Rabu, 21 Juli 2010

Sumpah Bukik Marapalam : Dasar Historis Perpaduan Islam dan Adat di Minangkabau

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Tidak ada bukti tertulis sehingga tidak pula ada kepastian waktu, tempat, dan pelaku peristiwa pencetusan piagam sumpah satie Bukik Marapalam yang pasti. Namun masyarakat meyakini bahwa piagam sumpah satie Bukik Marapalam atau lebih populer disebut sumpah satie Bukik Marapalam disepakati oleh para pemuka adat dan ulama di puncak bukit itu masa perkembangan Islam di Minangkabau (selanjutnya ditulis Minang). Konsensus itu didasari oleh sifat egaliter masyarakatnya. Piagam sumpah satie tersebut diyakini berbunyi adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah disingkat dengan ABS-SBK (adat bersendi agama Islam, Islam bersendikan Al Quran.). Namun karena berbagai versi juga ada yang menyatakan konsensus pertama antara kaum adat dan ulama berbunyi “adaik basandi syarak, syarak basandi adaik” (adat bersendi agama Islam, Islam bersendi adat). Ketiadapastian peristiwa itu dan hampir tidak adanya tulisan Belanda mengundang munculnya beragam versi sejumlah peneliti, pemerhati agama dan adat di Minang. Bahkan perhatian mereka tentang hubungan antara variabel adat dan agama dewasa ini juga berkembang untuk kasus-kasus di luar dan dalam masyarakat Minang. Misalnya karya Hamka (terbit pada pertengahan 1946) “Islam dan Adat Minangkabau”; karya Ratno Lukito (1998) tentang Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia; sejumlah karya C. Snouck Hurgronje; Taufik Abdullah; penelitian dan seminar yang didanai oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Tingkat I Sumatera Barat bekerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang tahun 1991. Konsensus tersebut muncul sebagai sintesa dari proses dialogis antara kedua kaum itu. Namun sintesa tersebut bukan untuk menyatukan ajaran Islam dengan adat Minang, tetapi untuk saling melengkapi dan menyesuaikan. Periode kemunculan ABSSBK itu ialah antara permulaan masuknya Islam sampai waktu masyarakat Minang menghadapi kolonial Belanda hingga pasca perang Paderi, dan Belanda memanfaatkan kesempatan itu dengan menggunakan pendekatan konflik.

Piagam sumpah satie tersebut adalah sebuah konsep dalam tataran ideologis dan dijadikan sebagai falsafah atau pedoman dalam kehidupan sosial, budaya, agama dan politik masyarakat Minang. Konsep tersebut relevan dengan Minang dalam konteks sosial-budaya, sehingga falsafah itu berlaku untuk masyarakat Islam etnis Minang. Falsafah itu hampir sama dengan falsafah di daerah lain seperti di Aceh yang diekspresikan dengan “hukum ngon adat hantom cre, lagee zat ngon sifeut” (hukum adat dan Islam tidak dapat dipisahkan, seperti zat dan sifat suatu benda), atau di Ambon dikenal “adat dibikin di mesjid” (adat dibuat di dalam mesjid). Sebagian besar masyarakat Minang meyakini perjanjian itu terjadi di puncak Bukit Marapalam. Nama bukit itu awalnya sebuah istilah, berdasarkan foklor berasal dari kata “Merapatkan Alam” yaitu merapat atau terhubung dengan alam Luhak nan Tigo.. Asumsi lain tentang nama itu ialah rapat untuk mencari penyelesaian konflik kaum adat dengan ulama atau antar ulama yang berbeda mazhab dan tariqat. Puncak bukit tertinggi di Kabupaten Tanah Datar berada di puncak Bukit Marapalam, dinamakan Puncak Pato. Nama itu berasal dari istilah fakto atau pakta (puncak untuk membuat perjanjian). Asumsi lain ialah berasal dari kata patongahan (pertengahan) antara kedudukan Tuanku Lintau di Lintau dengan Yang Dipertuan Agung Raja Pagarruyung di Pagarruyung.

Daerah tersebut strategis karena terletak di daerah perbukitan yaitu antara Kecamatan Lintau dengan Kecamatan Sungayang. Kaum Paderi maupun pasukan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) menggunakan wilayah itu sebagai pertahanan gerilya. Daerah tersebut relatif dekat dengan Luhak nan Tigo sehingga mudah memantau musuh jika bergerak dari Nagari Sungayang, Tanjung, Andalas, dan Marabukit untuk menuju Bukit Marapalam. Belanda sendiri pada masa perang Paderi sulit membobol pertahanan kaum Paderi, sehingga Belanda harus mengerahkan sekitar 150 tentara untuk menaklukannya dan merebut daerah tersebut. Daerah itu juga strategis untuk persediaan logistik, karena Lintau dikenal sebagai penghasil beras di Minang. Selain itu daerah tersebut termasuk kekuasaan Tuanku Lintau yang berkedudukan di Tepi Selo Lintau. Beberapa versi di sini berdasarkan laporan penelitian dan seminar tentang Sumpah Satie Bukik Marapalam (1991). Versi pertama tentang peristiwa kemunculan piagam sumpah satie itu terjadi pada masa Syekh Burhanuddin menyebarkan Islam di tengah-tengah kuatnya pengaruh adat di alam Minang. Hamka (1984) bahwa evolusi perkembangan Islam (secara tersirat ia memperkirakan masa Syekh Burhanuddin) masih berlaku konsensus pertama yaitu “adaik basandi syarak, syarak basandi adaik”. Fakta sosial pun membuktikan bahwa ia berhasil mengembangkan aliran Sattariyah di Nagari Andaleh ke pedalaman Minang yaitu ke Marabukit yang berada di kaki Bukit Marapalam.

Azwar Datuk Mangiang pernah mewawancarai Inyiak Canduang (penulis buku “Perdamaian Adat dan Syarak”) pada akhir tahun 1966 di Pekan Kamis Candung. Dalam makalah “Piagam sumpah satie Bukik Marapalam”, Azwar menyatakan peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1644 Masehi (M), jauh sebelum revolusi perkembangan Islam di alam Minang oleh Paderi. Alam Minang terdiri dari rantau dan luhak nan tigo. Rantau Minang mencakup wilayah di luar Luhak nan tigo itu, yaitu rantau timur (Kampar, Siak, Rokan, Asahan, Indragiri, Jambi dan Batang Hari) dan rantau barat di Pantai Barat Sumatera (Natal, Sibolga, Barus, Singkel, Trumon, Tapak Tuan, Meulaboh, Tiku, Pariaman, Indrapura, Muko Muko, Majuto dan Bangkahulu). Luhak nan tigo yaitu Luhak Agam (sekeliling Bukittinggi), Luhak Tanah Datar (selingkar Batu Sangkar) dan Luhak Lima Puluh Kota (sekitar Payakumbuh). Secara geografis ketiga luhak itu relatif berdekatan, terutama antara Luhak Tanah Datar dengan Luhak Lima Puluh Kota. Sejarah perkembangan Islam di Minang adalah sejarah perkembangan kota-kota dagang di rantau Minang. Awal abad ke-7 M atau abad I Hijriah rantau timur Minangkabau telah menerima dakwah Islam. Bahkan J.C. van Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade & Socety (1955) menyatakan bahwa pada permulaan tahun 674 AD Pantai Barat Sumatera telah dihuni koloni Arab.

Ketika itu Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang telah menyebarkan agama Hindu ke Nusantara dari abad ke-7 hingga ke-13 M. Masuknya Islam pada masa itu menimbulkan persaingan perdagangan sekaligus pengaruh untuk mengembangkan agama masing-masing. Sebagaimana pernah terjadi persaingan sengit antara angkatan Laut Sriwijaya dengan pedagang Islam di Malaka. Pedagang muslim Arab dan Parsi akhirnya menuju pesisir timur dan barat Sumatera. Kemudian akibat ‘perkawinan politik’ antara saudagar Islam dengan putri kerajaan setempat, maka terbentuklah kerajaan Islam Perlak dengan sultan pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah yang menganut Islam Syiah (840 M-888/913 M). Namun akhirnya di Perlak juga berkembang aliran Sunni.

Sriwijaya kembali menyerang Perlak namun kemudian dimenangkan oleh Perlak. Setelah itu Perlak dipimpin oleh seorang Sunni yaitu Sultan Makhudum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan berdaulat (1006 M). Sriwijaya kemudian berhadapan dengan Kerajaan Darma Wangsa di Pulau Jawa, setelah itu dengan Majapahit, dan Majapahit menang sejak tahun 1477 M. Seluruh Pantai Timur Minang jatuh ke tangan Majapahit sampai akhirnya Majapahit lemah setelah raja Hayam Wuruk meninggal. Semenjak itu pula kerajaan Pagarruyung diperintah oleh putera mahkota pertama Majapahit keturunan Kertanegara dan Dara Petak dari Minang, yaitu Adityawarman. Sementara itu tahun 1400 Malaka dan Samudera Pasai, masing-masingnya menjadi kota dagang dan kerajaan Islam. Pengaruh Islam berkembang sampai ke Pantai Barat Minang. Akan tetapi, dinamika perkembangan dakwah Islamiyah agak lamban di sana, sebab sering terjadi pertentangan mazhab Syiah dengan Sunni di Aceh dan masalah perebutan Selat Malaka.

Kemudian rantau Alam Minang sudah mulai didominasi pemeluk Islam. Sementara Yang Dipertuan Adityawarman masih memeluk Budha dan Dinastinya berlanjut sampai tahun 1581 M. Kekuasaannya hanya terbatas di sekitar kerajaannya. Bahkan Mochtar Naim dalam karyanya Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau (1984) mengatakan bahwa raja hampir tidak memiliki kekuasaan apa-apa di Minang. Ia hanya sebatas simbol kekuasaan dan lambang persatuan. Terutama setelah Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang meninggal, raja melimpahkan kekuasaannya kepada raja-raja muda yang disebut rajo kaciak (raja kecil) dan (atau) penghulu di rantau. Raja (kingship) berbentuk kuasa tiga serangkai (trium virate), disebut juga Rajo Tigo Selo yang bersemayam di Pagarruyung di Luhak Tanah Datar. Mereka adalah Rajo Alam (sebagai primus inter pares dari ketiga kuasa itu), namun yang lainnya yaitu Rajo Adat dan Rajo Ibadat sesungguhnya berkedudukan dan mempunyai daerah masing-masing di Buo dan di Sumpur Kudus.

