Jumat, 14 Mei 2010

Zainuddin Labay el-Yunusi (lahir : 1890) : Sosok Ulama Pembaharu yang Unik

Oleh : Muhapril Musri
Edit : Muhammad Ilham

Keunikannya terletak pada suatu kenyataan bahwa ia tidak mempunyai pendidikan yang teratur dan sistematis, namun mampu melahirkan ide-ide cemerlang dan berhasil menata sistem pendidikan Islam ke arah yang lebih moderen serta mampu pula melahirkan generasi pendidik yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam pada masa berikutnya. Sekalipun Zainuddin Labay produk pendidikan tradisional (surau), namun memiliki wawasan inovatif, dan moderen. Ide-ide pembaharuannya – terkesan – mampu melampaui zamannya. Bahkan pemikiran-pemikiran revolusionernya sering “berseberangan” dengan tradisi sosial masyarakat waktu itu. Ia merupakan sosok ulama, pembaharu dan pendidik umat yang dipandang berhasil dalam menata sistem pendidikan Islam dan menyadarkan kevakuman dinamika umat terhadap ajaran agamanya.

Zainuddin Labay el-Yunusi, lahir di sebuah “rumah gadang” (rumah adat lima ruang) yang terletak di jalan menuju Lubuk Mata Kucing Kenagarian Bukit Surungan, Padang Panjang tahun 1890 M atau bertepatan dengan tanggal 12 Rajab 1308 H. Ia lahir dari pasangan Syeikh Muhammad Yunus al-Khalidiyah dan Rafi’ah. Ayahnya Syekh Muhammad Yunus al-Khalidiyah adalah seorang ulama terkenal, dan memegang jabatan sebagai qadhi di daerah Pandai Sikat. Kakeknya bernama Imaduddin, juga seorang ulama terkenal, pemimpin aliran tarikat Naqsyabandiyah dan ahli ilmu falak (hisab) di daerahnya. Bila ditelusuri lebih jauh silsilah keturunannya dari pihak ayah, maka akan diperoleh suatu gambaran bahwa ia mempunyai hubungan pertalian darah dengan Haji Miskin salah seorang tokoh “harimau nan salapan” dalam gerakan Paderi.

Ibunya bernama Rafi’ah, juga seorang wanita yang taat beragama. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal pada sekolah tertentu, karena waktu itu jenjang pendidikan formal masih tertutup bagi anak perempuan, khususnya di Minangkabau. Akan tetapi ia bisa membaca al-Quran, membaca dan menulis huruf Arab. Ada kemungkinan ini berkat bimbingan kakaknya Kudi Urai, yang sangat menyangi dan memanjakannya. Silsilah keturunan Zainuddin Labay dari pihak ibu berasal dari nagari IV Angkat Candung Agam. Tidak diketahui secara pasti siapa kakek dan buyutnya di pihak ibu. Namun dari data yang diperoleh ternyata bahwa ibunya berasal dari keluarga yang taat beragama juga. Sebab, daerah IV Angkat Candung merupakan daerah tempat lahirnya ulama-ulama besar Minangkabau seperti, Ahmad Khatib, Syeik Sulaiman Arrasuli, dan lain-lain. Dilihat dari garis keturunannya sebagaimana diterangkan di atas, maka nampaklah bahwa Zainuddin Labay, berasal dari keturunan ulama, cendekiawan muslim, taat beragama serta pelopor gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau. Ayahnya, Syeikh Muhammad Yunus, di samping sebagai seorang qadhi di Pandai Sikat, juga tercatat sebagai penganut dan tokoh aliran tarikat Naqsyabandiyah di Minangkabau, mengikuti jejak kakeknya Syeikh Imaduddin yang juga penganut aliran tarikat Naqsyabandiyah.


Ketokohan ayahnya dalam tarikat ini, dapat dilihat dari gelar “khalidiyah” yang dipanggilkan di belakang nama Muhammad Yunus, menunjukkan bahwa dia adalah penganut tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Martin van Bruinssen, mencatat bahwa Syeikh Muhammad Yunus, merupakan salah seorang khalifah tarikat Naqsyabandiyah yang terpenting dan paling berpengaruh di daerah Koto Lawas kenagarian Batipuh.
Latar belakang keluarga, dalam perjalanan karir seorang Zainuddin Labay, sebagaimana di atas, menurut hemat penulis, sangat mempengaruhi keberhasilannya menggapai cita-cita pembaharuan. Suatu fakta yang sulit dibantah adalah pada umumnya mereka yang tampil sebagai ulama dan tokoh agama adalah mereka berasal dari keturunan ulama dan keluarga taat beragama. Beberapa orang di antaranya dapat disebut seperti Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Abdullah Ahmad, Zainuddin Labay, Rahmah el-Yunusi, dan lain-lain. Mereka berasal dari keturunan ulama dan keluarga yang taat menjalankan ajaran agama. Berangkat dari kenyataan ini dapat dikatakan, mereka yang berasal dari keturunan ulama lebih sering mendapat pengajaran berupa penanaman nilai-nilai yang harus dijadikan pedoman di dalam hidup baik ketika ia belajar agama di surau ayahnya maupun ketika mereka berada di lingkungan keluarga, ketimbang mereka yang berasal dari keluarga biasa.

Pendidikan Zainuddin Labay el-Yunusi, sama dengan yang dialami oleh kebanyakan orang Islam seusianya. Pendidikan awal yang dilaluinya tentu saja pendidikan infomal (di dalam keluarga) dan pendidikan agama yang diberikan ayahnya. Pada usia 8 (delapan) tahun, Zainuddin Labay, dimasukkan ayahnya ke sekolah pemerintah (HIS), namun ia hanya belajar sampai kelas IV. Kemudian ia keluar dari sekolah tersebut karena dalam banyak hal ia tidak setuju dengan pola pendidikan kolonial yang tidak akomodatif terhadap pendidikan agama Islam. Setidak-tidaknya, ada dua hal yang menyebabkan Zainuddin Labay keluar dari sekolah pemerintah (HIS). Pertama, di sekolah pemerintah tidak dimasukan mata pelajaran agama karena pihak pemerintah (Belanda), sehingga sekolah terkesan sekuler dan hanya untuk kepentingan duniawi semata. Kedua, bahwa tujuan dari pemerintah Belanda mendirikan sekolah bukan untuk kepentingan rakyat, akan tetapi hanya untuk kepentingan kolonial Belanda itu sendiri, yakni untuk mempersiapkan calon-calon tenaga pegawai terdidik yang akan ditempatkan dalam birokrasi lokal termasuk penyediaan personil dalam urusan tanam paksa kopi. Pengetahuan yang diberikan di sekolah-sekolah pemerintah itu nantinya juga merupakan bagian dari upaya membentuk warga negara yang “baik” dan secar berangsur-angsur mereka juga akan diperbelandakan, dalam arti mencontoh gaya hidup Eropa. Sehingga hasilnya terkesan lebih menguntungkan pihak penjajah. Untuk itu, Zainuddin Labay, memutuskan untuk tidak lagi belajar di sekolah pemerintah tersebut.
Setelah keluar dari sekolah pemerintah, Zainuddin kembali belajar dengan ayahnya memperdalam ilmu-ilmu agama. Waktu-waktu senggang dipergunakan untuk belajar mandiri dan membaca. Masa 2 (dua) tahun belajar dengan ayah tercinta dirasakannya tidak begitu lama, sebab ayahnya dipanggil Yang Mahakuasa. Akibatnya pendidikan Zainuddin terbengkalai di saat ia sedang sangat memerlukan pendidikan untuk masa depannya.

Setelah ayahnya meninggal, Zainuddin Labay sempat menjadi “parewa” (istilah yang diberikan kepada anak-anak yang tidak menentu pekerjaannya). Kerjanya sehari-hari adalah bermain layang-layang, meniup serunai yang terbuat dari batang padi, bersalung, bermain rabab, dan lain-lain sebagainya. Suatu pekerjaan yang sering dilakukan anak-anak yang tidak sekolah. Bila perut terasa lapar, segera pulang untuk makan dan kemudian pergi lagi. Kondisi seperti ini berlangsung selama dua tahun.
Keinginannya untuk belajar agama muncul kembali setelah ia mendengar ada seorang ulama yang sangat dalam ilmunya di Sungai Batang, suatu daerah yang terletak di pinggiran Danau Maninjau. Ulama itu adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), yang baru saja kembali dari Makkah. Tetapi karena daerah “danau” (istilah yang masyhur waktu itu) terlalu jauh dan alat transportasi ke sana sangat sulit, ibu Zainuddin Labay, Ummi Rafi’ah, keberatan melepas anaknya “merantau” (belajar) ke daerah danau tersebut. Sebagaimana diketahui, bahwa alat transportasi yang digunakan pada masa itu hanya bendi. Untuk sampai ke Sungai Batang itu, orang harus ke Bukittinggi terlebih dahulu. Dari sana barulah orang naik bendi ke Sungai Batang setelah melewati “kelok 44” Maninjau. Umumnya orang berangkat ke sana pagi dan sore harinya baru sampai di Sungai Batang. Dapat dibayangkan betapa sulitnya hubungan transportasi ke daerah tersebut, ditambah lagi dengan kondisi jalan yang sangat rawan dan terjal, pada hal jarak antara Bukittinggi dan Maninjau tidak begitu jauh.

Gagal meneruskan pelajaran agama ke “danau”, tahun 1910, Zainuddin Labay, menyampaikan keinginannya untuk pergi belajar kepada salah seorang ulama moderen di Padang, yang bernama Dr. H. Abdullah Ahmad (1878-1933). Keinginan Zainuddin ini diperkenankan oleh ibunya dan ia diberi biaya sebanyak 20 gulden serta bekal hidup lainnya untuk belajar ke Padang. Tapi hanya delapan hari ia belajar dengan Abdullah Ahmad di Padang, kemudian Zainuddin kembali ke Padang Panjang. Biaya 20 gulden yang diberi oleh ibunya untuk biaya dan bekal hidupnya selama menuntut ilmu dibelikannya kepada buku-buku, majalah dan koran-koran berbahasa asing. Agar pendidikan Zainuddin tidak terbengkalai, ibunya menyarankan agar ia pergi belajar kepada Syeikh Abbas Abdullah (1883-1957, di Padang Japang Payakumbuh, seorang ulama yang sealiran dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah dan Dr. H. Abdullah Ahmad. Anjuran ibunya diterima dan kemudian, ia pergi ke Padang Japang Payakumbuh dan belajar di surau Syeikh Abbas Abdullah, dari tahun 1911-1913.


Selama dua tahun Zainuddin belajar di Padang Japang, Syeikh Abbas Abdullah melihat bakat dan kecerdasan yang dimiliki Zainuddin melebihi kemampuan yang dimiliki oleh kawan-kawanya yang lain. Untuk itu ia diangkat menjadi guru bantu. Bahkan tidak jarang terjadi perdebatan sengit antara ia dengan gurunya tersebut dalam hal keilmuan. Karena hal-hal yang belum ia pelajari telah diajarkannya kepada murid-murid yang lain. Sekalipun demikian, Zainuddin tidak lama melanjutkan pelajarannya, karena tahun 1914, ia harus pulang ke Padang Panjang dan tidak kembali lagi ke Padang Japang. Latar belakang pendidikan yang dilalui Zainuddin Labay sebagaimana dipaparkan di atas, memang relatif pendek dan tidak sistematis. Pola pendidikannya yang tidak sistematis dan tidak teratur tersebut menurut hemat penulis, setidak-tidaknya dipengaruhi oleh sikap dan kepribadiannya yang unik namun berpotensi untuk maju. Dikatakan unik, karena dalam proses pendidikan yang dilaluinya, tidak dijalaninya menurut semestinya. Itu terlihat ketika ia belajar di sekolah gubernemen (pemerintah Belanda) hanya sampai kelas IV. Bahkan ketika ia belajar dengan Syeikh Abbas Abdullah (Padang Japang), sempat terjadi kericuhan kecil antara ia dengan gurunya karena tidak mengindahkan peraturan dan disiplin belajar. Belajar dengan Syeikh Abdullah Ahmad di Padang, hanya menghabiskan waktunya selama seminggu kemudian kembali lagi ke Padang Panjang.


Dengan latar belakang pendidikan seperti itu, didukung oleh ketajaman intelektual, keuletan serta wawasanya yang jauh ke depan, Zainuddin dapat merombak kekolotan sistem pendidikan yang sedang berkembang waktu itu. Di atas reruntuhan dan puing-puing kekolotan itu dibangunnya gagasan-gagasan pembaharuan yang kelak membawa perubahan besar di bidang pendidikan Islam. Eksistensi tiga orang guru yang berhaluan moderen, yakni Haji Rasul, Abbas Abdullah dan Abdullah Ahmad, serta peranan mereka dalam riwayat pendidikan Zainuddin Labay, tampaknya, sangat berpengaruh besar. Sebab merekalah yang paling bertanggung jawab mengajarkan dan menyebarkan pemikiran-pemikiran moderen di lembaga pendidikan di mana mereka mengajar. Pemikiran-pemikiran pembaharuan yang pernah mereka timba di Timur Tengah, disebarluaskan kembali di tanah air
. Zainuddin Labay, termasuk orang yang menerima pemikiran-pemikiran moderen dari ketiga tokoh ulama pembaharu tersebut. Karena Zainuddin pernah belajar di surau mereka bahkan sempat menjadi guru bantu. Zainuddin Labay tidak pernah belajar kepada ulama-ulama tradisional kecuali kepada ayahnya. Itupun hanya sebatas pengetahuan tentang dasar-dasar agama dan waktunya pun tidak terlalu lama. Dengan demikian pengaruh pemikiran moderen lebih banyak ia terima ketimbang pemikiran-pemikiran keagamaan yang bercorak tradisional.

Kiprah Zainuddin Labay sebagai seorang tokoh modernis telah kelihatan ketika ia masih berusia muda. Dalam konteks yang lebih sederhana, cikal bakal Zainuddin sebagai seorang modernis dapat dilihat dari cara ia menyusun namanya sendiri, yakni “Zainuddin Labay el-Yunusi”. Gelar “Labay”, yang dipakai dibelakang namanya bukanlah gelar kehormatan yang diberikan oleh ninik mamak dan ulama kepadanya, akan tetapi gelar itu ia sendiri yang melekatkan kepada dirinya dan semua orang disuruh memanggil nama tersebut, hingga terkenalah nama tambahan itu dibelakang nama Zainuddin hingga akhir hayatnya bahkan sampai saat ini. Ketika menjadi guru bantu di surau Jembatan Besi, Zainuddin Labay mulai menampakkan potensi dirinya sebagai seorang pembaharu. Tidak puas dengan ilmu yang diperolehnya ketika belajar di lembaga pendidikan tradisional surau, ia mencoba mengadakan koresponden dengan tokoh-tokoh luar negeri. Buku-buku keluaran Mesir dan Timur Tengah lainnya dipesan langsung. Sehingga koleksi buku-bukunya tidak hanya terbatas kepada buku-buku terbitan dalam negeri akan tetapi juga terbitan luar negeri, terutama buku-buku tafsir, hadis, fiqh, sejarah, dan lain-lain.


