gundul tersebut, dan cakap menguasai bahasa Arab, baik secara lisan atau tulisan. Latar belakang keluarga yang alim inilah, yang membuat Muahmmad Jamil senantiasa haus akan ilmu agama, sehingga ia pun melanjutkan pengaisan ilmunya kepada ulama-ulama besar Minang di zaman itu. Muhammad jamil semakin tumbuh sebagai sosok yang senantiasa dahaga akan ilmu agama. maka ia pun pergi menuju halaqah atau majlis ilmu pesantren Syeikh al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Pajang. Selama belajar di pangkuan Syeikh al-Jufri, Muhammad Jamil menunjukkan ketekunan dan kecerdasannya sehingga ia pun menjadi murid kesayangan sang Syeikh. Ilmu agama yang telah ia ais pun kian hari kian banyak. Selepas menyelesaikan belajar di halaqah pesantren Syeikh al-Jufri pada tahun 1893, Muhammad Jamil melanjutkan pendidikannya ke seorang ulama ahli fikih terkenal, Syeikh al-Ayyubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Di pesantren barunya inilah Muhammad Jamil berteman akrab dengan Sulaiman ar-Rusuli, yang kelak menjadi seorang Syeikh terkenal dari tanah Minang. Keduanya adalah santri yang pandai, dan belajar dari Syeikh al-Ayyubi selama enam tahun. Selepas itu, keduanya melanjutkan mengaji ke Biaro Kota Tuo, sebuah tepat berkumpulnya ulama-ulama besar Minang, seperti Syeikh Abdus Shamad, Faqih Shagir, dan lain-lain.

Pada tahun 1899, Muhammad Jamil dan Sulaiman ar-Rasuli pindah mengaji ke Syeikh Abdullah Halaban, seorang ulama Minang yang terkenal mahir ilmu fikih dan ushul fikih. Di perguruan Syeikh Halaban inilah Muhammad Jamil dipercaya untuk menjadi seorang pengajar (ustadz) dan asisten pribadi syeikh Halaban yang kerap dibawa ke pengajian-pengajian keliling negeri Minang. Pada tahun 1908, atas dahaganya Muhammad Jamil akan ilmu agama, ia pun pergi ke Mekkah Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji dan untuk mengais ilmu. Sebelum berangkat ke tanah suci, Muhammad Jamil dipersuntingkan dengan gadis Tambangan yang bernama Saidah, yang kelak mengaruniai dua orang puteri bernama Samsiyyah dan Syafiah. Sebelum berangkat ke tanah suci pula, paman Muhammad Jamil, Datuk bagindo Malano memberikannya gelar pusaka “Pakiah Bagindo Malano”, sebuah gelar kehormatan.

Di Mekkah, Jamil berguru kepada Syeikh Khatib Minangkabau, seorang putra inang yang menjadi imam, khatib, sekaligus mufti madzhab Syafi’i di Masjid al-Haram. Di Mekkah, beliau bertemu dan belajar bersama Syeikh Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka). Keduanya menjadi murid kesayangan Syeikh Khatib, dan diberi kehormatan untuk membimbing dan mengajar murid-murid yang lain. Muhammad Jamil belajar di Mekkah selama 10 tahun lamanya. Selama itu juga ia telah memperoleh tiga ijazah ilmiyyah dari tiga orang ulama besar di Mekkah pada zaman itu, yaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (guru besar madzhab syafi’i), Syeikh Alwi al-Maliki (guru besar madzhab Maliki), dan Syeikh Mukhtar al-Affani (guru besar madzhab Hanbali). Sekembalinya dari tanah suci, Syeikh Jamil menjadi ulama terkenal dan disegani karena kedalaman ilmunya dan kesolehan pribadinya. Pada tahun 1922, bersama-sama syeikh Sulaiman ar-Rusuli dan Syeikh Abdul Karim, beliau mendirikan Persatuan Ulama Minangkabau dan perguruan Islam Thawalib. Di kampung halamannya pula, syeikh Muhammad jamil membuka halaqah pengajian yang banyak didatangi oleh para pengais ilmu. Halaqah ini kelak menjadi Madrasah Tarbiyyah Islamiyyah Jaho. Syeikh Inyiak Muhammad Jamil Jaho wafat pada tanggal 2 November 1945. Beliau banyak meninggalkan kaya berharga yang menjadi suluh ummat di kemudian hari, yaitu Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah ‘Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, as-Syamsul Lami’ah, fil ‘Aqidah wad Diyanah, Hujjatul Balighah, al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful Awsiyah, dan lain-lain.


Sumber : Mukaddimah kitab Tadzkirah al-Qulub karangan Syeikh Jamil Jah/syeikh-muhammad-jamil-jaho.html

Gerakan Paderi dan Gejolak Keagamaan di Rantau Pariaman

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Penyebaran ide gerakan Paderi ke kawasan pantai barat Sumatra sejak 1820-an menyebabkan “disharmonisasi” kehidupan agama di desa-desa tertentu di Rantau Pariaman. Dalam rencana ini, pengaruh ide gerakan Paderi di Rantau Pariaman cuba ditelusuri melalui biografi Syeikh Daud Sunur, seorang ulama yang berasal dari Rantau Pariaman. Sejak awal keulamaannya, paham keagamaan Syeikh Daud sudah berseberangan dengan ordo Ulakan yang ortodoks. Syeikh Daud telah mengarang dua buah syair yang terkenal: Syair Mekah dan Madinah atau Syair Rukun Haji (SRH) dan Syair Sunur (SSn). Kedua-dua buah syair ini memberi banyak maklumat tentang perjalanan hidup dan pemikiran keagamaan ulama ini. Dalam SRH, Syeikh Daud mengkritik kaum ulama yang konservatif ordo Ulakan. Syair ini menjadi populer di kalangan kaum pembaharu di Darek, lebihlebih lagi pada bahagian kedua abad ke-19 setelah berkembangnya tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau (Bruinessen 1992: 102). Daripadanya, mereka memperoleh landasan tekstual dan sokongan moral untuk menyerang “Agama Ulakan”. SSn yang diperkatakan dalam rencana ini merakamkan penderitaan jiwa Syeikh Daud, seorang ulama yang banyak menanggung derita jiwa dalam memperjuangkan ide dan keyakinannya.

Dalam SRH, tercermin sikapnya yang menentang taklidisme dalam beragama. Jika SRH adalah reaksi Syeikh Daud kerana kalah berdebat dengan Tuanku Syeikh Lubuk Ipuh, maka SSn adalah rakaman dari efek psikologis yang dideritainya akibat kekalahan itu. Berbeza dengan autobiografi klasik yang lain dari Minangkabau tentang kejayaan, misalnya kisah hidup Nakhoda Muda (Drewes 1961) atau Muhammad Saleh Datuk Orang Kaya Besar, SSn lebih banyak mengisahkan kegagalan Syeikh Daud. Berbeza dengan kebanyakan ulama yang terkenal kerana banyak pengikut dan pahlawan kerana memimpin gerakan melawan penjajah, Syeikh Daud menjadi terkenal kerana cerita “kekalahannya”. Sudah lama diketahui bahwa kajian historis mengenai konflik agama di Minangkabau memberi penekanan pada wilayah Darek. Bagaimana persisnya dinamika hubungan keagamaan antara wilayah rantau barat (khususnya Rantau Pariaman) dengan Darek pada periode Perang Paderi masih belum jelas. Pembicaraan masalah ini oleh pengkaji-pengkaji terdahulu masih bersifat permulaan. Kebanyakan mereka berpijak pada ungkapan adat Minangkabau yang sudah terlalu sering diulang: Adaik manurun, syarak mandaki (adat menurun, syarak mendaki), maksudnya adat disosialisasikan dari Darek/ dataran rendah, antara lain ke Pariaman; syarak (agama) disosialisasikan dari daerah pantai [Ulakan] (dataran rendah ke dataran tinggi Minangkabau).


Melalui kajian 102 Sari 23 ini, jelaslah efek sebaliknya juga terjadi pada suatu masa dalam sejarah Minangkabau: ide agama dari pedalaman dicoba tularkan ke wilayah pantai. Kisah hidup Syeikh Daud menggambarkan percubaan penetrasi dan perluasan ide “pemurnian” agama yang tercetus di Darek ke wilayah Rantau Pariaman yang masyarakatnya kosmopolitan, bersifat terbuka dan cenderung sinkretis dalam menjalankan agama. Dari kisah hidup Syeikh Daud itu dapat ditarik kesimpulan bahawa sepanjang bahagian pertama abad ke-19, ide pemurnian agama Kaum Paderi mengalami kesulitan menembusi konservatisme agama masyarakat Pariaman. Ketika melihat radikalisme agama yang tumbuh subur di Darek pada masa Paderi dan pertentangan yang diperlihatkan Rantau Pariaman dengan penduduknya yang sudah lebih dahulu memeluk Islam, penulis ini sependapat dengan Jeroen Peeters yang mengatakan reformasi (agama) lebih banyak berhasil di daerah yang hanya sedikit dipengaruhi tahap proses Islamisasi yang terdahulu (1997: 242). Walaupun segolongan kecil ulama muda asal pantai (Rantau Pariaman) sendiri (setelah belajar ke Darek) mulai bersikap kritis terhadap “Agama Ulakan”, tetapi mereka tidak mampu meruntuhkan otoritas pusat tarekat Shattâriyah itu. Sampai berakhirnya Perang Paderi, masyarakat Rantau Pariaman masih cukup teguh mengamalkan “Agama Ulakan”. Pertentangan yang mereka tunjukkan terhadap ide Kaum Paderi membentuk enclave di pinggir sebuah wilayah luas di tengah Pulau Sumatra yang hampir sepanjang abad ke-19 dilanda euforia “pembaharuan agama”.


Sumber:
Suryadi. 2004. Syair Sunur : Teks dan Konteks ‘otobiografi‘ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19, Padang: YDIKM & Citra Budaya.

Selasa, 02 Maret 2010

"Si Pono" Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1704)

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Syekh Burhanuddin telah banyak dikenal dan diperbincangkan para ilmuwan, baik dalam literatur, maupun dari laporan bangsa Eropah lainnya. Salah satu sumber utama yang menjelaskan dari perkembangan surau-surau dan lahirnya pembaruan Islam di Minangkabau berasal dari sebuah naskah kuno tulisan Arab Melayu. Naskah itu berjudul, Surat Keterangan Saya Faqih Saghir Ulamiyah Tuanku Samiq Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo, yang ditulis pada tahun 1823. Buku ini menjelaskan peranan surau dalam menyebarkan agama Islam di pedalaman Minangkabau yang dikembangkan oleh murid-murid Syekh Burhanuddin Ulakan. Di samping itu, riwayat ulama ini telah diterbitkan dalam tulisan Arab Melayu oleh Syekh Harun At Tobohi al Faryamani (1930) dengah judul Riwayat Syekh Burhanuddin dan Imam Maulana Abdul Manaf al Amin dalam Mubalighul Islam. Buku ini menerangkan dengan jelas mengenai diri Pono, yang kemudian bergelar Syekh Burhanuddin. Diceritakan dengan jelas kehidupan keluarga, masa mengenal Islam dengan Tuanku Madinah kemudian berlayar ke Aceh untuk menimba ilmu kepada Syekh Abdurrauf al Singkli.