Kekuasaan tiga serangkai itu diperkuat oleh dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai. Sistem tersebut dicontoh dari Kerajaan Majapahit yang pernah dipimpin hanya oleh Patih Gdjah Mada sendiri. Mereka adalah Bandaharo dari Sungai Tarab, Tuan Kadi dari Padang Ganting, Mangkudum dari Suruaso dan Indomo dari Sumanik. Kuasa mereka diperkuat pula oleh Tuan Gadang dari Batipuh untuk urusan pertahanan. Sebelum kerajaan Pagaruyung diruntuhkan Belanda, dalam tahun 1821 Sultan Begagar Alamsyah telah mempermaklumkan kepada seluruh rakyat di Minangkabau untuk angkat senjata, perang melawan penjajah Sejak itu perang Paderi telah berubah bentuk menjadi perang Minangkabau. Sesungguhnya kesepakatan antara kaum adat dan kaum agama sudah terlaksana, sebagai realisasi dari piagam Bukik Marapalam dan Kesepakatan Tandikat.

Jauh sebelum perang Paderi, pernah tercatat tahun 1411 M raja Pagarruyung keempat Dewang Pandan Sutowono (Raja-raja Pagarruyung yaitu Adityawarman, Anggawarman_anaknya, Dewang Duato Doewano_keponakan pertama, Dewang Pandan Sutowono_keponakan kedua) dan permaisurinya sudah memeluk Islam dan mereka berguru kepada Tuanku Syekh Magribi atau dikenal juga Syekh Ibrahi (Maulana Malik Ibrahim). Pada masa itu telah terjadi penyesuaian antara Islam dengan adat setempat. Sebagaimana yang disebutkan L.C. Westenenk dalam karangannya Opstellen over Minangkabau bahwa masa adaik mananti, syarak mandaki telah ada upacara ritual pada dua buah batu di Pincuran Tujuh di Batang Sinamar, Kumanih. “Batu Palimauan” tempat Rajo Ibadat disucikan dengan limau (jeruk) sebelum mengucapkan kalimat Syahadat dan “Batu Pa-Islaman” tempat Syekh Ibrahi melakukan khitanan kepada mereka. Namun kegiatan yang erat dengan budaya Hindu-Budha masih akrab dalam masyarakat Minang kala itu.

Kemudian datanglah Syekh Burhanuddin yang bernama asli Pono. Ia berguru kepada Syekh Abdurrauf di Aceh. Ia berdakwah ke Minang dengan membuka sekolah agama seperti di Ulakan Pariaman dan di Kapeh Kapeh Pandai Sikek Padangpanjang yang ramai dikunjungi oleh murid dari Luhak nan Tigo. Ia juga berusaha memurnikan ajaran Islam dari pengaruh budaya Hindu-Budha seperti minum tuak, menyabung ayam atau berkaul ke tempat keramat. Istana Pagarruyung juga menjadi sasarannya dan ia berhasil. Keberhasilan itu membuat dia dikenal sebagai ulama besar di Minang. Masa itu sempat terjadi perbedaan pendapat antara penghulu sendiri, dan di antara yang tidak setuju itu kemudian menentang ulama. Namun kesepakatan damai tercipta antara para Penghulu, Tuanku dan Alim Ulama Minang. Kesepakatan itu bertujuan untuk saling mengakui eksistensi ulama dengan penghulu, sehingga ulama bukan bawahan Penghulu seperti panungkek, manti dan dubalang.

Para kaum adat dan ulama yaitu Syekh Burhanuddin sebagai penggagas piagam sumpah satie tersebut dengan dua muridnya (salah satu muridnya Idris Majolelo) bersama penghulu Ulakan menemui Yang Dipertan Agung Pagarruyung. Seterusnya mereka bersama Rajo nan Tigo Selo dan Basa Ampek Balai melakukan upacara pemotongan kerbau. Mereka memakan dagingnya, dikacau (menebarkan) darahnya, ditanam tanduknya, dilacak pinang dan ditapung batu, ‘diikat’ dengan Al Fatihah, dikarang sumpah jo satie, siapa yang melanggar akan dimakan biso kawi di atas dunia, dimakan kutuk Kalammu`llah pada akhirat dan disudahi dengan doa selamat.
Semenjak itu muncul beberapa pepatah petitih, yaitu syarak mandaki, adaik manurun; syarak lazim, adaik kawi; syarak babuhue mati, adaik babuhue sintak; syarak balindueng, adaik bapaneh; syarak mangato, adaik mamakai; syarak batilanjang, adaik basisampieng.

Versi kedua yaitu Piagam sumpah satie Bukit Marapalam masa awal gerakan/perang Paderi. Gerakan Paderi yang diilhami oleh kebangkitan Islam oleh kaum Wahabi di Tanah Suci, Arab Timur. Paham Wahabi berkembang sampai ke Minang secara radikal dan pendukungnya hendak mengembalikan kemurnian Islam secara revolusi. Mereka disebut kaum Paderi yaitu orang dari kota pelabuhan di Pidie, Aceh. Daerah pertahanan yang strategis bagi kaum Paderi adalah puncak Bukit Marapalam. Namun mereka khawatir korban bertambah di kalangan masyarakat. Kaum Paderi menggagas perjanjian dengan kaum adat. Datuk Bandaro berinisiatif menemui Datuk Samik untuk menyetujuinya. Kesepakatan mereka dilaporkan kepada Datuk Surirajo Maharajo di Pariangan. Mereka berhasil mengeluarkan Piagam sumpah satie Bukik Marapalam yaitu ABSSBK.

Versi ketiga yaitu Piagam sumpah satie Bukit Marapalam masa awal perang Paderi sekitar tahun 1803-1819. Kedua pihak yang berperang sama-sama kuat. Namun kaum Paderi sering melakukan serangan mendadak ke nagari-nagari. Benteng pertahanan mereka sekitar jalan bukit Marapalam ke Lintau diparit tinggi dan melingkar. Kaum adat melirik bangsa Eropa (Belanda) untuk mendapatkan dukungan sehingga terjadi perang Paderi. Korban berjatuhan diketiga pihak yang berkepentingan. Melihat kejadian itu yang lebih menguntungkan Belanda, maka muncul kesadaran beberapa kaum adat untuk berdamai dengan ulama Paderi dan bersatu melawan Belanda. Tersebutlah Datuk Bandaro wakil golongan adat dan Tuanku Lintau sebagai tokoh yang memprakarsai perjanjian itu di Bukit Marapalam. Fakta sosial membuktikan bahwa Tuanku Lintau yang mengkonsep, mengatur, dan menjalankan ABSSBK.

Versi keempat yaitu Piagam sumpah satie Bukit Marapalam masa vacum perang Paderi. Kaum Paderi menganggap kaum adat dan Belanda sebagai kafir yang harus diperangi. Strategi Belanda yaitu mengalihkan pasukannya menghadapi Perang Diponegoro di Jawa, sementara Belanda pura-pura berdamai dengan kaum Paderi, namun antara ulama dengan kaum adat belum juga berdamai. Melihat strategi Belanda maka kaum Paderi juga melakukan rekonsiliasi dengan kaum adat untuk menambah kekuatan dengan sebuah perjanjian. Pelopor dari kaum adat yaitu Datuk Bandaro dan dari Paderi (sekaligus yang mampu menanamkan ajaran Islam kepada mereka) adalah Tuanku Lintau. Pertentangan mulai reja semenjak perjanjian itu, namun pertentangan masih terasa antara para datuk dari Nagari Saruaso dan Batipuh.

Versi kelima yaitu Piagam sumpah satie Bukik Marapalam masa Perang Paderi II. Strategi perang Belanda berhasil, terbukti dengan kekalahan Diponegoro dan kemudian jatuhnya benteng pertahanan Paderi Lintau di puncak Bukit Marapalam bulan Agustus 1831. Berturut-turut jatuhlah ke tangan Belanda benteng di Talawi, Bukit Kamang dan kekuatan Tuanku Nan Renceh. Semua Paderi di Agam jatuh ke tangan Belanda akhir Juni 1832. Mereka telah terlanjur diadu domba oleh Belanda dengan adanya konflik agama dan adat. Namun sebelum Bukik Marapalam jatuh ke tangan Belanda, antara kaum adat dan agama telah berunding yang menghasilkan piagam sumpah satie tersebut. Kembali disebut-sebut Tuanku Lintau sebagai pemerakarsanya.

Versi keenam yaitu Piagam sumpah satie Bukik Marapalam pada akhir perang Paderi. Setelah kekalahan Paderi Belanda bisa menguasai Minang. Belanda mulai merubah tatanan sosial masyarakat. Mereka mengangkat Penghulu Bersurat untuk kepentingan administrasi dan untuk urusan pemungutan pajak. Nagari-nagari yang otonom di Minang mereka jadikan bagian wilayah Administratif Pemerintahan Hindia Belanda. Namun kekhawatiran masyarakat Minang terhadap Belanda yang utama adalah pandangan bahwa mereka orang kafir, sehingga ada kecemasan terjadinya perubahan struktur sosial dan nilai-nilai agama dalam masyarakat. Upaya mengantisipasi hal itu adalah memperkuat persatuan kaum adat dan ulama dengan mencetuskan piagam sumpah satie tersebut. Keenam versi tersebut terdapat kelemahan dan memperkuat keyakinan tentang peristiwa di Bukit Marapalam itu. Ketidakjelasan informasi tentang peristiwa Piagam sumpah satie Bukit Marapalam telah menggagalkan rencana Pemerintah Daerah Sumatera Barat membangun tugu Sumpah Satie Marapalam di daerah tersebut.

Sebelum Islam masuk ke Minangkabau, orang Minang memanfaatkan alam sebagai sumber ajarannya. Mereka menggali nilai-nilai yang diberikan alam. Ini diungkapkan dalam filsafat orang Minangkabau alam takambang jadi guru. Ketika agama Islam masuk, adat di Minangkabau secara hakikinya tidak bertentangan dengan ajaran syarak dalam agama Islam, karena alam yang telah dijadikan pedoman hidup masyarakat Minangkabau adalah ciptaan Allah semata. Itulah sebabnya ketika Islam masuk langsung diterima oleh orang Minangkabau. Maka, kalaupun dalam sejarah, timbulnya Perang Paderi tidak semata karena disebabkan pertentangan kaum adat dan kaum agama (Islam), akan tetapi karena pemurnian ajaran syarak di dalam pelaksanaan adat semata, sebagai akibat dari amar makruf nahi munkar. Akan tetapi pemerintahan kolonial Belanda, memakai peristiwa ini sebagai alat politik adu domba.