Sebagai seorang yang menginginkan pembaharuan dan perubahan-perubahan di dalam masyarakat, ia sangat mengagumi tokoh-tokoh kharismatik. Salah satu tokoh yang sangat ia kagumi adalah Mustafa Kamil (1874-1908), seorang tokoh nasionalis berkebangsaan Mesir. Ia banyak membaca sejarah hidup Mustafa Kamil, bahkan dalam mengajarpun Zainuddin sering menceritakan riwayat hidup tokoh ini. Untuk lebih dekat dengan tokoh idolanya ini, dalam beberapa kesempatan, Zainuddin sering mengadakan koresponden dengan tokoh kebangsaan Mesir tersebut. Sehingga hubungan keduanya semakin erat, meskipun mereka tidak pernah bertatap muka secara langsung. Kontak antara Zainuddin Labay dengan Mustafa Kamil ternyata tidak berlangsung lama, karena tahun 1908, Musthafa Kamil meninggal dunia di saat penjajah Inggris masih bercokol di Mesir.


Kekaguman Zainuddin Labay terhadap Musthafa Kamil dan ide nasionalismenya itu, disebabkan oleh karena bangsa Mesir dan bangsa Indonesia mengalami nasib yang sama, yakni sama-sama ditindas oleh penjajah bangsa Barat. Mesir dijajah oleh Inggris dan Perancis sedangkan Indonesia dijajah oleh Belanda. Sebagai bangsa yang berberadab dan berbudaya, Mesir dan Indonesia sama-sama berkeinginan melepaskan diri dari cengkraman kaum penjajah. Sebagai manusia, mereka juga ingin maju sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia. Penjajahan mengakibatkan kemiskinan, keterbelakangan dan penindasan. Untuk melepaskan diri dari keadaan tersebut, berbagai upaya harus dilakukan agar masyarakat bisa maju, cakrawala berfikir semakin luas dan terbebas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Sebagai seorang yang memiliki pemikiran cemerlang didukung pula oleh usia yang masih muda, Zainuddin Labay, mulai menuangkan berbagai pemikirannya dalam bentuk tulisan. Kiprah Zainuddin dalam kegiatan jurnalistik ini diawali dengan menulis beberapa artikel di majalah al-Munir, pimpinan Abdullah Ahmad di Padang. Tulisan-tulisannya selalu mendapat tempat yang baik dan sambutan hangat di kalangan para pembaca. Artikel-artikel yang ditulis Zainuddin dalam majalah ini pada umumnya merupakan pencerminan dari pemikiran pembaharuannya. Ia sangat antusias membela dan mempertahankan pendapat tokoh-tokoh pembaharu yang tergolong kaum muda dari serangan para ulama tradisional (kaum tua).


Gencarnya polemik antara kaum tua dan kaum muda tentang soal-soal agama, memotivasinya untuk lebih kuat mempertahankan dan membela pendirian kaum muda yang tertuang di dalam berbagai tulisan di majalah al-Munir. Bahkan dalam kesempatan yang sama, Zainuddin Labay bersama Abdul Majid Sidi Sutan memotori terbitnya majalah al-Akhbar sebagai pembela utama pendirian al-Munir dari serangan-serangan ulama tradisional Didorong oleh semangat ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan pengajaran serta ide-ide pembaharuan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, didukung pula oleh pengalamannya dalam dunia jurnalistik. Setelah mengadakan pendekatan dengan jam’iyyah Thawalib di Padang Panjang, pada tahun 1918 (dua tahun setelah al-Munir terbakar), Zainuddin Labay dapat menerbitkan kembali majalah yang sama dengan nama al-Munir el-Manar. Sebagai pembawa misi pembaharuan dan penyebar ilmu pengetahuan dan pegajaran, al-Munir el-Manar telah dapat membuktikan bahwa ia merupakan media cetak yang dapat mengisi kevakuman berfikir umat dan menjadi jembatan untuk menuju kehidupan moderen yang disinari ilmu pengetahuan. Al-Munir el Manar juga merupakan sebagai media diskusi jarak jauh antara kaum modernis dengan masyarakat pembaca dari berbagai daerah. Sehingga persoalan-persoalan yang muncul berkaitan dengan agama dan masyarakat dapat ditelaah secara mendalam dan diberikan jawaban sesuai dengan proporsinya.
Kecintaan Zainuddin Labay terhadap ilmu pengetahuan dan pembaharuan tidak saja terbatas pada penerbitan majalah saja akan tetapi juga mendirikan sebuah taman bacaan yang dapat dijangkau oleh masyarakat, yakni “biblieothec Zainaro”. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan ini terdiri dari bermacam-macam judul dan disiplin ilmu. Akibatnya kantor al-Munir el-Manar dan perpustakaan “Zainaro” ramai dikunjungi orang terutama para pelajar yang ingin menambah wawasan pengetahuannya. Bahkan Hamka, mengakui, bahwa pada masa remajanya, ia banyak memperoleh pelajaran dan pengalaman mengarang dari Zainuddin Labay dan melampiaskan “nafsu baca”-nya di perpustakaan “Zainaro” tersebut.

Dalam bidang agama, Zainuddin Labay, termasuk kepada barisan “kaum muda”, yang mempunyai pemikiran maju ketimbang ulama-ulama tradisonal. Kedudukan Zainuddin labay dalam barisan kaum muda ini dapat dilihat dari sikapnya yang menentang perbuatan-perbuatan bid’ah. Ketika ayahnya meninggal dunia, kepada pihak keluarga ayahnya yang datang dari Pandai Sikek dan masyarakat yang datang dari berbagai daerah di Minangkabau bertakziah, ia menyampaikan sebuah pernyataan yang dianggap bertentangan dengan tradisi yang berkembang waktu itu. Ia menyampaikan kepada para petakziah bahwa di atas kuburan ayahnya tidak akan dibangun tempat untuk berziarah, yang memungkinkan orang beramal tidak sesuai dengan ajaran Islam murni. Walaupun ayahnya seorang ulama besar dan tokoh kharismatik dalam tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah, tidak serta merta ia mengikuti pemahaman keagamaan ayahnya tersebut. Paham-paham moderen yang berorientasi pemurnian ajaran Islam yang dihembuskan oleh guru-gurunya lebih menyentuh jiwanya ketimbang paham tradisional yang lebih berorientasi bid’ah dan khurafat. Bila dihubungkan sampai ke atas, sikap keras tersebut merupakan warisan dari datuknya Haji Miskin, salah seorang tokoh gerakan Paderi dari Pandai Sikek.


Sisi lain dari aktivitas Zainuddin Labay sebagai seorang tokoh modernis adalah mendirikan sebuah kafetaria yang diberi nama “Buffet Merah”. Kafe ini sengaja dibuka dan dikelola sebagai sebuah unit usaha koperasi. Diharapkan dari kehadiran kafe ini sebahagian hasil usahanya dapat dimanfaatkan untuk membantu eksisnya lembaga pendidikan Islam yang saat itu tumbuh subur di Padang Panjang. Di samping itu kafe sederhana ini juga sebagai arena untuk membuka mata masyarakat terhadap berbagai perkembangan aktual di dalam dunia internasional (politik) serta masalah-masalah yang timbul di dalam masyarakat. Ini sesuai dengan ucapan yang pernah dilontarkannya bahwa “jika ingin mengaji agama secara mendalam datanglah ke Diniyah School atau ke Sumatera Thawalib, tapi jika ingin mengkaji masalah politik, di Buffet Merah kita bertemu”.


Berdirinya “Buffet Merah” sebagai sebuah unit usaha ekonomi dan tempat pemecahan masalah-masalah politik, menurut hemat penulis ada sasaran yang ingin dicapai oleh Zainuddin Labay. Setidak-tidaknya ada dua hal yang menjadi tujuan utamanya, pertama, kafe ini didirikan dengan tujuan sebagai arena untuk membuka wawasan masyarakat terhadap berbagai masalah-masalah aktual yang terjadi baik di dunia Internasional, politik maupun soal-soal kemasyarakatan lainnya. Sasaran kedua, adalah dapat membantu kelangsungan hidup sekolah-sekolah Islam yang ada di Padang Panjang terutama Diniyyah School dan Thawalib. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang baru didirikan, sekolah-sekolah Islam tersebut perlu dana untuk penunjang kegiatan belajar-mengajarnya. Untuk itu perlu dicarikan biaya melalui usaha-usaha yang halal dan terhormat.


Ketika asisten residen Tanah Datar (tuan Luhak) menawarkan bantuan (subsidi) untuk membiayai kelangsungan hidup sekolah yang baru didirikannya, secara tegas Zainuddin Labay menolak tawaran itu, karena ia melihat di balik bantuan itu ada tujuan lain yang terselip di dalam misi asisten residen tersebut yang nota bene adalah kaki tangan kolonial Belanda. Dalam bahasa yang sangat diplomatis namun tegas, Zainuddin Labay menyatakan penolakannya terhadap jasa baik tersebut “biarlah Diniah School hidup dan tumbuh bersama masyarakatnya”.
Ramainya “Buffet Merah” dikunjungi masyarakat pada dasarnya bukanlah terletak pada pokok permasalahan yang didiskusikan, akan tetapi kharisma Zainuddin Labay yang membuat orang ramai datang ke sana. Salah satu prinsip yang selalu dipakai Zainuddin Labay dalam menyebarkan ide pembaharuannya adalah mengajak orang (ke dalam Islam) secara bijaksana dan pengajaran yang baik. Kenyataan ini dapat dilihat dari cara ia mengajak orang untuk shalat. Dalam suatu kesempatan di Buffet Merah, ketika orang sedang ramai dan asyik mendengar cerita yang dibacakan Zainuddin Labay dari sebuah buku yang berjudul “Rokombole”, beduk shalat Ashar berbunyi. Zainuddin secara spontan menutup buku cerita tersebut dan menyampaikan kepada pendengar, “mari kita shalat ke masjid Jembatan Besi… dan setelah shalat cerita kita sambung lagi”. Oleh karena orang sangat simpati kepadanya, semua yang ada di kafe tersebut pergi shalat, kecuali anak-anak kecil yang tinggal untuk menjaga buffet itu.

Dilihat dari aktifitasnya sebagai tokoh modernis, nyatalah bahwa Zainuddin Labay, memang mempunyai naluri yang luar biasa. Aktifitas-aktifitas yang dilakukannya mencerminkan suatu cita-cita luhur dan agung. Di saat orang seusianya belum bisa berbuat apa-apa untuk kemajuan umat, bangsa dan agama, ia telah dapat melakukannya. Bahkan dibandingkan dengan guru-guru yang sealiran dengannya, ia terlihat lebih maju dan pemikiran moderennya melebihi pemikiran moderen guru-gurunya. Karena pemikirannya yang brilyan itu, oleh Hamka, ia disebut sebagai seorang “filosof muda”, yang terlahir ke dunia sebelum masanya. Penilaian Hamka, akan terlihat jelas lagi dari beberapa karya tulisnya di majalah al-Munir, pimpinan Abdullah Ahmad, al-Munir el-Manar, maupun karya tulisnya dalam bentuk buku dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan.


Aktifitasnya dalam hal ini telah nampak ketika ia mulai menyumbangkan tulisan-tulisannya pada majalah al-Munir yang dipimpin Abdullah Ahmad di Padang. Setelah penerbitan majalah ini terhenti tahun 1916, karena musibah kebakaran, atas inisiatif sendiri tahun 1919 dapat melanjutkan kembali penerbitan majalah serupa di Padang Panjang, dengan nama al-Munir el-Manar. Di samping itu untuk bacaan masyarakat dan kepentingan pendidikan serta memenuhi kurikulum sekolah-sekolah agama khususnya Diniyah School, ia menerbitkan pula buku-buku teks dan buku-buku bacaan. Berbekal pengalaman yang sudah ada itu, perlu dilihat karya-karya tulis Zainuddin Labay yang mencakup berbagai macam tema dan disipli ilmu.


Karya-karya tulis Zainuddin Labay tersebut dapat diklasifikasikan kepada beberapa kelompok.
Karya tulis yang dimuat dalam majalah al-Munir di Padang dari tahun 1915 sampai tahun 1916 dan majalah al-Akhbar. Karya tulis yang dimuat dalam majalah al-Munir el-Manar di Padang Panjang dari tahun 1919 sampai tahun 1922. Karya tulis dalam bentuk buku-buku teks pelajaran pada Diniyah School. Buku-buku ini meliputi berbagai macam disiplin ilmu, seperti tauhid (aqidah), fiqh, bahasa Arab, akhlak, tajwid al-Qur’an, sejarah. Buku-buku tersebut mulai ditulis semenjak tahun 1915 sampai tahun 1924. Buku-buku terebut adalah Adabul Fatah, terdiri dari dua jilid. Jilid pertama ditulis tahun 1914 dan jilid yang kedua ditulis tahun 1915. Buku ini berisikan etika (tatakrama) dalam berprilaku, terutama bagi kaum wanita. Empat Serangkai, ditulis tahun 1919, terdiri dari empat jilid dengan menggunakan bahasa Arab Melayu. Buku ini secara umum berisi tentang pelajaran fiqh, tauhid dan akhlak bagi murid-murid Diniyah School kelas satu. Al-‘Aqâid al-Dîniyyah (1924), terdiri dari dua jilid berisi pelajaran-pelajaran tentang dasar-dasar tauhid dengan menggunakan bahasa Arab. Dicetak pertama kali pada tahun 1924 beberapa bulan sebelum penulisnya meninggal dunia.

Mabâdi al-Arabiyyah (1930)
, terdiri dari dua jilid dan dipakai sebagai buku pegangan bagi murid-murid Diniyyah School. Buku ini berisi pelajaran tata bahasa Arab. Mabâdi al-Awwaliyyah (t.t.), adalah karya lain yang juga memuat pelajaran tata bahasa Arab (khususnya ilmu nahw). Pelajaran fiqh secara lengkap disusun dalam sebuah karya yang diberi judul al-Durûs al-Fiqhiyyah (1937). Penulisan buku ini direncanakan sebanyak 4 jilid, namun yang terselesaikan hanya 3 jilid saja. Di samping itu untuk memenuhi kebutuhan akan materi pelajaran membaca al-Qur’an, disusun pula buku Irsyâd al-Murîd ilâ ‘Ilm al-Tajwîd (1951). Buku yang berjudul Apa Benarkah Tuahnya Bermenantu, dimaksudkan untuk memotivasi para orang tua agar memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk menyelesaikan pendidikannya sebelum ia terburu-buru dikawinkan. Dengan demikian buku ini merupakan motivasi bagi orang tua agar tidak cepat-cepat mengawinkan anaknya. Di bawah bimbingan Zainuddin Labay, murid-murid Diniyah School juga menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Tunas Diniyah (1922) sebagai ajang kreasi bagi murid-murid untuk menuangkan pemikiran mereka.