Syekh Burhanuddin adalah salah seorang dari murid Syekh Abdur Rauf al Singkli yang dikenal juga dengan panggilan Syekh Kuala. Sekembali dari Aceh, Syekh Burhanuddin membawa ajaran Tharikat Syattariyah ke Ulakan pada bagian kedua abad ke-17. Dari Ulakan ajaran tarikat menyebar melalui jalur perdagangan di Minang-kabau terus ke Kapeh-kapeh dan Pamansiangan, kemudian ke Koto Laweh, Koto Tuo, dan ke Ampek Angkek. Di sebelah barat Koto Tuo berdiri surau-surau tarikat yang banyak menghasilkan ulama. Daerah ini dikenal dengan nama Ampek Angkek, berasal dari nama empat orang guru yang teruji kemasyhurannya. Murid-Murid yang belajar di surau Syattariah terbuka untuk mempelajari seluruh rangkaian pengetahuan Islam. Salah satu buku yang dipelajari Syekh Burhanuddin dan murid-muridnya adalah karya Abdurrauf yang memperlihatkan penghargaan yang tertinggi terhadap “syariat”. Beberapa surau Syattariyah mempelajari cabang ilmu agama, sehingga terjadi spesialisasi pengajaran agama Islam di Minangkabau. Masing-masing surau itu memperdalam salah satu cabang ilmu agama, seperti: Surau Kamang dalam ilmu alat (nahu sharaf dan tata bahasa Arab), Koto Gadang dalam mantik ma’ani, Koto Tuo dalam ilmu tafsir Quran, tarbiyah dan hadith), Surau Sumanik dalam ilmu faraidh (pewarisan) hadis; Surau di Talang dalam badi’, maani dan bayan (tata bahasa Arab).

Dalam catatan lain terdapat sederetan para ahli dan penulis yang menyelidiki riwayat dan peranan Syekh Burhanuddin. Dari kisah perjalanan Thomas Diaz tahun 1684 yang diceriterakan de Haan, bahwa ulama ini telah melibatkan rakyat dalam politik agama yang dikenal dengan nama “perjanjian Marapalam” pada tahun 1686, yang kemudian hari melahirkan konsepsi, Adat tidak bertentangan dengan Syarak Penulis bangsa Indonesia seperti Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam (1961), Sidi Gazalba dalam Mesjid, Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam (1962) dan Prof. Muhmud Yunus dalam Sejarah Islam di Minangkabau (1969) mengupas peranan ulama Syekh Burhanuddin sebagai pengembang agama Islam yang berpusat di Ulakan. Semua para penulis tersebut sepakat bahwa Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama dan pengembang agama Islam di Minangkabau dilahirkan di Guguk Sikaladi Pariangan Padang Panjang dengan nama kecil Pono. Sebagai seorang mubaligh yang mengembangkan agama Islam setelah memperdalam syariat Islam selama 10 tahun di Aceh, sekembali dari Aceh mendirikan surau di Tanjung Medan dan surau-surau lainnya di Ulakan. Syekh Burhanuddin meninggal dunia pada hari Rabu 10 Syafar tahun 1116H atau 1704 M di Ulakan. Hari kematiannya dirayakan pengikutnya setiap tahun yang dikenal dengan nama “basapa”. Jika 10 Syafar jatuhnya pada hari Rabu, akan diperingati sebagai “basapa gadang”, bersapar besar-besaran.

Menurut perhitungan Prof. Mahmud Yunus, Pono lahir pada tahun 1066 H atau tahun 1641 M di Sintuk, Lubuk Alung, dan memperdalam agama pada Syekh Abdur Rauf selama 10 tahun, dan meninggal pada tahun 1116 H dalam usia 53 tahun. Ilmu pengetahuan agama yang dalam serta pengalaman kenegaraan yang diperdapat bersama gurunya, Syekh Abdur Rauf yang menjadi seorang mufti pada Kerajaan Aceh, menciptakankan sistem pendidikan surau. Murid-murid yang diasuhnya kemudian menyebar di seluruh pelosok Minangkabau yang mendirikankan surau-surau sebagai pusat studi yang melahirkan cendekiawan ke pedalaman Minangkabau. Bahkan Syekh Burhanuddin mencapai kesepakatan dengan Yang Dipertuan Kerajaan Minangkabau yang menyatakan bahwa hukum adat dan hukum agama sama-sama dipakai sebagai pedoman hidup dalam masyarakat di Minangkabau. Ketentuan adat dan hukum agama Islam dalam masyarakat Minangkabau yang matrilineal sebagai suatu proses integrasi lebih dikenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Peninggalan Syekh Burhanuddin saat ini yang terpelihara dengan baik, seperti bangunan Surau Tanjung Medan dan Makam Ulakan yang dapat menjadi monumen sejarah dalam membantu menelusuri jejak sejarah yang dikandung monumen itu. Peninggalan sejarah itu dapat dijadikan salah satu sumber penulisan sejarah Syekh Burhanuddin. Peninggalan utama Syekh Burhanuddin yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik adalah bangunan surau di Tanjung Medan dan komplek makam di Ulakan yang menjadi tujuan ziarah bagi pengikutnya sebagai rasa hormat kepada guru dan pengembang agama Islam di Minangkabau. Dari segi geografis, nagari Ulakan terletak di muara sungai Ulakan di tepi pantai barat Sumatra. Suatu kampung atau nagari yang terletak di tepi pantai paling cepat menerima perkembangan dan pertumbuhan. Di pantai barat Sumatra tumbuh kota-kota perdagangan seperti Meulaboh, Sibolga, Tiku Pariaman, Indrapura. Ulakan, sebagai kota pelabuhan dagang, mengalami kemajuan karena disinggahi oleh para pedagang berbagai daerah dan dari luar negeri seperti saudagar Gujarat, India, Arab dan Cina.Ulakan menjadi suatu pelabuhan penting dan pintu gerbang bagi daerah Minangkabau di masa itu, dan tempat bertemu saudagar-saudagar yang beragama Islam.

Pada batu nisan Syekh Burhanuddin tercantum hari wafatnya pada tanggal 10 Syafar 1116 H bertepatan dengan hari Rabu atau 1704 H. Ia meninggal pada umur yang masih muda, 45 tahun, karena ia dilahirkan pada tahun 1646. Ketika berangkat ke Aceh ia berumur 15 tahun dan masa belajar di Aceh selama 10 tahun, kegiatan dakwah berlangsung selama 20 tahun. Di kiri kanan makam Syekh Burhanuddin terdapat makam penggantinya yang disebut khalipah bernama Abdur Rahman dan khatib pertama nagari Ulakan, Idris Majolelo. Ketiga makam ini terletak di bawah bangunan empat persegi 2,5 x 2,5 m. Bangunan ini seolah-oleh sebuah masjid kecil yang mempunyai sebuah kubah berdinding teralis besi. Pada loteng tergantung tirai-tirai, hadiah dari para peziarah Setiap datang rombongan baru tirai itupun diganti. Pengganti-pengganti Syekh Burhanuddin adalah Tuanku-tuanku yang menjadi khalipah, mulai dari Abdur Rahman, Mukhsin sampai khalipah ke-16, Tuanku Mudo. Di halaman bangunan berkubah terdapat beberapa makam para pengikutnya, khalipah-khalipah atau pewarisnya. Kebanyakan telah rata dengan tanah. Sebagai pertanda bahwa semuanya itu makam ialah adanya batu nisan terbuat dari batu alam berbentuk persegi panjang. Di bagian muka makam terdapat sepuluh lokan besar 20 x 30 m tersusun di sebelah kiri kanan jalan yang menghubungkan makam dengan bangunan 100 x 80 cm. Lokan-lokan ini dianggap para pengikutnya mempunyai berkah yang dapat menyembuhan berbagai penyakit. Dekat makam terdapat pula sebuah bangunan yang berguna celengan bagi orang yang berwakaf.

Surau Syekh Burhanuddin terletak di desa Tanjung Medan, 6 km dari makam Ulakan. Lokasi surau agak masuk ke dalam dari jalan raya melalui jalan tanah yang cukup baik. Surau terletak di atas tanah yang datar dengan halaman yang luas. Tanah lokasi surau Syekh Burhanuddin adalah tanah yang dihadiahkan oleh Raja Ulakan bergelar Mangkuto Alam kepada Idris Majolelo atas jasanya semasa Syekh Burhanuddin belajar di Aceh. Surau, semacam pesantren, ialah bangunan tempat mengaji dan belajar ilmu agama Islam. Syekh Burhanuddin seorang ulama dan mubaligh, maka Surau Syekh Burhanuddin terdiri dari dua bangunan, yaitu:

1) Bangunan serambi berdenah segi empat panjang sebagai bangunan tambahan yang dibuat kemudian. Bangunan ini beratap gonjong dan berfungsi sebagai entrance hall dan keseluruhan bangunan itu terbuka. Lantainya beralaskan plesteran semen dan bukan beralaskan papan sebagai halnya rumah gadang. Bangunan berdenah segi empat bujur sangkar yang terletak di belakang serambi. Pada prinsipnya bangunan ini dengan struktur konstruksi joglo, sebagaimana masjid kuno di Jawa, di antaranya masjid Demak. Namun sesuai dengan keadaan dan kebiasaan orang Minangkabau, bangunan ini dengan struktur berkolong (loteng dan panggung). Dengan struktur bangunan joglo ini, dalam surau terdapat empat tiang utama dikelilingi dua deretan anak tiang. Pada deretan pertama berjumlah 12 tiang dan pada deretan kedua 20 anak tiang. Dengan empat tiang utama atau tiang panjang (soko guru, Jawa) di tengah dengan dua deretan anak tiang disekelilingnya, maka struktur bangunan ini dengan atap bersusun tiga, dinding ruangan melekat pada deretan anak tiang kedua ( 20 tiang). Tiang sesamanya dihubungkan dengan kayu yang disambung dengan rotan yang disimpai.

2) Atap surau Syekh Burhanuddin ada persamaannya dengan beberapa surau lainnya di Minangkabau, di antaranya surau Koto Nan Ampek di Payakumbuh dan surau Lima Kaum di Tanah Datar. Masih terlihat perkembangan arsiterktur konstruksi atap tumpang dengan bentuk berpuncak dengan hiasan mahkota, sama dengan masjid Demak yang dibangun dalam abad ke-16.

3) Arsitektur surau Syekh Burhanuddin masih mempunyai persamaan dengan masjid di Kota Waringin lama di Kalimantan yang dibangun sekitar abad ke-17. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai prototip masjid Demak. Dengan perbandingan tersebut, arsitektur surau Syekh Burhanuddin pembangunannya dalam abad ke-17. Hal ini diperkuat dengan mihrab tanpa atap tersendiri sebagaimana masjid Demak. Berbeda dengan mihrab masjid lainnya di Minangkabau yang selalu dengan atap tersendiri.

4) Bahan bangunan Syekh Burhanuddin seluruhnya dari kayu, baik tiang maupun konstruksi atap dan dinding. Atapnya dulu terdiri dari ijuk yang kemudian diganti dengan atap seng pada tahun 1920. Struktur bangunan surau dikerjakan dengan kayu yang sederhana tanpa pengerjaan yang sempurna menurut ukuran sekarang. Masih terlihat bentuk asli kayu dengan lengkung-lengannya. Hal ini menunjukkan, bagaimana pekerjaan bangunan masa itu. Tiang utama terdiri dari kayu seutuhnya dengan sedikit dikerja mengambil bentuk segi-8, dan hubungan antara tiang dengan kayu lainnya diikat dengan rotan tanpa paku. Artinya bangunan ini tidak mempergunakan paku kayu.