Namun pada tahun 1811 penguasa adat di Minangkabau, yakni Sultan Begagarsyah mempermaklumkan perang bahu membahu antara seluruh masyarakat anak nagari di Minangkabau, melawan pemerintahan kolonial Belanda. Kaum adat dan kaum agama menyatukan pendapat dalam pertemuan pangulu tigo luhak beserta para ulamanya. Pertemuan ini melahirkan Piagam Bukik Marapalam yang menegaskan bahwa antara adat dan Islam tidak bertentangan. “Adat bapaneh, syarak balinduang”, “Syarak mangato, adat mamakai”. Adat bapaneh, syarak balinduang maksudnya adat bagaikan tubuh, agama sebagai jiwa. Antara tubuh dan jiwa tidak bisa dipisahkan. Syarak mangato, adat mamakai maksudnya syarak memberikan hukum dan syariat, adat mengamalkan apa yang difatwakan agama. Kesimpulan piagam ini lazim disebut adat jo syarak sanda-manyanda, kemudian lebih dikenal lagi dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Semenjak Aceh di bawah Sultanat Tajul Alam Shafiathuddin Syah menguasai Pantai Barat Sumatera dari tahun 1641-1675 M, Sultan nan Salapan dari Pagarruyung diperintahkan turun ke Aceh, Bantam, Palembang, Jambi, Indragiri, Siak, Rokan, Sungai Pagu, Indrapura, dan Pariaman untuk menjadi raja dan berdakwah. Mereka juga yang menyampaikan buek parbuatan (piagam sumpah satie Bukik Marapalam) kepada masyarakat di alam Minang. Kepergian Sultan nan Salapan dilepas oleh rajo-rajo (raja-raja), manti-manti, Basa Ampek Balai, penghulu-penghulu, tuanku-tuanku dan para hulubalang yang diundang dari Luhak nan Tigo. Mereka yang diundang sekaligus ditugaskan menyebarkan piagam sumpah satie itu. Ketika itu Pagarruyung telah diperintah oleh Sultan Ahmadsyah gelar Tuanku Rajo nan Sati yang dilewakan dengan gelar tambahan yaitu Raja Alif. Dialah raja Pagarruyung yang pertama bertugas menyebarluaskan piagam sumpah satie tersebut.

Sumber : Buya Maso’ed Abidin
http://palantaminang.wordpress.com

Naskah Otobiografi Syekh Djalaluddin Faqih Saghir (1161 H/1748 M-1180 H/1766 M) - Bagian Pertama

Oleh: Rusydi Ramli & Muhammad Ilham

Sumber : Rusydi Ramli, Gerakan Paderi Versi Pelaku : Bedah Naskah Syekh Jalaluddin Faqih Saghir, Padang: IAIN Press, 2001

::: Transkripsi Naskah (hal. 1 - 7 dari 79 halaman)

Mukaddimah


Alamat surat keterangan daripada saya Fakih Saghir `Alamiyat Tuanku Samiang Syekh Jalaluddin Ahmad Kota Tuho jua adanya wa Allah : Wabihi nasta`ina bi `inayati yaitu cerita yang dimulai dangan* perkataan yang fasihat, yang terbit daripada hati yang suci lagi haning* lagi* jernih, dituliskan dangan faal yang khalas daripada segala ihwal, dipesertakan dangan muka yang manis lagi dihiasi dangan sebaik2 mukadimah, serta baik nazam dan tertib seperti intan yang ditatah dangan lembaganya lagi dipersalokan* dangan seindah2 johar dan mutiara; dikeluarkan dangan perkataan yang tidak kazib dan khianat hanya semata2 khilaf dan lupa, dan perkataan yang sedikit2 adanya.

Asal Mula Kembang Ilmu Agama di Pulau Andalas

Bahwa inilah cerita daripada saya, Fakih Saghir `Alamiyat Tuanku Samiang Syekh Jalaluddin Ahmad Kota Tuho adanya. Akan halnya cerita ini peri menyatakan asal kembang ilmu syari`at dan hakikat, dan asal teguh larangan dan pegangan, dan asal berdiri agama Allah dan agama Rasullah daripada awalnya lalu kepada akhirnya, lalu kepada perang hitam dan putih hingga keluar Kompeni Wolanda ke Tanah Darat ini adanya. Maka adalah saya, Fakih Saghir, mendengar cerita daripada saya punya bapa´, sebabnya saya mengambil pegangan ilmu hakikat. Karena cerita ini adalah ia setengah daripada adab dan tertib wara` orang mengambil petuah jua adanya. Ya`ni adalah seorang aulia Allah yang kutub,* lagi kasyaf,* lagi mempunyai keramat, yaitu orang Tanah* Aceh, Tuan Syekh Abdul Rauf orang masyhurkan. Telah ia mengambil ilmu daripada Tuan Syekh Abdul Kadir al-Jailani. Itu pun ia mengambil tempat di negeri Medinah, tempat berpindah* Nabi kita Muhammad Rasullah sallallahu `alaihi wasallam, yaitu bimbing mehafazkan ilmu syari`at dan hakikat; ialah menjadi pintu ilmu sebelah pulau Aceh ini.

Maka telah disampaikan Allah maksudnya itu, maka disuruhlah oleh Tuan Syekh Abdul Kadir al-Jailani mengembang ilmu itu ke negeri pulau Andalas bumi Sumantera ini. Maka digarakkan* Allah berlayarlah ia di kepala tempurung menjalang* negeri Aceh adanya. Maka kemudian dari itu turunlah ilmu tarikat ke nagari Ulakan kepada aulia Allah yang mempunyai keramat lagi memunyai darjat yang a`la, ialah pergantungan ilmu tahkik, ikutan dunia akhirat oleh segala makhluk yang sebelah tanah ini.

Maka berpindahlah tarikat ke Paninjauan lalu kepada Tuanku di Mansiang nan Tuho sekali2, serta ia memakaikan tertib majlis lagi wara` seperti Tuanku di Ulakan jua halnya. Maka dimasyhurkan orang pula Tuanku nan Tuho dalam nagari Kamang. Ia telah mehafazkan ilmu alat. Dan Tuanku di Lembah serta Tuanku di Puar yang mempunyai keramat, yang beroleh limpah daripada Tuanku di Paninjauan, orang Empat Angkat jua adanya. Maka ada pula Tuanku ditompang di Tanah Rao datang di negeri Mekah Medinah membawa ilmu mantik dan ma`ni. Maka berpindah pulalah ilmu itu kepada aulia Allah yang kasyaf lagi keramat* `Alamiyat* Tuanku nan Kecil dalam nagari Kota Gadang adanya. Maka ada pula lagi Tuanku di Sumani´ datang di negeri Aceh mehafazkan hadith dan tafsir dan ilmu fara´id. Telah masyhur ia dalam Luhak nan Tigo ini adanya. Adapun asal ilmu saraf ialah Tuanku di Talang dan asal ilmu nahu yang tiga itu ialah Tuanku di Selayo yang sangat alamiyat ahlul-nuhat yang ada keduanya dalam nagari Kubung Tigo belas adanya. Adapun saya, Fakih Saghir, adalah saya bertemu dangan Tuanku di Mansiang nan Tuho sekali2 dan Tuanku nan Keramat dalam nagari Kota Gadang pada masa umur saya kecil; dan Tuanku di Sumani´ serta saya mengambil ilmu pula adanya.

Tuanku Nan Tuo, Perhimpunan Ilmu Agama


Fihak kepada Tuanku nan Tuho dalam nagari Kota Tuho, ialah mengambil ilmu daripada Tuanku di Kamang, dan Tuanku* di Sumani´, dan Tuanku di Kota Gadang, dan Tuanku di Mansiang nan Tuho sekali, dan Tuanku di Paninjauan jua. Maka berhimpunlah ilmu mantik dan ma`ni, hadith dan tafsir, dan beberapa kitab yang besar2 dan sekalian yang pehasilkan ilmu syariat dan hakikat kepada Syekh kita Tuanku nan Tuho dalam nagari Kota Tuho semuhanya. Maka telah masyhurlah khabar Tuanku ulama yang kasyaf mehafazkan sekalian kitab, mehimpunkan sekalian faidah ilmu syariat dan hakikat, dan menyatakan perbedaan antara kafir dan Islam. Maka sebab itu banyaklah orang yang rindu dendam datang ke nagari Kota Tuho mengambil ilmu, mehafazkan sekalian kitab dan meminta´ petuah keputusan ilmu syariat dan hakikat. Maka ramailah tiap2 dusun dan puriah* dalam nagari Empat Angkat dan sukar mehinggakan ribu dan laksa luhuk dan lahak. Maka banyaklah orang yang jadi alim dan ulama yang kasyaf dalam Luhak nan Tigo ini, lalu ke Tanah Rao dan tiap2 taluk rantau dan sekalian nagari dalam pulau Aceh ini. Semuhanya itulah asal kembang ilmu dalam tanah ini adanya.


Kelakuan Orang Agama


Fihak kepada kelakuan orang agama semuhanya, ialah mengerjakan lalim aniaya, menyamun dan menyakar, melaka´ dan melakus, maling dan mencuri, menyabung dan bejudi, minum tuak dan minum kilang, memakan sekalian yang haram, merabut dan merampas, tidak* berbezo halal dan haram, larangan dan pegangan, dan mau berjual orang; dan jikalau ibunya dan syaudaranya* sekalipun, dan banyaklah orang dagang dirampasnya dan dijualnya. Itu pun Tuanku nan Tuho mendirikan larangan dan pegangan serta Tuanku2 yang lainnya. Maka sebab banyak orang terjual dan dirampas orang serta lama zaman, maka sangatlah lalah payah Tuanku menuntut orang nan terjual dan orang nan kena´* rampas itu. Dan banyaklah silang selisih, gaduh2 kelahi, dan bantah* dan berparang2; tetapi tidak me´alahkan nagari adanya.


Tuanku Nan Tuo, Pernaungan Anak Dagang


Saya Fakih Saghir seperti demikian pula, sebab ada jua saya menurut daripada saya punya* bapa´. Lagi saya dijadikan kepala bermulut oleh Tuanku2 nan Tuho* beperda`wakan orang nan ditangkap orang dan orang nan dirampas. Di mana-di mana larangan itu dibinasakan orang. Dan serta lama zaman berapa berapalah orang dagang dirampas orang dan ditangkap orang tidak jua boleh hilang melainkan kembali jua hanya, dan berhutang jua orang nan menangkap dan orang nan rampas itu, atau dialahkan kampungnya atau diparangi nagarinya. Maka sebab itu sangatlah takut orang menangkap orang dagang dan orang menjalang dia. Dan jikalau kanak2 yang kecil dan perempuan dan masuk nagari yang berlawanan sekalipun tidak jua boleh cala binasa adanya. Maka sempurnalah teguh larangan pegangan orang dagang dan orang memakaikan sembahyang. Dan jikalau fakir yang hina sekalipun dan syantosalah* ia pergi dan datang dan perjalanannya ke kiri dan ke kanan ke mana ke mana ia pergi dalam Luhak nan Tigo ini dan sekalian taluk rantau lalu ke tanah Rao jua adanya. Itulah asalnya orang dagang dan orang memakaikan sembahyang, larangan, `alim namanya. Maka terlebih sangatlah masyhur Tuanku nan Tuho ulama yang pengasih lagi penyayang, tempat pernaungan segala anak dagang, ikutan segala sidang imam syari`at ahlulsunah dan ahluljamaah sultan alim* aulia´ Allah `alaihi al-darajat wa-l-ratibat fi'ddarain.