Pada dasarnya keberhasilan Zainuddin Labay mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam moderen sangat erat kaitannya dengan pengalamannya semenjak ia mulai menjadi guru bantu di surau Syeikh Abbas Abdullah, di Padang Japang dan Syeikh Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, Padang Panjang, merupakan modal dasar baginya untuk memulai sebuah gagasan baru dalam dunia pendidikan dan pengajaran agama Islam. Sebagai seorang yang berpikiran moderen dan maju, di samping berkarya melalui media pers, ia sangat berkeinginan mewujudkan cita-citanya untuk merubah sistem pendidikan Islam. Kondisi pendidikan umat Islam jauh tertinggal dibanding dengan pendidikan pemerintah Belanda.
Ia menginginkan perubahan sistem pendidikan Islam yang selama ini diselenggarakan dengan cara tradisional dan sudah ketinggalan zaman. Duduk di lantai melingkar diganti dengan meja dan kursi; guru dan murid sama-sama duduk di kursi. Guru hendaknya berada di depan murid-murid, jangan berkeliling sambil bersandar di tiang masjid. Media belajar sebaiknya digunakan papan tulis dan kapur tulis dan harus ada rencana pelajaran yang teratur. Pakaian sekolah murid-murid harus diatur sedemikian rupa dan mereka tidak boleh berpakaian seenaknya. Untuk menentukan kehadiran murid-murid, harus ada absen dan jika suatu ketika seorang murid tidak bisa hadir di sekolah harus ada surat keterangan (sakit, izin dan lain-lainnya). Untuk menilai kemampuan murid-murid menyerap pelajaran yang diberikan, harus ada evaluasi akhir dan setiap akhir tahun harus ada kenaikan tingkat (kelas). Cita-cita itu menjadi spirit di dalam jiwanya dan pada setiap kesempatan mengajar di surau Jembatan Besi, ia selalu mengemukakan keinginannya itu kepada murid-muridnya. Ia melihat di mana-mana belum ada sekolah agama seperti apa yang ia cita-citakan itu. Pola dan sistem pengajaran di surau dirasakan tidak berkembang. Setelah cita-cita besar ini dirasakan sudah mantap dan telah mendapat dukungan dari sebahagian murid-murid surau Jembatan Besi, maka pada tanggal 10 Oktober 1915, Zainuddin Labay mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam baru yang diberi nama Diniyah School, dengan sistem berkelas. Sekolah ini menerima murid-murid laki-laki dan perempuan, diajar dalam kelas yang sama dalam waktu yang sama serta dengan guru yang sama. Pola semacam ini dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah “ko-edukasi”.

Obsesi besar yang dicanangkan Zainuddin Labay dalam dunia pendidikan Islam, ternyata telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan yang dibangunnya tidak hanya memberikan sumbangan bagi penataan aspek kelembagaan dan aspek kurikulum saja, akan tetapi juga mampu melahirkan generasi dan kader-kader berkualitas dan memiliki reputasi baik dalam lapangan pendidikan maupun dalam bidang-bidang lain. Beberapa orang di antaranya dapat disebut antara lain, seperti Rahmah el-Yunusiyah (adik kandung Zainuddin Labay dan pendiri Diniyah Putri).Kiprahnya dalam bidang pendidikan Islam masih bisa dilihat sampai sekarang. Lembaga pendidikan yang didirikannya tetap diminati masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura. Atas jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam, pada tahun 1956, rektor universitas al-Azhar, Kairo menganugerahkan gelar “Syaikhah” kepadanya. Pemerintah Indonesia sampai saat ini belum memberikan penghargaan sebagai pahlawan nasional dalam bidang pendidikan Islam walaupun usulan untuk itu sudah lama dilakukan.


Hamka, adalah tokoh yang banyak kiprahnya dalam sejarah Islam di Indonesia. Mantan ketua MUI dan pendiri Yayasan pendidikan al-Azhar Jakarta ini juga seorang penulis produktif. Selama hidupnya, Hamka telah menghasilkan ratusan karya tulis baik dalam bentuk buku maupun tulisannya yang tersebar di berbagai majalah dan koran. Salah satu karyanya yang sangat monumental adalah Tafsir al-Azhar 30 jilid. Karya-karyanya yang lain meliputi bermacam-macam disiplin keilmuan, seperti sastra, sejarah, fiqh, tasawuf, dan lain-lain. Walaupun ia belajar dengan Zainuddin Labay hanya dua tahun, namun Zainuddin Labay telah berjasa menanamkan nilai pendidikan dan membuka wawasannya tentang dunia luar. Reputasi Hamka sebagai seorang pemimpin Islam tidak hanya terbatas di dalam negeri saja, akan tetapi juga diakui oleh pihak luar. Ini dapat dilihat dari penghargaan yang diterimanya dari beberapa negara tetangga, seperti gelar doktor Honoris Causa dari universitas al-Azhar, Kairo tahun 1968 dan dari universitas Kebangsaan Malaysia, tahun 1974. Di samping itu juga aktif dalam berbagai pertemuan organisasi Islam sedunia, seminar Islam, dan lain-lain.


Murid Zainuddin Labay lainnya yang berpengaruh dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia adalah Prof. Mukhtar Yahya, menjadi guru besar pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan juga pernah menjabat direktur Islamic College Padang tahun 1931. Salah satu karyanya tulisnya menjadi rujukan bagi insan akademis adalah Sejarah Kebudayaan Islam, terjemahan dari buku Ahmad Syalaby (Kairo, Mesir). Generasi lain adalah Tajuddin, MS, mantan pengurus PMDS pertama. Menjadi aktivis gerakan buruh sedunia. Jured Luthan, ketua PMDS pertama dan besar usahanya dalam perjuangan kebangsaan melawan penjajah Belanda. Meninggal di Madiun, Jawa Timur sebagai perintis kemerdekaan. Jamaluddin Ibrahim, aktivis PMDS dan mantan sekretaris PARI di Singapura. Meninggal ketika dalam tahanan Belanda tahun 1940 di Cisarua Bogor sebagai perintis kemerdekaan. Ayun Sibiran, sekretaris PMDS pertama dan pengelola Bibliothec Zainaro. Aktif dalam pergerakan menentang penjajah Belanda. Meninggal di Rangkas Bitung, Jawa Barat sebagai perintis kemerdekaan. Jamaluddin Tamim, guru Diniyah School, salah seorang aktivis PMDS yang diburu Belanda. Tahun 1927, mendirikan Partai Rakyat Indonesia di Bangkok bersama Tan Malaka. Tokoh-tokoh tersebut di atas adalah sebagian dari beberapa orang generasi yang pernah belajar dengan Zainuddin Labay. Umumnya mereka berkiprah pada lapangan pendidikan di samping aktivitas lainnya. Walaupun Zainuddin Labay tidak bisa menyaksikan hasil perjuangan mereka, namun segenap insan pendidikan tidak akan pernah melupakan jasa-jasanya yang sangat mulia itu. Namanya tetap akan dikenang sebagai seorang inspirator sekaligus pembaharu pendidikan Islam.

Kitab Sifat Dua Puluh : Telaah Filologis Naskah Melayu Islam Minangkabau

Oleh : Yulfira Riza, M.Hum
Edit : Muhammad Ilham

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan warisan budaya nenek moyang. Hal ini terbukti dengan banyaknya peninggalan-peninggalan budaya dari masa lalu yang ditemukan di kawasan ini, antara lain alat-alat perkakas sehari-hari, prasasti-prasasti, arca, bangunan-bangunan candi, dan rumah-rumah adat. Selain peninggalan budaya yang berupa material tersebut, ditemukan juga peninggalan budaya berupa non-material yaitu tulisan yang ditulis oleh nenek moyang dengan tulisan tangan dalam berbagai bahan tulisan. Bahan-bahan tulisan itu antara lain dedaunan yang dikeringkan seperti daun lontar dan daun nipah, kulit kayu, bambu, rotan, daluwang (kertas Jawa), dan kertas. Alat tulisnya pun beragam sesuai dengan bahan yang mereka gunakan untuk menulis tulisan tersebut. Untuk kulit kayu dan bambu alat tulis yang digunakan adalah peso pangot, semacam alat yang bermata runcing untuk mengukir tulisan-tulisan di atas bahan tulisan tersebut kemudian disapu dengan jelaga agar ukiran itu terlihat. Jika dikerjakan dengan teliti, cara penulisan seperti ini akan menghasilkan tulisan yang bagus. Namun kelemahannya adalah kesalahan tidak mungkin dikoreksi karena goresan atau ukiran ini tidak mungkin diperbaiki. Untuk alas naskah daluwang dan kertas alat tulis yang digunakan adalah kalam (kuas/pena) dan tinta. Peninggalan-peninggalan budaya berupa tulisan yang disebutkan di atas, lazim disebut dengan naskah. Naskah merupakan dokumen yang berisi berbagai hal yang bermanfaat bagi kita. Melalui naskah kita juga dapat mengetahui kapan suatu budaya baru masuk dan berkembang dalam budaya yang telah lama hidup di masyarakat kita dahulunya. Sebagai contoh, isi naskah tersebut bisa menginformasikan kepada kita tentang kapan pertama kali Islam masuk ke Indonesia, bagaimana penyebarannya, dan apa tanggapan dari masyarakat Indonesia yang sudah lebih dahulu menganut suatu kepercayaan sebelumnya. Semua itu akan terjawab salah satunya dengan membaca teks yang ada di dalam naskah.



Teks berisi ide-ide atau gagasan, pokok pikiran, adat istiadat, pola hidup, tata cara peribadatan dan tradisi budayanya. Karya ini memberi informasi kepada kita tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Namun seiring berkembangnya zaman, informasi yang terkandung di dalam tulisan tersebut sering mengalami transformasi. Akibatnya muncul banyak teks yang terdapat dalam berbagai bentuk dan cara penulisan. Hal ini terjadi karena teks atau tulisan itu ditulis berulang-ulang secara manual dengan menggunakan tangan sehingga ketidakjelasan huruf ataupun lubernya tinta yang mengganggu pembacaan sering menyebabkan pembaca ataupun penyalin naskah kesulitan untuk menafsirkan bacaannya. Selain itu kreatifitas penyalin yang mengubah salinan untuk menyesuaikan isinya dengan zaman juga menyebabkan informasi di dalam naskah pun mengalami perubahan. Perubahan ini akan terus berlanjut selama teks ini mengalami penyalinan secara terus-menerus. Seandainya teks yang memiliki ketidakjelasan huruf ini dijadikan sumber salinan teks baru yang benar-benar sama isinya, perubahan dan penafsiran yang keliru akan terus berlanjut pada turunan-turunan teks selanjutnya.

Penggalian informasi yang terkandung di dalam sebuah naskah, bukanlah perkara yang mudah. Banyak kesulitan dan rintangan yang mungkin akan dihadapi peneliti naskah di antaranya adalah bahan naskah yang berasal dari alam yang menyebabkan naskah mudah lapuk. Di samping itu, faktor usia naskah sendiri yang sudah tua ditambah lagi penyimpanan yang kurang cermat sehingga naskah menjadi terlantar, tertumpah benda cair, menyebabkan naskah tidak mungkin lagi disentuh apalagi dibaca. Apalagi seandainya naskah tersebut sampai hilang atau terbakar maka informasi yang terkandung di dalam naskah tersebut tidak akan pernah sampai kepada kita selaku generasi baru. Selain itu, aksara yang digunakan di dalam naskah pun sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat sekarang, walaupun naskah tersebut berasal dari daerahnya sendiri. Seandainya ada, jumlah orang yang masih dapat membaca aksara lama ini pun tidak banyak dan sudah berusia lanjut. Orang-orang ini umumnya hafal dengan isi naskah yang berasal dari daerah mereka tersebut. Sayangnya, hanya sedikit generasi muda yang tertarik untuk membahas dan belajar dengan mereka. Achadiati (1997:28) mengemukakan kebanyakan orang Indonesia tidak mengenal aksara mereka sendiri sehingga mereka merasa asing dengan hal itu. Dari keasingan ini timbullah sikap tak sayang yang menyebabkan mereka juga kurang menghargai keberadaan naskah. Padahal aksara dapat dikatakan sebagai salah satu faktor penting timbulnya naskah.


Menurut Pradotokusumo (1986:1), aksara atau hasil goresan tangan nenek moyang Indonesia yang tertua adalah kakawin Ramayana yang berasal dari abad ke-9 yang menggunakan aksara Jawa Kuno. Kakawin ini merupakan satu-satunya kakawin yang diketahui berasal dari Jawa Tengah yang masih dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Budha. Dapat diperkirakan bahwa tulisan ini merupakan tulisan pertama dalam naskah yang dikenal oleh nenek moyang kita. Sejak masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, Islam menyumbangkan aksara baru yaitu aksara Arab. Aksara ini kemudian meluas dan menyebar di beberapa daerah di Nusantara, antara lain dataran Melayu, Sunda, dan Buton. Aksara Arab kemudian mendominasi aksara-aksara daerah yang sudah ada sebelumnya di Nusantara. Aksara Arab tersebut beradaptasi dengan bunyi bahasa yang ada di Nusantara sehingga menghasilkan aksara-aksara baru yang kemudian diadopsi menjadi aksara sendiri. Misalnya di daerah Melayu, dikenal adanya aksara Arab Jawi atau Arab Melayuu, di Sunda dikenal dengan aksara Arab Pegon, dan di Buton menjadi aksara Buri Wolio.



Aksara Arab yang sudah diadaptasi ini maksudnya adalah huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa daerah, misalnya untuk aksara Arab Melayu merupakan aksara Arab yang menggunakan bahasa Melayu atau Bahasa Minangkabau. Aksara Arab tersebut akhirnya mengalami penyesuaian untuk bunyi-bunyi seperti /c/, /g/, /η/, dan /ñ/ dengan pemberian titik-titik tambahan sebagai penanda, yaitu چ untuk bunyi /c/, ک untuk bunyi /g/, ڽ untuk bunyi /η/, dan ﻉ untuk bunyi /ñ/. Dengan demikian, muncullah naskah-naskah yang menggunakan aksara ini di seluruh daerah yang menggunakannya. Aksara Arab yang mengalami modifikasi ini mengungguli aksara India yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat di Nusantara. Dapat dikatakan di sini bahwa di seluruh kepulauan Nusantara, kata dan ungkapan yang ada kaitannya dengan keislaman diterima ke dalam bahasa pribumi. Khusus untuk sastra Melayu klasik, khazanah Islam yang dimilikinya sangat luas (Achadiati, 1997:138). Terbukti dengan banyaknya naskah-naskah keagamaan yang dihasilkan di kawasan ini. Selain itu fisik tulisan sangat mendukung pernyataan ini. Salah satu daerah di Nusantara yang menggunakan aksara ini untuk menuliskan ide-ide, adat istiadat, dan pola hidup mereka adalah Melayu khususnya yang berada di ranah Minangkabau. Bangsa Melayu menyebut aksara ini dengan aksara Arab Melayu.


Pada umumnya, naskah-naskah yang berasal dari Minangkabau menggunakan Arab Melayu baik itu naskah sastra, adat istiadat, sejarah, obat-obatan, keislaman, maupun mantra-mantra untuk tujuan magis. Penggunaan aksara ini di Minangkabau mengindikasikan bahwa betapa kuatnya sendi Islam ada di Minangkabau sejak orang Minang mulai mengenal Islam. Salah satu naskah yang digali dalam penelitian ini adalah naskah Kitab Sifat Dua Puluh (selanjutnya disebut dengan KSDP). Naskah ini merupakan naskah keislaman. Hidayat (2007:1-4) mengungkapkan bahwa aspek pembeda yang menentukan naskah tersebut adalah naskah Islami adalah dari: (1) aksara, aksara yang digunakan adalah aksara Arab dan aksara Arab Pegon atau aksara Arab Melayu.; (2) penggunaan bahasa Arab dan istilah-istilah Arab dalam naskah-naskah yang berisi ajaran Islam tersebut; (3) kandungan naskah atau teksnya adalah tentang berbagai ajaran Islam dan hal-hal yang berkaitan dengan keislaman; dan (4) bahan materialnya adalah kertas baik yang dibuat secara tradisional (daluwang) ataupun kertas pabrik, alat tulisnya berupa pena dengan tinta berwarna hitam atau pada bagian tertentu menggunakan tinta merah. Naskah KSDP merupakan salah satu dari sekian banyak naskah keislaman milik masyarakat Minangkabau yang belum tergali. Naskah ini berisi pemikiran kalami (teologi Islam) yang dimaksudkan pemikiran ketuhanan (tauhid) menurut alur pikir ilmu kalam atau teologi yang berlandaskan ajaran Islam. KSDP memaparkan tentang sifat-sifat Allah SWT dan pada rasul-Nya serta hal-hal yang berkaitan dengan hukum Islam.