5) Tiang-tiang terletak di atas sandi dari batu umpak seutuhnya yang terletak di atas tanah yang ditinggikan. Pada beberapa bagian ada perbaikan yang sifatnya mencegah kerusakan, namun masih nampak keasliannya. Bangunan surau Syekh Burhanuddin belum pernah mengalami perubahan, selain penambahan serambi.

Tidak banyak keterangan mengenai masa kecil dan latar belakang kehidupan Syekh Burhanuddin yang berkubur di Ulakan itu. Nama kecilnya adalah Pono. Lahir di Pariangan Padang Panjang tahun 1066H (1646 M). Ayahnya bernama Pampak Sakti gelar Karimun Merah, suku Koto. Ibunya bernama Cukup Bilang Pandai, suku Guci. Kehidupan kedua orang tuanya beternak sapi. Keluarga Pampak Sati gelar Karimun Merah meninggalkan kampung halamannya, Pariangan Padang Panjang. Perjalanan dari Pariangan turun ke Malalo, terus ke Bukit Punggung Jawi terus ke Asam Pulau, dekat Kayu Tanam. Dengan menghilirkan batang Tapakis sampai keluarga ini di Sintuk. Jalan ini merupakan jalan dagang yang diawasi oleh Tuan Gadang dari Batipuh. Di tempat inilah keluarga Pampak memulai kehidupan baru. Usaha lama dikembangkannya karena daerah Sintuk mempunyai padang rumput yang subur. Pono dengan rajin dan patuh menggembalakan ternak ayahnya sehingga berkembang biak yang membawa keluarga Pampak termasuk keluarga terpandang di daerah baru ini. Pono berjalan menghiliri Batang Tapakis mencari padang rumput baru. Di nagari Tapakis, bersebelahan dengan nagari Ulakan, Pono mendapat teman baru, seorang pemuda sebaya dengan dia. Teman itu ialah Idris Majolelo, suku Koto, berasal dari Tanjung Medan. Beliau mempunyai budi pekerti yang halus.

Di nagari Tapakis berdiam seorang ulama berasal dari Aceh yang bernama Syekh Abdul Arif yang terkenal dengan gelar Tuanku Madinah yang disebut juga Tuanku Air Sirah. Air Sirah adalah nama jorong di nagari Tapakis, tempat Syekh Abdul Arif bermukim dan mengajar. Pembantu utamanya adalah Syahbuddin, Syamsuddin dan Basyaruddin.Ulama ini seangkatan dengan Syekh Abdur Rauf al Singkli dan sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad Kosasih dan Syekh Abdul Qadir al Jailani di Madinah. Syekh Abdul Arif dengan sabar dan gigih mengajar agama Islam kepada anak nagari. Hasilnya belum menggembirakan. Anak nagari lebih teguh memegang adat istiadat jahiliyah dan kepercayaan lama. Dengan ajakan Idris Majolelo akhirnya Pono berkenalan dengan agama Islam dan langsung mengucapkan dua kalimat tauhid menjadi penganut agama yang khalis di hadapan Tuanku Madinah Beliau belajar dengan tekun dan rajin serta mengamalkan segala fatwa gurunya. Pono termasuk murid yang terpandai karena ketekunan dan kecerdasan otaknya. Tidak berapa lama, tiba-tiba Tuanku Madinah meninggal dunia. Pono sering bermenung dan terharu atas kepergian Tuanku Madinah. Alangkah sedihnya Pono karena secara tidak diduga sama sekali guru yang dihormati dan disayanginya telah tiada. Harapan Pono untuk mengeruk sebanyak mungkin ilmu gurunya itu menjadi gagal. Dengan perasaan hiba dan putus harap, Pono kembali ke Sintuk. Beliau sering bermenung dan terharu atas kepergian Tuanku Madinah. Beliau menyendiri dari pergaulan ramai, mengingat kemungkaran yang sering dilakukan anak nagari. Untuk mengobati hati yang luluh beliau dengan tekun dan sepenuh hati mengamalkan fatwa gurunya dan ajaran Islam yang diperoleh selama belajar dengan almarhum Tuanku Madinah. Dengan sembunyi-sembunyi, Pono sempat mengajar serta meyakinkan teman-teman dekatnya akan hakekat kebenaran ajaran Islam. Lambat laun agama Islam mulai meresap di hati sebahagian kecil penduduk Sintuk. Dakwah Pono demikian tidak berlangsung lama. Tantangan demi tantangan datang dari anak nagari, terutama para penghulu suku dan pimpinan nagari. Mereka merasa wibawa mereka akan berkurang karenanya. Akhirnya mereka menasehati Pono agar segera meninggalkan kegiatan dakwahnya. Namun Pono tetap melaksanakannnya. Akibatnya tantangan semakin menjadi. Mula-mula mereka menganiaya ternak ayahnya dan kemudian dengan ancaman pengusiran. Puncak tantangan adalah ketika keputusan musyawarah nagari untuk membunuh Pono apabila tidak segera menghentikan dakwahnya.

Pono tidak mendapat tempat berpijak lagi di Sintuk.Pada saat krisis ini menyadarkan Pono dari kekhawatirannya. Kembali segar dalam ingatannya pesan almarhum gurunya, Tuanku Madinah, agar memperdalam ilmu agama kepada seorang ulama besar Abdur Rauf al Singkli. Pesan guru ini disampaikan dengan khidmat kepada kedua orang tuanya dan mereka merestuinya. Secara diam-diam mereka berserah diri ke hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam usia muda, 15 tahun, malam hari Pono meningalkan negari Sintuk menuju Aceh guna memenuhi pesan gurunaya, Tuanku Madinah. Dengan berat hati kedua orang tuanya melepas kepergian anak tercinta. Kemudian Pono sujud dan mohon maaf. Air mata terus membasahi pipinya. Pada saat itu Pono dan bangkit keluar rumah. Langkah pertama menuju Aceh kelak mempunyai nilai tersendiri dalam peristiwa perkembangan Islam di Minangkabau. Dia berangkat secara diam-diam, khawatir diketahui oleh mata-mata pemimpin nagari itu. Bekalnya adalah semangat dan tekad yang bulat serta penyerahan diri kepada Allah.

Tujuannya ke Singkil di Aceh Selatan berguru kepada Syekh Abdur Rauf al Singkli, seorang ulama yang masyhur waktu itu memenuhi amanat almarhum gurunya yang pertama, Tuanku Madinah. Pono sudah berangkat. Nagari Sintuk sudah jauh ditinggalkan. Tanpa kawan ia menyusuri pesisir Samudra Indonesia. Secara kebetulan, dalam perjalanan ia bertemu dengan empat orang pemuda sebaya dengan dia. Mereka lalu berkenalan, dan ternyata mereka mempunyai niat yang sama, hendak pergi ke Aceh untuk menuntut ilmu agama kepada Syekh Abdur Rauf. Mereka adalah Datuk Maruhum dari Padang Ganting, Tarapang dari Kubuang Tigo Baleh, Muhammad Nasir dari Koto Tangah, dan Buyung Mudo dari Bayang Tarusan. Terjadilah persahabatan di antara mereka. Setelah melalui musyawarah didapat kata sepakat, Pono diangkat menjadi kepala rombongan yang diterimanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Melalui suka dan duka selama dalam perjalanan, akhirnya dengan selamat mereka sampai di Singkil langsung menghadap dan memperkenalkan diri kepada Syekh Abdur Rauf. Niat yang dikandung semenjak dari kampung halaman disampaikan dengan sopan. Dengan segala senang hati Syekh Abdur Rauf menerima dan mengabulkan permohonan calon muridnya. Setelah menuntut ilmu di Aceh tersebut, Pono kemudian kembali ke Ulakang menyebarkan ajaran Islam.

Alam Minangkabau waktu itu menjadi goncang dan perhatian tertuju ke Ulakan sebagai pusat pendidikan dan penyiaran Islam dengan mengintensifkan ke seluruh pelosok Minangkabau. Cara yang dilakukan ialah, dengan meminta restu kepada Raja Pagaruyung. Apabila Raja telah yakin akan kebenaran agama Islam ini Alam Minangkabau akan mudah dipengaruhi. Secara kebetulan, salah seorang temannya belajar di Aceh, Datuk Maruhum Basa, diangkat oleh Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung sebagai Tuan Kadhi di Padang Ganting. Dengan diiringkan oleh Idris Majo Lelo, Syekh Burhanuddin menemui Raja Ulakan yang bergelar Mangkuto Alam, kemenakan Datuk Maninjun Nan Sabatang dan Ami Said, cucu Kacang Hitam dengan maksud menyampaikan niatnya memperluas ruang lingkup kegiatan dakwah. Dengan kepandaian berbicara akhirnya Mangkuto Alam ditunjuk menghadap Daulat Raja Pagaruyung. Ajakan ini diterima baik oleh Mangkuto Alam setelah dimusyawarahkan dengan “Orang Nan Sebelas di Ulakan.” Berangkatlah Syekh Burhanuddin dan Idris Majo Lelo bersama dengan Mangkuto Alam dan Orang Nan Sebelas Ulakan dengan diiringkan hulubalang seperlunya menghadap Daulat Yang DipetuanRaja pagaruyung. Pertama yang ditemui Datuk Bandaharo di Sungai Tarab. Atas inisiatif Datuk Bandaro diundanglah basa Ampek balai untuk membicarakan maksud dan tujuan “orang Ulakan” tersebut, minta izin menyebarluaskan ajaran Islam di Minangkabau.

Tempat sidang diadakan di sebuah bukit yang dikenal dengan nama “Bukit Marapalam” Keduanya merupakan norma hukum dan saling isi mengisi yang akan jadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau. Inti sari konsepsi Marapalam melahirkan ungkapan “adat basandi syarak, sebagaimana disinggung oleh Scherieke dalam bukunya “Pergolakan Agama di Sumatra Barat (terjemahan) sejak tahun 1668 konsepsi Marapalam itu dicetuskan sehingga alim ulama di Minangkabau telah dapat melibatkan rakyat dalam suatu aksi politik agama. Konsepsi Marapalam ini dengan kerendahan hati disampaikan ke hadapan daulat Raja Pagaruyung. Kepada pembesar kerajaan dimintakan pertimbangan yang diterima dengan suara bulat. Syekh Burhanuddin dan pengikutnya diberikan kebebasan seluas-luasnya mengembang agama Islam di seluruh Alam Minangkabau.

Dalam pepatah adat disebutkan batas-batasnya, ” di dalam lareh nan duo, luhak nan tigo, dari ikue darek kapalo rantau sampai ke riak nan badabue” Syekh Burhanuddin dengan gerakannya dilindungi oleh kerajaan Pagaruyung. Bagaimana usaha Syekh Burhanuddin berhasil mencapai kesepakatan dalam waktu yang singkat dengan Yang Dipertuan Raja Pagaruyung? Tak heran peranan gurunya di Aceh dengan filsafah “adat bak po teumeureuhum, huköm bak syiah kuala”, (adat kembali pada raja, Iskandar Muda, hukum agama pada Syiah Kuala) teralir dalam pikiran muridnya Syekh Burhanuddin di Ulakan. Daerah pesisir sebagai bagian dari rantau Yang Dipertuan Pagaruyung menentang kehadiran Persatuan Dagang Belanda (VOC) yang mencoba menerapkan penguasa tunggal dalam perdagangan dan memecah belah rantau pesisir. Di antaranya dengan menciptakan Perjanjian Painan tahun 1662. Sedang di daerah pesisir mulai berkembang surau-surau yang mengadakan perlawanan terhadap monopoli dagang, seperti Muhammad Nasir dari Koto Tangah, Tuanku Surau Gadang di Nanggalo. Antara Syekh Burhanuddin dengan Yang Dipertuan Raja Pagaruyung mempunyai kepentingan yang sama yaitu keutuhan Alam Minangkabau.