Fakih Saghir-Tuanku Nan Renceh Mufakat Menegakkan Agama

Maka dalam masa itu jua, adalah saya, Fakih Saghir, berhimpun dangan Tuanku nan Renceh dalam mesjid Kota Hambalau di nagari Candung Kota Lawas jua adanya. Telah saya duduk bersanang2 mehafazkan ilmu fiqh. Itu pun saya telah dimasyhurkan orang pandai memafhumkan ilmu fiqh pada masa saya muda umur sekali2. Maka sebab itu banyaklah orang berhimpun2 kepada tempat itu, mengambil ilmu mehafazkan kitab fiqh itu, karena ilmu yang terlebih dikasihi pada masa itu ialah ilmu fiqh.


Maka sebab beberapa kali tamat saya me´ajarkan ilmu fiqh itu, mengertilah saya apa2 perkataan yang sabit dalam kitab itu, ya`ni ialah mensucikan segala anggota daripada najis dan lata, dan memandikan sekalian badan daripada segala hadnya; dan wajib atas Islam mendirikan rukun yang lima itu, yaitu me`ikrarkan kalimat yang dua patah serta mentasdikkan dia, dan mendirikan sembahyang yang lima* pada segala waktu,* dan mendatangkan zakat* kepada segala fakir dan miskin, dan puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji atas kuasa, dan menyatakan berjual dan memali* dan yang harus dijual dan dibali,* dan menyatakan sendiri dan besyarikat, dan menyatakan sekalian akadnya sahnya dan* batalnya, dan menyatakan membahagikan arta kepada segala warisnya, dan menyatakan nikah dan idah serta segala akadnya, dan wajib nafakah atas perempuan dan atas segala karib, dan menyatakan segala hukum sahnya dan batalnya, dan mehukum antara segala mahanusia dangan adil, dan menyuruh mereka itu dangan berbuat baik dan menagah daripada berbuat jahat. Inilah setengah kenyataan perkataan yang sabit dalam ilmu fiqh adanya. Maka sebab itu jua digarakkan Allah terbitlah dalam pikir hati saya, Fakih Saghir, yaitu hendak mendirikan agama Allah dan agama Rasullah, dan membaiki tertib dan wara`, dan membuangkan sekalian perbuatan yang jahat dan perangai yang kaji,* dan berbaiki tempat dan mesjid dan sekalian pekerjaan yang dik.´.f.n.y* syara` pula adanya. Maka setelah itu jua mufakatlah saya dangan Tuanku nan Renceh hendak mendirikan pekerjaan itu. Itu pun* Tuanku nan Renceh terlebih sangat berahi dan berapa2 kali mufakat, beria2* jua sambil duduk bersanang2 mehafazkan ilmu. Pada masa itu ia lai* dimasyhurkan orang dangan Khatib Jobahar* adanya (Bersambung .... )

Naskah Otobiografi Syekh Djalaluddin Faqih Saghir - Bagian Kedua

Oleh : Rusydi Ramli & Muhammad Ilham

Tuanku Nan Renceh Pulang ke Kamang

Maka telah lama sedikit antaranya, maka Tuanku nan Renceh kembali pulang ke nagarinya. Telah ia menegahkan orang mengambil tuak dan meminum dia. Telah ada pula seorang lagi Tuanku menanti, Malin gelarnya. Iapun suka lagi kuat lagi berani, sempurna pehaluan mendirikan pekerjaan itu. Ia bersama2 menegahkan orang meminum tuak, dan menyuruhkan orang sembahyang. Maka sebab itu terbitlah kelahi dan bantah, tetapi tidak dangan parang, hanya semata2 gaduh2 saja baharu. Maka dimasyhurkan oranglah seorang Tuanku nan Gapu´ dan seorang pula Tuanku nan Renceh, sebab kecil tubuhnya. Itu pun Tuanku nan Renceh mehimpunkan tempat mesjidnya dan membaiki tempat supaya nak berahi hati mendirikan agama, serta ia berkekalan menyuruhkan orang sembahyang jua adanya.

Madrasah Fakih Saghir Diserang


Saya, Fakih Saghir, pun seperti demikian pula. Adalah saya mendirikan jema`at berempat orang; seorang saya, dan bapa´ saya, seorang pula orang lainnya, serta saya punya syaudara, ialah nan dimasyhurkan orang* Tuanku di Kubu Sanang. Pada masa itu ia lai bernama Khatib Jobahar. Maka bersungguh2lah saya menyuruhkan orang sembahyang hingga sampai berdiri jema`at dua belas orang, dan menyuruhkan orang menunaikan zakat serta membahagikan kepada segala fakir dan miskin. Pada masa dahulu ada jua orang menunaikan zakat tetapi sedikit2; tidak dibahagikan antara segala fakir dan miskin, melainkan dihimpunkan saja supaya diambil faidah barang apa2 maksudnya, dan menyuruhkan orang maulud akan nabi salla l-lahu `alaihi wasallam* serta membaiki tertibnya, dan tertib orang memakaikan agama Islam.


Sebab banyak2 terbit hujat dan burhan daripada saya banyaklah asung fitnah dalam nagari, dan banyak* pulalah bantahan mereka itu. Maka jadilah saya dibuangkan orang, dan berapa2 kali disarangnya* saya punya mendrasah.* Dan karena sangat karas* bantahan mereka itu, sangatlah lahir benar pekerjaan agama, dan banyaklah orang memakaikan agama Islam. Dan masyhurlah pekerjaan itu kepada tiap2 nagari serta ia mengambil dalil akan hukumnya. Sungguhpun ada pekerjaan seperti demikian semuhanya Tuanku nan Tuho jua menjadi tiang sendi adanya.


Haji Miskin Pulang Dari Makkah


Maka sekira2 empat tahun lamanya mendirikan agama itu, digarakkan Allah datanglah Tuanku Haji Miskin di negeri Mekah Medinah. Kemudian sempurna hajinya, ia mendapat ke nagari Batu Tebal, sebab ada masa dahulu, sebalum ia pergi haji, adalah ia diam pada nagari itu, karena ia mengambil ilmu daripada saya punya bapa´ masa dahulunya. Maka daripada karena banyak mendengar khabar daripada hal pekerjaan orang Mekah Medinah, bertambah2lah berahi hati mendirikan agama Allah dan agama Rasullah, dan bersungguh2lah orang mendirikan sembahyang hingga sempurna jema`at empat puluh orang.
Maka telah lama sedikit antaranya, pulanglah Tuanku Haji Miskin ke nagari Pandai Sikat, dan bersungguh2 ia mendirikan agama serta ia berbaiki tempat adanya. Maka terlebih sangat pulalah masyhur pekerjaan Tuanku Haji Miskin, dan banyaklah orang mendirikan agama pada barang mana nagari adanya. Maka daripada mula2 pulang Tuanku Haji Miskin di negeri Mekah Medinah hingga orang ketumbuhan banyak habis, sembilan tahun kamariah lamanya.

Haji Miskin Pindah ke Luhak Lima Puluh, Tuanku Nan Tuo Dilarang Masuk Aia Tabik


Kemudian maka berpindahlah Tuanku Haji Miskin kepada Luhak Lima Puluh.Telah ia mengambil tempat di dalam mesjid Sungai Landai namanya dalam nagari Air Terbit jua adanya, serta ia bersungguh2 mendirikan agama Allah dan agama Rasullah. Maka lama sedikit antaranya, banyaklah asung fitnah dalam nagari itu, karena ia hendak meminasakan pekerjaan Tuanku Haji Miskin jua maksudnya. Maka sebab itu pun Tuanku nan Tuho berjalan menjalang Tuanku Haji Miskin akan menolong pekerjaannya itu, supaya nak karas agama Allah dan agama Rasullah, serta beberapa orang mengiringi, sekira2 empat puluh orang banyaknya. Maka tempo Tuanku nan Tuho datang hampir nagari Air Terbit itu, maka ditegahkan oranglah Tuanku masuk ke dalam nagari itu, karena sangatlah takutnya kepada Tuanku adanya. Dan adalah masa dahulu Tuanku nan Tuho me´alahkan nagari Taram namanya, sebab ada Tuanku2 dalam nagari Taram itu menyalahi ilmu Tuanku di Ulakan jua adanya.


Itulah sebab sangat takut orang Air Terbit dimasuki nagarinya. Itu pun Tuanku nan Tuho berkeliling ke nagari Mungo Handalas namanya. Maka berhimpunlah ke sana tiap2 nagari dalam Ranah Lima Puluh, serta Tuanku di Luhak pula adanya ialah menolong pekerjaan Tuanku nan Tuho, sebab ada ia mengambil ilmu masa dahulunya. Maka tetaplah Tuanku pada nagari itu sekira2 empat hari lamanya, dan banyaklah daya dan upaya menegahkan Tuanku masuk ke nagari Air Terbit itu jua.
Maka daripada menilik sangat sukar pekerjaan itu, terbitlah dalam fikir hati saya, Fakih Saghir, maka kata saya, "Wah Tuanku, ampunlah saya di bawah tapak kaki Tuanku. Fihak kepada pekerjaan kita ini sangatlah karasnya. Tidak sepatubnya* orang punya bicara seperti demikian, fikir hati saya. Sekarang seboleh2nya hendaklah Tuanku maafkan, biarlah saya punya bicara." Itu pun Tuanku memaafkan pula sekarang itu jua adanya. Maka kata saya, "Fakih Saghir memohonkan ampun", serta saya berdiri mendatangkan sembah seperti adat orang Melayu jua halnya, ya`ni, "Ampunlah saya kepada Penghulu2 dan Tuanku2, Imam dan Khatib, dan segala pilih* hulubalang dalam Luhak Ranah Lima Puluh ini semuhanya. Adapun Tuanku datang sekarang ke nagari ini bukan berbuat hiru hara kejahatan,* melainkan menyuruhkan kamu berbuat baik dan menagahkan* kamu berbuat jahat, dan beperdamaikan kamu daripada kelahi dan bantah, dan menyusun mufakat kamu orang Lima Puluh supaya nak sanang mereka itu semuhanya. Itulah halnya. Maka bagaimanalah* bicara kamu. Tidak sepatubnya pekerjaan kamu seperti ini rupanya. Adakah tidak tahu kamu akan bahwa sungguhnya Syekh kita ini aulia Allah Sultan Alam namanya? Dan tidak pulakah tahu kamu akan besar keramatnya dan bekas kerajaannya?"