Naskah Kitab Sifat Dua Puluh

Ukuran naskah: 14x 21 cm; blok teks: 4,5x7 cm; rata-rata terdiri dari 14 baris tiap halaman; penomoran halaman dibuat ganda dengan menggunakan angka Arab dan Latin; terdiri dari 24 halaman; tulisan dibingkai dengan dua garis halus berwarna hitam; bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dan Arab; penulis naskah ini adalah Datuk Mali Puti Alam (82 tahun). Datuk Mali Puti Alam (82 tahun). Kondisi naskah: naskah masih bagus dan tulisannya masih dapat terbaca. Naskah ini terdapat di surau Suluk yang beralamat di Nagari Katinggian, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota.


(Artikel Lengkap, dipublish di Jurnal Khazanah Edisi 4/2010 - Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam FIB-Adab IAIN Padang)

Senin, 10 Mei 2010

Surau Bintungan Tinggi : Tokoh, Tradisi dan Naskah Kuno


Oleh : Yulfira Riza, M.Hum
Edit : Muhammad Ilham

Hadirnya lembaga surau tidak diragui lagi telah memberi identitas sendiri terhadap Islam di Minangkabau. Surau tidak hanya identik sebagai pusat ibadah, tetapi lebih daripada itu. Surau juga menempati posisi sebagai pusat keilmuan Islam sebab di sana ada Tuanku/Syekh yang memberi pelajaran siang dan malam. Di sana ada murid-murid yang mengikuti mengajian dalam jumlah yang besar, di sana ada referensi-referensi yang lengkap dalam bentuk-bentuk naskah tertulis. Di samping itu, surau juga menempati posisi yang kuat bagi pengajaran adat dan sosial kemasyarakatan. Di surau diajarkan seluk beluk adat yang akan dijadikan pakaian hidup sekaligus menjadi nadi perjuangan melawan penjajah dulunya dan sebagai tempat bermusyawarah. Begitu komplit fungsi dari surau ini, sehingga tak berlebihan bila dikatakan bahwa Islam di Minangkabau tak bisa dilepaskan dari keberadaan surau itu sendiri, di masa lalu pastinya.

Awal dari kebangkitan surau ini, dimulai dari keberhasilan surau Tanjung Medan Ulakan dalam mendidik para intelektual Islam dalam jumlah yang banyak pada kala itu. Di samping letaknya yang strategis di pesisir barat Sumatera, keberhasilan inipun pastinya didukung oleh dedikasi keilmuan yang tinggi dan kharisma Syekh Burhanuddin sebagai pendirinya. Ribuan murid datang silih berganti ke Ulakan, membahas ajaran Islam secara mendalam dan konprehensif, sehingga banyak yang lulus dengan prediket yang baik. Nantinya mereka-mereka inilah yang menjadi perpanjangan tangan dari sang guru untuk mengajar Islam ke daerah-daerah mereka, yaitu melalui surau. Disamping mengajar syari’at secara dalam, Syekh Burhanuddin secara khusus juga membentang kaji hakikat kepada murid-murid pilihan. Bertasawwuf dengan membersihkan hati sanubari. Membai’at ala tarekat Syathariyah, mengajar tata cara dekat dengan Allah, hingga merasa benar-benar dekat dengan Allah. Lulusnya seseorang dalam bertarekat ini ditandai dengan diangkatnya sebagai khalifah, yang berarti telah mempunyai otoritas mengajar tarekat kepada murid-murid yang baru.

Gaya khas pendidikan tradisional yang dijalankan di Surau Ulakan begitu sangat terkenal kala itu. Seantero daratan melayu tak ada yang meragui ketokohan Syekh Burhanuddin. Ribuan murid yang datang dan lulus dari lembaga Ulakan ini membuktikan betapa besar kejayaan kaum intelektual kala itu. Begitupun dari banyaknya khalifah yang diangkat di Ulakan. Mereka membawa satu bentuk warna setelah mereka yang keluar dari Ulakan. Merekalebih meresapi nilai-nilai agama, jauh dari penyelewengan prilaku. Kongkritnya, lebih konservatif. Banyak pulalah diantara ulama yang lahir dari Surau Ulakan yang mempunyai nama besar dan ketokohan yang kuat. Mereka hadir sebagai cermin dari kasih sayang kepada guru yaitu cermin dari kepribadian Syekh Burhanuddin sendiri. Di antara sekian banyak hasil didikan Ulakan yang berhasil, maka Syekh Bintungan Tinggi adalah yang menonjol di antaranya. Syekh Bintungan Tinggi atau Syekh Abdurrahman adalah satu di antara sederetan khalifah-khalifah Syekh Burhanuddin yang tersohor. Namanya melambung, semasyhur Surau yang beliau pimpin, Surau Bintungan Tinggi. Di samping darah beliau yang asli dari keturunan Khalifah ke-3 Syekh Burhanuddin, Syekh Abdurrahman Ulakan, keberhasilan beliau sangat ditentukan oleh kealiman dan ketinggian ilmu serta kepahaman yang dalam, juga prestasi beliau sebagai khalifah dalam Tarekat Syatariyah, tarekat yang berkembang pesat kala itu.

Kemasyhuran Surau Bintungan Tinggi telah menjadi buah bibir para penuntut ilmu zaman itu, banyak sekali diantara mereka yang menyampaikan niatnya menuntut ilmu di Surau Bintungan Tinggi, bersufaha dengan guru Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Bukan hanya yang datang dari selingkung alam Minangkabau, namun ada juga dari negeri jauh, Bengkulu, Sumatera Utara, Riau misalnya. Konon kabarnya murid-murid beliau mencapai ribuan orang banyaknya. Dengan adanya tradisi mengaji yang berkembang di Bintungan Tinggi masa itu, maka banyak pulalah kegiatan salin menyalin, yang dikenal dengan istilah kuttab. Salinan materi ajaran Islam itu dalam bentuk naskah, tulisan tangan dengan aksara Arab tanpa mengenal titik dan koma. Tradisi menyalin secara manual ini merupakan konsekensi logis karena kala itu belum ada mesin cetak untuk mencetak kitab-kitab pelajaran.Eksistensi Surau Bintungan Tinggi dan tradisi pewarisan naskah-naskah kuno begitu sangat menarik untuk ditelusuri dan dikaji. Dengan kajian tersebut akan nampak jelas bagaimana kedudukan surau dalam membentuk pribadi-pribadi muslim yang berilmu kala itu, dan berbekas hingga sekarang. Dengan deskripsi naskah tersebut nantinya akan terbuka cakrawala berpikir dalam menggali khazanah Islam yang kaya di Minangkabau, ranah nan tacinto ini.

Bintungan Tinggi, sebuah daerah yang terletak di Nagari Padang Bintungan Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman. Berbicara tentang keadaan geografis Bintungan Tinggi, maka kita tidak akan terlepas dari bahasan daerah Pariaman, karena memang Bintungan Tinggi adalah satu unit kecil daerah Pariaman. Seperti halnya muslim tradisional lain, maka masyarakat Bintungan Tinggi dalam ajarannya merupakan warisan dari Ulakan. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh para Ahli, bahwa Ulakan sangat taat mengikuti mazhab Syafi’i, hal ini tercermin dari setiap amalan ibadah yang selalu berlandaskan konsep yurisprudensi Syafi’iyah. Begitupun dengan kitab-kitab yang diajarkan, merupakan referensi wajib mengunakan referensi dari ulama-ulama Syafi’iyyah. Begitu halnya dengan Bintungan Tinggi, mereka yang secara umumnya berkiblat ke Ulakan memang pemegang teguh mazhab Syafi’i. dalam hal ini tak ada tawar menawar, apakah merupakah kepatuhan kepada guru ataupun karena faham Syafi’iyah sebagai mazhab yang pertama kali masuk ke nusantara, pastinya mereka sangat menjunjung dan mentaati menjunjung konsep hukum Syafi’iyyah, sampai saat ini. Karakteristik mazhab Syafi’iyah disebutkan oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al Khatib di dalam Risalah Mizānul Qulūb-nya

Dengan memperhatikan faham keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut, maka kita dapat mengkategorikan mereka kepada kelompok sunni yang konservatif. Mereka hidup rukun dengan Islam modernis, dengan menghindari masalah-masalah khilafiyah yang dapat merusak tatanan masyarakat. Begitulah mereka yang taat dalam tradisi Ahl Sunnah wal Jama’ah. Istilah Ahl Sunnah wal Jama’ah bukan salah satu kelompok, tetapi Ahl Sunnah lebih merupakan paham keagamaan yang cenderung meletakkan al Qur’an dan Sunnah sebagai pokok, disesuaikan dengan konteks empat mujtahid, dalam artian empat mazhab. Dengan demikian bagi mereka yang berpegang kepada salah satu mazhab, berarti dia adalah seorang Ahlussunnah.

Dengan memperhatikan faham keagamaan tersebut, maka jelaslah bahwa Bintungan Tinggi adalah pemegang tradisi dalam ahl Sunnah wal Jam’ah, pemegang teguh mazhab. Di samping ituada satu bentuk khas lain yaitu Tarekat Syathariyah. Umumnya surau-surau yang ada di daerah Pariaman, Ulakan, adalah surau-surau yang menjadi basis Tarekat Syathariyah, tak terkecuali Surau Bintungan Tinggi. Bahkan kepopuleran Surau Bintungan Tinggi dalam Tarekat ini lebih menonjol. Tarekat Syathariyah adalah salah satu Tarekat yang berkembang pesat di Minangkabau di samping Tarekat Naqsyabandiyah dan sedikit Tarekat Samaniyah. Mengenai tarekat itu sendiri, tarekat didefenisikan sebagai jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan dikerjakan oleh sahabat-sahabat Nabi, Thabi’in dan Tabi’ Tabi’in turun menurun sampai kepada guru-guru/ulama-ulama sambung menyambung dan rantai berantai sampai pada masa kita ini. Hamka mengungkapkan bahwa Tarekat laksana pesantren kita sekarang ini. Di satu tempat tertentu duduklah murid menghadapi gurunya. Guru itu diberi gelar Syekh. Selain dari mempelajari syari’at-syari’at agama, yang sangat dipentingkan di dalamnya ialah melalui perantaraan guru, dipelajari wirid tertentu untuk menuju jalan Tuhan (suluk). Begitulah Tarekat, maka terdapat perbedaan Kaifiyyat (cara) dalam tarekat-tarekat itu. Sesuai dengan perbedaan nama dan siapa yang menelorkan ajarannya. Tarekat Syathariyyah yang dinisbahkan kepada Syekh Abdullah as Syatthar, mempunyai amalan yang lebih khas dibanding dengan Tarekat lain. Ada ritual zikir dan beberapa aspek lain yang berhubungan dengan Zuq, yang lebihnya yaitu adanya pengajian Nur Muhammad.

Ada perbedaan di kalangan para ahli mengenai tarekat mana yang terlebih dahulu masuk ke Sumatera Barat. Ada yang mengungkapkan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah merupakan tarekat yang pertama masuk ke daerah ini. Di antara para sarjana yang meng-aminkan hal tersebut. Namun Schieke, Martin van Bruinessen dan A. Steenbrink mengungkapkan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah baru masuk sekitar 1850-an. Sedangkan menurut sumber-sumber lokal ditambah dengan fakta kembalinya Syekh Burhanuddin dari Aceh ke Minangkabau menegaskan bahwa Tarekat Syathariyah adalah jenis Tarekat pertama yang masuk ke Sumatera Barat. Tarekat Naqsyabandiyah itu sendiri baru masuk sekitar 127 tahun kemudian. Ketokohan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi sebagai seorang ulama kharismatik dan terkenal, dibarengi dengan relasi yang kuat antara pribadi beliau dengan keberadaan Surau Syekh Burhanuddin Ulakan membuat surau yang beliau pimpin menjadi surau yang besar pada periode-periode keemasan-nya abad ke-20. Surau Bintungan Tinggi masih dirasakan eksistensinya sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam sampai saat ini. Sejak didirikan pada tahun 1283 H/1864 H, surau Bintungan Tinggi telah memainkan peranan penting penyebaran Agama Islam. Banyak murid-murid yang berdatangan dari berbagai pelosok negeri untuk menimba ilmu di Bintungan Tinggi. Tercacat pada periode awal keberadaan surau Bintungan tinggi terdapat tak kurang dari seribu orang murid yang mengaji kepada Syekh Bintungan Tinggi, yang mana murid-murid surau kala itu dikenal dengan panggilan pakih. Murid-murid ini berdiam di surau-surau kecil beratap rumbia di sekitar komplek surau Bintungan Tinggi. Banyaknya surau-surau kecil ini tak kurang dari 15 surau.

Pada tahun 1327 H/ 1908, surau Bintungan Tinggi tersebut diperbaharui atas dorongan dan bantuan moril dan materi dari keluarga besar Syekh Bintungan Tinggi. Maka dibangunlah surau baru dengan lebih besar dari surau pertama. Ukurannya yaitu 11,5 x 11,5 m dari bahan kayu yang berkualitas baik. Pembangunan bangun surau baru ini diserahkan kepada arsitek pribadi Syekh Bintungan Tinggi, yaitu Tuanku Khatib Koto Baru. Bangunan surau yang baru ini disamping gaya arsitekturnya yang merupakan perpaduan antara seni bangunan Islam dengan seni Bangunan Minangkabau, juga dilapisi dengan ukiran aka cino saganggang. Dalam hal ukiran dan hiasan tonggak tuo terletak perpaduan budaya Luak dengan budaya Pesisir, berupa hiasan dengan motif flora yang telah distilir. Sebuah hal yang nyata bagi kita bahwa setiap ilmu pengetahuan pasti diwarisi melalui tulisan. Tulisan-tulisan itu terpelihara dalam lembar-lembar naskah dan diwarisi secara turun temurun serta dijadikan materi pokok ilmu pengetahuan. Siti Baroroh Barid menjelaskan naskah-naskah kuno dengan “Karya-karya tulisan masa lampau merupakan peninggalan yang mampu menginformasikan buah pikiran, buah perasaan dan informasi mengenai segi kehidupan yang pernah ada.” Begitu hal surau Bintungan Tinggi, sebagai basis penyebaran Islam masa lalu, surau Bintungan Tinggi menjadi salah satu pusat naskah-naskah kuno. Hal itu adalah konsekwensi logis dari adanya pengajaran agama yang berkembang dalam lembaga pendidikan surau, mulai dari periode awal sampai masa pudarnya eksistensi surau.

Sebagaimana yang telah kami ungkapkan pada pembahasan terdahulu, bahwa surau Bintungan Tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang mempunyai banyak jaringan dengan surau-surau lainnya, maka sudah pasti surau Bintungan Tinggi banyak menyimpan karya-karya tulisan pada masa lampau, sebelum dikenalnya kitab-kitab edisi cetak sekarang. Kitab-kitab yang dipelajari di surau-surau tradisional umumnya dikenal dengan kitab kuningkitab gundul. Penamaan kitab Kuning ini sendiri disamping warna kertasnya yang biasa berwarna kuning, juga ada simbolnya tersendiri. Menurut analisa penulis, warna kuning yang biasa menjadi kertas standar kitab-kitab kuno tersebut memberikan kemudahan bagi siapa saja yang membaca dan menelaahnya. Letak kemudahannya ialah warna kuning tersebut tidak menjemukan mata serta membuat mata kantuk jika melihatnya. Sedangkan istilah kitab gundul mengacu pada tulisannya sendiri, yaitu bahasa Arab yang tak mengenal harkat, titik dan koma.