Dengan kedua kepentingan antara keutuhan daerah rantau kesepakatan mudah dicapai antara Syekh Burhanuddin dengan Yang Dipertuan Pagaruyung. Kesepakatan inilah yang sering disebut dengan Perjanjian Marapalam. Kemudian usaha Belanda ingin memasuki pedalaman Minangkabau dirintis oleh Thomas Diaz yang berangkat dari Patapahan menembus hutan rimba dan tiba di Buo (1680) disambut Raja Malio. Pengalaman Syekh Burhanuddin bersama gurunya, Syekh Abdur Rauf sebagai mufti kerajaan Aceh, menambah wawasan Syekh Burhanuddin dalam politik keagamaan di Minangkabau. Peristiwa bersejarah di Bukit Marapalam dan Titah Sungai Tarab menghadap kepada Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung telah tersiar di seluruh pelosok Alam Minangkabau dan menerima agama Islam dengan kesadaran. Islam diakui sebagai agama resmi. Adat dan agama telah dijadikan pedoman hidup dan saling melengkapi. Saat itu lahirlah ungkapan “adat menurun, syarak mendaki. Artinya adat datang dari pedalaman Minangkabau dan agama berkembang dari daerah pesisir.

Syariat Islam yang dibawa dan dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin telah menyinari Alam Minangkabau banyaklah orang yang menuntut ilmu agama. Dari mana-mana orang berdatangan ke Tanjung Medan. Nama Tanjung Medan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu Islam sudah masyhur. Surau Tanjung Medan penuh sesak dengan murid-murid beliau. Untuk menampung mereka dibangun lagi surau-surau disekeliling surau asal. Menurut catatan terdapat 101 buah surau baru di Tanjung Medan yang merupakan satu kampus, permulaan sistem pesantren yang kita kenal sekarang. Perjanjian Marapalam kemudian berkembang menjadi suatu proses penyesuaian terus menerus antara adat dan agama Islam, saling menopang sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau. Syekh Burhanuddin telah meninggalkan jasa yang gilang gemilang. Namanya senantiasa akan hidup terus dan tak terlupakan sepanjang masa. Sebelum meninggal dunia, Syekh Burhanuddin tidak lupa mendidik kader penerus dalam usaha menyebarluaskan ajaran Islam yang dilakukan melalui latihan dan pendidikan. Untuk meneruskan perjuangan beliau, Syekh Burhanuddin melatih dan mendidik dua orang pemuda Tanjung Medan, Abdul Rahman dan Jalaluddin yang akan menggantikan kedudukan, “khalipah” kelak. Menurut penilaiannya kedua anak muda ini memenuhi pesyaratan dalam mengemban tugasnya, baik dari akhlak, kecerdaan serta ketrampilan dakwah. Untuk itu ditetapkan Abdul Rahman sebagai khalipah I. Idris Majo Lelo, teman akrab Syekh Burhanuddin sedari muda bekerja bahu membahu dalam menegakkan agama Islam. Sebagai kehormatan atas jasanya, Idris Majo Lelo diangkat menjadi Khatib nagari Tanjung Medan dan jabatan itu berlangsung sampai sekarang.

Ajaran yang dikembangkan Syekh Burhanuddin sebagai penganut mazhab Sjafii adalah tharikat Syattariyah, yang dinamakan juga tharikat Ulakan atau “martabat yang tujuh”. Martabat yang tujuh adalah mengenai ketujuh tahap pancaran dari “ada yang mutlak”, bersumber dari ajaran al Halaj, Ibnu Arabi. Menurut ajaran ini semua yang di alam merupakan pancaran dari Allah. Pikiran ini dikembangkan dari ajaran Wihdatul wujud, bersatu dengan Tuhan. Penganjur faham wihdatul wujud di Aceh adalah Syamsuddin Pasai al Sumatrani dan Hamzah Fansuri. Menurut Syamsuddin al Sumatrani, bahwa Allah itu roh, dan wujud kita ini roh dan wujud Tuhan. Sedangkan Hamzah Fansuri mengatakan bahwa asal roh itu qadin, yakni roh Muhammad s.a.w. karena ia dijadikan Allah dari pada nur zatnya yang qadin. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu (siapa yang mengenal dirinya, berarti mengenal Tuhannya), yang oleh Hamzah Fansuri diartikan bahwa manusia bersatu dengan Tuhan, bersatu sifat dengan zat.

Banyak di antara murid-murid Syekh Burhanuddin yang mengembangkan ajaran tharikat ini di Minangkabau. Salah seorang murid yang terkenal ialah Tuanku Mansiang di Paninjauan. Setelah Syekh Burhanuddin wafat, banyak pula orang yang berguru kepada Tuanku Mansiang ini. Perkembangan kemudian cepat berubah sesuai dengan perkembangan pedalaman Minangkabau, Murid-murid Tuanku Mansiang ini mendirikan surau-surau di kampungnya dalam mengembangkan keahliannya masing-masing. Pada pertengahan kedua abad ke-18 terjadi perkembangan ilmu pengetahuan, politik dan lahirnya cendekiawan sebagai salah satu unsur kepemimpinan tali Tigo Sapilin. Sejalan dengan itu lahir pula pembaharuan pemikiran agama Gerakan “kembali ke syariat” yang lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Padri (1784 – 1821) untuk mengatasi kemajuan kehidupan masyarakat pada masanya. Semuanya hasil pendidikan surau Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan, Ulakan.

Dari berbagai sumber, terutama dari http://urangminang.wordpress.com/

Syekh Muhammad Thaib Umar, Penggagas Inovasi Pendidikan Agama di Minangkabau

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Berbicara mengenai pendidikan, rasanya kurang afdol apabila tidak menyebut nama Syekh Muhammad Thaib Umar. Dia adalah ulama peletak dasar inovasi pendidikan agama di Sumatera Barat. Seperti diketahui, bahwa propinsi ini telah banyak melahirkan ulama dan tokoh-tokoh besar yang berjasa telah bagi agama, nusa dan bangsa. Ulama ini terlahir di Sungayang Batu Sangkar tahun 1874. Ayahnya bernama Umar bin Abdul Kadir yang juga seorang ulama terkemuka pada jamannya. Dengan latar belakang tersebut, tidaklah mengherankan apabila sejak kecil, ia sudah mendapatkan bimbingan agama secara intensif dari sang ayah. Pada usia 7 tahun, Muhammad Thaib mulai belajar huruf-huruf Alquran. Tepatnya setahun kemudian, untuk lebih meningkatkan ilmu agama, ia juga berguru ke surau milik pamannya, H Muhammad Yusuf (Engku Labai). Di tempat inilah kemudian meneruskan belajar membaca ayat-ayat dan surat-surat pendek. Ketika menginjak usia 9 tahun, orangtuanya mengirim dia belajar mengaji kepada H Muhammad Yasin di surau Tengah Sawah, Sungayang, hingga khatam Alquran. Sepanjang masa kecil hingga dewasa, beliau tidak pernah merasakan menuntut ilmu di sekolah umum. Hal tersebut memang dikarenakan adanya diskriminasi pendidikan dari pemerintah Belanda. Anak-anak pribumi sangat sulit bisa masuk sekolah umum. Maka tidak mengherankan apabila Muhammad Thaib tidak dapat membaca huruf latin.

Akan tetapi kekurangan itu tertutupi dengan kepandaiannya di bidang ilmu agama. Sebab semenjak khatam Alquran tadi, ia lantas melanjutkan upaya mengembangan ilmu agama ke beberapa ulama terkenal. Tercatat antara lain Syekh Haji Abdul Manan di surau Talago Padang Ganting Batusangkar yang kondang dengan pengajian Surah Ilmu Fikih dan Syekh M Shalih di surau Padang Kandis Suliki. Muhammad Thalib menjadi murid yang cerdas. Melihat bakat dan kesungguhan anaknya ini, sang ayah lantas berinisiatif untuk membawa beliau menimba ilmu ke tingkat lebih tinggi di Tanah Suci. Jadilah mereka pergi ke Makkah sekaligus untuk menunaikan ibadah haji. Selanjutnya Muhammad Thalib menetap di Arab Saudi selama hampir 5 tahun. Adapun di antara guru beliau tercatat nama Syekh Ahmad Khatib, seorang ulama asal Minangkabau yang memperoleh tempat mengajar di Masjidil Haram. Di samping itu ada pula sejumlah ulama terkemuka lainnya.

Begitu kembali ke tanah air, dibukanya sebuah pesantren pengajian kitab di surau milik sang ayah di Batu Bayang Sungayang. Karena dari waktu ke waktu santri-santrinya bertambah banyak, maka dia memutuskan untuk membangun surau sendiri di Tanjung Pauh, Sungayang. Ketika itu, usianya baru 23 tahun. Hanya dalam waktu tidak terlalu lama setelah dibuka, surau tersebut telah berkembang pesat. Jumlah santrinya makin meningkat. Mereka tidak hanya datang dari wilayah sekitar Batusangkar, namun juga dari Bukitinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, Solok, bahkan dari seluruh penjuru Minangkabau. Sejumlah inovasi dilakukannya pada sistem dan jumlah mata pelajaran agama. Jika sebelumnya pelajaran ilmu agama dan bahasa Arab ada empat macam ilmu, yakni ilmu sharaf, nahwu, fikih, dan tafsir, lantas diperbaruinya menjadi 12 macam ilmu antara lain ilmu nahwu, sharaf, fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, musthalah Hadis, tauhid, mantiq, ma'ani, bayan, dan juga ilmu badi'. Di samping itu juga metode pengajaran di surau itu mulai memakai kitab-kitab yang dicetak dengan letter press Arab. Padahal sebelumnya para santri terbiasa memakai kitab-kitab tulisan tangan. Pada tahun 1909, dia mendirikan madrasah baru yang berlokasi di wilayah Lantai Batu, Batu Sangkar. Namun tak lama kemudian, madrasah ini diserahkan pengelolaanya kepada para murid sementara beliau sendiri mendirikan madrasah lagi di Sungayang bernama Madras School (Sekolah Agama Islam).

Dari namanya, bisa diketahui bahwa bentuk pendidikan yang diterapkan juga agak berbeda dari pesantren atau surau. Misalnya saja, para santri tak lagi duduk bersila melingkari guru, melainkan telah menggunakan sarana bangku, meja, dan papan tulis. Bisa dikatakan, madrasah ini merupakan madrasah pertama di Sumatera Barat yang menggunakan meja kursi dalam kegiatan belajar agama. Tak hanya itu. Pun dalam mata pelajaran yang diberikan, bukan lagi terbatas pada ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu umum seperti aljabar dan pelajaran bercerita. Sementara pelajaran agama meliputi ilmu sharaf, nahwu, mudahatsah (bercakap-cakap dalam bahasa Arab), imla (dikte), lagu Quran serta memperbaiki bacaan shalat dengan lagu bersama-sama waktu akan keluar madrasah. Seperti disebutkan dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, Syekh Muhammad Thaib Umar juga aktif dalam kegiatan dakwah kepada masyarakat umum. Tetapi beliau lebih banyak berdakwah melalui bidang jurnalistik dengan mengupas masalah-masalah agama pada majalah Almunir Padang -- merupakan majalah Islam pertama di Minangabau, bahkan Indonesia.