Maka tidak suatu jua jawab daripada mereka itu semuhanya, melainkan semata2 gaduh2 daripada sangat takut dan gemetar* tulang, sebab nagari akan binasa saja hal adanya.
Hanya kata berkata sama sendirinya, yaitu kata mereka itu, "Sekarang kini jua sebab perkataan Fakih Saghir ini, hampirlah binasa nagari kita ini semuhanya, seperti nagari Taram masa dahulunya pula halnya." Itulah sebabnya saya dinamai orang Fakih Saghir pula adanya. Sekarang itu pun Tuanku berdiri* hendak berjalan ke nagari Air Terbit. Sekalian mereka itu pun berganding2 di kiri* dan di kanan serta hiru2 hati mereka itu semuhanya. Setelah disampaikan Allah Tuanku hampir nagari Air Terbit itu pun, keluarlah orang nagari Air Terbit itu semuhanya, serta ia membawa alat persembahan; dalamnya itu beberapa hadiah dan sedekah. Setelah sampai* mereka itu* di hadapan Tuanku sekalian, mereka itu pun sujud semuhanya, ialah menyusun jari nan sepuluh, menjujung* tapak kaki Tuanku, serta ia memohonkan ampun.

Maka kata seorang yang arif bijaksana, "Wah Tuanku, ampunlah kami di bawah tapak kaki duli hadirat Tuanku. Segala salah beribu kali ampun, segala* kafir beribu kali* tobat. Tuanku jua mempunyai maaf. Apa2 Tuanku punya hukum, kami pun suka menurut. Tidak kami mendalih mendarita lagi. Dan jikalau mengucap kalimat yang dua patah dan memakaikan syariat Islam sekalipun, telah kami sukakan jua semuhanya." Sekarang itu pun Tuanku telah memaafkan serta ia meminta´kan doa kepada Allah dan kepada Rasullah, itulah halnya. Ketika itu jua Tuanku pun diangkat orang persilaan lalu berdiri hendak berjalan, serta mereka itu semuhanya lagi bersuka2 serta bersanang fihak perjalanannya. Maka setelah sampai Tuanku serta mereka itu masuk ke dalam nagari Air Terbit dan tidak melihat mereka itu apa2 pekerjaan hiru hara kejahatan, suka2lah hati mereka itu semuhanya dan kata berkata sama sendiri mereka itu, yaitu, "Sebaik2nyalah kita membayar pula dan nazar meminta´ doa selamat kepada Tuhan subhanahu wata`ala, serta kita menerimakan apa2 Tuanku punya hukum adanya."


Maka sebab itu mufakatlah segala penghulu2 dalam nagari itu sekira2 sepuluh hari lamanya, ialah hendak memotong kerbau serta* ia mehasilkan alat jambar hidangan, dan mehasilkan hadiah dan nafakah akan halas* tobat, dan mehiasi tempat dan mesjid, labuh dan tepian, dan tempat permedanan pula adanya. Maka setelah sudah mufakat mereka itu dan lah* hasil pekerjaan mereka itu, maka mereka itu memotong kerbau sembilan ekor banyaknya, serta mereka itu mehimpunkan orang Ranah Lima Puluh barang sekira2 patubnya.*
Pada hari itu jua mereka itu minum dan makan serta mereka itu mehantarkan hadiah dan nafkah akan halas tobat, ialah Tuanku me´ajarkan kalimat yang dua patah. Sekalian mereka itu pun mengucap semuhanya, yaitu kalimat asyhadu an la ilaha illa 'Llah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulu'Llah jua adanya.

Maka setelah sempurna minum makan mereka itu, dan mengucap kalimat yang dua patah serta mentasdikkan dia, lagi suka pula mereka itu menyempurnakan sekalian rukun Islam yang lima itu semuhanya, ketika itu jua mesyuaratlah seorang yang cerdik cendakia* yang lebih canai bilang pandai, ialah Tuan Khatib Betuah, orang Limbukan yang dimasyhurkan orang pada masa itu Engku Besar adanya, ya`ni kesudah2an mesyhuwarat* yang dipersembahkannya itu. "Adapun penghulu nan belima orang serta orang nan lima suku dalam nagari Air Terbit ini dan serta orang nan lima buah nagari yang ada dalam pelintah* penghulu nan belima itu, sekarang kini ialah kami* ‘hitam nan tidak bekuran lai, putih nan tidak behata´* lai’, putih, putih, putih, seputih2nya." Itulah asalnya dapat nama hitam dan putih; tetapi tidak dihadapkan kepada siapa2 yang hitam dan siapa2 yang putih, hanya semata2 me`ibaratkan daripada fihak sangat bersungguh2 menurut hukum Tuanku saja hanya. Kemudian daripada sempurna pekerjaan seperti demikian itu, pulanglah Tuanku nan Tuho ke nagari Empat Angkat. Daripada hal keadaannya duduk bersanang2 tetapi pada masa yang sedikit hal adanya.


::: Transliterasi naskah 71 halaman lagi, lebih lanjut lihat
Rusydi Ramli, Gerakan Paderi Versi Pelaku : Bedah Naskah Syekh Jalaluddin Faqih Saghir, Padang: IAIN Press, 2001 atau hubungi ilhamfadli@hotmail.com dan rusydiramli52@gmail.com

Jumat, 16 Juli 2010

Stempel Datuk Katumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang

Ditulis ulang : Muhammad Ilham (cq. Suryadi)

Umumnya orang Minangkabau – bukan Minang kerbau seperti acap kali ditulis dalam koran Soenting Melajoe pimpinan Mahyuddin Dt. St. Maharadja – mengenal nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Mereka termasuk founding father orang Minang. Nama keduanya disebut-sebut dalam berbagai wacana kebudayaan Minangkabau – dalam tambo, dalam cerita rakyat, dalam pidato adat dan pasambahan, dalam kaba, dan mungkin juga dalam mimpi para datuak kita. Konon jejaknya juga dapat dilacak dalam material culture Minangkbau: ada Batu Batikam di Batusangkar, sebagai ‘bukti arkeologis’ percanggahan ideologis yang amat prinsipil antara kedua mamak muyang orang Minang itu: yang satu hendak menegakkan sistem otokratis (ketek babingkah tanah, gadang balingkuang aua [Laras Koto Piliang]), yang lain hendak menerapkan sistem demokratis (titiak dari ateh, bosek dari bumi [Laras Bodi Caniago]). Kata pakar pernaskahan Minangkabau dari Universitas Andalas, Dra. Zuriati M.Hum, kepada saya, tongkat kedua datuak kita itu ditemukan di Solok. Tongkat itu sudah berdaun. Ondeh! Sedangkan almarhum Anas Navis dalam salah satu artikelnya di www.ranah-minang.com menulis bahwa kuburan kedua datuak kita itu yang juga ditemukan di Solok. Wallahualam! Ini kaba orang yang saya kaba(r)kan, dusta orang saya tak serta.

Lepas dari bukti-bukti setengah mengawang di atas tentang Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, dalam tulisan ini saya membicarakan ‘bukti’ yang lain yang jarang dibicarakan orang Minang. Bukti itu adalah stempel kedua datuak-muyang kita itu. Stempel? Jadi, kedua datuak kita itu pandai menulis? Pandai membaca? Kalau mamak muyangnya tidak pandai tulis-baca, tentu anak cucunya pandai maota saja. Cerita yang kita dengar selama ini mengatakan bahwa Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang memang pintar: pandai mambaco dalam raik, pandai manyurek manilantang.

(Konon) kedua stempel yang gambarnya disajikan di sini adalah stempel (cap) Datuak Katumanggungan dan stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Bentuknya serupa tapi tak sama, seolah mencerminakan ideologi politik keduanya yang sarantak balain dagam. Sumber stempel a dan b adalah naskah Tambo Minangkabau yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, di bawah kode Cod. Or. 1745, halaman ii dan iii. Kemungkinan naskah ini sudah pernah diresek oleh Edwar Djamaris dan M. Yusuf, dua orang pakar pernaskahan Minangkabau. Kolofonnya mengatakan bahwa Tambo ini disalin oleh Bagindo Tanalam [(Su)tan Alam?] Sikutare [Si Kutar?] pada tahun 1824 (Di Pariaman, misalnya, nama Sikutar biasa didengar, sebagai peminangan dari nama Mukhtar; juga kata Ahmad yang menjadi [Si] Amaik; Sahrul yang menjadi [Si] Arun, dll.) Tak disebutkan dimana tempat penyalinan naskah ini (Lihat Wieringa 1998:103). Menurutnya, Tambo ini dimulai dengan cerita tentang nenek moyang orang Minang, Sri Maharaja Diraja, yaitu keturunan Iskandar Zulkarnain, dilanjutkan kemudian dengan kisah tentang kedua originators Minangkabau: Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. On pp. ii-iii the seals of these two rulers are to be found” (Ibid.) Abstrak naskah ini juga dapat dilihat dalam Iskandar (1995: 14); Haji Wan Ali Wan Mamat (1885: 20); dan Juynboll (1899: 245-46). Semula naskah ini adalah koleksi Akademi Delft. Akademi ini ditutup pada tahun 1864, dan koleksi naskah Nusantara yang ada disana dipindahkan ke Perpustakaan Universitas Leiden.

Inskripsi stempel a (Aksara Arab-Melayu/Jawi) adalah sebagai berikut: “Inilah cap Datuk Katemanggungan nan banama Maharaja Diraja.” Di atas dan di bawah stempel terdapat anotasi (keterangan): “Matlab Datuk Katemanggungan jua adanya nan bergelar Sultan Paduka Besar; adapun Datuk Katemanggungan itu ialah nan tuah pada Laras Kota Piliang adanya. Inilah cap besar kepada segala anak cucu Datuk Katemanggungan pada tiap2 lu[h]ak dan laras dan pada tiap2 batang rantau, lalu ke laut nan sedidis, ombak nan be[r]debur.” Inskripsi stempel b, yang juga ditulis dalam aksara Jawi, adalah sebagai berikut: “Inilah Cap Datuk Parpatih Sebatang nan bernama Si Manang Sutan”. Di atas dan di bawah cap terdapat anotasi: “Matlab Datuk Perpatih Sebatang jua adanya nan bernama Si Manang Sutan adanya. Adapun Datuk Perpatih Sebatang itu ialah nan tuah di dalam Laras Bodi Caniago jua adanya. Inilah cap besar kepada segala anak cucu Datuk Perpatih Sebatang pada lu[h]ak dan laras dan pada tiap2 batang rantau, lalu ke laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur jua adanya.” (Lihat juga Wieringa 1998: 104; Gallop 2002: part 1, vol. II, 133).