Disamping itu semua, pemakaian kitab-kitab kuning dilembaga pendidikan tradisional menyiratkan paham keagamaan dari lembaga tersebut. Seperti halnya Indonesia, kitab kuning biasanya identik dengan mazhab Syafi’I dengan I’tiqat ahl sunnah-nya. Hal ini sesuai dengan paham keagamaan yang diamalkan di surau-surau tuo, bermazhab Syafi’i. begitupun Bintungan Tinggi. Adapun sistem yang dipakai di lembaga-lembaga tradisional ini ada beberapa cara. Pertama, seorang murid mendatangi seorang guru yang akan membacakan beberapa baris Qur’an atau kitab-kitab bahasa Arab dan menerjemahkan kedalam bahasa daerah. Pada gilirannya, murid mengulangi dan menerjemahkan kata demi kata sepersis mungkin seperti yang dilakukan gurunya. Sistem penerjemahan dibuat sedemikian rupa sehingga para murid diharapkan mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu kalimat bahasa Arab. Sistem kedua, sekelompok murid mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan baik arti maupun keterangan tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit.

Melihat kepada dua sistem pengajaran tradisional ini, maka pengajaran kitab di Bintungan Tinggi dapat dikategorikan kepada sistem yang kedua. Hal ini diidentifikasi dari adanya catatan-catatan kecil yang terdapat disekitar teks asli naskah-naskah kunonya. Cacatan-cacatan tersebut berkisar tentang terjemahan, catatan gramatikal Arab atau keterangan-keterangan pribadi dari penyalin. Keberadaan naskah-naskah kuno itu sendiri berkaitan erat dengan proses belajar mengajar di Bintungan Tinggi. Terdapat banyak naskah di hiasi oleh cacatan-cacatan penyalin, yang tak lain ialah santri yang sedang mengaji kitab tersebut secara tekun. Mengenai naskah-naskah kuno yang terdapat di Surau Bintungan Tinggi sebahagian besarnya adalah naskah-naskah berbahasa Arab dan sebahagian lainnya ditulis dengan aksara Arab Melayu ( Arab Pegon ). Naskah tersebut berisi tentang ilmu-ilmu keislaman, diantaranya al Qur’an, Tafsir, Fiqih, Nahwu dan Sharaf, Sejarah dan kisah-kisah. Melihat gambaran keberadaan naskah-naskah tersebut, maka semakin besar realitasnya bahwa dahulu surau Bintungan Tinggi adalah surau besar yang mengajarkan Islam secara komplit. Menurut hasil penelitian M. Yusuf, di Surau Bintungan Tinggi tersebut terdapat sebanyak 36 naskah kuno. Naskah-naskah tersebut didokumentasi dengan cara memotret lembaran-lembaran manuskrip dan menyimpan foto-foto dokumentasi dalam bentuk cakram padat ( compact disk ).

Naskah-naskah kuno di Bintungan Tinggi tersebut masih dapat ditemui dengan terawat di Surau Bintungan Tinggi, disimpan dalam rungan khusus di bagian mihrab surau Bintungan Tinggi. Naskah-naskah itupun dibungkus dengan rapi, diberi nomor dan kode penaskahan, serta ditulis dekripsi singkatnya, hasil kerja keras bapak M. Yusuf dan para ahli lainnya. Sebagai hasil karya ulama terdahulu, maka kita masih berbangga hati, kekayaan Minang masih terpelihara. Walaupun keberadaan surau Bintungan Tinggi tidak se-eksis dahulu, yaitu pada masa Syekh Abdurrahman, sang guru, namun keberadaan peninggalan-peninggalan beliau berupa surau dan naskah-naskah kuno masih terpelihara dengan baik. Bahkan untuk surau itu sendiri telah banyak turun dana pemerintah dalam pemugarannya dan termasuk salah satu situs cagar budaya No. 169/BCB-BMB. Sedangkan naskah-naskah itu sendiri masih terpelihara dengan baik, apalagi setelah penelitian yang dilakukan oleh para Filolog Minangkabau, keinginan untuk melestarikan naskah tersebut semakin terwujud dengan baik.

(c) Yulfira Riza (artikel tidak diposting secara lengkap. Artikel lengkap di publish di Jurnal Khazanah Edisi 3)

Rabu, 05 Mei 2010

Dari Penelusuran Naskah Kuno dan Historiografi Ulama Pasaman : Ulama Lokal dan Kosmopolitan Pasaman


Di edit oleh : Muhammad Ilham


(Penelitian ini dilakukan oleh "adik-adik" mahasiswa (Chairullah & Apria Putra cs.), tepatnya sahabat-sahabat mahasiswa saya Fakultas Ilmu Budaya - Adab IAIN Padang yang tergabung dalam Tim Inventarisasi Naskah Melayu-Islam Minangkabau yang dalam usia "muda" yang belum menyelesaikan gerbang akhir perkuliahan, namun memiliki ikhtiar akademik luar biasa. Bagi saya, dosennya, mereka adalah orang-orang tercerahkan. Semoga kedepan, mereka mampu melahirkan penelitian yang lebih komprehensif. Tapi, ikhtiar mereka, sesederhana apapun, mereka pantasdiberi apresiasi ::: beberapa bahagian, terutama catatan kaki untuk menjaga orisinalitas laporan penelitian ini, tidak dipublish)

Hampir seluruh Ulama-ulama surau, tak terkecuali ulama-ulama ternama negeri Pasaman, sampai pertengahan abad ke-XX merupakan ulama didikan Mekkah. Paling tidak, setelah menyelesaikan pengajian di berbagai surau di Minangkabau, mereka berangkat Haji dan tinggal beberapa lama di Mekkah, mengambil barokah pada beberapa halaqah yang bertebaran di Mesjidil Haram, adapula yang sampai mendapat ijazah kitab hingga meraih gelar Khalifah dengan selembar ijazah keluaran Jabal Abi Qubais. Adapula yang benar-benar hidup menahun di Mekkah, belajar ilmu secara khusus kepada beberapa Syekh ternama, setelah cukup bilangan beberapa tahun, mereka berkelana menziarahi Madinah dan Baitul Maqdis, dan pulang selaku ulama besar.
Dengan demikian, ulama-ulama selaku icon intelektual Islam di Pasaman khususnya telah bersinggungan dengan jaringan Ulama kosmopolitan ketika belajar ilmu agama di Mekkah. Kemudian setelah kembali ke kampung halamannya, mereka membentuk Jaringan lokal lewat institusi surau di daerahnya masing-masing. Bagi orang-orang siak yang ramai menimba ilmu di surau, maka “surau” sendiri menjadi pijakan awal bagi mereka sebelum menuju Mekkah dan bergabung dalam jaringan ulama internasional di sana. Bagi mereka –orang siak- surau merupakan tempat belajar dasar-dasar keagamaan dan modal untuk berangkat ke Mekkah.

Mengenai ulama di Pasaman, seperti itu pula keadaannya. Mereka menepati posisi signifikan dalam jaringan ulama lokal dan jaringan ulama kosmopolitan. Seperti halnya setiap daerah di Minangkabau, Pasaman juga banyak pula dihuni tipikal ulama-ulama sebagai yang disebut diatas. Dari sekian banyak ulama-ulama ternama di daerah ini, maka di sini akan digambarkan jejak Historis-Biografis tokoh-tokoh inti jaringan ulama di Pasaman. Sehingga nantinya kita dapat memperoleh gambaran jaringan keilmuan yang mereka peroleh dan mereka ajarkan kepada jaringan lokal di bawahnya. Di samping itu, ada satu kriteria umum ulama-ulama besar masa lalu yaitu mereka masyhur terbilang keramat, sebuah bukti atas keshalehan beliau-beliau yang bermartabat di sisi Allah itu. Tiadakan berani menolaknya, terkecuali yang tidak percaya. Karena kekeramatan itu, yang dalam ilmu Tauhid diistilahkan dengan Khariqul lil Adah, memang diakui, dilihat oleh mata, disaksikan oleh masyarakat banyak, menjadi buah bibir sampai ke generasi-generasi selanjutnya. Namun banyak penulis Biografi ulama di masa modern ini tak menulis itu, hingga dikatakan itu tak logis, tak sesuai dengan metode sejarah, apakah ala Max Weber seperti yang dibanggakan Mangaraja Onggang Parlindungan, pokoknya tak logis, titik. Jika diberi argumen, mereka akan bilang keramat itu hanya sikap “Meng-KULTUS-kan guru belaka, agar murid membuat citra supaya gurunya besar dimata orang. Sedangkan Ibnu Khaldun saja, seorang Sejarawan Muslim terbesar itu, tetap menulis hal-hal ganjil itu dalam Muqaddimah-nya. Bahkan bangsa yang dikatakan modern itu, Jepang, masih meyakini Kaisar mereka keturunan dewa matahari.
Diantara tokoh-tokoh inti jaringan ulama Pasaman, yang membentuk jaringan lokal dan kosmopolitan, ialah Tuanku Mudik Tampang Rao (wafat awal abad ke XIX), Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi Kumpulan (1764-1914), Syekh Daud Durian Gunjo Malampah (1854-1939), Syekh Muhammad Bashir al-Khalidi Lubuk Landur (wafat 1920), Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979), Syekh Muhammad Nur Mangkumang Datar (wafat 1989) dan Syekh Abdullah Alin Tagak – Bukik Tuleh (wafat 1993).

1) Tuanku Mudik Tampang Rao (awal abad XIX)

Tak ada sumber otentik yang berbicara langsung mengenai Tuanku Mudik Tampang, siapa beliau. Dari gelar nama beliau, dapat dimengerti bahwa nama itu hanya berupa gelar kehormatan, yaitu terdiri dari kata “Tuanku” dan “Mudik Tampang”. Tuanku ialah gelaran yang biasa dipakai untuk orang-orang besar, di Minangkabau dikenal sebagai gelar Ulama. Sedangkan “Mudik Tampang” ialah nama daerah, yaitu sebuah distrik kecil di Tanah Rao. Jadi gabungan dua istilah ini memberikan pengertian bahwa sang Syekh berasal dari Mudik Tampang, Rao.
Menurut salah satu sumber oral yang ditemui, Bapak Nasaruddin Hasibuan, sang Syekh Tuanku Mudik Tampang digelari dengan panggilan Syekh nan Bacukua Sabalah, yaitu sebuah gelar yang mengungkap kekeramatan sang Syekh, menghilang dari kampungnya dan langsung tiba di Mekkah untuk memadamkan kebakaran dalam keadaan bercukur sebelah. Beliau seangkatan dengan ulama-ulama besar paruh abad ke-18 dan ke-19, diantaranya Tuan Syekh Muhammad Shaleh “Beliau Munggu” Padang Kandih Lima Puluh Kota, yang masyhur namanya di Tiga Luhak dalam ilmu Tarekat dan Hakikat (ayah yang Mulia Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang”); Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan, masyhur sebagai guru besar Tarekat Naqsyabandiyah di abad ke-19. Beliaupun punya hubungan dengan Tuanku Rao, pimpinan Paderi yang dikenal dalam historiografi Batak dengan nama si Pokki Nangolngolan Sinambela. Walaupun riwayat hidup beliau masih kabur, namun ada satu sumber yang memberikan sedikit informasi mengenai sang Syekh Mudik Tampang, sumber itu ialah Hikayat Jalaluddin, merupakan salah satu sumber lokal yang langka mengenai Paderi. Dinama Syekh Jalaluddin Ahmad Faqih Saghir menyebutkan :

…akan halnya cerita ini peri menyatakan asal kembang ilmu syari’at dan hakikat dan asal teguh larangan dan pegangan dan asal berdiri Agama Allah dan agama Rasulullah.……adalah seorang Auliya’ Allah yang kutab lagi kisyaf lagi mempunyai keramat yaitu orang tanah Aceh Tuanku Syekh Abdurra’uf, orang masyhurkan ia mengambil ilmu dari pada tuan Syekh Abdul Qadir Jailani. Itupun ia mengambil tempat di negeri Madinah tempat berpindah nabi kita Muhammad Rasulullah ‘alaihi wa sallam yaitu bimbing menghafazkan ilmu syari’at dan ilmu Hakikat ialah menjadi pintu ilmu sebelah pulau Aceh ini. Maka digarakkan Allah berlayar ia dikepala tempurung menjelang negeri Aceh adanya. Maka kemudian dari itu turunlah ilmu Tarekat ke negeri Ulakan kepada auliya’ Allah yang mempunyai keramat lagi mempunyai derajat yang a’la, ialah pergantungan ilmu tahqiq, ikutan dunia akhirat oleh segala makhluk di sebelah tanah ini. Maka berpindahlah Tarekat ke Paninjauan. Lalu kepada tuanku Mansiang nan Tuo. Segala surat-surat ia memakaikan tertib majlis lagi wara’ seperti Tuanku nan di Ulakan jua halnya. Maka dimasyhurkan orang pula Tuanku nan Tuo di negeri Kamang. Ia telah menghafazkan ilmu alat. Dan Tuanku di Lambah dan serta Tuanku di Puar, yang mempunyai keramat lagi beroleh limpah dari pada Tuanku di Paninjauan, orang Empat Angkat jua adanya. Maka Tuanku di Tampang di Tanah Rao datang dari negeri Madinah membawa ilmu mantiq dan ma’ani…

Dari keterangan Faqih Shaghir ini diketahui bahwa Tuanku Mudik Tampang masyhur namanya sebagai pemuka-pemuka ulama, khususnya di abad ke-18. beliau pernah belajar di Hejaz (Mekah dan Madinah), sehingga terkenal beliau sebagai ulama yang ahli dalam ilmu bahasa Arab, mantiq dan ma’ani. Selain itu beliau juga dikenal sebagai salah seorang Ulama Tarekat Naqsyabandiyah, hingga sekarang di surau bekas peninggalan beliau beratus-ratus orang, laki-laki dan perempuan, melaksanakan suluk dan wasilah.