Dalam setiap kesempatan mengajar dan berdakwah, Syekh Muhammad Thaib kerap mengingatkan umat, khususnya generasi muda, agar mempelajari ilmu pengetahuan umum yang dinamainya ilmu ashiriyah (ilmu yang sesuai dengan masa). Sebab ia berpendapat, maju dan berhasilnya bangsa Barat menjajah bangsa Timur lantaran mereka mempelajari ilmu dunia yang penting untuk keperluan hidup di dunia. Dia tidak menyukai kebiasaan yang cuma mementingkan pelajaran ilmu fikih saja, sehingga mundur dalam kehidupan dunia. Jasa besar lainnya dari ulama adalah dialah yang mempelopori khutbah Jumat dan khutbah Hari Raya dalam bahasa Indonesia (kecuali rukun-rukun khutbah). Sebelumnya, para ulama beranggapan kedua hal tersebut wajib hukumnya untuk dibawakan menggunakan bahasa Arab, tanpa memperdulikan pendengarnya mengerti atau tidak. Pada hari Rabu petang tepatnya tanggal 22 Juli 1920, Syekh Muhammad Thaib meninggal dunia dalam usia 47 tahun setelah menderita penyakit tiga tahun lamanya.

(c) www.republika.co.id/berita/7567/

Jumat, 19 Februari 2010

Mata Rantai Gerakan Pemikiran Ulama Pembaharuan Islam Minangkabau

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Pada awal abad ke-20, di Sumatera Barat ditandai dengan periode yang penuh pergolakan sosial dan intelektual. Di awali dengan pulangnya tiga ulama Minangkabau selepas menuntut ilmu di Mekah, yaitu Inyik Djambek, Inyik Rasul dan Inyik Abdullah Ahmad membawa modernisasi Islam ajaran Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir. Gerakan ini tidak hanya dimotivasi oleh gerakan pembaharuan yang sudah berkembang di Mesir tapi juga oleh dorongan rivalitas terhadap golongan berpendidikan Barat yang cara material dan sosial terlihat lebih bergengsi. Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947) , adalah adalah satu dari tiga ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat di awal abad ke-20, dilahirkan di Bukittinggi (), terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Djamil Djambek lebih dikenal dengan sebutan Inyik Syekh Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda. Masa kecilnya tidak banyak sumber yang menceritakan. Namun, yang jelas Muhammad Djamil mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru (Kweekschool). Sampai umur 22 tahun ia berada dalam kehidupan parewa, satu golongan orang muda-muda yang tidak mau mengganggu kehidupan keluarga, pergaulan luas di antara kaum parewa berlainan kampung dan saling harga menghargai, walau ketika itu kehidupan parewa masih senang berjudi, menyabung ayam, namun mereka ahli dalam pencak dan silat. Semenjak berumur 22 tahun, Mohammad Djamil mulai tertarik pada pelajaran agama dan bahasa Arab. Ia belajar pada surau di Koto Mambang, Pariaman dan di Batipuh Baruh. Ayahnya membawanya ke Mekah pada tahun 1896 dan bermukim di sana selama 9 tahun lamanya mempelajari soal-soal agama. Guru-gurunya di Mekah, antara lain,adalah Taher Djalaluddin, Syekh Bafaddhal, Syekh Serawak dan Syekh Ahmad Khatib. Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Semula Muhammad Djamil tertarik untuk mempelajari ilmu sihir kepada seorang guru dari Maroko, tapi dia disadarkan oleh gurunya. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang dia dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais. Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Djamil menjadi seorang ahli tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsabandiyyah-Khalidiyah.

Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syekh Muhammad Djamil Djambek dihormati sebagai Syekh Tarekat. Dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak, dan belajar dengan Syekh Taher Djalaluddin. Di akhir masa studinya di Makkah, beliau sempat mengajarkan ilmu falak, yang menjadi bidang spesialisasi beliau, kepada masyarakat Sumatera dan Jawi yang bermukim di Mekah. Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di Mekah. Oleh sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh Muhammad Djamil Djambek pun mengajarkan ilmunya itu kepada para penuntut ilmu dari Minangkabau yang belajar di Mekah. Seperti, Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib Parabek) serta Syekh Abdullah (pendiri perguruan Tawalib Padang Panjang). Berpuluh-puluh buku polemik, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Melayu mulai banyak diterbitkan, dan berbagai majalah, surat kabar yang mewartakan hal-hal yang berupa pergolakan pemikiran, dan aliran-aliran dalam pemahaman mazhab dalam syari’at Islam, mulai banyak bermunculan, dan pengamalan dalam adat sesui panduan syarak, agama Islam sangat ramai dibicarakan. Salah seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855). Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang hakim gerakan Padri yang sangat anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1855 oleh ibu bernama Limbak Urai, yang adalah saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek yang berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Baik dari pihak ibu ataupun pihak ayahnya, Ahmad Khatib adalah anak terpandang, dari kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat, anak dan kemenakan dari dua orang tuanku Laras dari Ampek dan Ampek Angkek. Ditenggarai, bahwa ayah dan ibu Ahmad Khatib dipertemukan dalam pernikahan berbeda nagari ini, karena sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat, dari keluarga tuanku laras, dan latar belakang pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo. Sejak kecilnya Ahmad Khatib mendapat pendidikan pada sekolah rendah yang didirikan Belanda di kota kelahirannya. Ia meninggalkan kampung halamannya pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya. Sampai dia menamatkan pendidikan, dan menikah pada 1879 dengan seorang putri Mekah Siti Khadijah, anak dari Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh Ahmad Khatib mulai mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah kembali ke daerah asalnya.

Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat kedudukan yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam dari Mazhab Syafei di Masjidil Haram, di Mekah. Sebagai imam dari Mazhab Syafe’i, ia tidak melarang murid-muridnya untuk mempelajari tulisan Muhammad Abduh, seorang pembaru dalam pemikiran Islam di Mesir. Syekh Ahmad Khatib sangat terkenal dalam menolak dua macam kebiasaan di Minangkabau, yakni peraturan-peraturan adat tentang warisan dan tarekat Naqsyahbandiyah yang dipraktekkan pada masa itu. Kedua masalah itu terus menerus dibahasnya, diluruskan dan yang tidak sejalan dengan syari’at Islam ditentangnya. Pemahaman dan pendalaman dari Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy ini, kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib, dan Diniyah Puteri, sampai ke nagari-nagari di Minangkabau, sehingga menjadi pelopor pergerakan merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib harus dianggap sebagai harta rampasan.

Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ahmad Khatib memicu pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Di pihak lain perlawanan yang berarti terhadap pemikiran Ahmad Khatib datang dari kalangan Islam tradisi yang adakalanya disebut kaum tua. Kecamannya mengenai tarekat, telah dijawab oleh Syekh Muhamamad Saat bin Tanta’ dari Mungkar dan Syekh Khatib Ali di Padang jang menerbitkan beberapa tulisan tentang itu. Kecamannya dalam harta warisan, menumbuhkan kesadaran banyak orang Minangkabau memahami, bahwa tidak dapat disesuaikan hukum waris matrilineal dengan hukum agama. Di antara guru agama banyak juga yang tidak dapat menyetujui pendirian Ahmad Khatib, yang dianggap tidak kenal damai. Walaupun pikiran-pikiran itu mendapat tantangan dari kaum adat, maupun muridnya yang tidak menyetujui pemikiran demikian, namun perbedaan pendapat ini telah melahirkan hasrat untuk lebih berkembang, menghidupkan kembali kesadaran untuk pengenalan kembali diri sendiri, yaitu kesadaran untuk meninggalkan keterbelakangan. Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawy menyebarkan pikiran-pikirannya dari Mekah melalui tulisan-tulisannya di majalah atau buku-buku agama Islam, dan melalui murid-murid yang belajar kepadanya. Dengan cara itu, beliau memelihara hubungan dengan daerah asalnya Minangkabau, melalui murid-muridnya yang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan yang belajar padanya. Mereka inilah kemudian menjadi guru di daerah asalnya masing-masing. Ulama zuama bekas murid Ahmad Khatib, mulai mengetengahkan pemikiran, manakala Islam bermaksud tetap memuaskan pengikutnya, maka harus terjadi suatu pembaruan. Setiap periode dalam sejarah peradaban manusia, melahirkan pembaruan pemikiran agama yang bertujuan memperbaiki pola penghidupan umatnya. Cita-cita itu ditemukan kembali dalam agama. Cara berpikir seorang beragama Islam bertolak dari anggapan keyakinan, bahwa Islam itu tidak mungkin memusuhi kebudayaan. Dengan kemajuan cara berpikir orang berusaha menemukan kembali cita-citanya dalam Islam. Timbul pertanyaan, apakah di dalam Islam ada unsur yang menyangkut kepada cita-cita persamaan, kebangsaan, hasrat untuk maju dan rasionalisme. Keunggulan dari Syekh Ahmad Khatib dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, selalu menghindari sikap taqlid. Salah seorang dari muridnya, yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi, Padangpanjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), di Jati, Padang, telah mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan pencerahan tradisi ilmu dan mendorong pula para muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya adalah kurnia Allah. Jika kepercayaan hanya tumbuh semata-mata karena penerimaan atas wibawa guru semata, maka kepercayaan itu tidak ada harganya, dan itulah yang membuka pintu taqlid. Peperangan melawan penjajahan asing tidak semata-mata dengan menggunakan senjata, bedil dan kelewang, tetapi pencerdasan anak kemenakan dengan memberikan senjata tradisi ilmu. Murid-muridnya kemudian menjadi penggerak pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947) , Haji Abdul Karim Amarullah (1879-1945) , dan Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933) .

Seorang pembaru lainnya adalah Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956), pada masa mudanya dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi, tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo. Syekh Taher Djalaluddin adalah saudara sepupu dari Ahmad Khatib Al Minangkabawy, karena ibunya adik beradik. Syekh Taher Djalaluddin, berangkat ke Mekah 1880, dan menuntut ilmu selama 15 tahun, kemudian meneruskan ke Al Azhar, di Mesir (1895-1898), dan kembali ke Mekah mengajar sampai tahun 1900. Beliau sangat ahli di bidang ilmu falak, dan tempat berguru Syekh Muhammad Djamil Djambek.
Mulai tahun 1900 itu, Syekh Taher Djalaluddin menetap di Malaya, pernah diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan perguruan tinggi Al-Azhar di Kairo, dia tambahkan al-Azhari di belakang namanya. Syekh Taher Djalaluddin merupakan seorang tertua sebagai pelopor dari ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan tanah Melayu. Bahkan ia juga dianggap sebagai guru oleh kalangan pembaru di Minangkabau. Pengaruh Syekh Taher Djalaluddin tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah ini bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, yang menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Majalah Bulanan Al-Imam memuat artikel tentang pengetahuan popular, komentar kejadian penting di dunia, terutama dunia Islam, dan masalah-masalah agama, bahkan mendorong umat Islam betapa pentingnya memiliki sebuah Negara yang merdeka dan tidak dijajah.
Majalah ini mendorong agar umat Islam mencapai kemajuan dan berkompetisi dengan dunia barat. Al-Iman sering mengutip pendapat dari Mohammad Abduh yang dikemukakan majalah Al-Mannar di Mesir. Majalah ini memakai bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu atau tulisan Jawi, dan disebarkan di Indonesia meliputi tanah Jawa (Betawi, Jakarta, Cianjur, Semarang, dan Surabaya), Kalimantan (di Pontianak dan Sambas), Sulawesi (di Makassar). Di Padang, Haji Abdullah Ahmad mencontoh bentuk dan moto Al-Iman pada majalah yang diterbitkannya di Padang bernama Al-Munir. Banyak masalah yang dibicarakan pada Al-Iman mendapat tempat pada Al-Munir. Syekh Taher baru dapat pulang ke Minangkabau pada tahun 1923 dan tahun 1927, namun ketika itu dia ditangkap dan ditahan oleh Pemerintah Belanda selama enam bulan, dituduh memfitnah dan menentang penjajahan melalui artikel-artikelnya di dalam majalah Al Iman itu. Setelah bebas Syekh Taher meninggalkan kampung halamannya dan tidak pernah kembali lagi ke daerah asalnya. Syekh Taher Djalaluddin meninggal dunia pada tahun 1956 di Kuala Kangsar, Perak, Malaya.