Teks inskripsi kedua stempel itu, beserta anotasinya, menarik untuk dibahas lebih lanjut. Mudah-mudahan para pakar pernaskahan Minangkabau akan tertarik menelitinya. Saya hanya pandai manatiangkan ide-ide dan persoalan. Misalnya, ada kata matlab yang cukup arkhais. Ternyata juga nama yang disebut adalah “Datuak Perpatih Sebatang”, tanpa kata nan yang umum dikenal oleh orang Minang. Inskripsi stempel itu juga menyebutkan nama lain Datuak Katumanggungan, yaitu Maharaja Diraja ([tak] sama dengan Sri Maharaja Diraja?), dan juga ada gelarnya yang lain, yaitu Sultan Paduka Besar. Sedangkan nama lain Datuk Parpatih Nan Sabatang adalah Si Manang Sutan. Jadi, yang satu punya nama dan gelar lebih banyak daripada yang lain. Boleh jadi ini merefleksikan gradasi otoritas keduanya? Yang jelas dalam wacana budaya Minangkabau memang disebutkan bahwa Datuak Katumanggungan lebih tua daripada Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Akan tetapi, yang paling menarik adalah keterangan “Inilah cap besar kepada segala anak cucu [datuak nan berdua itu] pada lu[h]ak dan laras pada tiap2 batang rantau, lalu ke laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur…”. Interpretasi saya yang daif: redaksi stempel ini tidak diubah-ubah dan sudah turun temurun digunakan dari generasi ke generasi. Stempelnya sendiri (fisiknya) mungkin sudah berkali-kali diganti (stempel pastilah tidak begitu dapat tahan lama). Kata “cap besar” juga mengindikasikan bahwa stempel ini pernah memiliki otoritas dan wibawa yang tinggi, baik di luhak (laras yang tiga) dan rantau yang membentang sampai ke “laut nan sedidis dan ombak nan be[r]debur”.

Seperti telah disebut di atas, Tambo tempat stempel ini ditemukan ditulis tahun 1824. Dengan demikian, umurnya baru kurang lebih 183 tahun. Jadi, kurang logis bahwa stempel ini adalah stempel yang asli yang pernah dipakai oleh datuak kita nan berdua itu. Masa hidup Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Sabatang pastilah berasal dari periode yang jauh lebih lama daripada tarikh itu, setidaknya ketika Gunung Merapi sudah sedikit lebih besar dari telur itik. Timbul pertanyaan lain: bagaimana otoritas stempel itu di masa lalu? Apakah stempel itu dipegang oleh satu otoritas saja atau boleh dipegang oleh beberapa otoritas di Minankabau? Kenapa hanya Or. 1745 saja yang punya stempel itu? Apakah ini dapat membantu kita menelusuri kira-kira dimana Cod.Or. 1745 ditulis atau disalin? Silakan para pakar filologi Minangkabau lebih lanjut memikirkannya.

(c) Suryadi - Padang Ekspres, 1 Juli 2008
:: Stempel (sumber : Leiden Universiteit Belanda)

Rabu, 14 Juli 2010

Naskah Kuno Islam Minangkabau : "Dari Kegiatan Penyuluhan Masyarakat"

Oleh : Muhammad Ilham

Minangkabau dikenal sebagai salah satu epicentrum naskah-naskah Islam klasik di Indonesia. Naskah-naskah tersebut ditulis oleh ulama-ulama terdahulu tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, ajaran, dan syair. Di antaranya berisi tentang ketuhanan, ajaran budi pekerti, sejarah, cerita rakyat (dongeng, legenda), teknologi tradisional, mantra, silsilah, jimat, syair, politik, pemerintahan, undang-undang, hukum adat, pengobatan tradisional, dan hikayat. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, karya-karya ulama daerah itu banyak terlupakan. Naskah-naskah yang mereka tulis hanya sebagian yang berhasil dibukukan. Sisanya, tak sempat disusun menjadi sebuah buku. Karena minimnya perhatian terhadap karya-karya klasik ulama tersebut, sebagian besar hilang dan tak jelas rimbanya. Sebagian lagi, naskah mereka ada yang berada di luar negeri, seperti Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.



Dalam konteks diataslah, maka tim Naskah Kuno Islam Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang menurunkan Tim Penyuluh Pelestarian Naskah Keagamaan Sumatera Barat di Kabupaten 50 Kota beberapa waktu yang lalu. Beranggotakan dosen-dosen muda dan mahasiswa pencinta Naskah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan tentang bagaimana melakukan perawatan terhadap naskah-naskah lama keagamaan yang masih tersimpan di masyarakat. Oleh karena itu sasaran penyuluhan ini adalah masyarakat pemilik naskah di daerah-daerah sentra naskah di Sumatera Barat. Untuk tahun ini FIB-Adab memilih Kabupaten 50 Kota sebagai obyek penyuluhan, karena daerah ini dianggap banyak memiliki peninggalan naskah-naskah keagamaan. Daerah sasaran penyuluhan kali ini adalah nagari Tabek Panjang, Koto Baru Simalanggang dan di nagari Taram (terutama Surau Tuo Taram).



Tim dalam kegiatan ini, disamping melakukan pencerahan terhadap pemilik naskah tentang pemeliharaan dan perawatan naskah, dan pentingnya naskah sebagai warisan budaya lokal, juga membantu pengklassifikasian naskah-naskah sesuai dengan kontennya masing, serta melakukan pendokumentasian naskah-naskah yang ditemui. Dari pengklassifikasian yang dilakukan oleh tim terdapat bervariasi peninggalan naskah yang ditemukan, yaitu a.l. mushaf al-Quran, kitab Tafsir, kitab Fiqh, Mujarrabaat, Maulud al-Barzanji, kitab ilmu Nahu dan lain-lain sebagainya. Dijelaskan juga bahwa hampir semua kitab-kitab itu dalam keadaan rusak, karena kurang terawat.


Kegiatan penyuluhan ini adalah merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang telah dirancangkan oleh Fakultas sejak beberapa waktu yang lalu. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai kontribusi nyata FIB-A dalam rangka pelestarian naskah-naskah keagamaan lokal yang menjadi asset kebudayaan Islam yang sangat berharga. FIB-Adab sebagai fakultas yang membidangi budaya Islam, merasa perlu mengadakan kegiatan penyuluhan ini, karena banyak sekali naskah-naskah lama keagamaan yang tersimpan di masyarakat yang tidak mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya, bahkan akhir-akhir ini ada kecendrungan masyarakat menjual naskah tersebut kepada kolektor luar negeri. Karena itu FIB-Adab untuk beberapa tahun ke depan akan memprogram kegiatan yang sama untuk beberapa daerah yang ada di Sumatera Barat.

(c : Foto by Labor Sejarah FIBA IAIN Padang)

Islam di Minangkabau

Oleh : Irhash A. Shamad
Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Perkenalan pertama Minangkabau dengan Islam, sebagai yang masih diasumsikan, adalah melalui dua jalur yaitu : pertama, pesisir timur Minangkabau atau Minangkabau Timur antara abad ke-7 dan 8 Masehi, kedua, melalui pesisir barat Minangkabau pada abad ke 16 Masehi. Teori jalur timur didasarkan oleh intensifnya jalur perdagangan melalui sungai-sungai yang mengalir dari gugusan bukit barisan ke selat Malaka yang dapat dilayari oleh pedagang untuk memperoleh komoditi lada dan emas. Bahkan diperkirakan sudah ada pedagang-pedagang Arab muslim yang mencapai wilayah pedalaman ini sejak abad ke 7/8 Masehi (lihat : Mansoer, dkk., 1970 : 44-45). Kegiatan perdagangan ini, diperkirakan, adalah awal terjadinya kontak antara budaya Minangkabau dengan Islam. Kontak budaya ini kemudian lebih intensif pada abad ke 13 pada saat mana munculnya kerajaan Islam Samudra Pasai sebagai kekuatan baru dalam wilayah perdagangan selat Malaka. Pada waktu ini, Samudra Pasai bahkan telah menguasai sebagian wilayah penghasil lada dan emas di Minangkabau Timur.

Sedangkan asumsi masuknya Islam melalui pesisir barat didasari oleh intensifnya kegiatan perdagangan pantai barat Sumatera pada abad ke 16 M sebagai akibat dari kejatuhan Malaka ke tangan Portugis. Pada waktu ini, pengaruh kekuasan Aceh Darussalam (pelanjut kekuasan Pasai) sangat besar, terutama pada wilayah pesisir barat Sumatera. Intensifnya pengembangan Islam pada waktu inilah yang --oleh beberapa penelitian,-dijadikan sebagai dasar analisis bagi awal masuknya Islam di Minangkabau dan menghubungkan dengan nama Syekh Burhanuddin Ulakan yang –oleh beberapa penulis- dianggap sebagai tokoh “pembawa” Islam pertama ke wilayah ini. Syekh Burhanuddin adalah murid Syekh Abdur Rauf Singkil, ulama tarikat Syatariyah Aceh. Syekh Burhanuddin dikenal sebagai pembawa aliran tarikat Syatariyah ke Minangkabau untuk pertama kalinya. Tarikat ini kemudian berkembang di Minangkabau dengan persebaran surau-surau Syatariyah yang didirikan oleh murid-murid Burhanuddin sendiri. Jalur pengembangan tarikat Syatariah yang berawal dari pesisir barat ini --oleh beberapa penulis-- sering dijadikan titik tolak kajian tentang Islam di Minangkabau, termasuk pengembangannya ke wilayah pedalaman.

Perkembangan agama Islam di Minangkabau abad ke 17 -19 sangat diwarnai oleh aktifitas beberapa ordo Sufi. Diantaranya yang dominan adalah Syatariyah dan Naqsyabandiyah. Tarikat Syathariyah, sebagai yang disebutkan terdahulu, telah menyebar melalui surau-surau yang didirikan oleh murid-murid Syekh Burhanuddin. Di samping Ulakan sendiri, sentra-sentra tarikat inipun kemudian berkembang di pesisir barat Sumatera Barat dan di beberapa wilayah pedalaman Minangkabau.