2)
Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi Kumpulan (1764-1914)


Jika ditanya siapa ulama besar atas jalan Naqsyabandiyah di abad ke XIX dan awal abad XX, berpengaruh luas dikalangan orang-orang siak Minangkabau hingga tanah Batak, terbilang dalam catatan-catatan Belanda akan kemasyhurannya, maka Beliaulah Maulana Syekh Ibrahim al-Khalidi Kumpulan, masyhur ditengah-tengah masyarakat dengan “Angguik Balinduang” Kumpulan.
Nama kecil beliau ialah Abdul Wahab, lahir pada tahun 1764. diusia yang masih belia Beliau mengaji al-Qur’an menemui seorang alim di Pasir Lawas – Agam. Tersebut bahwa guru beliau tersebut maklum mahir al-Qur’an dan murid langsung dari Syekh Burhanuddin di Ulakan. Setelah menamatkan kaji di tempat tersebut, Beliau melanjutkan mempelajari hukum-hukum syari’at atas mazhab Syafi’i di Cangkiang, IV Angkat Candung. Kemudian Beliau berangkat ke Mekkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Haji. Setelah Beliau kembali dari Mekkah, Beliau belajar ilmu Tharikat Naqsyabandiyah kepada mamanda Beliau Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus. Inilah guru Beliau pertama dalam ilmu Tharikat, hakikat dan Ma’rifat. Kemudian beliau pergi ke Mekkah lagi dan di situ beliau bermukim selama 7 tahun, untuk melanjutkan pengajian dalam ilmu syari’at dan secara khusus melanjutkan ilmu Tharikat di Jabal Abi Qubais kepada Maulana Syekh Khalid Kurdi. Setelah beliau menjadi orang alim pada ilmu Syari’at dan Tharikat, beliau kembali pulang ke Kumpulan. Di Kampung Sawah Laweh Kumpulan, beliau mengajar ilmu agama dalam syari’at dan Tharikat di sebuah Surau yang bernama Surau Kaciak. Karena orang semakin bertambah-tambah menimba ilmu kepada Syekh Ibrahim, maka dibangunlah kompleks surau yang lebih besar dinamai dengan Surau Tinggi. Syekh Ibrahim mempunyai pengaruh yang luas dikalangan ulama dan masyarakat banyak, maka beliau menepati posisi sentral dalam jaringan ulama setelahnya, terutama dalam jaringan Tharikat Naqsyabandiyah. Diantara murid-murid beliau yang terkenal keulamaannya setelah Beliau ialah Syekh Syahbuddin Tapanuli, Syekh Muhammad Nur Baruah Gunung, Limapuluh Kota, Syekh Muhammad Bashir Lubuk Landur, Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Syekh Daud Durian Tigo dan Syekh Mudo Tibarau Kinali.

Layaknya ulama-ulama besar dan yang ahli sufi lainnya, Beliau –Syekh Ibrahim- juga terbilang keramatnya, sebagai anugerah Allah akan wali-walinya dan orang-orang shaleh pilihan. Diantara karomah-karomah beliau yang masyhur menjadi buah bibir masyarakat umum ialah menggariskan tongkat Beliau ketika banjir di negeri Talu, sehingga air banjir itu menjadi surut; hilang lenyapnya tulisan-tulisan buku seorang sarjana Inggris yang hendak mendebat beliau dalam masalah Tasawwuf, dan banyak lagi lainnya kisah-kisah tersebut.
Syekh Ibrahim Kumpulan wafat pada tahun 1914, dalam usia 150 tahun. Menurut penuturan masyarakat, sewaktu Beliau meninggal dunia kampung Koto Tuo penuh sesak oleh orang banyak. Kebanyakan dari mereka itu tidak dikenal siapa orangnya dan banyak pula di antara mereka itu yang berpakaian putih-putih. Selain itu muncul keanehan, negeri tersebut penuh dengan kabut putih dan kupu-kupu kuning. Setelah berlalu 40 hari, maka kabut putih dan kupu-kupu kuning itu menghilang sama sekali.


3)
Syekh Daud Durian Gunjo Malampah (1854-1939)


Beliau adalah ulama besar Pasaman yang masyhur terbilang keramat. Sebagai halnya ulama-ulama Minangkabau masa dulu yang keramat-keramat keadaannya, sebagai tanda kuasa Tuhan akan hamba yang dikasihi-Nya, maka untuk Inyiak Durian Gunjo ini sangat terkenal kekeramatannya oleh masyarakat luas di Minangkabau. Namanya tersanding diantara Syekh Keramat Taram – Payakumbuh dan Syekh Abdurrahman al-Khalidi Batu Hampar yang keramat-keramat belaka. Selain ulama yang dalam fahamnya dalam bidang Syari’at, kekeramatan beliau lazim selaku ulama yang sangat mendalam pada bidang Tharikat, terutama atas garis silsilah saadat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah.
Beliau diperkirakan lahir pada tahun 1854, sejak kecil beliau telah menjadi anak didik Syekh Ibrahim Kumpulan yang masyhur itu. Dengan Syekh Ibrahimlah beliau menekuni ilmu-ilmu keislaman, hingga mengambil Tharikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah, bersuluk dibawah pengawasan “Angguik Balinduang”. Maka terkemuka pula Inyiak Daud selaku salah satu murid kesayangan Syekh Kumpulan itu. Di samping itu, Inyiak Daud juga pernah secara khusus menekuni ilmu-ilmu Syari’at, mencakup fiqih dan ilmu-ilmu Kitab lainnya kepada Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas (wafat 1949), ayah KH Sirajuddin Abbas tokoh PERTI yang terkemuka itu. Selanjutnya, Syekh Durian Gunjo melanjutkan pelajarannya ke Mekkah sambil menunaikan rukun Islam yang kelima. Di Mekkah beliau bermukim selama 2 tahun, beribadah Haji serta memperdalam ilmu agama khususnya dalam bidang Tharikat Naqsyabandiyah. Konon kabarnya, di tengah perjalanan antara Mekkah dan Madinah, tepatnya di Bulan Ramadhan, beliau mendapati Lailatul Qadar. Saat itu beliau berjalan dengan unta, tak terasa unta itu telah menunduk saja tiada mau berdiri dan berjalan, sedangkan batang-batang kurma telah menunduk semuanya. Maka beliau mulai tersadar, bahwa beliau telah berjumpa dengan malam “kemuliaan” itu. Kemudian beliau berdo’a, salah satu bunyi munajatnya meminta kekayaan kepada Allah pada dua kampung, yaitu kaya di dunia dan kaya di akhirat. Rupanya malam itu membawa barokat yang besar kepada Syekh Daud Durian Gunjo dikemudian hari.

Beliau terkenal sebagai ulama terkemuka dan termasyhur, tersebab keutamaan yang beliau peroleh, apakah dari ilmu pengetahuan dan amal shaleh yang selalu beliau amalkan sepanjang waktu. Beliau mendirikan surau besar persis di kaki Gunung Pasaman. Suraunya memang jauh dari pemukiman ramai oranga, tapi dari melihat surau ini yang cukup megah di zamannya memberikan kepada kita gambaran bahwa surau ini merupakan salah satu surau Besar yang makmur di masa lalu, tak terpungkiri, juga sampai saat ini. Surau Besar itu terbuat dari kayu, sehingga suasana dalam surau itu sangat tenang, khitmat, mirip situasi surau-surau Tarekat naqsyabandiyah lainnya di hampir seluruh wilayah Minangkabau. Surau itu ditegakkan dengan empat tiang dari batang-batang kayu yang besar-besar. Surau itu memiliki 4 tingkat, yang konon dulunya keempat tingkat itu diisi penuh oleh orang-orang suluk, berkhitmat mengamalkan Tarikat Naqsyabandiyah, berzikir mengingati Allah. Sebuah lambang kejayaan surau di masa lalu, surau besar itu dibuat bergonjong, menawan, sebuah pesona pendidikan Islam masa lalu yang tiadakan pudar dimakan zaman, diterpa masa.


Hal ihwal mengenai peristiwa-peristiwa aneh seputar Beliau banyak menjadi buah bibir masyarakat banyak. Salah satu yang populer, ialah kisah Syekh Daud menyelamatkan kapal anaknya yang sedang berlayar mengaji ke Mekkah. Ini disaksikan oleh murid-murid beliau sewaktu bertahlil, lewat kasyaf nyata terang. Sedang orang-orang dalam kapal yang ditompang anaknya itu nyata melihat yang menolong kapal mereka supaya tidak tenggelam itu ialah seorang Syekh, ialah Inyiak Daud Durian Gunjo. Sedang disaat yang sama, Syekh Daud sendiri dilihat murid-muridnya sedang berzikir khusyu’ dalam kelambunya di Surau itu. Dan banyak lagi kisah-kisah lain.
Keberadaan Syekh Daud Durian Gunjo dengan dedikasinya selaku ulama berpengaruh, juga menepati inti jaringan Ulama di Pasaman, sebagaimana gurunya Syekh Ibrahim Kumpulan. Dari sekian anak Beliau, ada terdapat 3 orang yang melanjutkan usaha beliau, meneruskan jaringan ulama untuk generasi selanjutnya. Mereka ialah Syekh Muhammad Nur Mangkumang Datar (wafat 1989), terkenal masyhur; Syekh Sulaiman Batu Kambiang – Malampah dan Haji Hasan Kinali.


4)
Syekh Muhammad Bashir al-Khalidi Lubuk Landur (wafat 1920)


Pasaman Barat pernah pula menjadi basis keilmuan Islam yang terkemuka. Tak jauh dari Simpang Empat, yang menjadi barometer perekonomian Pasaman itu, terdapat satu komplek Surau Besar yang asri dan lumayan unik. Orang-orang asing berbondong-bondong melepas letih ke Komplek Surau itu, samping melihat kumpulan ikan-ikan besar, ikan-ikan larangan dimasyhurkan orang. Maka itulah negeri Lubuk Landur, surau itu surau Tuan Syekh Lubuk Landur yang terkenal dan ikan-ikan besar itu ialah ikan-ikan larangan Tuan Syekh Lubuk Landur yang dikenal bertuah.
Di masa-masa silam, surau Lubuk Landur yang luas itu merupakan salah satu pusat pendidikan Islam yang terbilang dikalangan penuntut-penuntut ilmu di daerah ini. Dia menjadi satu titik jaringan keilmuan islam, koneksi ulama yang terjalin lewat aktifitas mengaji di surau dan aktifitas Suluk yang sangat digemari hingga kini.

Tersebutlah ulama besarnya Tuan Syekh Muhammad Bashir Lubuk Landur, alim terkemuka dalam Syari’at dan Hakikat, pemimpin atas jalan Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Masa kecil dan riwayat mula belajarnya belum dapat dicatat. Namun dapat dipastikan beliau bermukim bertahun-tahun di Mekkah al-Mukarramah, memfahamkan kaji Naqsyabandiyah di Jabal Qubis, setelah terlebih dahulu berkhitmat kepada Syekh Ibrahim Kumpulan yang masyhur itu. Maka jelas sudah, lewat surau Lubuk Landur beliau membentuk jaringan keilmuan lokal dengan para orang siak dari berbagai daerah, setelah terlebih dahulu beliau memasuki jaringan ulama kosmopolitan di Mekkah al-Mukarramah.
Sebagai pula ulama sufi terkemuka beliau termasuk ahli kiramah yang masyhur, salah satunya yang tetap sampai sekarang ialah ikan larangan Syekh Lubuk Landur. Ikan itu bertuah, yang menurut informasinya ikan-ikan itu dilarang diambil Syekh Lubuk Landur karena suatu peristiwa. Bagi masyarakat yang tak percaya larangan itu, kemudian dimakan, paling tidak akalnya akan rusak.


5) Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Sasak.

Beliau terkemuka sekali dalam organisasi kaum Tua, Perti. Teman seperjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1970), dan ulama-ulama besar Minang lainnya dalam membentengi faham ahlussunnah dari rongrongan kaum muda yang hendak merubahnya. Riwayat beliau agak kabur, namun dapat dinyatakan beliau alim benar dalam Syari’at menurut kitab-kitab kuning. Sehingga bila beliau tersesak dalam diskusi dengan lawan-lawan faham beliau, maka berhamburanlah dalil dan hujjah dari mulut beliau, anehnya beliau tahu di kitab mana dalil-dalil itu beliau kutip dan halaman berapa tanpa sebelumnya menyentuh kitab itu. Selain alim syari’at, selayaknya ulama masa itu, beliau juga faham hakikat atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah. Tersebut beliau adalah murid dari Syekh Ibrahim Kumpulan, selain itu beliau menyelesaikan kajinya ke Kampar - Riau, atas hadapan Tuan Syekh yang Mulia Syekh Abdul Ghani Batu Basurek (wafat 1961, dalam usia 150 tahun). Di samping itu, tak sulit bagi kita mengambil fakta, bahwa Beliau –Syekh Sasak- merupakan ulama didikan Mekkah, jaringan kosmopolitan itu.


6)
Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979)

Di salah satu Pusat perjuangan Paderi (1803-1838), Bonjol, pernah pula menjadi pusat kajian Islam Tradisional Minangkabau yang masyhur namanya sampai akhir abad ke-20. Nama besar perguruan Islam Tradisional itu tak lain karena dedikasi dan ketenaran seorang ulama besar yang kharismatik di daerah ini. Ulama itu ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, terkenal pulalah beliau ini dengan panggilan “Imam Bonjol ke-II”. Nama beliau paling banyak disebut apabila dihubungkan dengan jami’ah (organisasi) ulama-ulama Tua Minangkabau, PERTI, sebagai salah seorang sesepuh yang dihormati, teman seperjuangan Inyiak Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Syekh Muhammad Sa’id dilahirkan pada tahun 1881. tidak tercatat lagi masa kecil beliau. Namun dapat diduga bahwa beliau di masa-masa umur puluhan tahun mengaji ala surau Minangkabau di daerah kelahirannya, Bonjol. Dasar-dasar keilmuan surau inilah yang memotivasinya untuk belajar ke tanah suci Mekkah dikemudian harinya, sebagai halnya ulama-ulama besar yang sebaya dengan beliau, sampai masyhurnya beliau sebagai Ulama besar.

Syekh Sa’id mengambil Tarekat Naqsyabandiyah dari yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), yang masyhur namanya dengan “Angguik Balinduang Kumpulan”. Keberhasilan beliau dalam Tarekat Naqsyabandiyah menyebabkan beliau diangkat sebagai khalifah Syekh Ibrahim Kumpulan. Dikarenakan begitu taatnya beliau kepada Allah sehingga beliau mendapat Karunia Allah di dalam mengerjakan khalwat. Diceritakan dalam mengerjakan Suluk di Bulan Ramadhan beliau beroleh Karomah. Seketika mengambil wadhu’ di Malam Hari, Sorban beliau dilarikan Pohon kelapa yang rebah, sebab sebelumnya beliau meletakkan kain sorban beliau di pohon kelapa rebah itu sebelum berwudhu’.
Surau beliau yang kini telah menjelma menjadi mesjid merupakan pusat intelektual Islam yang terkemuka hingga akhir dekade abad XX. Jelas pula, sosok ulama Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting dalam transmisi keilmuan Islam yang tidak bisa diabaikan.

7) Syekh Muhammad Nur Mangkumang Datar (wafat 1989)

Beliau adalah salah seorang anak dari Inyiak Syekh Daud Durian Gunjo yang terkemuka keulamaannya. Tiada pula dapat ditulis mengenai perjalanan menuntut ilmunya ketika kecil. Namun dapat dinyatakan bahwa beliau merupakan salah satu ulama didikan Mekkah al-Mukarramah yang membentuk jaringan ulama lokal lewat surau Mangkumang Datar. Dan surau Beliau yang terletak jauh dari pemukiman penduduk di Mangkumang Datar, menyiratkan bahwa surau ini memang menjadi tipikal surau-surau Sufi, jauh dari hiruk pikuk dunia agar segera dapat mendekatkan diri kepada akhirat. Melihat arsitek surau yang cukup besar, dan bangunan-bangunan yang cukup tua yang masih berjejeran disamping surau Mangkumang Datar ini, memberikan gambaran bahwa surau ini pernah mengalami fase makmur di masa lampau. Syekh Mangkumang Datar wafat pada tahun 1989. untuk aktifitas suluk masih tetap dijalankan. Sedangkan anak-anak Syekh sendiri sebahagian besar tinggal di Jakarta.