Gerakan pembaruan di awal abad ini dapat disebut sebagai gerakan pembaruan para ulama zuama, yang sesungguhnya telah diwarisi sambung bersambung dalam rantai sejarah yang berkelanjutan semenjak dari dua gerakan Paderi sebelumnya. Dapat pula dinyatakan bahwa gerakan pembaruan ulama zuama di awal abad 20 di Minangkabau menjadi mata rantai dari gerakan Paderi periode ketiga. Gerakan Paderi periode pertama, di awal abad kedelapan belas, dimulai pulangnya tiga serangkai ulama Minang (1802), terdiri dari Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, yang juga dikenal bergelar Tuanku Lintau, berawal dengan penyadaran semangat beragama Islam di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Gerakan Paderi perode kedua dilanjutkan oleh Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur, Tuanku di Ladang Laweh dan Tuanku Imam Bonjol yang berujung dengan perlawaanan terhadap penjajahan Belanda (1821-1837), dan lahirnya piagam Marapalam yang menyepakati adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di ranah Minangkabau. Gerakan Kembali ke Syariat yang dilaksanakan di bawah bimbingan Tuanku Nan Tuo, yang kemudian berlanjut kepada Gerakan Padri di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh, yang kemudian sambung bersambung di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, sesungguhnya tidak menentang hukum waris berdasarkan garis ibu. Malahan, gerakan pembaharuan yang dilaksanakan oleh mereka, sejak Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, dan Tuanku Imam Bonjol, lebih menguatkan harta pusaka, yang dimaksud adalah pusaka tinggi itu, dimanfaatkan untuk kesejahteraan kaum, dan oleh karena itu, harta pusaka dimaksud diturunkan kepada kemenakan, dan ditempatkan pada pengawasan garis perempuan.

Namun mengenai harta pencaharian, kedua gerakan itu sependapat harus diwariskan kepada anak. Tuanku Imam Bonjol, sadar bahwa setelah utusan anak kemenakannya mempelajari hukum Islam ke tanah Mekah, menyatakan pembagian tugas yang nyata antara adat dan syarak atau agama. Bahwa masalah adat dikembalikan kepada Basa dan Penghulu, sedangkan masalah agama diserahkan kepada Tuanku atau malin. Inilah doktrin ajaran adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Gerakan pembaruan ulama zuama di awal abad ke 20 di ranah Minangkabau ini, berawal dengan kepulangan para penuntut ilmu dari Makkah el Mukarramah, yang umumnya adalah murid dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawiy, telah ikut memberikan sumbangan bagi pencerahan pemahaman dan pengamalan syari’at Islam, dan mendorong bagi munculnya perdebatan-perdebatan umum yang diikuti para ulama, kaum terpelajar, dan ahli-ahli adat, dan ikut pula membukakan kesempatan bagi lahirnya berbagai jenis perkumpulan yang bertujuan memperdalam ilmu agama dan adat istiadat, serta mendorong tumbuhnya pendidikan Islam, madrasah-madrasah samapai ke nagari-nagari, dan berdiri pula berjenis organisasi pergerakan, seperti Tarbiyah Islamiyah, Adabiyyah, Muhammadiyah, dan meluas sampai ke semenanjung Malaya, dibawa oleh Syekh Taher Jalaluddin yang lebih banyak melaksanakan dakwahnya di tanah semenjanjung itu. Tak kurang penting timbulnya pergolakan-pergolakan kecil di beberapa tempat, biasanya membayangkan dinamika masyarakat adat dan agama di dalam membangun masyarakat di Minangkabau yang sedang mengalami perubahan, menumbuhkan keinginan baru untuk melakukan proses pemeriksaan kembali terhadap nilai-nilai kultur yang dipunyai.

Ketika arah pembangunan dan perobahan sosial sedang terjadi, menuju suasana merebut kemerdekaan dan menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, setelah berakhirnya penindasan panjang 350 tahun dijajah Belanda, dan beralihnya kekuasaan kepada Dai Nippon, maka merebut kemerdekaan menjadi wajib. Fatwa para ulama dan zuama ikut membentuk dinamika sejarah dan pemikiran Islam di ranah Minangkabau bergerak cepat, sejak empat puluh tahun sebelumnya juga telah digerakkan oleh para ulama zuama dengan basis ilmu pengetahuan agama dan adat istiadat, serta bahasan-bahasan perkembangan politik di Mesir dan Turki masa itu, ikut mendorong kepada pencarian model yang sesuai dengan yang haq, dan menuntut sikap beragama yang rasional, serta menumbuh kembangkan semangat kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara.

Pembaruan Islam di Minangkabau bukan semata terbatas pada kegiatan serta pemikiran saja, tetapi menemukan kembali ajaran atau prinsip dasar Islam yang berlaku abadi yang dapat mengatasi ruang dan waktu. Sementara itu usaha-usaha pembaruan yang praktis, baik dalam bentuk sekolah dan madrasah-madrasah atau pun kerajinan desa, mulai bermunculan. Kaum pembaru pemikiran Islam berusaha mengembalikan ajaran dasar agama Islam dengan menghilangkan segala macam tambahan yang datang kemudian dalam din, agama, dan dengan melepaskan penganut Islam dari jumud, kebekuan dalam masalah dunia. Mereka berusaha memecahkan tembok tambahan dan jumud itu, agar dapat menemu kembali isi dan inti ajaran Islam yang sesungguhnya, yang menurut keyakinannya menjadi cahaya yang dapat menyinari alam ini. Kaum pembaru berkeyakinan bahwa bab al-ijtihad, masih tetap terbuka; mereka menolak taqlid. Ijtihad membawa kaum pembaru untuk lebih memperhatikan pendapat. Keinginan untuk keluar dari situasi yang dianggap tidak sesuai dengan gagasan-gagasan yang ideal menghadapkan Minangkabau pada pilihan-pilihan yang kadang-kadang saling bertentangan. Model barat mungkin baik, tetapi dapat berarti ancaman pada dasar-dasar agama dan adat. Perubahan yang sesuai dengan ajaran Islam yang ortodoks, memang merupakan pemecahan. Tetapi bagaimana pula dengan lembaga adat yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Minangkabau? Dan, apa pula contoh yang bisa diikuti? Tetapi parameter adat sangat terbatas dan bias menutup jalan ke dunia maju dan mungkin pula menghadapkan diri pada masalah dosa dan tidak berdosa, soal batil dan haq. Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947).

Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Sekembalinya dari Mekah, Mohammad Djamil mulai memberikan pelajaran agama secara tradisional Karena beliau memelihara dengan rapi dan teratur jambang dan jenggotnya, maka muridnya mulai menyebutnya dengan Syekh Muhammad Djamil Djambek, atau Inyik Djambek. Murid-muridnya kebanyakan terdiri dari para kalipah tarekat. Setelah beberapa lama, Syekh Muhammad Djambek berpikir melakukan kegiatan alternatif. Hatinya memang lebih condong untuk memberikan pengetahuannya, walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik pada usaha meningkatkan keimanan seseorang. Kemudian ia meninggalkan Bukittinggi dan kembali mendatangi teman-temannya dalam kehidupan parewa yang mulai ditinggalkannya sejak usia 22 tahun (1888) di Kamang, sebuah nagari pusat pembaruan Islam di bawah Tuanku nan Renceh pada abad ke-19. Hingga kemudian dia mendirikan dua buah surau di Kamang (1905), dan Surau Tengah Sawah (1908). Keduanya dikenal sebagai Surau tempat mengaji dengan Inyik Djambek.
Di Kamang pula ia mulai menyebarkan pengetahuan agama untuk meningkatkan iman. Akhirnya, ia sampai pada pemikiran, bahwa sebagian besar anak nagari tidak melaksanakan ajaran agama dengan sempurna bukan karena kurang keimanan dan ketaqwaannya, tetapi karena pengetahuan mereka kurang tentang ajaran Islam itu sendiri. Ia mengecam masyarakat yang masih gandrung pada ajaran tarekat. Ia mendekati ninik mamak dan membicarakan berbagai masalah masyarakat. Islam sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan. Islam juga berarti kemajuan, agama Islam tidak menghambat usaha mencari ilmu pengetahuan, perkembangan kehidupan dunia, dan menghormati kedudukan perempuan. Islam adalah agama universal, yang dasar ajarannya telah diungkapkan oleh para nabi, yang diutus kepada semua bangsa (QS. 10;47;2: 164; 35:24; 40:78). Tugas mereka diselesaikan oleh Nabi Muhammad saw, rasul utusan terakhir untuk seluruh umat manusia. Cita-cita pikiran untuk memajukan umat dengan agama Islam yang demikian, hanya dapat dicapai melalui pengamalan syariat, yang terbagi kepada tauhid dan ibadat. Dalam ibadah, semuanya terlarang, kecuali yang disuruh. Jadi cara-cara beribadah telah diperintahkan. Di tradisi-tradisi baru yang tidak ada perintahnya, maka tidak dapat diterima sebagai ibadah, dan disebut bid’ah. Di dalam kegiatan pemurnian agama, kaum pembaru menentang berbagai bid’ah yang dibedakan atas dua jenis, yaitu bid’ah menurut hukum (syar’iyah) tidak dapat dibiarkan berlaku, karena itu perlu diteliti dalam segala hal, apakah yang lazim dilakukan sehari-hari di bidang agama, dengan menggunakan akal dan berpegang kepada salah satu tiang hukum (Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyas).

Di samping itu ada pula bid’ah dalam soal kepercayaan (bid’ah pada I’tikad), sebagaimana ada pula bid’ah pada amalan, seperti mengucapkan niyah. Islam pada masa kemajuan tidak harus berkembang sejajar dengan perkembangan inteletual, sebab ada hal yang dilarang dan disuruh, dalam batas halal dan haram, serta amat ma’ruf dan nahyun ‘anil munkar, sebagai sifat asli dari agama Islam. Agama juga mengatur hal yang bersangkutan dengan dunia. Masalah ini ada yang mengandung ciri ‘ubudiyah, dalam arti berdasarkan perintah dan bagian dari din Allah, sedangkan cara mengamalkannya bersifat duniawi. Umpamanya perintah memelihara anak yatim, menghormati orang tua, membersihkan gigi, yang pelaksanaannya sebagian besar terletak pada pilihan individu, dan mengiautkan persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah. Sudah mulai agak janggal pula kedengarannya bila menyebut kata-kata ini yang sudah begitu lama kita kunyah. Tetapi, yang masih sedikit sekali berjumpa pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.