Perkembangan tarikat Syatariyah di wilayah pedalaman ini, menarik untuk dicermati, karena peran yang dimainkannya dalam melahirkan gagasan-gagasan yang melampaui batas-batas implementasi ajaran sufistik itu sendiri ; suatu perkembangan yang sangat berbeda dengan daerah pesisir barat, dari mana tarikat ini pada awalnya dikembangkan. Para tokoh sufi pedalaman lebih banyak melibatkan diri dengan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Keterlibatan mereka inilah yang telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan Islam di Minangkabau, bahkan dari sinilah juga, kemudian dalam perkembangannya, telah melahirkan ide-ide pemurnian dan pembaharuan.

Perkembangan aliran sufistik di pedalaman sebagai yang disebutkan, memunculkan asumsi bahwa perkembangan Syatariyah di wilayah pedalaman Minangkabau ternyata melahirkan sintesis-sintesis Islam yang baru sebagai akibat pertemuannya dengan tradisi keislaman yang telah menjadi basis kultural masyarakat di daerah ini, atau mungkin oleh pertemuannya dengan tarikat Naqsyabandiyah, karena tarikat ini juga memperoleh pijakan yang kuat di beberapa daerah pedalaman Minangkabau, bahkan mungkin lebih awal di banding Syathariyah sendiri sebagaimana asumsi yang dikemukakan oleh beberapa penulis (lihat : Dobbin, 1992 :146 ; Azra, 1995 : 291).

Penemuan naskah-naskah keagamaan di Sumatera Barat pada dasa warsa terakhir, menunjukkan kecendrungan beralihnya dominasi jumlah temuan ke wilayah darek (M. Yusuf, 1995), tepatnya bagian timur Sumatera Barat seperti Agam dan 50 Kota. Keadaan ini memberi indikasi baru tentang intensitas pengembangan Islam di Minangkabau melalui jalur perdagangan pesisir timur, karena secara geografis daerah ini lebih dekat dan lebih mudah dijangkau oleh pelayaran dagang di jalur sungai-sungai yang bermuara ke pantai timur Sumatera. Hal yang demikian sekaligus juga akan memperlihatkan satu kemungkinan bagi peran salah satu ordo tarikat (Naqsyabandi) dalam proses perkembangan budaya masyarakat Minangkabau. Kedua indikasi ini paling tidak akan memperkaya temuan tentang jaringan aktifitas intelektual Islam yang selama ini lebih banyak mengungkap tentang besarnya peranan pesisir barat Sumatera dalam penyebaran agama Islam di daerah ini pada tahap awal.

Perkembangan Islam melalui kegiatan sentra-sentra tarikat ini, telah meninggalkan jejaknya melalui naskah-naskah dengan topik-topik yang meliputi hampir semua aspek keislaman. Salah satu kenyataan yang dapat terlihat dari perkembangan sentra-sentra tarikat, baik Syatariyah, maupun Naqsyabandiyah di Minangkabau, ialah praktek pengamalan tasauf dengan menekankan pentingnya syari’ah (Azra, 1995 : 288) dan tidak terdapat indikasi bahwa ajaran tarikat di wilayah ini mengarah pada pantheisme sebagaimana yang terdapat di Aceh pada abad ke 17. Oleh karena itu pemikiran keagamaan yang ditinggalkan oleh kedua aliran tasauf ini tidak hanya berisikan ajaran tasauf semata, akan tetapi meliputi hampir semua cabang ilmu-ilmu keislaman, bahkan upaya pencarian solusi kemasyarakatan dan urusan dunia lainnya memperoleh tempat dalam kajian-kajian mereka, seperti yang dikembangkan oleh Jalaluddin murid Tuanku nan Tuo di wilayah Agam (lihat :Dobbin, 1992:151-152).

Keluasan cakupan implementasi ajaran tasauf di Minangkabau sebagai dikemukakan, memang menarik untuk dikaji, karena kemampuan para tokoh tasauf dalam mentranformasikan inti ajarannya terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan, sehingga keberadaannya sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk kehidupan ekonomi, terutama di wilayah agraris pedalaman Minangkabau. Perkembangan Islam di sini -dalam perjalanannya memang di warnai oleh berbagai konflik keagamaan seperti yang terlihat dalam beberapa episode kesejarahan dalam abad ke 19 dan 20 dan hal ini sering dipandang sebagai suatu keniscayaan sejarah yang dapat dipahami pada akar kultural masyarakat Minangkabau sendiri. Akan tetapi, keadaan konflik ini juga, justru sekaligus memiliki potensi memunculkan berbagai praksis kultural dalam dinamika perkembangan masyarakatnya. Konflik keagamaan yang terjadi, baik antara Syathariyah dan Naqsyabandiyah, maupun antara Naqsyabandiyah dengan golongan pembaharu, telah melahirkan dinamika polemik pemikiran keagamaan yang berimplikasi terhadap intensitas kegiatan intelektual yang ditandai banyaknya dihasilkan naskah keagamaan. Naskah mana tentu tidak bisa diabaikan dalam melihat berbagai aspek kehidupan keagamaan di daerah ini.

Latar depan fenomena keagamaan abad ke 19 dan ke 20, di saat mana lahirnya gagasan-gagasan awal pembaharuan Islam di Minangkabau, tidak dapat dilepaskan dari fenomena historis yang terjadi sejak abad ke 16 atau mungkin sejak abad ke 13 seperti yang diasumsikan sebagai awal kontak budaya Islam di wilayah ini. Kontak awal Islam ini, demikian juga proses serta bentuk konversi terhadap Islam pada tahap-tahap awal itu, tentu akan menjadi salah satu determinan yang memberi warna terhadap berbagai karakteristik yang muncul dalam perkembangan historis masyarakat di wilayah ini. Akan tetapi beberapa penjelasan sejarah yang banyak ditulis, sering memandang fenomena tersebut dari perspektif sosial struktural semata, sehingga kenyataan historis Islam itu sendiri luput diperhatikan. Apalagi pula kenyataan sumber-sumber yang terbatas serta paradigma sejarah yang barat sentris, menjadikan beberapa dimensi dari pengalaman historis agama ini menjadi terabaikan.

Gerakan pembaharuan Islam di Sumatera Barat dimulai ketika Tuanku Nan Tuo bersama murid-muridnya di surau Koto Tuo mengambil peran pemasyarakatan syari’ah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat agraris di wilayah pedalaman pada akhir abad ke-18. Gerakan yang merupakan aksi penataan kehidupan masyarakat dengan norma-norma keislaman pada fase pertama ini berjalan tanpa gesekan-gesekan. Namun pada fase kedua lebih meruncing karena menguatnya resistensi kaum adat. Kalangan adat merasa bahwa otoritas mereka terganggu oleh aksi beberapa kalangan ulama murid Tuanku Nan Tuo yang tidak sabar dalam menjalankan aksi syar’iyyah yang dihadapkan pada praktek-praktek adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Pertikaian adat dan agama yang terjadi pada awal abad ke 19 ini, oleh beberapa penulis – terutama penulis asing--, dianggap sebagai aksi radikalisme yang dibawa dari pusat agama Islam sendiri. Berbagai interpretasi atas konflik inipun kemudian menjadi bahasan ‘menarik’ untuk memberikan gambaran “kelabu” seba-gai militansi golongan Islam dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana kita saksikan pada akhir tahun 2007 yang lalu.

Pertikaian adat dan agama yang terjadi di wilayah pedalaman pada paruh pertama abad ke-19 menjadi “jalan masuk” bagi Belanda ke wilayah ini. Belanda, pada waktu sebelumnya hanya dapat menguasai wilayah pesisir karena kuatnya pertahanan wilayah pedalaman di bawah kaum agama, namun dengan politik “belah bambu”, Belanda mencoba memanfaatkan kedekatannya dengan kaum aristokrasi adat untuk secara berangsur-angsur menguasai wilayah-wilayah mereka sambil menekan golongan Islam. Kaum agama yang telah menguasai banyak nagari di wilayah pedalaman berusaha mempertahankan wilayah mereka dari intervensi asing. Ketika tujuan apa yang ada dibalik kerjasama Belanda dengan aristokrasi adat disadari, maka perjuangan kaum agama ini beralih menjadi perlawanan terhadap penjajahan (disebut : Perang Paderi).

Selain itu, gerakan keagamaan yang telah berlangsung pada peralihan abad ke-18 dan ke-19 juga diwarnai dengan konflik keagamaan antara Syathariyah dan Naqsyabandiah. Setelah berakhirnya Perang Paderi 1837, perdebatan internal seputar paham tarikat ini ternyata tidak makin mereda, meski perhatian pada perbedaan pendapat itu teralihkan pada saat menghadapi musuh bersama. Polemik keagamaan ini kembali meruncing dan bahkan berimplikasi terhadap tumbuhnya motivasi sebagian masyarakat untuk berangkat ke Mekkah memperdalam pengetahuan agama Islam sambil menunaikan ibadah Haji. Kontak kedua kalangan ulama Minangkabau dengan Timur Tengah ini telah membawa pemikiran-pemikiran keagamaan yang sangat berpengaruh bagi perubahan-perubahan sosial di Minangkabau pada waktu-waktu berikutnya.

Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, salah seorang putera Minangkabau yang tidak merasa betah dengan kondisi sosial di daerah kelahirannya ini, mencoba untuk menetap di Mekkah dalam rangka mendalami ilmu-ilmu agama. Ketekunan serta tekadnya yang kuat menyebabkan Ahmad Khatib akhirnya mampu berdiri sejajar dengan ulama-ulama Timur Tengah lainnya, bahkan, dialah ulama asing pertama yang mampu menduduki posisi Mufti mazhab Syafi’i di Mekkah. Banyak kalangan ulama Indonesia yang belajar ke pusat Islam ini dikader langsung oleh Ahmad Khatib sendiri. Kepulangan murid-murid Ahmad Khatib ke Indonesia inilah, --menurut banyak kalangan--, telah memberikan kontribusi bagi pembaharuan keagamaan tahap kedua serta tumbuhnya pemikiran kebangsaan yang menjadi pemicu perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia pada awal abad ke-20. Munculnya generasi baru intelektual Islam Minangkabau pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 ini ternyata mampu menjadi penyeimbang aksi politik etis Belanda yang telah memperluas jalur pendidikan barat bagi masyarakat pribumi. Surau-surau yang menjadi sentra pendidikan anak nagari di Minangkabau memperoleh nafas baru untuk bangkit bersaing dengan sistem pendidikan barat.