8)
Syekh Abdullah Alin Tagak – Bukik Tuleh (wafat 1993)


Jauh di Gunung Tuleh, terdapat sebuah Madrasah (Pesantren) yang masih mempertahankan kaji ulama-ulama lama itu. Itulah pesantren Haji Abdullah Alin Tagak, didirikan oleh seorang ulama yang masuk pula dalam jaringan ulama lokal di Pasaman. Untuk periode terakhir ini, maka beliaulah yang tampaknya masih melanjutkan tradisi ulama-ulama lama Minangkabau, di tengah aruh modernisasi yang makin bergerak cepat.
Nama ulama Alin Tagak itu ialah Syekh Abdullah. Seperti sebahagian ulama lainnya, riwayat masa kecilnya tampaknya masih diselubungi kabut sejarah. Jaringan keilmuan yang dapat dicatat dari perjalanan intelektual Syekh Alin Tagak bahwa beliau termasuk pula sebagai salah seorang mursyid Naqsyabandiyah yang terkemuka sampai akhir abad XX sekaligus sebagai malin kitab dikenal. Pelajaran agama, termasuk Tharikat dan Kitab, dipelajarinya dari Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak.Transmisi keilmuan Islam : Surau dan naskah kuno Islam di Pasaman

Surau, bagaimanapun keadaannya telah menjadi sarana pendidikan Islam terkemuka dan berperan besar dalam Islamisasi, melahirkan ulama-ulama besar di zamannya, hingga mencetak juru-juru dakwah profesional. Di masa keemasannya, surau mampu menjadi barometer sosial-masyarakat, apakah dalam usaha perjuangan masyarakat terhadap kompeni, penentuan ekonomi petani, pengajaran adat istiadat Minangkabau dan tentunya istimewa dalam bidang agama. Fungsi surau yang bukan sekedar pusat pendidikan Islam, membuat kedudukan surau menjadi sangat penting bagi masyarakat kala itu. Apatah lagi dengan peran seorang ulama kharismatik yang memimpin surau tersebut, maka seolah-olah dia adalah pemimpin masyarakat. Pemimpin dalam bidang agama, penentuan kearifan ekonomi hingga penjaga ketertiban masyarakat. Begitulah surau, keadaan dan posisinya di masa jayanya.
Meneropong surau dari segi sosial keagamaan, kita akan memperoleh suatu gambaran nyata betapa lembaga ini, surau, memainkan peran penting dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Ulama yang menjadi titik nadi kehidupan surau merupakan sosok yang menjadi panutan, tumpuan hingga pimpinan. Sehingga fungsi utama surau sebagai tempat transmisi keilmuan yang dalam menjadi semakin menjadi nyata, dengan ulama sebagai penentu arah kebijakan-nya.

Transmisi keilmuan islam, berarti mentranfer ilmu-ilmu agama kepada generasi selanjutnya, agar tradisi keilmuan itu tidak putus. Setidaknya ada tiga porsi keilmuan Islam yang diajarkan secara mendalam di surau-surau Minangkabau. Pertama ialah pemahaman tentang syari’at, dengan mempelajari secara tuntas fiqih Mazhab Syafi’i. Kedua ialah pemahaman mengenai Tauhid, menekankan aspek akidah melalui “pengajian Sifat Dua Puluh” dan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). Dan ketiga pengamalan Tasawwuf lewat Tharikat-tharikat Mu’tabarah. Di hampir semua surau-surau lama ketiga porsi keilmuan ini diajarkan secara tuntas, walaupun dibeberapa surau telah mengambil spesialis keilmuan tertentu, seperti Nahwu, Tafsir, Ma’ani dan lainnya, namun ketiga porsi ini tetap medapat tempat di surau-surau tersebut.
Dengan demikian jelas, surau-surau Minangkabau sangat kuat memegang tradisi Sunni; bersyari’at dengan Fiqih Syafi’i, berakidah sesuai dengan faham Asy’ariyah dan mengamalkan salah satu Tharikat Sufiyah sebagai sebuah kearifan Tasawwuf. Itulah sebabnya kenapa ulama-ulama surau ini kuat pendirian ketika munculnya beberapa kecaman dari kaum Modernis (kaum muda), karena memang sejak dulu Ahlussunnah telah mapan di ranah Minangkabau ini.

Memang tidak ditemui satu catatan kurikulum yang dipakai oleh lembaga surau. Namun dari penemuan naskah-naskah tua yang masih ditemui sekarang, kita akan membenarkan betapa surau ini menjadi basis Ahlussunnah yang kokoh berakar. Kita masih dapat menemui kitab-kitab besar mazhab Syafi’i yang masih bertulikan tangan di surau-surau ini, yang usia berabad-abad lamanya. Kitab masih menemui syarah-syarah ilmu Tauhid yang besar-besar di bekas-bekas surau masa lalu. Dan kitapun masih menjumpai kitab-kitab Tharikat yang sangat langka di beberapa surau-surau besar masa lalu. Di sinilah kekuatan surau, dengan ulama dan aktifitas transmisi keilmuannya; dalam dan tinggi. Itupulalah yang pertahankan kaum Tua ketika muncul pergolakan agama di Sumatera barat dengan kaum Muda di awal abad ke-20. Sehingga tersebut dalam pecahan undang-undang 12, salah diadat, hukum adat nan kewi itu, DAGO DAGI (mangguntiang nan lah bunta, menyubik nan lah rato), salah di undang-undang duo baleh. DAGO membatalkan mufakat yang telah adil dalam nagari (=mufakat agama), DAGI membuat haru biru dalam nagari (=huru hara dengan memasukkan faham baru yang membuat ricuh masyarakat). Karena tersebut Minangkabau, Indonesia umumnya sejak dahulu telah kuat memegang mazhab syafi’i, berittiqat Ahlussunnah wal jama’ah dan memakai kerifan Tasawwuf lewat pengamalan Tarikat-tarikat mu’tabarah. Maka sikap inilah yang di mulai oleh kaum Muda, membatalkan mufakat yang telah bulat, membuat pergolakan, dengan membatalkan faham agama yang telah mapan di Minangkabau sejak dulu kala.


Itu pulalah yang ditulis oleh Syekh Muhammad Sa’ad Mungka (wafat 1922) ketika melawan polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Syekh Ahmad Khatib. Dalam kitab langka yang berjudul Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithathal Washilin (=meremukkan hidung penantang, yaitu mereka yang membatalkan Rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah), dimasa diawal risalah itu Syekh Muhammad Sa’ad menulis:


(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)
Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil….

Karena memang kehebohan ditengah-tengah masyarakat itu disebabkan oleh orang-orang yang menyalahi mufakat.
Begitulah keilmuan surau-surau di Minangkabau, kuat memegang Ahlussunnah, kuat beramal dengan Tarikat-tarikat Ahli Sufi. Untuk selanjutnya keilmuan surau yang begitu halnya telah diadobsi oleh Perti, karena memang Perti merupakan kelanjutan surau-surau lama itu. Dan kitab-kitab tulisan tangan dalam tradisi surau dahulu telah diganti dengan kitab-kitab kuning, dengan tetap memakai materi kitab-kitab lama itu. Kitab kuning untuk selanjutnya menjadi prioritas keilmuan yang utama bagi kaum tua, sebab dengan kitab kuning akan terwarisi segala ajaran yang mencakup Fiqih Syafi’i, Ahl Sunnah dan Tasawwuf secara utuh. Diantara kurikulum Kitab yang dikaji di Madrasah-madrasah Perti itu ialah : (1) Bidang Fiqih, yaitu Matan Ghayah wat Taghrib, Fathul Qarib Mujib, Al-Bajuri, I’anatut Tahlibin dan Mahalli; (2) Bidang Tauhid, yaitu Jawahirut Tauhid, Al-Aqwal al-Mardiyah, Fathul Majid, Umm Burhain; (3) Bidang Tasawwuf, yaitu Minhajul ‘Abidin, Mau’izatul Mukminin dan Hikam; (4) Nahwu dan Sharaf (gramatikal Arab), yaitu Matan al-Jurumiyah, Matan Bina wal Asas, Mukhtashar Jiddan, Kaelani, Kawakib ad Durriyyah, Qatrun Nida, Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah; (5) Bidang Ushul Fiqih, yaitu Waraqat, Jami’ul Jawami’, Asybah wa an-nazhair; (6) Bidang Tarekh (sejarah Islam), yaitu Khulasah Tarekh Islami, Nurul Yaqin, Itfamul Wafa; (7) Manthiq (logika), yaitu Idhohul Mubham, Sullamulwi; (8) Tafsir, yaitu Jalalain; (9) Balaghah, yaitu Jauharatul Maknun; dan (10) Bidang Hadist dan Musthalah, yaitu Kitab as-Sanawani dan al-Baiquniyah.

Begitupulalah surau-surau di Pasaman, dengan ulama-ulama yang gigih mempertahankan kaji lama itu.
Mengenai hal naskah-naskah tua yang menjadi local genius di surau-surau, maka ia ialah kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Dalam istilah Hamka jika dibeli tak terbeli, begitu mahalnya. Sebelum adanya mesin cetak seperti sekarang, maka untuk keperluan kitab-kitab pelajaran agama di surau-surau, maka materi-materinya disalin dengan tangan. Dari hasil tulisan-tulisan tangan itu agama Islam dipelajari secara menyeluruh. Selain itu adapula sebab produktifitas ulama-ulama yang mengarang buku sendiri, jadilah karangannya itu sebuah master peace yang langka, diburu keberadaannya. Dengan demikian naskah-naskah tua sangat penting keberadaannya dalam transmisi keilmuan Islam di masa lalu.

Naskah-naskah Tua surau-surau itu kebanyakannya masih tersimpan, tapi dalam kondisi yang memprihatinkan. Mungkin karena usia yang sudah berabad-abad lamanya, ataupun karena siempunya tak mengerti kegunaannya sehingga seolah-olah naskah itu sebagai barang terbuang. Seperti halnya naskah-naskah Tuanku Mudik Tampang di Surau Rao, dari watermark-nya naskah-naskah itu memang sudah berusia tua. Diantara bentuk-bentuk water mark dan tahun pembuatannya serta contoh-contoh naskah kuno Islam di Pasaman yang dikategorikan atas naskah al-Qur'an, naskah Wirid-Wirid, naskah Shalawat dan naskah Azimat (tidak diposting/dipublish : berada di tangan pemilik dan tim peneliti)


(c) Tim Inventarisasi Naskah Mahasiswa FIB-Adab IAIN Padang/2010 ::: telah dipresentasikan dalam Pertemuan Masyarakat Pernaskahan Cabang Sumatera Barat di Univ. Andalas Padang dan Diskusi Rutin Dosen Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Padang, 6 Mei 2010


Jaringan Ulama Pasaman : Sebuah Pengantar Epistimologis

Di edit oleh : Muhammad Ilham

(Penelitian ini dilakukan oleh "adik-adik" mahasiswa, tepatnya sahabat-sahabat mahasiswa saya Fakultas Ilmu Budaya - Adab IAIN Padang yang tergabung dalam Tim Inventarisasi Naskah Melayu-Islam Minangkabau yang dalam usia "muda" yang belum menyelesaikan gerbang akhir perkuliahan, namun memiliki ikhtiar akademik luar biasa. Bagi saya, dosennya, mereka adalah orang-orang tercerahkan. Semoga kedepan, mereka mampu melahirkan penelitian yang lebih komprehensif. Tapi, ikhtiar mereka, sesederhana apapun, mereka pantasdiberi apresiasi ::: beberapa bahagian, terutama catatan kaki, saya hilangkan dengan tujuan menjaga orisinalitas penelitian ini)

Berbicara mengenai Islam Minangkabau, maka kita akan menemui berbagai dinamika sosial keagamaan hingga beragam pergolakan pemikiran. Titik sentral dari berbagai dinamika tersebut, tentunya tidak akan terlepas dari peran dan posisi seorang ulama yang menjadi “sosok kharismatik” dalam suatu kawasan daerah tertentu, niscaya ulama yang menjadi panutan dan menjadi tokoh yang selalu didengar serta dipatuhi memang menjadi realitas di masa-masa keemasan surau tersebut. Ulama mempunyai peran besar dalam mentranfer keilmuan Islam kepada generasi selanjut-nya, sebagai warasatul anbiya’ (=pewaris para Nabi), selain itu ulama juga menepati posisi signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat, ulama menjadi tauladan, tutur katanya didengar, suruhnya dikerjakan, masyarakat sangat segan dan ta’zhim akannya, itulah nominasi figur ulama yang sebenar, alim­-nya masyhur, pengajarannya tersohor dan murid-muridnya banyak, maka ulama masa lalu, sebagai mata rantai keilmuan Islam, menjadi contoh dekat masa keemasan Ulama di Minangkabau.

Dengan demikian, mengkaji ulama, apakah dari segi biografinya, jaringan keilmuannya hingga peninggalan tulisan yang pernah ditinggalkannya, sangat penting, demi untuk meneladani hingga merekontruksi jalannya agama Islam di Minangkabau, negeri emas ini. Jika Hamka mengatakan “berjalan ke depan dengan satu ketika menghadap ke belakang” dalam bukunya “Adat Minangkabau menghadapi Revolusi”, maka dalam pekerjaan agama mesti kita menjemputnya ke belakang, tidak hanya berjalan ke depan dan cuma menatap masa lalu, kita malah mesti menjemputnya ke belakang, untuk dibawa berjalan ke depan. Sebab kita tidak akan bisa menyaingi tegaknya agama di masa lalu, di mana Adat benar-benar di-sandi-kan kepada Syara’ dan Syara’ benar-benar di-sandi­-kan kepada Kitabullah, di mana surau-surau menjamur seantero Minangkabau, ulama-ulamanya yang masyhur terbilang alim pulang pergi silih berganti mengaji ke Mekkah, orang-orang siak dekat dan jauh berdatangan manjalang guru, kecuali dengan menjemput kejayaan Islam itu kembali (=meneladani dan menjadikannya cermin).

Masih menjadi buah bibir orang tua-tua bahwa dulu di mana ada ulama besar, orang-orang siak ramai berdatangan menuntut ilmu agama, tak hanya dari dekat, bahkan dari negeri yang jauh-jauh, dari daratan Malaya. Maka didirikan di sekitar surau guru itu puluhan surau-surau kecil sebagai pondok orang-orang siak. Di malam hari suasana semakin mempesona, puluhan hingga ratusan damar terpasang di tiang surau-surau tersebut, sebagai bintang-bintang yang kilau gemilau dilangit nan hitam, suara dari surau-surau itu terdengar bergemuruh; bunyi orang-orang men-daras kaji. Seperti itulah di masa lalu. Meski zaman mesti berubah, namun tidak seharusnya semua ditinggalkan buat kenangan atau diubah, yang “ilmu” mesti diteruskan kepada generasi selanjutnya, karena ulama yang sebenar-benarnya itu ialah ibarat lautan ilmu, tiadakan habis ilmu itu untuk dituntut. Maka terkenallah ulama-ulama Besar di Minangkabau, seumpama Syekh Burhanuddin Ulakan (wafat sekitar ), Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Batu Hampar (wafat 1899), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (Mufti Syafi’iyah di Mekkah, wafat 1915) dan banyak lagi lainnya. Kalau di masa modern ini masyhur al-‘Allamah Syekh Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki (wafat 1990), ulama besar di Mekkah, icon intelektual dunia, ahli hadist yang diakui, musnid dunya, pemegang tradisi sunni dan Syekh Tarikat Sufiyah keturunan Padang, terbilang pula sebagai pendiri perguruan Islam terkemuka “Darul Ulum” di Mekkah.