(c) Masoed Abidin

Kamis, 18 Februari 2010

Prof. DR. H. Tengku Muhibuddin Waly, Ph.D : "Ulama-Intelektual Tanah Rencong Keturunan Minangkabau"

Oleh : Muhammad Ilham

Abuya Muhibbuddin, demikian ia akrab disapa, adalah putra Syekh Muhammad Waly, guru Tarekat Naqsyabandiyah Waliyah di Tanah Rencong. Syekh Muhammad Waly adalah ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Dari ayahandanya, yang di Ranah Minang lebih dikenal dengan julukan Syekh Mudo Waly, mengalir darah ulama besar. Paman Syekh Mudo Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang waliullah yang termasyhur di Minangkabau. Sebagaimana kedudukan pamannya, Syekh Mudo Waly juga mewarisi karisma dan karamahnya. Konon, ia pernah memindahkan anaknya dari Minangkabau ke Aceh dalam sekejap. Syekh Mudo Waly adalah sahabat Syekh Yasin Al-Fadany (asal Padang) saat mereka berguru kepada Sayid Ali Al-Maliky, kakek Sayid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky Al-Maliky Al-Hasany, di Mekah. Karena persahabatan itu pula, beberapa tahun lalu Al-Maliky mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Abuya.

Diceritakan, ketika menunaikan ibadah haji, Abuya sowan kepada tokoh Suni yang baru saja wafat pertengahan Ramadan lalu. Ketika itu Sayid Maliky bertanya, siapakah gerangan tamunya tersebut. Abuya lalu menjelaskan, ia adalah putra Syekh Mudo Waly, murid Sayid Ali Al-Maliky. Mendengar itu, Sayid Maliky menangis haru dan memeluk Abuya, kemudian mengijazahkan semua ilmu tarekatnya. Hal yang sama sekali tak diduga sebelumnya oleh Abuya. Pertemuannya dengan Syekh Yasin Al-Fadany juga penuh dengan isak tangis mengharukan. Setelah memeluk Abuya erat-erat, sambil terus memegang tangannya, Syekh Yasin mengijazahkan semua hadis Rasulullah SAW yang dikuasainya.
Untuk pertama kalinya, tempo doeloe di masa remaja, Abuya Muhibbuddin belajar Tarekat Naqsyabandiyah kepada ayahandanya. Setelah dianggap cukup, belakangan, Syekh Mudo Waly menyerahkan pengangkatan anaknya menjadi mursyid kepada gurunya, Syekh Abdul Ghani Al-Kampary (dari Kampar). Saat itu di pesisir laut Sumatra ada dua mursyid besar yang tinggal di Riau.

Mereka termasyhur sebagai
min jumlatil awlia (termasuk wali-wali Allah), yaitu Syekh Abdulghani Al-Kampary, yang kebanyakan murid-muridnya terdiri dari para ulama; dan Syekh Abdul Wahhab Rokan (dari Rokan), yang murid-muridnya adalah orang-orang awam. Belakangan Abuya Muhibbuddin juga mendapat ijazah irsyad (sebagai guru mursyid) Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari ulama karismatik K.H. Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin, alias Abah Anom, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya; dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Syekh Muhammad Nadzim Al-Haqqany. Silaturahmi dan selalu belajar kepada para ulama besar memang kebiasaannya yang sudah mendarah daging, bahkan hingga kini. Selalu teringat wasiat ayahandanya, “Jika engkau bertemu dengan orang alim, janganlah pernah mendebat. Cukup dengarkan nasihatnya, bertanya seperlunya, minta doa dan ijazahnya, lalu cium tangannya.”

Syekh Muhibbuddin Waly mengambil gelar doktor di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, dengan disertasi tentang Pengantar Ilmu Hukum Islam. Lulus 1971, waktu kuliahnya terbilang singkat. Di Al-Azhar, teman satu angkatannya antara lain mantan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Wah, Gus Dur itu sehari-hari kerjaannya cuma membaca bermacam-macam koran,” kenangnya sambil terkekeh.
Kini, setelah kesibukannya sebagai anggota DPR RI berakhir 2004 lalu, ia lebih banyak mengisi waktunya dengan mengajar tarekat dan menulis. Ada beberapa buku tentang tasawuf dan pengantar hukum Islam yang sedang ditulisnya, sambil menyempurnakan buku ensiklopedi tarekat yang diberinya judul Capita Selecta Tarekat Shufiyah. Waktu senggangnya juga dimanfaatkan untuk “meramu” tiga kitab yang diharapkannya akan menjadi pegangan para murid dan umat Islam pada umumnya, yaitu Tafsir Waly (Tafsir Al-Quran), Fathul Waly (Komentar atas Kitab Jauharatut Tauhid), dan Nahjatun Nadiyah ila Martabatis Shufiyah (sebuah kitab tentang ilmu tasawuf). Dan ternyata ia pun mewarisi darah para pujangga Minang. Hal itu, misalnya, terbukti dari kemahirannya menulis syair. Belum lama ini ia mengijazahkan Syair Tawasul Tarekat yang digubahnya dalam dua bahasa, Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan proses perjalanan suluknya, diselingi doa tawasul kepada para pendiri beberapa tarekat besar dan guru-guru yang dimuliakannya.

Mengenai perkembangan tarekat dewasa ini, ia menyatakan, “Saat ini ada pergeseran nilai (bertambahnya fungsi tarekat – Red.) di kalangan pengikut tarekat. Jika di masa lampau tarekat diikuti oleh orang yang benar-benar hendak mencapai makrifatullah, kedekatan dengan Allah, sekarang ini tarekat malah sering jadi tempat pelarian bagi orang-orang yang menemukan kebuntuan dalam hidup.” Mengenai hubungan guru dan murid dalam tarekat, ia berpendapat, seorang mursyid adalah pengemudi biduk pengembaraan spiritual muridnya. Oleh karena itu, seorang mursyid seyogianya juga menjadi musahhil, yaitu orang yang membantu kemudahan sang murid dalam melewati beberapa maqamat atau terminal spiritualnya.

Ulama dan Aliran Syattariyah di Sumatera Barat

Ditulis ulang : Muhammad Ilham


Agama Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Di mana ada nagari maka di situ ada pula mesjid. Dalam perkembangan selanjutnya di Minangkabau muncul fenomena Islam tradisionalis (kaum tua) dan Islam modernis (kaum muda). Untuk mempraktekkan cara keberagamannya, kaum tradisional melakukan dengan cara ritual tarekat. Tarekat itu antara lain, Syattariah, Naqsyabandiah, Sammaniyah, Rifaiyah. Dari keempat tarekat ini, Tarekat Syattariah dan Naqsyabandiah merupakan tarekat paling berkembang dan berpengaruh di Sumatera Barat.

Tarekat Syattariyyah merupakan tarekat paling awal berkembang dan sangat mengakar di sebagian masyarakat Minangkabau. Tarekat Syattariyyah dibawa oleh Syech Burhanuddin. Tarekat Syattariyyah merupakan satu-satunya representasi dari Islam tradisional di Sumatera Barat, sebelum munculnya tarekat Naqsyabandiyyah sekitar 1850. Dari buku kita ini bisa mengetahui sejarah awal mula berdirinya Tarekat Syattariyah, masuknya ke Indonesia dan Sumatera Barat, perkembangannya, ajarannya dan pesta-pesta agama yang dilakukakan oleh penganut.


Melalui buku ini kita akan mendapat jawaban tentang penentangan ajaran doktrin Wahdat al Wujud oleh pala ulama tradisional. Sehingga Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat mempunyai ciri khas yakni tanpa Wahdat ai-Wujud. Penulis juga menyampaikan secara detail tentang ritual-ritual penting para penganut Tarekat Syattariyah serta ibadah yang dilakukan oleh para penganut. Pada bulan Syafar banyak masyarakat yang pergi ke Tanjung Medan, Ulakan, Kabupaten Padangpariaman. Tradisi tersebut adalah bagian dari tradisi Tarekat Syattariyah yang bersentuhan dengan budaya lokal. Tradisi tersebut disebut dengan Basapa. Semuanya bisa kita ketahui dan maknai dengan membaca buku ini.

(c) PadangKini.com/Judul Buku : Tarekat Syattariyah di Minangkabau / Penulis : Oman Fathurahman

Senin, 15 Februari 2010

Sheikh Ahmad Jelebu (1887 - 1989) : Ulama Minangkabau yang "Dibesarkan" di Semenanjung Malaysia


Ditulis ulang : Muhammad Ilham

(dalam bahasa asli - Bahasa Melayu Malaysia : Artikel ini kiriman dari salah seorang Perantau Indonesia di Malaysia : Hak Cipta Penulisan pada syeikhahmad.blogspot.com)

Sheikh Ahmad Bin Sheikh Ibrahim dilahirkan dalam tahun 1887 di Padang, Indonesia. Bapanya Sheikh Ibrahim adalah guru agama yang mengamalkan aliran tarekat dan bersuluk. Beliau tidak berminat untuk mengikuti tarekat dan memilih untuk mendampingi aliran kaum muda di Bukit Tinggi. Di sana Sheikh Ahmad berguru dengan bapa Almarhum Prof Dr Hamka iaitu Haji Abdul Karim Amrullah di Madrasah Sumatera Tawalib. Ketika itu usianya dianggarkan dalam awal 20an. Beliau pernah bercerita tentang diri Almarhum Pak Hamka yang agak nakal semasa kecilnya, Almarhum itu pernah menyimbah air kepada murid-murid di Madrasah ketika mereka mengambil wuduk di sumur. Tidak dapat dipastikan destinasi awal yang mula disinggahinya, samada di India atau di Tanah Suci Mekah Al Mukarramah. Tetapi kedua-dua tempat itu pernah menjadi tempat pengajian agama ketika usianya 20an. Isterinya Siti Binti Ahmad menyatakan, Sheikh Ahmad pernah menuntut di Mekah dan di India lebih dari tiga tahun. Walau bagaimanapun, banyak masanya dipenuhi dengan bertabligh dan mengembara dari suatu tempat ke suatu tempat. Kerana suka mengembara di beberapa kawasan di pendalaman, beliau boleh bertutur beberapa loghat suku kaum Arab dan Parsi. Allahyarham juga boleh berbahasa Urdhu dan Inggeris. Antara negara-negara Timur Tengah yang pernah dilawatinya ialah Mesir, Plestine, Iraq, Iran dan beberapa negara sekitarnya.

Suatu ketika Sheikh Ahmad keluar menyertai sekumpulan orang Arab di padang pasir Semenanjung Arab. Mereka telah terserempak dengan seorang Arab berkuda yang membawa senjata api. Tetamu yang besar dan tinggi itu tiba-tiba menyerang atau memukul kepala Sheikh Ahmad dengan senjatanya., Sheikh Ahmad bertindak pantas membalas serangan dengan melibaskan kakinya ke leher lawan. Gerakan pantasnya itu menyebabkan Arab itu rebah ke bumi. Tindakan tersebut menyebabkan orang-orang Arab yang menyertainya terkejut melihat anak Jawi yang bertubuh kecil itu boleh menumbangkan Pak Arab yang tidak sebanding dengannya. Mereka hairan bagaimana kedua kaki dan tangan Sheikh Ahmad boleh bertindak pantas. Ekoran dari peristiwa itu Sheikh Ahmad menjadi rakan yang dihormati dan dikenali oleh orang-orang Arab di pendalaman. Orang Arab yang telah dibunuhnya itu adalah penjenayah yang sangat dikehendaki oleh pemerintah ketika itu.
Sheikh Ahmad pernah dilantik menjawat jawatan Hakim di Mahkamah Syariah di Plestine dalam tahun 1940an. Beliau berada di Plestine lebih kurang 2 tahun dan pernah berkahwin dengan perempuan Plestine. Hasil perkahwinannya itu, beliau memperolehi seorang anak lelaki yang diberi nama Abdul Aziz Sheikh Ahmad. Jodohnya dengan wanita Arab ini tidak berpanjangan. Anak lelakinya itu menjadi doktor perubatan dan pernah berutus surat sebelum ini, tetapi selepas terjadi perang Arab – Israel, perhubungan mereka telah terputus.