Namun, seiring dengan kembalinya generasi baru intelektual Islam yang belajar di Timur Tengah ini ke Minangkabau, tercipta pula sebuah dinamika konflik keagamaan baru yang dipicu oleh munculnya pemikiran baru seputar keterikatan kepada mazhab dan kebolehan berijtihad. Konflik internal kedua ini lebih dikenal dalam sejarah dengan polemik Kaum Tua dan Kaum Muda. Persoalan pertama yang menjadi tema perdebatan kaum ulama ini adalah masalah praktek pengamalan tarikat Naqsyabandiyah yang oleh sebagian ulama pembaharu dianggap banyak yang keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya, seperti praktek wasilah yang dianggap tidak sesuai dengan sunnah (Hamka, 1967:79). Persoalan ini kemudian berkembang kepada masalah yang menyangkut kebolehan ijtihad serta perbedaan pendapat tentang masalah-masalah furu’iyyah lainnya.

Ulama-ulama kedua golongan ini pada dasarnya adalah produk Timur Tengah dan hampir semuanya adalah murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Dari konflik yang muncul ini dapat diasumsikan dua hal : pertama : Ahmad Khatib dalam halaqah pengajian yang diberikan kepada murid-muridnya sewaktu belajar di Timur Tengah, tidak atau belum menyentuh persoalan-persoalan yang menyangkut masalah ijtihad, namun ia tidak melarang sekaligus juga tidak menganjurkan murid-muridnya untuk belajar ke Mesir, di mana gagasan awal pembaharuan Islam ini tumbuh dan berkembang. Kedua : Latar belakang kultural masyarakat Minangkabau yang memelihara konflik sebagai sebuah dialektika dalam rangka melahirkan sintesis pemikiran pemikiran yang dinamis dan progresif. Bagi masyarakat Minangkabau, dinamika konflik diperlukan dan dipelihara agar kehidupan itu tidak menjadi statis, dan pengalaman sejarah juga telah mengajarkan bahwa dinamika konflik di Minangkabau tidaklah mengarah pada disintegrasi. Sebaliknya situasi konflik berpotensi dalam melahirkan tokoh-tokoh Minangkabau pada masa-masa selanjutnya, sebagaimana sejarah masyarakat ini telah membuktikannya. Tokoh pembaharuan keagamaan awal semisal Tuanku Nan Tuo yang alim dan bijaksana sekaligus pedagang ulet berhasil menjadikan hukum Islam sebagai landasan kehidupan masyarakat di pedalaman. Surau Tuanku Nan Tuo banyak melahirkan murid yang alim seperti yang kemudian dikenal dengan Syekh Jalaluddin Faqih Shaghir, atau yang cendikia namun tegas seperti Tuanku nan Renceh, demikian juga murid yang memiliki semangat juang membara semisal Tuanku Imam Bonjol dan banyak yang lainnya. Mereka ini tentulah merupakan produk situasi Minangkabau akhir abad ke 18. Pada akhir abad ke 19 muncul pula tokoh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, yang juga berasal dari daerah pedalaman. Tokoh ini tak kalah penting dari yang disebut terdahulu ; dari halaqahnya telah muncul ulama-ulama kharismatis dan piawai semisal H.M. Thaib Umar, H. Abdul Karim Amarullah, H. Abdullah Ahmad, Syekh Jamil Jambek. Theher Jalaluddin, dan lain-lainnya.

Pendek kata, situasi Minangkabau dengan keunikan kulturalnya telah melahirkan banyak tokoh intelektual dan pejuang yang responsif terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi di zamannya ; tokoh wanita semisal Rohana Kudus, Siti Manggopoh, Rahmah el-Yunusiyyah, Ratna Sari, dan lain-lain dari kalangan wanita di negeri ini, demikianpun di bidang politik kenegaraan seperti Syahrir, Mohammad Yamin, H. Agus Salim, Natsir, Hamka dan lainnya yang terlalu banyak untuk disebut satu persatu. Setidaknya sampai zaman kemerdekaan tokoh-tokoh dalam berbagai bidang telah terlahir dari ranah Minang ini.

Dari catatan sejarah setelah kemerdekaan, kita menyaksikan suatu perubahan yang cendrung memperlihatkan gejala penurunan yang drastis yaitu tidak banyaknya muncul tokoh intelektual sebagaimana waktu sebelumnya. Hingga masa akhir Orde Baru, produk intelektual Minangkabau semakin tidak banyak yang mampu mewarnai khazanah pemikiran di negeri ini, gagasan-gagasan segar dari kalangan intelektual, politisi dan ulama tidak lagi menggema di seantero nusantara ini. Demikian juga dalam bidang pendidikan Islam,--setidaknya dalam tiga dasa warsa terakhir--, madrasah-madrasah jelmaan dari surau-surau yang dulunya didatangi oleh murid dari berbagai pelosok tanah air, untuk sebahagian hanya tinggal nama. Banyak madrasah yang sudah kehilangan tokoh kharismatis, akibat mandegnya proses regenerasi dikalangan mereka. Inilah realitas Minangkabau hingga waktu ini.

Dikutip dari Irhash A. Shamad.blogspot.com © Irhash A. Shamad.

Selasa, 06 Juli 2010

Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1881-1979) : "Pembela Tariqat Naqsyabandiah"

Oleh : Tim Peneliti Naskah Islam FIBA IAIN Padang (Yulfira Riza. cs)
Editor : Muhammad Ilham


Beliau merupakan salah seorang ulama besar Minangkabau, yang hidup dipenghujung abad ke-19 dan paruh terakhir abad ke-20. Dilahirkan pada tahun 1881, dan wafat pada tahun 1979. Memapankan karirnya di Bonjol dengan perguruan (institusi pendidikan) tradisional yang dipimpinnya. Syekh Muhammad Sa'id Bonjol identik dengan PERTI, sebuah organisasi Ulama Tua Minangkabau yang terkenal itu. Teman seperjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli yang juga berkiprah dalam organisasi PERTI. Beliau belajar agama di Mekkah, sebagai halnya ulama-ulama yang sebaya dengan beliau. Secara khusus beliau mengambil tarekat naqsyabandiyah kepada yang mulia Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan yang masyhur dengan panggilan “Angguik Balinduang”. Sehingga beliau menjadi istimewa dalam kajian-kajian tarekat naqsyabandiyah di Minangkabau. Dikenal sebagai pembela tareqat naqsyabandiah serta memiliki perhatian besar terhadap implikasi yang ditimbulkan oleh paham modernisasi terhadap kehidupan beragama.

Selain ilmu-ilmu syari’at yang dipelajari beliau dengan cara bertalaqqi sejak dari surau sampai ke Mekah al-Mukarramah, Syekh Muhammad Sa’id Bonjol sangat terkenal dengan ajaran tarekat dan hakekat, sehingga terkenal lah beliau sebagai seorang mursyid dan Syekh dari tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Karena keistimewaan beliau dalam bidang tasawuf ini, Syekh Sa’id menjadi tokoh besar dalam mengurus bidang Tarekat Sufiyah dalam organisasi PERTI, setelah - tentunya - Syekh Abdul Wahid Beliau Tabek Gadang, syekh Arifin Batu Hampar dan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh, wafat. Tercatat bahwa beliau menjadi salah satu ulama yang mengikuti konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukit Tinggi Pada tahun 1954, dalam membahas karangan Haji Djalaludin (sebagai tersebut dalam Tablighul Amanah : lihat tentang Ayekh Djalaluddin dibawah). Dedikasi Syekh Muhammad Sa’id Bonjol tersebut, dapan kita lihat dari peninggalan-peninggalan beliau, seperti naskah-naskah tua yang saat ini menjadi koleksi Mesjid Bonjol. Walau keberadaannya telah terlebih dahulu ditelusuri oleh Tim Naskah Mahasiswa Sastra Arab, namun belum dilakukan digitalisasi naskah-naskah tersebut secara utuh. Selain itu perlu juga dilakukan suatu usaha untuk menampilkan isi naskah dalam aksara latin, dengan metode transliterasi. Sehingga hasilnya, berupa kekayaan intelektual ulama-ulama masa silam dapat dinikmati oleh pembaca. Bisa jadi hal ini nantinya dapat menjadi pijakan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.


Naskah-naskah berisi tentang kajian tasawwuf dalam bentuk nazham (sya’ir), namun 4 halaman pertama berisi cacatan-catatan khusus. Halaman pertama berisi catatan hari baik mendirikan rumah. Halaman kedua berisi tentang zikir Tarekat Naqsyabandiyah, halaman ketiga berisi tabel menentukan awal bulan hijriyah (ilmu hisab) dan halaman keempat kosong. Baru pada halaman kelima berisi sya’ir Tasawwuf sampai satu halaman sebelum akhir (hal. 60). Satu halaman terakhir berisi cacatan mengenai syarat-syarat membuat azimat (rajah) dan kaifiyah mendirikan rumah. Secara umum naskah berisi tentang uraian amalan dalam Tarekat Naqsyabandiyah, mengenai kaifiyah zikir, rabithah, nafi istbat dan penjelasan mengenai kalimat la ilaha illallahu yang merupakan zikir para salik dalam tarekat Naqsyabandiyah. Sebagai diketahui bahwa Tarekat merupakan salah satu kearifan ilmu Tasawwuf, maka di dalam naskah Tarekat Naqsyabandi ini banyak ditemui ungkapan-ungkapan Tasawwuf sebagai upaya membangun argumen zikir dalam Tarekat Naqsyabandiyah.


Dari uraian teks, dijumpai indikasi bahwa teks ini khusus dibaca bagi murid yang telah lanjut kaji-nya. Naskah (di atas) berisi tentang kajian tasawwuf dalam bentuk nazham (sya’ir), namun 4 halaman pertama berisi cacatan-catatan khusus. Halaman pertama berisi catatan hari baik mendirikan rumah. Halaman kedua berisi tentang zikir Tarekat Naqsyabandiyah, halaman ketiga berisi tabel menentukan awal bulan hijriyah (ilmu hisab) dan halaman keempat kosong. Baru pada halaman kelima berisi sya’ir Tasawwuf sampai satu halaman sebelum akhir (hal. 60). Satu halaman terakhir berisi cacatan mengenai syarat-syarat membuat azimat (rajah) dan kaifiyah mendirikan rumah.



:: Naskah yang diposting hanya sebagian dari naskah asli Syekh Sa'id Bonjol yang telah melalui proses digitalisasi. Proses identifikasi dan inventarisasi sedang berlangsung oleh Tim Peneliti Naskah Islam Minangkabau Fak. Ilmu Budaya - Adab IAIN Imam Bonjol Padang.