Begitu pentingnya kajian terhadap ulama masa lalu, terkait dengan pengembaraannya menuntut ilmu, aktifitas pengajaran di surau hingga warisan-warisan intelektual yang mereka tinggalkan dan yang tak ternilai harganya naskah-naskah tua, maka di sini penulis (Tim Naskah) mencoba merangkai jaringan, mata rantai keilmuan ulama-ulama Minangkabau tersebut, hingga peninggalan-peninggalan berupa naskah-naskah yang mesti dilestarikan. Maka di sini kami akan menfokuskan arah studi kepada jaringan ulama di Pasaman, daerah yang merupakan wilayah rantau bagi Minangkabau. Di samping itu wilayah ini mempunyai keunikan tersendiri, yaitu terletak antara kultur budaya Minangkabau dan kultur budaya Batak. Maka kajian terhadap jaringan ulama dan peninggalan-peninggalannya di daerah ini sangat menarik dan menantang, apalagi ulama-ulama yang pernah diam dan mengajar ilmu Agama lewat surau di daerah ini terkenal masyhurnya, koneksi intelektualnya tidak hanya pada tingkat lokal saja, tapi juga kosmopolitan, mempunyai jaringan keilmuan dengan Haramain (Mekkah dan Madinah). Dengan kenyataan ini, tak sulit bagi kita untuk menarik kesimpulan bahwa ulama-ulama di wilayah ini mempunyai kedalaman ilmu dan memiliki pengaruh luas di Minangkabau tentunya. Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa posisi daerah Pasaman yang terletak antara kultur Minangkabau dengan kultur Batak, hal tersebut sedikit banyaknya telah membawa dampak sosial masyarakat yang sangat kentara. Misalnya dalam penggunaan Bahasa, masyarakatnya kadang kala menggunakan Bahasa Minang, ada kalanya mereka berkomunikasi dengan Bahasa Mandailing. Namun bagi daerah-daerah yang sangat dekat dengan perbatasan teritorial dengan Sumatera Utara, maka akan tampak penggunaan Bahasa Mandailing yang lebih di utamakan. perpaduan unsur-unsur budaya tidak hanya sampai di situ, adapula sebahagian kecil masyarakat pedalamannya yang kurang memahami Islam dengan baik masih mengamalkan praktek-praktek singkretis yang kebanyakan diadobsi dari sisa-sisa agama pagan dulu, adapula yang diadobsi dari negeri tetangga, Sumut. Tentu hal tersebut merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Islam.

Secara geografis, wilayah Pasaman berbatasan dengan daerah Agam. Limapuluh kota dan Sumatera Utara. Tentunya Pasaman mendapat pengaruh khusus dari daerah-daerah tersebut. Agam tercatat dalam sejarah sebagai tempat awal embrio Paderi dimulai. Limapuluh Kota tercatat sebagai jalur dagang melalui sungai-sungai ke daerah Siak, jalan masuk Islam ke Minangkabau menurut salah satu teori. Sedangkan daerah Sumatera Utara – yang berbatas dengan Pasaman- sendiri masih banyak yang masih memegang kepercayaan lama. Maka dengan mengakarnya Islam di daerah ini – Pasaman - akan menumbuhkan satu step of psycology, kondisi jiwa untuk mempertahankan Islam dari berbagai hal yang berseberangan dengan akidah, dari pengaruh wilayah-wilayah sekitar yang masih berpegang pada mistic lama. Ibaratkan kita, jika berada di wilayah yang dihuni oleh muslim belaka tanpa ditemui sikap-sikap yang bertentangan dengan akidah, tentu kondisi jiwa akan stabil, tidak bersusah payah untuk mempertahankan keyakinan. Namun jika kita berada di daerah yang dipengaruhi oleh keyakinan-keyakinan yang salah, bentuk singkretis, maka kita tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan akidah dari segala penyelewengan itu, rasa ghirah Islam akan terpupuk, dan hasrat hati untuk berdakwah akan bergelora. Sudah menjadi hukum kausalitas, kalau seorang selalu tegar ditimpa oleh berbagai kesukaran dalam menegakkan prinsip, maka jika satu saat dihadapkan pada hal yang sama, dia tidak akan tergoyahkan lagi, kuat seperti baja. Seperti itulah kaum muslimin di daerah Pasaman, mereka akan teguh menghadapi berbagai dinamika masyarakat dan tradisi lama yang berseberangan dengan Islam. Iman mereka akan kuat, sebab sudah terbiasa dengan hal tersebut. Sehingga masyhurlah kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol. Berpuluh-puluh tahun beliau sanggup mempertahankan Bonjol dari Belanda, memagari mesjid dari para serdadu kompeni. Ketika para tentara Belanda mengepung Tuanku Imam di Bonjol, cuma dengan satu tebasan pedang, delapan kompeni tersungkur. Dapat kita nyatakan bahwa tebasan pedang itu bukanlah sekedar kuatnya fisik beliau, tiada termakan oleh akal beliau membuat para serdadu itu tersungkur dengan satu kali tebasan. pastinya pedang beliau bergerak karena kekuatan Iman. Maka ulama-ulama yang mendiami wilayah ini –Pasaman- terkenal kuat memegang akidah, tiadakan tergoyahkan. Selain aspek sosio-kultural yang membuat mereka kuat memegang agama itu, mereka –para ulama tersebut- mempunyai kualitas intelektual yang tinggi, pandai memfahamkan agama, kuat menjalankan syari’at serta mampu mengamalkan hakikat. Pokok utama ialah “Tauhid”, maka pokok ini dikuasai betul.

Hingga beberapa dekade awal abad ke XX, Mekah merupakan tempat yang ramai dikunjungi untuk menuntut ilmu, selain untuk berhaji. Zawiyah-zawiyah termayhur banyak berdiri disekitar Mesjidil Haram, para Syekh-syekh ternama banyak yang membuka pengajian di kawasan Mesjid sendiri. Sehingga Mekah sejak dahulunya menjadi pusat ibadah dan ilmu pengetahuan, malah mungkin lebih dikenal ketimbang al-Azhar. Al-Haramain merupakan tempat berkumpulnya kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, beberapa banyak ulama-ulama yang datang ke Mekkah buat mengajar sekaligus memperoleh barokah di kota suci tersebut. Banyak dari kalangan muslim yang mengidolakan Mekah untuk tempat menuntut ilmu, walaupun hanya beberapa waktu saja, mengambil berkah istilahnya. Adapula yang hidup menahun di sana, memenuhi dada dengan ilmu, kemudian pulang dengan membawa berbagai ijazah tanda telah diakui keulamaannya. Hingga muncul pameo ditengah-tengah masyarakat, kalau belum mengaji ke Mekah, ilmunya belum sempurna, keulamaannya belum sah. Begitulah posisi Mekah bagi kalangan penuntut ilmu dan Muslim umumnya.

Dengan mengunjungi berbagai halaqah dan Zawiyah Sufi di Mekkah saat itu, yang banyaknya menjamur seantero tanah haram, para penuntut ilmu akan dihidangkan dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, dari berbagai Mazhab, berbagai ulama dengan bidang keilmuannya masing-masing (takhussus) dan dari berbagai penjuru dunia. Sehingga dapat dikatakan mereka –para penuntut ilmu itu- telah bersinggungan dengan Jaringan Ulama Internasional, dengan pusatnya kala itu ialah Mekkah dan Madinah. Posisi mereka setelah pulang ke kampung halamannya –Pasaman- menjadi ulama terkemuka, dan ilmu yang mereka bawa pulang, tersimpan dalam sudur, bukan sekedar ilmu yang di dapat lingkungan bawah, kalangan lokal, lebih dari itu ilmu yang mereka peroleh ialah pengetahuan agama yang kosmopolitan sebagaimana jaringan global yang mereka bentuk ketika menuntut ilmu dari berbagai Syekh terkemuka di Haramain. Di samping itu, keilmuan mereka mencapai keotentikan yang bisa diuji, lewat sanad keilmuan dari para musnid, ulama-ulama besar di Mekkah dan Madinah. Dengannya mata rantai keilmuan itu bersambung (musalsil), tiada terputus (munqathi’), sampai kepada tokoh-tokoh ulama salaf yang shaleh, hingga sampai kepada Rasulullah.

Sudah menjadi tradisi tersendiri di Minangkabau, apabila ada seorang siak yang telah alim, apatah lagi yang telah pula menimba ilmu di Mekkah dan mendapat ijazah, maka masyarakat atau kaum sukunya akan bergotongroyong membuatkan surau buatnya untuk mengajar agama. Sampai beberapa dekade awal abad ke-20 tradisi itu masih berlaku. Hingga terkemukalah Minangkabau menjadi gudang ulama, setiap kampung dan pelosok-pelosok negeri mesti berdiri sebuah surau atau lebih, dengan berdirinya surau itu sendiri maka mesti ada ulama di daerah itu. Dari surau-surau itulah jaringan keulamaan lokal selanjutnya dibentuk. Surau kala itu menjadi lembaga pendidikan Islam paling populer kala itu, bahkan sampai sekarang nampaknya para peneliti merasa kewalahan menguak sisi keilmuan surau ini, bagaimana dan seperti apa posisi surau, sehingga dari lembaga yang sering disindir sebagai sebuah perguruan kuno ini lahir tokoh-tokoh besar, bukan hanya di negerinya sendiri, bahkan kemasyhuran mereka terbilang dikalangan penuntut ilmu dari negeri yang jauh-jauh. Kita takkan lupa sosok ulama semisal Syekh Abdurrahman Batu Hampar (kakek Moh. Hatta, wafat 1899) yang terkenal ini, suraunya besar ibarat sebuah perkampungan khusus bagi orang siak yang datang dari berbagai pelosok Minangkabau, tidak sampai disana cabang keilmuan yang diajarkannya begitu berbekas dikalangan murid-muridnya, keistiqamahan mereka bisa diuji.

Periode keemasan Surau itu terjadi karena adanya sinergi antara tiga komponen pendidikan surau tersebut. Pertama, ulama yang menjadi pengajar utama; kedua, orang siak (santri) yang menuntut ilmu dan ketiga keilmuan Islam yang diajarkan. Apabila ketiga komponen itu saling berkorelasi dengan baik maka akan terciptalah suatu lingkungan pendidikan agama tradisional yang baik, sedang untuk tempat belajar (=surau) maka dia akan tercipta sendirinya ketika ketiga komponen itu saling berhubungan kuat. Maka tak akan lama mendirikan komplek surau-surau besar bergonjong yang sekian tingkatnya, bila komunitas ulama dan orang siak terbentuk. Selain itu, antara ulama dan orang siak tercipta suatu hubungan rohani yang erat, tercipta oleh ADAB yang terpasang. Maka akan sangat aib dikalangan mereka bila ada salah satu murid yang melanggar pituah guru, apatah lagi bila menyalahi guru. Sangat disayangkan bila orang-orang modern masa kini ada yang memandangkan orang-orang malin dulu itu sangat keterlaluan patuhnya kepada guru, hingga dilengketkanlah kepada mereka istilah “meng-kultus-kan guru”, sikap membabi buta kepada guru, sebuah istilah yang tidak sepatutnya dilontarkan oleh mulut orang yang bijaksana akan ilmu pengetahuan. Dan dalam agama sendiri, hormat kepada guru termasuk salah syarat utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Maka dengan adanya “Tali Rohani” antara guru dengan guru, guru dengan murid dan murid dengan murid itulah yang membentuk jaringan keilmuan yang kokoh antara satu ulama dengan ulama lainnya.

Selain itu, sisi lain keberhasilan surau di masa lalu ialah karena terciptanya kondisi belajar yang kondusif, sang ulama merasa berkewajiban mengajarkan ilmunya dan orang siak merasa berkewajiban belajar ilmu agama. Di samping terbentuk karena ADAB (kode etik ilmu pengetahuan) yang memang dipatuhi secara penuh, hal ini juga tercipta karena masing-masing komponen dari mulanya memang berniat khalis. Sang ulama hanya berniat semata-mata untuk mengajar, tanpa mengharap sepeserpun hasil jerih payahnya. Sedang orang-orang siak datang menemui sang ulama dari tempat yang jauh dengan berjalan kaki semata-mata ilmu menimba ilmu, bahkan ada yang berjalan berhari-hari hanya untuk mendengar sepatah dua patah kata dari seorang ulama yang masyhur tersohor. Walau keadaannya seperti itu, zaman kala itu kehidupan masih susah, tak ada terdengar seorang ulama yang miskin dan tak makan karena tak ada kerja selain mengajar, tak ada terdengar keluarga sang ulama (yang kebanyakannya berpoligami) berantakan karena tak ada ringgit rupiah. Yang terjadi malah sebaliknya, banyak ulama-ulama surau masa lalu yang hidupnya lebih dari berkucupan, sawah ladang menjadi, anak dan istri diperbelanjai secara penuh. Bahkan ada ulama-ulama itu yang memberi makan murid-muridnya dan memberi mereka pakaian, salah satunya yang terdapat pada surau Syekh Daud Durian Gunjo Pasaman, dimana seketika Syekh Daud (1854-1939) masih hidup beliaulah yang memberi makan dan pakaian murid-muridnya yang menetap di surau Beliau setiap hari, padahal Syekh Daud kerjanya cuma mengajar dan mengurung diri dalam kelambunya mengamalkan Naqsyabandi (Suluk) saja, tak mungkin pula hal itu dari sedekah dari orang-orang siak, tidak termakan logika. Lebih dari itu, Syekh Daud bahkan banyak mendirikan rumah gadang untuk keluarganya, sebuah pekerjaan yang butuh dana besar. Dan hampir-hampir semua surau di Minangkabau sampai pertengahan abad ke-20 memperoleh kehidupan yang mapan, makmur diistilahklan orang. Begitulah keadaannya, mereka –ulama ulama- yang dekat dengan Tuhannya.

Demikianlah ulama-ulama Minangkabau masa lalu, termasuk ulama-ulama Pasaman, yang merupakan icon jaringan ulama dari yang bersifat lokal hingga yang bersifat kosmopolitan (internasional), mereka merupakan ulama-ulama yang teguh berilmu, mempunyai sanad intelektual dari Haramain, central cosmos-nya ilmu pengetahuan Islam. Sampai mereka di kampung halamannya mereka membuka surau, dan lewat surau itulah mereka membentuk jaringan guru-murid yang kokoh. Apabila murid-murid ini telah alim pula dikemudian hari, maka hubungan guru-murid itu menjadi sebuah jaringan ulama lokal. Bahkan surau menjadi pijakan awal jaringan ulama lokal, dan selanjutnya mereka –alumni surau- berkecimpung dalam jaringan ulama kosmopolitan di Mekkah. Banyak ulama surau yang memesankan kepada muridnya untuk menyempurnakan ilmu di Mekkah, bergaul dengan ulama manca negara, membentuk koneksi intelektual internasional. Maka menelusuri jejak ulama tersebut menjadi semua kemestian, apatah lagi bagi kita –Minangkabau- yang pernah “Jaya” dengan ulamanya, jika hendak kembali menegakkan Adat basandi Syara’-Syara’ basandi Kitabullah, Babaliak ka surau. Menelusuri jejak Ulama, silsilah ilmu mereka, berati mengkaji keilmuan mereka yang luar biasa dalamnya; yang mereka tuangkan dalam naskah-naskah Tua, kearifan ulama, warisan yang mesti dijaga oleh KITA.

(c) Tim Inventarisasi Naskah FIB-Adab IAIN Padang/2010