Semasa menuntut di India pula, Sheikh Ahmad pernah mendaki pergunungan Himalaya di utara India. Tujuan beliau mendaki gunung itu ialah untuk bertemu dengan manusia yang bertapa dalam gua di pergunungan. Beliau mendapat tahu gua tersebut dijadikan kawasan pertapaan dan penuh dengan perkara-perkara mistik. Kerana sifat ingin tahu dan menyukai cabaran, beliau bertekad untuk memulakan pendakian. Perjalanan ke destinasi tersebut memakan masa hampir sebulan berjalan kaki atau lebih kurang 3 hari 3 malam menunggang kuda.
Ramai penduduk di kaki gunung menasihati beliau supaya membatalkan rancangannya untuk ke kawasan tersebut. Pergi bermakna akan menemui kematian kerana halangan-halangan dahsyat akan berlaku. Sebaliknya pula, Sheikh Ahmad menganggap peringatan tersebut sebagai motivasi bagi dirinya dan yakin kekuasaan Allah melebihi segalanya. Dalam perjalanan malam di bawah bulan purnama yang menerangi kawasan pergunungan itu, beliau telah didatangi seorang gadis mirip wanita Khasmir yang cantik. Sheikh Ahmad tahu wanita ini jelmaan syaitan yang dipuja oleh manusia yang bertapa di gua tersebut. Dengan pantas Sheikh Ahmad menikam perempuan tersebut dengan kerisnya. Malangnya, beliau telah jatuh pengsan. Keesokkan paginya, beliau telah dijumpai oleh penghantar makanan ke gua tersebut. Tangannya masih menggenggam ulu keris dan sekeping upih melekat di hujung senjatanya. Setelah melepasi beberapa halangan, akhirnya Sheikh Ahmad sampai ke pintu gua tersebut. Gua yang berbilik-bilik itu dihuni oleh orang yang bertapa mengikut tahap-tahap keilmuan atau senioriti. Mereka berkeadaan tidak terurus dengan rambut dan janggut yang panjang serta berbau busuk.

Ada
kalangan mereka hidup bagai nyawa-nyawa ikan atau seperti bangkai bernyawa. Anak Jawi berhati cekal ini telah berdailog dan memarahi manusia yang sesat tersebut. Beliau sempat berdakwah agar mereka kembali kepada fitrah manusia dan menganut Islam. Ketua orang yang bertapa itu telah menepuk bahu Sheikh Ahmad kerana kagum dengan kecekalan dan keberanian beliau sampai ke kawasan tersebut. Malah Ketua orang bertapa itu juga tahu Sheikh Ahmad telah membunuh orangnya ( wanita jelmaan) dan membayangkan Sheikh Ahmad akan menjadi tumpuan orang pada suatu hari nanti. Sheikh Ahmad juga pernah berdepan dengan pengamal-pengamal sihir. Antaranya ketika berkunjung di Madras, keimanan beliau telah dicuba oleh seorang pengamal sihir yang menunjukkan kebolehannya mengarahkan sepohon tamar berpindah dari satu tempat ke satu tempat. Pengamal sihir itu juga memindahkan seorang gadis cantik tidur ke bilik Sheikh Ahmad. Apabila ditanya apakah tujuan dan ilmu yang diamalkan, pengamal sihir itu berkata itulah Ilmu ' sehari tua daripada Tuhan' yang ingin diturunkan kepada Sheikh Ahmad. Beliau telah menempelak perbuatan syirik dan sesat tersebut.
Sheikh Ahmad telah memilih Sungai Petani, di Kedah sebagai destinasi barunya. Di Kedah ini beliau bertabligh di beberapa masjid dan surau.

Oleh kerana kebagusan perangai dan ilmunya, maka ramai pula yang tertarik hati untuk dijadikan menantu dan tidak kurang pula iri hati. Beliau telah difitnahkan ingin merebut tunang seorang pemuda tempatan. Selepas sholat isya' di masjid, lima atau enam pemuda tempatan telah mengepung beliau di sebuah titi yang sempit. Sheikh Ahmad telah diserang bertubi-tubi dan dengan mudah pula ia menjatuhkan lawannya ke sungai. Di Kedah, Allahyarham Sheikh Ahmad mempunyai dua isteri. Isteri pertamanya orang Alor Star dan kedua dari Sungai Petani. Hasil perkahwinannya itu beliau dianugerahkan 2 cahaya mata. Beliau mendapat anak perempuan dari isteri kedua dan diberi nama Zaleha. Dua tahun berikutnya isteri pertamanya pula melahirkan anak lelaki bernama Mokhtar. Mereka berusia lebih kurang 66 dan 64 tahun sekarang. Pernah suatu ketika terjadi peristiwa bapa mertua beliau menyepak isterinya ( ibu mertua) yang tengah bersholat. Bapa mertuanya seorang yang panas baran dan suka meminta wang dari isterinya. Sheikh Ahmad telah menegur perbuatan ganas dan biadab bapa mertua itu. Bapa mertuanya telah mengupah seorang berketurunan Jawa yang dikatakan pandai mengayungkan mangsanya untuk membinasakan Sheikh Ahmad menantunya.
Suatu petang, Jawa tersebut bertemu dengan Sheikh Ahmad di jalanan. Beliau menghulurkan tangan untuk berjabat salam. Apakala tangan mereka bersalaman, Jawa tersebut telah menggoncang kuat tangan Sheikh Ahmad, Sheikh Ahmad yang mahir dalam dunia persilatan itu merasakan Jawa itu telah mengayungkannya (memukul secara bathin) sehinggakan jantungnya dirasakan putus. Dia terasa beberapa titisan darah keluar dari jantungnya. Dengan kepakarannya, beliau memulangkan pukulan angin itu dengan membalas goncangan salam tangan lawan. Seminggu selepas kejadian itu Jawa itu dikhabarkan mati. Menurut Sheikh Ahmad, pada zahirnya dia boleh maut dengan pukulan gayung Jawa itu boleh membunuh tetapi beliau mampu membalasnya dengan izin Allah. Di Jelebu, beliau menetap di Kampung Triang kira-kira 5 km dari Pekan Kuala Klawang. Beliau berkahwin pula dengan seorang gadis sunti tempatan bernama Mahaya.

Isteri beliau ini meninggal dunia dan tidak meninggalkan zuriat. Di Triang, beliau telah membuka pusat pengajian dan ramailah anak-anak kampung belajar agama dengan Sheikh Ahmad. Antara anak murid beliau ialah Dato' Rais Yatim Ahli Parlimen Jelebu dan bekas Menteri Besar Negeri Sembilan. Beliau sangat rapat dengan Ustaz Hashim Abdul Ghani Mudir Pusat Pengajian Ittiba' As Sunnah di Parit, Kuala Pilah kerana sealiran dengannya. Selepas kematian isterinya Mahaya, Ustaz Hashim telah menjodohkan Sheikh Ahmad dengan anak muridnya bernama Siti Binti Ahmad dalam tahun 1966. Ketika berkahwin dengan Siti Binti Ahmad, usia Sheikh Ahmad telah menjangkau 78 tahun dan isterinya pula seorang janda muda berusia 28 tahun. Menurut Puan Siti Ahmad ( kini berusia 66 tahun) ketika diwawancara pada 20 Mac 2004, Sheikh Ahmad adalah seorang guru dan pengamal perubatan Islam yang kuat beribadah dan pandai berkata-kata. Walaupun telah berusia namun perwatakan dan tubuh badannya masih sehat dan bergaya. Ramai pengikut fahaman kaum muda dari Kuala Pilah datang menziarahinya untuk belajar dan berubat termasuklah bapa saudara penyusun Haji Mahmud Fasih dan Allahyarham bapa penyusun sendiri.

Sebagaimana yang dinyatakan, Sheikh Ahmad mula terpengaruh dengan aliran Kaum Muda sejak belasan tahun lagi ketika mengaji dengan bapa Almarhum Pak Hamka. Ketika Pak Hamka pernah berkunjung ke Kuala Pilah dalam tahun 1960an, beliau sempat berjumpa Sheikh Ahmad. Mereka berbincang tentang perjuangan Islam di Indonesia. Pak Hamka telah dipenjarakan oleh Sukarno sebaik tiba dari Malaysia disebabkan perbezaan ideologi dan pengaruh kominis di Indonesia ketika itu. Pengikut As Sunnah pimpinan Ustaz Hashim Abdul Ghani di Kuala Pilah sering berpolemik dengan Majlis Agama Islam Negeri Sembilan kerana perbezaan pandangan dalam perlaksanaan syariat. Sheikh Ahmad juga pernah dipanggil untuk menjelaskan fahaman beliau dalam masalah membayar zakat fitrah dengan amil lantikan kerajaan. Oleh kerana sering menghadapi tekanan maka mereka telah mengadakan deklarasi pada 26 Disember 1982 (11 Rabiulawal 1403) di mana wakil pendukung al-Sunnah dari seluruh Malaysia telah berhimpun di Kuala Pilah, bertempat di Ma'ahad Ittibaus-Sunnah. Dalam perhimpunan ini, sebuah deklarasi kewujudan keluarga al-Sunnah Malaysi diisytiharkan.
Suatu keanihan pada batang tubuh Sheikh Ahmad ini ialah ada 'tattoo' lukisan kekal di lengan kirinya. Lukisan ini dikatakan dilukis oleh seorang Hindu semasa beliau menuntut di India dan tiada penjelasan kenapa beliau membenarkan ianya dilakukan. Tetapi beliau pernah memberitahu beliau sering berdepan dengan golongan pengamal sihir dan kebatinan. Di akhir hayatnya, Sheikh Ahmad ada menemui seorang doktor perubatan untuk membuang gambar tattoo di lengan kirinya itu tetapi sukar dihilangkan. Sheikh Ahmad mengatakan perkara itu tidak mendatangkan gangguan kepadanya dan ia meletakkan keyakinan kepada Allah mengatasi segalanya.

Di hari-hari tuanya, Sheikh Ahmad lebih banyak menghabiskan masa berzikir panjang dan membaca kita-kitab dalam simpanannya. Apabila datang orang ramai ingin berubat atau meminta bantuan, beliau akan memberi tazkirah agama terlebih dahulu dan menyakinkan pengunjung supaya sering berserah diri kepada Allah SWT. Kali terakhir beliau menunaikan fardhu haji ialah tahun 1981 dihantar oleh Dato' Rais Yatim. Dikatakan apabila di Mekah, Sheikh Ahmad terlalu sibuk menyahut jemputan penduduk Mekah seolah-olah beliau kembali ke kampung halamannya. Sheikh Ahmad menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 30 Disember 1989 dikala usia lanjut 103 tahun. Jenazahnya disemadikan di Kampung Gagu, Triang. Beliau meninggalkan seorang balu Puan Siti Binti Ahmad dan anak angkat perempuan yang mengalami terancat akal berumur 31 tahun. Allahyarham bolehlah dianggap tokoh agama yang juga mempunyai kemahiran seni pertahanan diri yang tinggi. Cubaan berdepan golongan ahli sihir, kebatinan dan penjenayah yang boleh menjejaskan aqidah dan nyawa tidak pernah meluntur semangatnya untuk menyampaikan dakwah. Beliau benar-benar mewarisi bakat pahlawan bangsa yang tega dan cekal.